Tag

 Nisye sore ini merasa jengkel sekaligus lega. Tadi siang saat pelajaran olah raga berlangsung di lapangan sekolahan, Tuty Alawiyah beserta de geng meniupkan ledekan mereka kembali mencemooh Nisye dengan kata kata yang menyakitkan.

 

Nisye segera menghentikan dribble bola basketnya. Dihampirinya si Tuty berjilbab sok alim itu dengan pasti. Wajah Tuty masih menyunggingkan senyum sarkastis ketika tanpa aba aba sebuah hook Nisye datang menghantam rahang kanannya, membuat rombongan satu gengnya menjerit. Tuty terkapar di pinggir lapangan setengah sadar. Jilbabnya bersatu dengan rerumputan. Rok panjangnya terangkat sampai ke pangkal paha membuat kawan-kawannya semakin menjerit kaget karena di paha cewek muslim fundamentalis ini tanpa disangka terdapat setengah lusin tatto menor bergambar lidah Mick Jagger, lambang band Metallica, hard rocker Tesla dan tulisan bay watch mania, I love Ginger Spicy juga I am a lucky bitch.

Tapi itu peristiwa tadi siang. Sekarang sehabis mandi, Nisye segera bersiap untuk dinner bersama keluarga. Papa dan mama kebetulan mengundang om Fanny Habib beserta teman kencannya tante Dewi Fortuna yang sedang duduk menonton CNN di big screen TV di ruang tamu menunggu hidangan makan malam sedang disiapkan si Neneng dan Bu Ijah. Nisye lelah. Tangannya memar, dan dia kangen dengan Bonang setelah sekian lama tidak pernah menemui sang cowok idaman. Bonang sore itu keluar dari rumah diiringi decak kekaguman orang tua dan para tetangga.Dengan pakaian mahal dan semi jas, dia memang nampak begitu tampan dan berkelas. Ucok sang adik merasa bangga, tanpa disuruh dia berlari ke kamarnya untuk menyusul Bonang menggengamkan uang celengannya di tangan abangnya,

" Buat apa ini cok ? " tanya Bonang kaget.

" Ini uang untuk abang pacaran.." Jawab adiknya dengan wajah rela.

Bonang mengusap kepala adiknya yang penuh pitak dengan rasa sayang,

" Dari mana kau tahu abang pacaran ? "

 Dengan pandangan heran ucok menjawab

" Wah…semua orang kampung pada tau kok, bang ..abang kan sekarang namanya ngeto.." kata si bocah pitak ini dengan bangga.

Bonang berdiri di pinggiran jalan menunggu Kopaja, tidak berapa lama muncul KFS ( Kopaja Franks Sinatra ) si Amo Alatas yang berhenti tepat di depan Bonang. Lagu " Night and Day " Sinatra terdengar dari dalam kopaja yang bangku belakangnya sedang dipenuhi rombongan cewek SMEA 14 yang langsung berbisik bisik begitu melihat ketampanan Rob Lowe Tanah Abang ini.

" Eh Nang, ente mau naik ngga ? " Tanya Arab budiman ini dengan heran melihat Bonang begitu rapih dan necis, Bonang mengangguk dengan yakin, segera dia melangkah untuk masuk kedalam sebelum sebuah Bajaj mengklakson bertubi tubi dari belakang Kopaja. Bonang berhenti dan menoleh.. Seorang John Travolta melambaikan tangan dari balik Bajaj, " Nang…sini gue anter .." kata Travolta palsu berkulit item itu dengan bersemangat. Bonang terperangah, Abung nampak begitu perlente dan dandy dengan baju barunya. Baju Versace dan dasi itu jelas membuat Abung lebih tampan dari semua mentri di kabinet Habibie. Bonang terbahak bahak senang sambil masuk di bajaj, rombongan anak SMEA centil itu berdesak desakan mencuri pemandangan dari jendela, otak ngeres mereka gagal bekerja karena Bonang tidak jadi naik Kopaja.

