Tag

 Menjelang tengah malam para muhajirun nabi Kampung Bongkaran dan Lontar berkumpul di sekolah SMP 38 filial kembali. Satu persatu mereka saling bersalaman dan berpelukan. Wajah-wajah mereka begitu kelihatan bening dan rupawan. Barangkali sebuah niat yang tulus untuk menolong manusia miskin papa membuat sinar suci mereka muncul kepermukaan.Tapi bagaimana pun kegelisahan mereka tidak bisa disembunyikan. Kesadaran bahwa malam ini adalah malam aksi pencurian yang penuh resiko, bahwa mereka akan memasuki teritori kampung Kebon Pala yang terkenal dengan keganasan preman kampungnya, campur aduk dengan perasaan sentimental dan keharusan berjuang menyelamatkan orang-orang yang sedang sekarat. Mereka makin gelisah ketika sampai jam 1 malam, Bonang belum menampakkan hidungnya. Abung yang mereka utus untuk mengecek Bonang, kembali dengan tangan hampa.

 

" Enyaknya bilang Bonang belom balik dari Pondok Indah." ujar dia kecut.

Mereka mencoba menunggu 30 menit tapi Bonang tidak juga muncul. Kecemasan seperti busa bir dalam gelas muncul kepermukaan. Berto yang sudah tidak sabar segera memecahkan keheningan.

" Gimana ? Apa kita batalin aja aksi kita malam ini ? "

Parjo yang duduk di pojokan tidak menjawab. Buyung cuma mengangkat bahu. Ahmad Aidit sebagai anggota baru karena sering digertak sudah kapok untuk memberikan opini. Tiba tiba Lim Auk Ah berdiri, tanpa basa basi satu satunya manusia bermata sipit di ruangan yang dikuasai pribumi ini langsung berpidato,

" Gue rasa kita harus tetap menuntasi ini misi, sebab perut orang lapar ngga punya batas kesabaran, sebelum semuanye terlambat, sebelum semua bayi pada koit, jadi sangat ngga relepan kalau kita gagalin ini aksi lantaran Bonang.."

Tarjo menyatakan persetujuannya. Buyung juga begitu. Berto akhirnya mengalah. Mereka akhirnya berembuk, membuka peta, dan karena menganggap Lim sebagai anggota paling cerdas ( Lim lulusan SMEA jurusan tata buku pernah menang lomba catur di dua kelurahan ) secara bulat bulat mereka memberikan mandat agar Lim yang mendenah langsung acara penyerbuan. Lim menugaskan: Buyung dan Parjo untuk menggasak keluarga Minang cilako Syahrir Sabirin dan Jawa tamak Mr Probosutembok. Abung dan Aidit menyatroni rumah Sunda sundel tukang tadah duit illegal tilepan corporate asing dan jago maen perek Mr Anjar Kartasmita, dan keluarga Sulewesi setengah sinting Tuan Beddu Ngamang yang item, sangar dan maruk dollar. Sedang Lim mengajak Berto untuk merobinhoodkan rumah lonte cina Anthony Salem, yang selama ini terkenal bekerja sama dengan Bulog merongrong duit rakyat. Dan karena kali ini sisa rumah yang perlu dicongkel cuma keluarga arab, Berto protes

" Kok ngga ada rumah bajingan batak yang bisa kita rangsak ? "

Lim menyahut
" Jangan khawatir Ber keluarga Fuad Bawazir ini sama bajingannye ama semua laywer Batak yang belain keluarga Pak Harto "

Sedang Tarjo bertugas mengamati dan memberikan warning dari jauh jika ada gerak-gerik hansip dan preman di dalam Bajaj yang sudah siap siaga. Jam telah menunjukan pukul dua, Bonang bangkit dari semedinya di bawah batang Monas. Hujan lebat sudah berganti dengan gerimis ringan. Setelah berjam-jam dihanyutkan duka, Bonang tiba-tiba tersadar ada tugas lebih penting yang menantinya di kampungnya.. sekejab dia panik. Bonang berlari dengan tubuh yang masih basah kuyup kembali kearah bunderan HI. Beberapa kali dia berusaha mencari bajaj dan omprengan, tapi malam itu jalanan demikian sepi, seakan semua supir lebih menyukai indehoy dengan para bini. Bonang berlari dengan napas tersenggal senggal. Wajahnya pucat pasi lantaran perasaan bersalah sekaligus karena hawa dingin yang menerpa sekujur tubuhnya yang lembab. Bonang berlari bagai Dustin Hofman di film Marathon Man.

Lagu  This Guy in Love With You Burt Bacharach melantun di kamar loteng castle keluarga Badaksono. Di malam yang sama Nisye, sang putri tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Setelah peristiwa " Pengusiran Bonang " cewek keras kepala ini bukannya merasa sedih mewek dan dilanda duka nestapa. Tidak seperti mayoritas film India atau film bikinan Parfi yang tokoh ceritanya pasti mewek berminggu-minggu dalam genangan air mata setiap kali punya masalah cinta, Nisye memang menangis sebentar saja. Tapi 15 menit kemudian dia malah tersenyum dan makin merasa sayang pada Bonang. Mungkin inilah yang disebut para ahli biologis sebagai penyakit keturunan. Gen Badak yang keras di dalam dirinya justru membuat karakter Nisye semakin kokoh. Nisye semakin yakin bahwa Bonang adalah pilihan terbaik bagi hatinya. Sekejab dia duduk dan membuka laci. Diambilnya sehelai kertas surat. Untuk pertama kalinya Nisye berniat begadang untuk menulis surat pada Bonang.

