Neo Liberalisme menjadi salah satu kata populer untuk diperdebatkan oleh para Capres.

 

Neo Liberalisme merupakan faham pembebasan tata niaga sdemikian rupa sehingga semua bisnis dapat dimiliki oleh swasta. Industri strategis yang semula harus dikuasai negara menjadi bebas untuk dikuasai oleh swasta, seperti halnya bisnis telekomunikasi, pengadaan air minum, sekolah, universitas serta jasa rumah sakit/kesehatan. Kalau bisnis strategis dan bisnis lainnya dikuasai oleh swasta atau orang asing, maka Negara ekuivalen dengan dijajah. Inilah bentuk dari Neo Kolonialisme yang sudah diwaspadai oleh bung Karno, sebelum jatuh.

Secara teknis, sebagai Negara yang berkembang kita dalam posisi kalah, baik itu dalam system, teknologi maupun keterampilan tenaga manusia.

Mengapa kita sampai dijajah tiga setengah abad oleh Belanda, karena memang kita kalah secara teknologi termasuk di dalam teknologi perang.

Jaman sekarang menjajah suatu Negara tidak perlu lagi menguasai pemerintah negara yang dijajah. Dengan menjajah system ekonomi dan teknologi, negara-negara maju cukup dahsyat di dalam menjajah kita. Inilah kenyataan dari Neo Kolonialisme.

Kultur kita dijajah dari mulai musik sampai ke film sampai ke fashion, pola makan kita dijajah, generasi muda kita dibuat merasa ‘bergengsi’ kalau makan pizza, hamburger minum kopi Starbuck!

Perbankan kita dijajah, telekomunikasi kita dijajah di bisnis pelayanan kesehatan dijajah, belum lagi kita kebanjiran pengobatan tradisionil dari Cina, kemungkinan nanti juga dari India.

Sistem franchise, apalagi MLM merupakan penjajahan bisnis terang-terangan yang menjadikan Negara cuma sebagai pasar, keuntungan disedot kenegara pemilik franchise. Lebih-lebih yang namanya MLM, semua produksi dilakukan di negara sang pemilik MLM, artinya kesempatan kerja di dalam produksi  adanya di Negara pemilik MLM! Anggota MLM hanyalah sebagai distributor sekaligus konsumen.

Selama ini kita tidak menyadari bahwa perekonomian kita sudah tidak mandiri lagi muai dari jarum sampai mobil kita masih tergantung pada produk luar negeri, bahkan di dalam  mencukupi kebutuhan pokok sekalipun kita masing tergantung Negara lain.

Dari mana asal muasalnya sampai hal ini terjadi terus menerus?

Jawabannya sederhana, karena kita kalah pinter daripada  yang menjajah kita secara teknologi, ekonomi maupun budaya! Sekarang ini lengkap sudah penjajahan yang kita alami, lebih komprehensif daripada penjajahan di jaman Belanda dulu, yang hanya menjajah di bidang  ekonomi dan politik saja.
Simpelnya kita dijajah karena kita bodoh!

Mau tahu kebodohan kita, tidak usah jauh jauh, tengok saja di jalan, orang yang seharusnya mendahului dari sebelah kanan, mendahului kendaraan dari kiri, membuang sampah sembarangan di jalan, membuat coretan-coretan nggak karuan atau coretan graffiti. Tengok di pesta atau di ruang publik, merokok sembarangan tanpa peduli orang lain, tidak mau antri, mengantri makanan saja tidak mau disiplin! Inilah kebodohan yang nyata, yang kita lihat sehari-hari, ‘manner’ kita bukan semakin santun, tetapi semakin brutal, tawuran di mana-mana gara-gara hal yang sepele,akibat dari isu yang tidak  benar.

Mengapa terjadi kebodohan?

Kebodohan, basisnya adalah karena kurangnya mutu  pendidikan kita kurang focus ada materi esensial. Ihwal utamanya adalah dari pendidikan kita yang sekarang diberlakukan sebagai bisnis, bila dibandingkan dengan Negara tetangga mutu pendidikan kita semakin merosot. Memang ada yang memenangi lomba matematika, akan tetapi jumlahnya sangat kecil, yang tidak bisa mewakili anak didik kita.