 Upacara Dinner tinggal semenit lagi dimulai di rumah keluarga Badak. Nisye duduk dengan dengan apik, Bu Badak duduk di sisi kanan di ujung meja panjang. Pak Badak di sebelah kiri.Om Fanny dan gemplakannya di seberang, Nisye heran melihat bangku kosong di sebelahnya disiapkan entah untuk siapa ketika lonceng bell berbunyi. Neneng dan Pak Badak segera bergegas keluar.Mereka berdua terkejut melihat kehadiran Bonang. Pak Badak tidak menyangka si tukang kaki lima pasar Bendungan Hilir itu bisa berubah demikian frontal.Sedang si Neneng kaget lantaran terpesona melihat gantengnya Travolta yang menyetir bajaj didepan. Dan Abungpun tersentak melihat dara kampung Sukakapling di Sukabumi ini demikian manis. Hati Abung dan Neneng saling berpagutan, mereka bergumul dalam romantisme purba Adam dan Hawa, mereka jatuh cinta.

Pak Badak menyilahkan mereka masuk, tapi Abung minder dan bilang " Terima Kasih Om, saya ada keperluan lain " sambil menikungkan bajajnya menuju jalan raya. Bonang melambaikan tangan pada Abung, lalu dia bersalaman dengan Pak Badak tanpa perasaan rendah diri sedikitpun

 " Perkenalkan Om, nama Saya Bonang Tapebolong, anak kampung Lontar "

Pak Badak mengangguk dan mengiringi Bonang masuk. Jantung Nisye hampir saja terlontar keluar dari dada begitu melihat Bonang, Bonang tersenyum dengan penuh pikat. Nisye heran melihat dandanan Bonang yang lain dari biasanya. Bonang nampak begitu lain, sepatunya juga bukan sepatu Bata yang bolong didepan . Bonang berjalan menghampiri Bu Badak dan menyalami dengan gagah

" Perkenalkan Tante, saya Bonang Tapebolong, anak Kampung Lontar.."

Bu Badak membalas dengan senyum ramah dalam hatinya dia berkata " duh ternyata temennya si Nisye ganteng dan punya etiket " dengan wajah senang. Acara makan malampun dimulai, menu malam itu adalah western style seperti American Steaks, Ravioli, fried fish ala cajun,dan Russian salads. Bonang duduk di samping Nisye dengan perasaan bingung melihat menu makanan. Nisye cuma tersenyum simpul melihat gelagat cowok satu ini, Ketika bu Ijah meletakan salad dan membagi bagikannya di piring, Bonang berbisik " Mbak..gado gado ini kok ngga ada kuahnya ? " Nisye cekikikan, Fanny Habib sang calo kapal segera curiga dan heran kenapa tingkah cowok ini begitu lain, sedang Tante Dewi Fortuna yang walaupun bertampang seperti pispot tapi gatelnya luar biasa ( Dewi pernah main dengan Abangnya si Fanny, dari hubungan gelap itu konon lahir kedua anaknya yang bernama Feli dan Tio . Felitio memang adalah kegemarannya ) menebak dengan jitu " ini anak pasti bocah gang.."

Sambil menyantap salad, obrolanpun dimulai. Mulanya Pak Badak bicara soal bisnis dengan Fanny, lalu Bu Badak bicara soal mode dengan Tante Dewi, sedang Bonang saling berbisik dengan Nisye menanyakan soal menu makanan yang aneh aneh itu. Mereka jelas tidak bisa bicara soal yang lain ditempat resmi seperti ini. Bonang merasa bahagia bisa berdekatan dengan Nisye dan keluarganya. Ditatapnya wajah jantung hatinya dengan perasaan sayang, Nisye pun senang duduk di sisi Bonang walaupun dia belum mengerti apa gerangan semua ini. Tiba-tiba Bu Badak berhenti bicara soal mode, kali ini dia menanyakan Bonang

" Nak Bonang tinggalnya di mana ?" Bonang kaget dan berhenti menguyah

" Saya tinggal di Tanah Abang , tante "

Pak Badak mulai gelisah, dia tahu salvo yang diberikan istrinya adalah bagian dari intrograsi. Bininya melanjutkan.

" Nak Bonang sekolah di SMA 4 dong kalo gitu? "

Bonang mengelap mulutnya dengan tissue

" Bukan tante, saya sekolah di STM swasta budut"

 Bu badak nyengir mendengar nama sekolahan aneh itu,dia melanjutkan

" Agama Nak Bonang Apa ?"

