ImageBerapa banyak kalangan intelektual di masa sekarang ketika mereka sedang berbicara masih menghargai dan bangga dalam berbahasa Indonesia?. Hampir selalu ada istilah asing dalam pembicaraan mereka. Mungkin mereka pikir dengan gaya bicara seperti itu akan menambah kredit mereka sebagai seorang intelektual. Di pihak lain, acara Infortainment di televisi swasta seolah-olah dengan bangga menampilkan beberapa artis peranakan hasil kawin-campur ras Barat yang berbahasa Indoglish (tidak sepenuhnya bahasa Indonesia dan juga tidak 100% bahasa Inggris). Padahal hal-hal tersebut adalah suatu dekadensi bahkan kebobrokan berbahasa. Dewasa ini, nasionalisme berbahasa Indonesia yang dicanangkan para leluhur kita sejak tahun 1928 menjadi semakin kempes. Indoglish semakin marak di kalangan kelas menengah-atas di daerah perkotaan. Golongan ini sering mencemarkan bahasa Indonesia dengan istilah-istilah yang 'mereka anggap' sebagai cerminan intelektualitas. Mereka ini adalah pengguna Indoglish yang jelas tidak punya kebanggaan pada bahasa bangsa sendiri.

Maraknya sekolah-sekolah internasional swasta menambah kemungkinan tergerusnya bahasa Indonesia sebagai bahasa yang menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Betapa banyak anak-anak kita yang bersekolah disana menjadi 'lupa' akan bahasa Indonesianya. Anak-anak muda di Indonesia juga sepertinya bangga jika ia sudah dapat berbicara dengan gaya "Indoglish" atau bahkan 'fake-accent' yang terdengar 'kebulé-buléan' ditampilkan beberapa artis Indonesia semisal nona belia Cinta Laura dan 'selebritis baru' Manohara. Kita melihat kabar di televisi dan koran nasional bahwa Manohara rindu kembali ke tanah kelahirannya Indonesia, berjuang sampai berhasil kembali, dan Laskar Merah Putih turut membelanya. Tapi… adakah rasa nasionalisme yang kasat mata dapat kita lihat di kala ia "sudah lupa" berbahasa Indonesia?.

Mengapa semakin banyak orang Indonesia begitu bangga berbicara dengan "logat bulé Indoglish"? Barangkali inilah sikap warisan dari kalangan yang merasa rendah-diri secara akut akibat pernah dijajah bangsa Eropa selama 350 tahun yang nota bene adalah 'bulé'.

Generasi muda, marilah kita galakkan gerakan membaca buku yang menggunakan tata bahasa yang baik. Jangan terlalu banyak membaca blog di internet yang sering mengabaikan tata bahasa dan kaidah bahasa. Berbahasa adalah salah satu wujud kepribadian dan intelektualitas. Kita bisa ambil contoh seorang presenter televisi Indonesia yang terkenal misalnya Desi Anwar, ia adalah seorang wartawati dengan modal intelektualitas bahasa yang baik, ia berbahasa Inggris dengan baik, berbahasa Perancis dengan baik, dan tetap berbahasa Indonesia dengan baik. Semoga ini menjadi contoh bahwa orang pintar justru tidak mencampur-adukkan bahasa, dan orang yang pintar berbahasa adalah orang yang menghormati kaidah-kaidah bahasa.

Saatnya bangsa Indonesia dan generasi muda-nya membebaskan pandangannya yang menganggap bahasa Indonesia 'lebih rendah' dari bahasa-bahasa bangsa Barat yang pernah menjajah (atau bahkan 'masih menjajah' secara tidak langsung) bangsa Indonesia . Kita harus semakin sadar kebangkitan ekonomi dari bangsa-bangsa di Asia kini semakin menggeser dominasi Barat. Indonesia bukan tidak mungkin dapat mengejar kesuksesan sesama bangsa-bangsa Asia lain yang telah membangun negeri mereka menjadi negara yang membanggakan bangsanya sendiri.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati asal-usulnya, sejarahnya, dan bahasanya. Mari kita bangun Indonesia menjadi negara dan bangsa yang maju, kita bangun rasa nasionalisme dan cinta tanah air, dimulai dari kebiasaan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Salam Indonesia!

Bagus Pramono
3 Juni 2009