Sungguh sangat mencemaskan perangai para politikus,tokoh dan aktivis partai diera reformasi dan demokrasi dinegara yang berdasarkan Pancasila ini. Selain menyetir pragmatisme, simbol-simbol agama masih saja dieksploitasi untuk kepentingan kekuasaan, untuk kepentingan kampanye, untuk mencari dukungan massa…! Jilbab, ini hot issue yang sedang digunakan oleh para elite dan tokoh partai untuk menarik simpati rakyat. Kain penutup kepala perempuan muslim ini masuk panggung politik. Jilbab dikaitkan dengan politik karena dianggap bakal menggiring para pendukung parpol atau massa Islam untuk mencontreng salah satu pasangan capres/cawapres dalam pemilihan umum Juli nanti.

Sekali lagi massa Islam akan diperalat/akan ditunggangi, hanya untuk keuntungan politik sesaat, bukannya program sang calon yang diumbar, tapi jilbab, ini sangat memalukan..! Walau belum dipastikan akan melekat pada satu kontestan, Jilbab akan menyetir kemana arah suara pendukung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang memang relatif “fanatis” terhadap simbol-simbol agama. Pernyataan mengejutkan itu datangnya dari fungsionaris PKS Zulkieflimansyah, inilah pernyataan itu,:”Kalau mau jujur sebagian kader PKS hatinya masih mengarah pada JK-Wiranto karena alasan kedua isteri pasangan ini sangat sederhana dan berjilbab.”. inilah , masih kata Zulkieflimansyah – merujuk kepada survey internal PKS, membuat tingkat keterpilihan SBY-Boediono dan JK-Wiranto hanya berselisih 10 persen. Dengan kata lain, politikus yang pernah mengincar kursi gubernur Banten ini ingin mengatakan dimata pendukung PKS, tingkat keterpilihan SBY menurun dan JK merambat naik..

Lebih jauh kolega Zulkieflimansyah yaitu Mahfudz Sidiq, berujar,;”memang penampilan Isteri JK dan Wiranto bagus (baca :berjilbab). Karenanya PKS bisa saja menyarankan Isteri SBY dan Isteri Boediono memakai Jilbab”.(kutipan Indo Pos 27 Mei 2009).Apakah ini semacam masukan atau sekedar usulan belaka atau kedua tokoh ini sedang menjalankan trik penggembosan SBY-Boediono atau para elite PKS ini sedang kehabisan bahan karena selama ini selalu merengek-rengek pada SBY untuk minta jatah jabatan…..? Dan apakah mereka mengira SBY-Boediono akan manut begitu saja, atau apakah mereka tidak menyadari atau lupa bahwa HNW saja ditolak SBY sebagai wakilnya, apalagi menyuruh kedua isteri capres dan cawapres ini memakai jilbab..! Harapan PKS tentu kalau usulnya diterima ,akan mengarahkan kader PKS untuk memilih SBY-Boediono. sikap ini mengisyaratkan, suatu kekhawatiran, tegasnya ketakutan, (kalau-kalau) SBY tidak terpilih nanti, jabatan yang diincar bakal hilang, suatu pikiran kotor malah sangat kotor, atau mereka memang ada niat untuk “berkhianat” pada hari “H” nanti..? Kita buktikan saja..!

