Tag

 Hidup berjalan terus. Hari demi hari datang secara pasti menyambut semua mahluk bernyawa atau yang telah mati silih berganti. Rutinitas hidup dan segala tetek bengek yang membosankan tentang perjuangan merajut nasib agar lebih baik, menimpa hampir semua orang di semua permukaan bumi. Tapi di masyarakat jalan Haji Sabeni bagi para penduduk yang miskin papa, kurang gizi dan kurang baca. Saat mereka lebih banyak nganggur lantaran susah mencari lowongan pekerjaan dan tidak memiliki asset yang bisa dibanggakan,juga tidak punya hiburan menahan beban suntuknya kemiskinan- Secara kreatif mereka menciptakan hiburan murah dan meriah dengan saling berbagi gosip dan rumor. Bisa dimengerti mungkin ini adalah trik mereka terbaik yang paling mampu melupakan kesulitan dan problema di hidup mereka sendiri.

 

Itu sebabnya ketika Bonang tidak muncul 3 hari dari rumahnya ada beberapa dari mereka menganggap Bonang sudah mati. Ada juga yang menyangka Bonang ikutan menjadi aktivis merekrut  kader para Pamskawarsa kedaerah-daerah. Satu dua menduga Bonang direkrut menjadi penasehat menteri. Selebihnya ada yang menganggap Bonang dibiayai pak Badak sekolah ke keluar negeri, diculik UFO, bersemedi mencari roh eyang raja tanah Batak, jadi piaraan tante girang, masuk Isam dan sekarang sedang umroh di Mekah.

Tidak ada satupun gosip yang terdengar tentang Abung. Seolah Abung  tidak pernah eksis. Padahal mereka tahu Abung sedang menginap di  sel Komseko ( komando sektor kepolisian ) 715 di Karet Kubur sana. Mungkin beginilah kehidupan. Abung tidak layak dijadikan bahan pembicaraan sebab Abung kalah menarik. Abung cuma supir Bajaj sedang Bonang pacaran sama anak konglomerat. Abung tidak punya skill, sedang suara Bonang ketika nyanyi bisa dijadikan alat pembangun sahur yang efektif. Abung tidak bisa baca tulis, sedang gitar dan vocal Bonang kadang mampu membuat tetangga yang sedang pusing memikiri hutang menjadi makin pusing dan berniat ngemplang termasuk ngemplang si Bonang.

Perjuangan para rasul seperti menghadapi titik antiklimaks. Parjo dan Tarjo kembali bergulat menghadapi persoalan sehari hari mereka sendiri. Berto dan Buyung seperti menghindar dari keramaian. Tidak ada satupun yang berniat berkumpul kembali, mengadakan rapat, meeting, seminar atau konfrensi meja bundar. Barangkali mereka sudah sadar bahwa perjuangan suci ini cuma sebuah perjuangan gombal yang sia-sia. Barangkali emosi romantis dan humanis mereka kini secara perlahan mundur untuk tidur panjang. Yang muncul menguasai panggung sekarang adalah sang realita bahwa jika hidup terlahir susah, akan susah untuk merubah sebuah nasib atau takdir. Harapan untuk membantu orang miskin pada akhirnya toh bukan berada di tangan orang miskin sendiri. Argumen dalam sebuah hadis yang mereka coba praktekan " tidak akan berubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya " dianggap tidak valid dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Tidak ada satupun yang berniat menjengguk Abung dan Aidit. Mungkin mereka takut untuk terlibat perkara yang lebih besar. Mungkin mereka ngeri menghadapi raksasa birokrasi yang bergigi tajam bernama elit politik dan negarawan. Mungkin mereka keder bersinggungan dengan aparat dan algojo hukum yang bertuhankan sebuah Tuhan perempuan yang demennya main timbangan. Wakil Tuhan mereka yang berjubah dan tukang main palu di pengadilan, konon mereka dengar adalah wakil Tuhan paling biadab yang hobbynya menanyakan jumlah rekening sang terdakwa sebelum sidang.

Tidak ada yang perduli nasib Abung dan Aidit kecuali pendekar keturunan asia belakang , Mr Lim Auk Ah.

Selesai bergelut menghadapi demam 2 harian lantaran luka di bahu yang lalu, kini si cina berkulit langsat dengan bersemangat mendatangi rumah para sahabat coklatnya untuk mengajak besuk Abung dan Aidit. Tapi ketika dia mencari Buyung, bapaknya bilang Buyung sedang sibuk bikin skripsi. Sedang Tarjo tidak ada di tempat. Parjo tidak ada waktu lantaran sibuk membenahi sekolahan. Berto seperti hilang ditelan bumi, ada kabar selentingan dia balik ke Tapanuli. Dan terakhir Bonang tidak mau keluar dari rumah.