Kalau kita menengok kebelakang, tahun 60 hingga tahun 70-an, banyak tenaga guru, medis, teknik diundang oleh pemerintah Malaysia untuk bekerja dan mendidik bangsa mereka. Banyak mahasiswa Malaysia dikirim ke sini, bahkan sampai sekarangmasih ada yang dikirim, untuk belajar ilmu kedoteran, pertanian dan tkenik untuk akhirnya mereka membuat system pendidikan yang bagus di Malaysia dan sekarang ini lulusan dari Indonesia banyak yang menduduki jabatan strategis di pemerintahan Malaysia. Malaysia membuat system yang lebih baik dan lebih maju dari kita di bidang pendidikan dan sekarang situasinya terbalik, kita belajar ke Malaysia untuk mengambil S2, S3! Pameo bahwa murid akhirnya menjadi lebih pintar dari gurunya, berlaku disini!

Kalau kita ini bodoh bukan berarti kita tidak cerdas, salah sama sekali, orang kita pada dasarnya cerdas. Mereka yang sempat dikirim belajar di luar negeri pada  umumnya prestasinya bagus. Banyak ahli-ahli ekonomi, teknologi yang prestasinya luar biasa di universitas luar negeri.

Bagaimana seharusnya kita bertindak agar kita selalu ketinggalan?

Mau tidak mau suka tidak suka kita harus membongkar system pendidikan kita agar dapat mendidik bangsa ini setara dengan Negara-negara tetangga. Petinggi-petinggi Negara seharusnya memfokuskan perhatian pada pendidikan, bukan yang lain karena dari sini akan berkembang ke bidan bidang lain. Dengan pendidikan yang baik, bidang industry berkembang dengan lebih baik, industry yang meningkat akan meningkatkan gizi dan kesehatan. Kesehatan yang merupakan prioritas kedua sesudah pendidikan, akan meningkatkan produktivitas bangsa.Diciptakan tenaga terampil yang dapat menunjang berkembangnya industry. Tenaga terampil hasil pendidikan yang baik akan merupakan daya tarik investor unutk membuka indusri didini yang berarti membuka adanya peluang kerja.

Masih banyak peluang untuk meningkatkan industry dengan mengolah sendiri minyak, mengolah sendiri minyak, mengolah sendiri biji besi mendirikan industry baja sendiri yang didukung oleh tenaga-tenaga terampil bangsa sendiri.
Yakin semua itu bisa kita lakukan dengan catatan, pendidikan kita benahi, kita tingkatkan. Tenaga-tenaga terampil Indonesia boleh dibanggakan dan alangkah lebih bangganya kita kalau tenaga terampil tersebut berkiprah di negeri sendiri, memproduksi produk sendiri untuk konsumsi ekspor. Bisa kita bayangkan betapa dahsyatnya pasar kita kalau industry berkembang dengan tenaga bangsa Indonesia sendiri yang cerdas, tidak bodoh, dan dipercaya perusahaan asing dari Amerika,  Eropa, Jepang, Korea dan sbb. Dengan melakukan investasi besar-besaran disini. Kita mendapat kesempatan untuk belajar system dari mereka, sehingga suatu saat kita dapat dapat bersaing dengan mereka.

Siapa bilang bangsa kita bodoh, bukan bodoh tetapi sampai saat ini kita dibikin bodoh sehingga mudah dibodohi!
Pada dasarnya kita-kita ini cerdas namun kecerdasan kita berubah menjadi kebodohan karena pendidikan yang amburadul!

Sayang sekali tidak ada satupun dari capres yang memiliki perencanaan yang jelas untuk melakukan perombakan pendidikan kita ataukah memang pendidikan dianggap tidak penting, system yang ada sekarang dianggap sudah cukup baik.  Saat ini, kecuali tidak ada pilihan lain untuk memperbaiki pendidikan, kalau kita memang mau memajukan bangsa, tidak hanya sekedar menjadi konsumen yang bodoh saja!

Pendidikan sebaiknya diarahkan ke kebutuhan masyarakat dan industry dan berkesinambungan. Pendidikan SD misalnya adalah dasar untuk melanjutkan SMP, SMP merupakan langkah untuk ke SMA dan SMA merupakan persiapan untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Kalau mau maju memang perlu perombakan yang sangat besar, system berubah dan keterampilan para guru harus di up grade, ini semua memerlukan dana yang tidak sedikit.

Atau kita mengambil pola system pendidikan Inggris sehingga anak-anak kita kalau sudah lulus SMA dapat langsung masuk ke universitas di Inggris, Australia.

Tinggal terserah pada para petinggi Negara yang akan memimpin negeri ini lima tahun mendatang, lima tahun tidak terlalu lama untuk melakukan perubahan besar yang mendasar.

Yang kita nantikan adalah perubahan untuk bangsa ini di masa masa mendatang tidak hanya dalam kurun lima tahun, tidak cukup, nampaknya kita perlu memproyeksikan  50 tahun kedepan.
                                                                      
Jakarta, 11 Juni 2008