So, apa kepentingan PKS dengan mengangkat Jilbab menjelang pilpres ini..!Atau PKS sedang menghitung ulang dukungannya pada SBY-Boediono, terus melakukan bargaining terhadap incumbent atau sekedar meneruskan kegelisahan massa pendukungnya. Ada yang kontradiktif disini.Pertama, bagi perempuan muslim sebenarnya jilbab adalah hal yang substantif, sebab ini merupakan bentuk ketaatan pada sang Khaliq..!untuk menjaga kehormatan dimuka umum. Kedua, PKS adalah Partai yang berideologi Islam, dan seharusnya menjauhi politik citra yang superficial..! Namun partai ini terperangkap pada simbol. Sangat beralasan jika pihak-pihak yang kritis terhadap PKS menyebut praktek politik yang dilakukan tidak lain sebagai upaya PKS untuk “menformalkan” agama. Dalam kerangka politik modern penggunakan simbol-simbol agama untuk menarik simpati pemilih sudah tidak laku lagi, dan tidak mencerdaskan..!! Dan akan menggiring publik pada stigmatisasi yang tak perlu terhadap pihak-pihak yang jadi korban atau yang dikorbankan. Kenapa dikatakan demikian, seorang perempuan muslim disebut baik atau salehah tak bisa “disederhanakan” hanya dengan memakai jilbab atau kerudung dalam tradisi muslim moderat ala NU dan Muhammadiyah. Perdebatan tentang masalah ini akan sampai pada masalah theologis, sebab umat Islam berbeda pandangan tentang jilbab ini. Sebagian kalangan mengatakan Jilbab adalah budaya, Atau merupakan tafsiran teks alquran, dan sebagian lagi menerima jilbab sebagai perangkat yang sudah jadi, artinya turun dari teks suci dan berlaku wajib bagi perempuan muslim.Bagi perspektif ini, tak memakai jilbab(masih debatable, bentuk seperti apa yang diperintahkan dalam teks itu..!?) berarti melanggar perintah agama..!?

Secara bahasa, jilbab berasal dari bahasa Arab, dengan akar kata jalaba, secara bebas artinya dalam bahasa Indonesia adalah menghimpun dan membungkus, pada zaman Muhammad, jilbab adalah pakaian luar yang menutupi seluruh anggota badan dari kepala sampai kaki perempuan dewasa (dengan model boleh kita samakan dengan baju kurunglah kalau disini, tapi yang longgar sampai kekaki). Sedang Jilbab dalam arti penutup kepala walau kebawahnya dipasangkan dengan celana blue jeans, hanya dikenal di Indonesia, memang dibeberapa negara Islam pakaian sejenis jilbab dikenal dengan beberapa istilah, seperti chador di Iran, pardeh di India dan Pakistan, milayat di Lybia, abaya di Irak, charsaf di Turki, hijab dibeberapa negara Arab-Afrika seperti Mesir,Sudan dan Yaman. Pergeseran makna hijab dari semula berarti tabir, berubah makna menjadi pakaian penutup aurat perempuan semenjak abad ke 4 H. Sebelum fenomena jilbab menyeruak pada tahun 1990-an, perempuan muslim di Indonesia lebih banyak menggunakan kerudung untuk menutup aurat sebagai tafsir atas perintah alquran. Dan berkerudung sudah dianggap cukup oleh kalangan NU dan Muhammadiyah.

Namun jilbab belakangan kian menggantikan kerudung karena perbedaan tafsir atas apa yang disebut aurat bagi perempuan muslim.Sepintas secara lahir, PKS membuktikan adalah partai yang menjanjikan, segala aktivitas dapat mereka laksanakan dengan damai tanpa huru-hara, itu terbukti dengan raihan suara yang selalu naik dari pemilu kepemilu. Tapi terkait dengan jilbab ini, menurut saya PKS kini “turun pangkat” karena kembali menonjolkan sisi-sisi simbolik agama. Dan jujur saja ini sangat mencemaskan. Seolah-olah poin-poin yang ditonjolkan dalam Buku Illusi Negara Islam, yaitu :Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia (2009) terkonfirmasi..!Dalam buku tersebut disinyalir misi terselubung partai ini untuk mendirikan negara Islam ditanah air. Atau jangan-jangan partai ini ada tujuan lain, "menggerogoti" Islam dari dalam.

Tentang negara Islam, segala sesuatunya sudah jelas sejelas-jelasnya..! Perdebatan tentang negara Islam, sudah tidak jamannya lagi, tidak relevan lagi, baik dikaitkan dengan NKRI maupun tata kelola negara secara moderen…! Secara pribadi, saya sangat berharap bahwa kalau ada hasrat-hasrat seperti itu, harus segera digugurkan..! Saya tidak pernah bermimpi Indonesia akan menjadi negeri mirip dengan Afganistan, yang ada Thalibannya, Irak yang perang saudara akhirnya dihancurkan,dan lain-lain.Dengan jujur kita ungkap, tak ada negara Islam yang hidupnya aman, yang ada hanyalah saling gontok-gontokan akhirnya tak ada yang diperoleh kecuali kehancuran.