Tahun 1984 silam,ponakan saya ditangkap di Port-klang, dia ditangkap karena masuk Malaysia secara haram.

 

Dia berkisah tentang pengalamannya selama masa tahanan di kantor imigrasi setempat, dia disiksa dan direndam dalam drum yang berisi air tinjak, yang melakukan siksaan itu adalah dua petugas imigrasi etnik Cina dan India, sementara petugas Melayunya seperti tidak peduli dengan kondisi itu, atau pura-pura sibuk dengan urusan lain, Dia masih ingat, ketika dia masih dalam air tinjak itu, kedua petugas ini menambah air drum itu dengan mengencingi kepalanya, suatu kisah nyata yang sangat tragis memang.

Masalah TKI ini sebetulnya sejak era pemerintahan perdana menteri pertama Malaysia Tunku Abdurahman yang dikenal juga sebagai “bapak Bangsa Malayu (1963-1970), waktu itu kedatangan tenaga kerja asing khususnya tenaga kerja dari Indonesia (TKI) berapapun banyaknya , kerajaanan waktu itu tidak mempermasalahkan mempunyai dokumen lengkap atau tidak, TKI silahkan saja bekerja, berapapun banyaknya tidak masalah, asal tenaga kerja itu dari Indonesia go ahead, kerajaan tutup mata sama ada dengan document lengkap atau tidak, asal dari Indonesia silahkan..! Tujuannya tak lain tak bukan untuk mengimbangi jumlah penduduk etnik Melayu yang lebih sedikit dari etnik lain seperti etnik Cina, India dan Arab. Pada waktu itu perbandingan jumlah penduduk adalah Melayu 40 persen, Cina 42 persen, selebihnya Arab dan lain-lain.

Kebijakan itu tujuannya adalah untuk mengimbangi etnik lain yang jumlahnya lebih besar dari bumi putera, dan kepada seluruh pekerja asal Indonesia/TKI itu diberikan semacam dispensasi, cukup 3 bulan mereka sudah memperoleh Red Card (semacam KTP) dan kepada mereka juga diberikan hak-hak layaknya warga Negara yang lain.
Alasan lain adalah dari sisi bahasa dan bayarannya sangat murah. Agenda ini Tercium oleh juga, Singapore akhirnya lepas dari semenanjung, salah satu penyebabnya adalah itu tadi, dan ini jugalah yang membuat penyesalan Etnik Melayu kepada Tunku Abdurrahman, beliau memang bapak bangsa, tapi beliau juga disalahkan kenapa melepaskan Singapore ketangan Cina.

Memang sentiment anti Indon (istilah Rakyat Malaysia menyebut Indonesia) terpatri sejak adanya Aksi Ganyang Malaysia oleh mendiang Soekarno, bahkan sampai sekarang, kalau anda pernah iseng-iseng masuk keruang tahanan imigrasi, mereka masih memampangkan gambar Soekarno, adakalanya mereka hanya mengeluarkan sewaktu-waktu adanya tahanan bangsa Indonesia, mereka dengan geramnya, akan menyatakan,:” You Tau tak,itu gambar siapa, ? kalau you tak tau, itulah gambar you punya presiden yang dulunya nak ganyang Negara kami, dan kata ponakan saya dia ngomong begitu sambil membenamkan kepalanya keair tinjak seperti kisah diatas.

Sejak tahun 1999, dari 39 kasus penganiayaan TKI , 90 persen korbannya adalah pembantu rumah tangga, dan pelakunya , 95 persen adalah majikan etnik cina, dan kondisi ini sepertinya terbiarkan oleh kedua pemerintahan, Indonesia yang katanya sudah demokrasi, penjunjung tinggi HAM, ah..hanya retorika…!

Saya pernah bincang-bincang dengan sopir taksi dinegeri jiran ini (kebetulan orang Cina), diujung percakapan dia bilang begini, : “itulah cik, katanya, coba kalau diserahkan kepada orang cina semua, Malaysia ini akan jauh lebih maju,..”

Harap catat, sebagaian besar pelaku tindak criminal di Malaysia adalah orang Indon, mau tahu apa komentar teman saya yang asli warga Malayu,: “ itu salahnya orang Indon, yang mereka rampok justeru orang Melayu yang tidak begitu kaya, apa salahnya mereka rampok orang-orang Cina kaya, justeru orang melayu akan senang, katanya. Kalau tertangkap, dalam dua hari polis akan bebaskan dia balek..iyakah cik…!?

Siti Hajar…pertanyaannya adalah…: “kenapa..!!?