Tag

 ( KILAS BALIK: Bonang diusir dari rumah Nisye oleh Bu Badak. Malam itu dia yang seharusnya pulang untuk memimpin jihad Bani Nabiniyah Kampung Lontar di Kampung Kebun Pala, justru mampir di Monas untuk menyepi. Para Muhajirun yang terpaksa dipimpin oleh musafir import from Tiongkok bernama Lim gagal melakukan invasi. 2 dari mereka tertangkap preman dan hansip behind enemy line )

 

 Jiwa Bonang seperti dihempaskan oleh tidal wave ketika dia dari jauh memergoki kerumunan manusia di muara gang Kebon Pala II. Dadanya bergetaran dengan kencang. Samar di bawah cahaya lampu jalan, Bonang melihat sosok Abung dan Ahmad Aidit sedang diseret seperti sapi korban. Wajah Abung luluh lantak, wajah Aidit seperti mayat. Sebentar-sebentar beberapa tangan menggampar dan membogem tubuh dan muka sahabat-sahabat dekatnya itu. Setiap kali pukulan preman-preman ini mendarat , Bonang merasakan rohnya begitu sakit. Bonang merasa sangat bersalah. Ingin benar dia berlari dan berupaya membebaskan mereka. Ingin benar dia melolong dan menjerit-jerit histeris memberikan alibi bahwa " Abung dan Aidit bukanlah maling, mereka adalah  rasul pembela orang kecil. Mereka mencuri tidak untuk memperkaya diri. Mereka adalah sekelompok orang saleh yang justru sedang mengikuti petunjuk sang Allah…" Tapi itu semua cuma sebuah ilusi. YangBonang  bisa cuma membungkam bagai batu. Dia berdiri teronggok dari kejauhan tanpa daya. Hati kecilnya memerintahkan agar dia segera memberikan pertolongan pada Abung dan Aidit. Tapi otak kirinya justru menyuruh kakinya diam. Kontradiksi ini membuatnya begitu frustasi. Bonang merasa seperti menjadi orang paling pengecut di dunia.

Dini hari itu hujan telah berhenti total, tapi hujan di mata Bonang tetap turun deras. Di antara banjir airmata, dia menyaksikan mobil kijang polisi datang untuk menjemput dua nabi. Abung yang hancur lebur menjerit terampun-ampun histeris lantaran melihat Polisi setelah itu dia jatuh pingsan. Tidak lama tubuhnya  dicampakkan di bak mobil kijang. Sedang Aidit sang agnostik semi-atheis terpekur seperti sedang bersemedi. Kelihatan benar bahwa dia memasrahkan hidup matinya pada doa-doa religi yang tadinya dia benci. Sosok Tuhan yang dulu tidak pernah mau dia akui, sekarang dalam keadaan darurat justru menjadi tempat satu-satunya dia berkiblat.

Tragedi para Nabi sedang berlangsung di kawasan Tanah Abang. Tapi jauh di selatan, Nisye sudah terlelap dengan hangat dan aman di samping sepucuk surat yang baru dia tulis untuk Bonang. Dalam tidur sang bidadari  from Solo ini makin memantulkan kerlipan nirwana. Hatinya yang keras pada sebuah prinsip, bercampur dengan kelembutan cintanya pada Batak Kampung Lontar mengkreasi sebuah telaga kehidupan jernih yang memantulkan cahaya perak matahari di permukaan. Bibir Nisye melengkung tersenyum begitu manis dalam tidurnya. Mungkin dia sedang bermimpi makan sate Padang dengan pria idaman di Pasar Bendungan. Bergeser sedikit, surat yang berada di pinggiran kasur jatuh melayang ke atas karpet.

Pak Badak datang menjenguk kamar anaknya. Sambil membetulkan letak selimut Nisye dengan kasih sayang seorang bapak yang tulus, dia memergoki sang surat di bawah bed sana. Dan di permukaan kertas itu terbaca suara hati Nisye, anak kesayangan dia yang sesungguhnya untuk Bonang.