Jarum jam terus bergerak. Para Nabi kini sedang sibuk membungkuk, mencongkel dan merangsak harta para koruptor dan sekelompok manusia amoral. Sukses pertama diraih oleh Berto yang berhasil mengangkut mesin tik dan komputer jangkrik kepunyaan si jangkrik Bawazir. Setelah itu Lim juga menyusul menjebol warung si cina ngehe Anthony menggoyong lusinan pak rokok Marlboro, mesin kalkulator, 2 kardus sabun mandi merek tante Lux, 5 karton gede sabun cuci Rinso dan Dino serta duit di brangkas sejumlah Rp 400.000. Dan tidak mau ketinggalan dia juga menyikat aki motor bebek yang kebetulan nangkring di samping rumah. Bau sukses demikian terasa mendekat. Tidak mau kalah Buyung membongkar garasi keluarga Sabirin, Dengan ketangkasan seorang pesilat Padang dia congkel pintu mobil Toyota Cresida, dia kutik itu radio tape merek Blaupunk dan speaker Infinity sambil tidak lupa menyikat sepuluh kaset pop Eli Kasim yang salah satu albumnya berjudul dalam bahasa inggris " The Widest Sidewalk in The World – Tribute for tukang kaki lima " oleh-oleh dari perjalanannya ke Amerika. Dalam semangat persaingan yang sama, Parjo berhasil menggondol rice cooker dari dapur keluarga Probo, juga blender, juga segenap panci non sticky bikinan luar negri. Sambil lalu untuk melengkapi kesebelannya pada si Jawa kikir ini, dia ludahi gudeg dan nasi yang tergeletak di atas meja .

Kata orang sebuah marathon belum final, sebelum sang pelari melintas dan menubruk pita finish. Seorang cewek yang sudah tunanganpun masih sah kita kejar dan rebut sebelum dia mengucapkan hijab kabul pada gacoannya. Dan sukes para nabi kampung lontar ini belum lengkap, selama Abung dan Aidit belum menampakan batang hidung dan menunjukkan kina kerja dan prestasinya.

Abung sedang beraksi bersama Aidit menggotong mesin jahit mini keluarga Pak Kartasasmita kaget ketika mendengar batuk-batuk dari arah kamar. Aidit mendesaknya untuk terus berjalan, tapi Abung kaku di tempat. Wajahnya pucat mendadak. Di atas dinding sana dia melihat foto Pak Karta yang memakai pakaian seragam polisi lengkap. Tubuh Abung menggeletar dahsyat. Dia memang alergi dan phobi dengan semua orang berseragam. Aidit makin tidak sabar dia berbisik " Abung, ayooo…cepetan kita keluar " Tapi Abung tidak bergeming, paras mukanya sepucat kertas. Suara batuk makin nyaring dari kamar. Lalu diiringi dengan suara derit kasur dan langkah kaki. Kali ini Aidit justru yang panik, dia lepaskan itu mesin jahit yang suaranya jatuh keras menimpa ubin , membuat kaget Pak dan Ibu Karta, Aidit ngibrit keluar, Teriakan " Maling!! Maling !! " mengudara dari dalam rumah. Suara gedebug dan ampun terdengar dari ruang tamu. Seperti atlit lompat jauh Aidit melesat melompat pagar tapi nasibnya sial.. Tepat di muara gang serombongan preman beserta dua hansip tampak menghadang. Nabi Tarjo yang melihat kejadian itu dari jauh, segera memberikan sinyal pada para nabi yang lain. Suara Klakson bajaj beserta raungan mesinnya yang digas demikian kencang mengagetkan Lim dan Berto, dengan panik mereka tinggali semua barang didepan warung, sedang Parjo dan Buyung segera sprint ketika melihat sekawanan laki-laki sangar berlari mengejar di belakang. Semua rasul berlarian menuju Bajaj, suara manusia yang haus darah membuntuti di belakang. Empat nabi itu berhasil menyelinap masuk bajaj yang langsung mengaum kabur.

 Tapi seorang preman yang punya bakat menjadi Carl Lewis, masih sempat mengiringi sang Bajaj, sebelum dia menikam bahu Lim yang kebetulan duduk paling pinggir dengan belati. Lim menjerit tubuhnya berlumuran darah segar. Tapi bajaj terus berlalu…Tarjo menyetir bagai Mario Andreti. Kepanikan nampak tebal di wajahnya.. dan di bangku belakang, para nabi juga nampak histeris… muka mereka kusut dan penuh rasa takut. Darah Lim masih mengucur membasahi tubuh Buyung dan Berto. Tapi walaupun dalam keadaan begitu Lim masih memikirkan nasib Abung dan Aidit . Ketika Buyung mengeluarkan dasi Versace pemberian Bonang yang kebetulan dibawanya dalam kantong, lalu mengikat bahu Lim dengan mengorbankan dasi mahal itu agar pendarahan Lim berhenti dan menanyakan apakah dia perlu ke rumah sakit, Lim justru menyalak ,

" Jangan pikirin gue, pikirin nasib Abung!!Pikirin nasibAbung. Pikirin  Aidit! " isak si cokin setengah menangis..

 

~ 03 Juni 2009