Mulanya Lim menyangka sahabatnya sedang beristirahat. Tapi setelah dua tiga kali dia mendapatkan jawaban yang sama, Lim mulai tersinggung dan merasa marah luar biasa. Apakah mereka melupakan begitu saja teman-teman yang sedang menderita dalam penjara? Kemana si Bonang, batak sialan itu bersembunyi? Kenapa dia seperti lepas tangan dan melupakan tanggung jawab? Batak yang taunya cuma berbunyi nyaring, penuh retorika, mau menang sendiri  tapi secara moral kurang peka terhadap kesusahan orang.

Lim mungkin merasa benar, tapi bila dia mau mengintip kedalam bilik kamar Bonang, dia pasti akan merubah pendirian.

 Wajah Bonang masih nampak depresi berat. Mukanya begitu kusut dan mirip orang yang kena gangguan mental. Jelas dirinya begitu terpukul. Rajaman penghinaan mamanya Nisye sudah melontarkan dirinya jatuh pada jurang kesedihan tidak terkira. Kini persoalan Abung dan Aidit dan kegagalan jihad menaklukan kuil para dajal justru melemparkannya pada jurang yang jauh lebih dalam dan tragis lagi. Secara serabutan Bonang mengggapaikan tangan agar bisa mencengkam pinggiran jurang apatisme. Secara desperate dia mencari akal agar bisa bertahan di pinggiran tebing agar sedikit demi sedikit dia bisa bangkit untuk menolong para sahabatnya kembali. Tubuhnya penuh luka, jiwanya porak poranda serta mentalnya seperti kota Nagasaki dan Hiroshima di ujung perang dunia kedua. Tapi perlahan Bonang yang telah membolos sekolah sampai 4 hari duduk dan menulis di meja. Tangannya begitu lemah lantaran kelelahan, depresi, stress, trauma, deman campur emosi. Perlahan…kalimat demi kalimat dia tuliskan di atas selembar kertas polos. Bukan surat ini bukan untuk Nisye. Bukan juga surat untuk ibunya untuk meminta maaf dan berandai andai mencari iba. Surat Bonang di tujukan buat Kontras. Sebuah organisasi tanpa pamrih yang dikoordinasi oleh seorang Arab nan tulus serta cerdas, Munir.
—-

 Kepada YTH
Koordinator Kontras dan anggota KPP HAM : Munir.SH

Selamat siang Bang Munir yang ganteng,
Nama saya Bonang Tapebolong. Saya menulis surat ini dalam keadaan putus asa lantaran dua sahabat saya 4 hari yang lalu diciduk dan dipenjara juga pasti disiksa oleh aparat kepolisian. Saya ingin menekankan bahwa mereka berdua bukanlah orang jahat. Mereka bukan komplotan dukun santet, provokator, komunis biadab atau komplotan pro orde baru. Mereka ditahan lantaran mencoba berbuat baik yaitu dengan mencoba memindahkan aset orang yang perutnya kenyang dan kaya ke orang yang perutnya lapar dan miskian. Memang tindakan mereka yang berusaha mencuri itu salah. Tapi sasaran pencurian mereka adalah justru tukang rampok dan jagal yang saya yakin Bang Munir kalau melihat sendiri daftar nama sasaran pencurian yang saya bikin, Bang Munir pasti setuju dan bahkan siap membantu.

Bang Munir,
Saya ingin abang membela Abung dan Aidit. Mereka kabarnya sudah ditransfer dari di Komseko 715 ke Komdak. Wajah Abung sudah sangat parah. Dia bisa mati stress karena bakalan bertemu kembali dengan seorang algojo polisi bernama Sersan Ahmad Sudirman yang dulu pernah menyiksanya lantaran ketangkep waktu ada demonstrasi mahasiwa di Senayan. Dan Aidit bisa dibinasakan orang lantaran pasti akan ceramah tentang kehebatan Komunis di dalam selnya
..
Mohon bantuan selekasnya lantaran saya sudah putus asa. Semua itu terjadi lantaran saya yang memberikan komando dan memimpin mereka. Seharusnya saya yang bertanggung jawab. Tapi saya tidak sanggup mengadapi polisi dan pengadilan tanpa kehadiran abang.

Sebagai warga kampung miskin di Kampung Lontar, saya cuma bisa berharap pada kesediaan Abang dengan mencoba mengetuk hati nurani Bang Munir. Saya tidak punya duit. Tapi kalau mau jasa bang Munir bisa saya ganti sedikit dengan koleksi lagu-lagu dangdut dan pop. Ngomong ngomong saya punya kaset A Rafiq, pendangdut Arab yang sudah mengklasik tapi pasti bang Munir suka lantaran sama-sama Arab. Satu hal lagi Amo Alatas, dia sesama arab, juga bersedia menjadi supir pribadi bang Munir tanpa dibayar selama sebulan jika bang Munir memutuskan membantu Abung dan Aidit, teman baik kami. Terima kasih atas perhatiannya.

Semoga Tuhan semua agama memberkati kita semua

NB : Oh Iya lupa, Bang Epen pemilik warteg di kebun kacang juga bersedia memberikan katering atau voucher gratis ke kantor bang munir selama sebulan penuh. Insya Allah Tottaly free..

TTD

Bonang Tapebolong

 

~ 09 Juni 2009.