Dear Bonang.
Ketika menulis surat ini, saya tidak tahu kamu sedang berada
di mana. Mungkin kamu begitu marah dan kecewa pada mama
saya. Mungkin kamu sedang duduk di dalam kamar merasakan
perihnya sebuah penghinaan. Mungkin kamu merasa begitu
kecil dan tidak berarti. Tapi biarlah saya mengatakan sesuatu, dan saya
bukan menyatakan ini cuma sekedar menghibur hatimu yang sedang koyak dirajam kesedihan..

Bahwa perlakuan mama yang kasar malah membuat saya
makin menyukaimu. Seperti sebuah tamparan, saya justru
menyadari bahwa nilai manusia seperti dirimu lebih berharga
di antara hidup yang tidak panjang ini daripada berjuta jiwa-jiwa kosong
yang saya kenal tanpa makna.

Kami mungkin saja memang cukup punya harta dan punya kelas.
Tapi ketahuilah. Hidup di dunia seperti dunia kami adalah seperti
hidup dalam sebuah pulau terpencil. Kami kehilangan apresasi dan
orientasi terhadap apa yang terjadi di luar sana. Itu sebabnya
Mama dan Papa tidak begitu toleran pada manusia seperti kamu.
Di mata mereka, kamu adalah mahluk asing.

Tapi ketika menatap paras wajahmu yang pucat pasi, bingung,sarat
oleh malu campur duka,dan melihat kamu berjalan gontai menuju pintu,
Saya seperti menyaksikan wajah sang hidup. Dan saya harus menyatakan
ini padamu Bonang. Saya mencintai hidup yang real..
dan saya sangat mencintaimu..

Love

Nisye Estrelita Badaksono.

Tangan pak Badak bergetar. Kesadarannya terhadap nilai-nilai hidup dan humanity yang selama ini mati suri, seperti tercubit untuk bangun kembali. Milyarder termasuk 100 orang terkaya se Indonesia ini tidak menyangka. Bukan naik haji selusin kali, bukan juga ceramah kyai kondang yang kebanyakan ngobrol dan doa dalam bahasa Arab, atau menjadi juri MTQ yang bisa menggugah hatinya untuk sampai pada pemahaman sedalam ini. Tapi justru sepucuk surat sederhana sang anak terhadap pria pujaannya.

Pagi hari, langkah kaki Bonang demikian berat masuk ke dalam kamar. Jiwanya sangat lelah. Masih berbasah-basah, dia baringkan tubuh lepeknya di atas dipan. Bu Tapebolong sedang sibuk menanak nasi, dia cuma melirik anaknya sekali. Pak Tape masih mendengkur di atas tikar. Sedang Ucok sudah melek sepagi ini. Mengintip sedikit, dia saksikan abangnya tergeletak seperti tidak bergerak. Ucok yang tadinya mau menanyakan bagaimana pacaran semalam sama anak mentri ? Mengurungkan niat. Bulu kuduknya berdiri ..wajah Bonang nampak sepucat mayat.

Lima Nabi yang lain di suatu tempat sedang sibuk dalam kamar Puskesmas Tebet Barat. Bahu Lim Auk Ah sedang sibuk dijahit oleh seorang nurse. Tarjo, Parjo dan Buyung duduk dengan perasaan cemas di ruangan tunggu. Sedang Berto stress berputar-putar melangkah  di halaman luar.

Lambat tapi pasti, tanpa di sadari mereka berpikir dalam suatu kesamaan.

 " Di mana Tuhan ketika kami berada dalam kesusahan? "

Apakah ini merupakan ujian? Bukankah kami berjalan di rel yang engkau sebutkan? Bukankah niat kami adalah tulus untuk menolong orang? Kenapa Engkau membiarkan si Lim ditusuk belati seorang preman?

Ini adalah pertanyaan klasik. Saya serahkan pembaca untuk mencoba menjawab pertanyaan mereka, kalau memang merasa bisa..

 

~ 06 Juni 2009.