 Bonang tersenyum

" Saya Protestan,t ante "

Bu Badak semakin kecewa lalu dia tanyakan lagi

" nak Bonang asalnya dari mana orang tuanya kerja dimana?"

Nisye tersentak mendengar pertanyaan ibunya, tapi dia tetap tenang dan tahu benar Bonang akan menjawabnya tanpa ragu ragu. Justru Pak Badak yang wajahnya memucat pasi.

"Saya lahir di Tarutung tante .umur 6 tahun pindah ke Medan kemudian ke Pakanbaru lantaran bapak saya dapat kerjaan jadi supir di Caltex, menjelang SMP orang tua saya pindah ke Jakarta, Bapak saya sekarang supir mikrolet, dan ibu saya jualan sempak dan kelontong di pasar Bendungan Hilir "

Bu Badak tiba tiba terbatuk batuk, " Apaaa ? "tanyanya tidak percaya, Om Fanny dan Tante Dewi juga ternganga dan mendehem berkali kali.

" Pak…temennya si Nisye ini…kok ??"

 Tubuhnya limbung karena menahan beban emosi. Bonang tidak mengerti kenapa mamanya Nisye bertampang semerah udang rebus. Tiba tiba Bu Badak berdiri dan mengumbarkan kegeraman.

" Kamu anak gang becek ! anak preman pasar..anak supir ..! jangan sekali kali mempengaruhi Nisye masuk dalam duniamu !! "

Bonang terloncat bagai disengat halilinta. Tubuhnya panas dingin. Dia tidak mengerti mengapa tiba tiba tante marah meraung raung seperti itu. Nisye juga kaget melihat sikap ibunya, dia segera berlari ke kamar. Bonang meraih minuman untuk meredam grogi. Tapi gelas yang dia kira air putih, setelah diteguk ternyata adalah white wine, jelas dia gelapan menelan cairan aneh itu. Hampir saja dia muntahkan kembali anggur itu kegelasnya. Bonang demikian panik, " Ya Tuhan apakah aku sedang mengalami mimpi buruk ?" begitu harapannya. Tapi kemurkaan Bu Badak jelas belum berakhir. Dia makin kalap dan menjerit jerit histeris

" Pak..lihat ..ada mahluk kampung yang mencoba masuk keluarga kita!! "

Bonang menunduk sedih Bu Badak melanjutkan pekiknya ,

" Ayo kamu keluar sana kembali ke kampungmu..!! dan jangan coba bergaul lagi dengan Nisye…!!"

Bonang berdiri dan melangkah pergi. Pak Badak berusaha menenangkan istrinya. Tante Dewi malah tersenyum senang. " Rasain deh loe.." katanya dalam hati. Om Fanny pura pura cari asbak dan menghindari konflik intern ini. Hati Bonang tercabik cabik. Jiwanya begitu luka. Dia tidak menyangka sebuah permulaan makan malam yang baik akan berakhir setragis ini. Dia merasa begitu terhina. Kini bayang bayang yang dulu samar samar sering dihindari mulai datang tidak bisa dielakan. Bayang bayang kesadaran bahwa dirinya memang berasal dari kalangan masyarakat terjungkal. Strata kaum gagal yang kemana mana akan ditreat manusia awang awang seperti sampah. Bonang berjalan keluar gerbang. Malam serasa makin gelap. Langkahnya gontai menuju jalan raya. Entah kenapa dia tidak merasa marah pada kelakuan ibunya Nisye. Dia justru marah pada kondisi takdirnya yang lahir sebagai manusia pinggiran. Bonang tidak dendam, tapi air matanya turun deras.

Sebuah mobil mengklaksonnya di belakang. Pak Badak membuka pintu

 " Ayo masuklah nak, saya antar kamu kerumah " katanya ramah. Bonang tadinya ragu, tapi melihat kesungguhan om Badak, diapun nurut. Bonang terpaku didalam mobil, Pak Badak mencoba memecahkan keheningan dengan minta maaf

" Maafkan kelakuan mamanya Nisye nang, sejak krisis ekonomi di Indonesia, tante memang jadi sering emosian " kata Pak Badak mencari alasan.

Bonang mengangguk

" nggak apa apa om, saya mengerti sekali.." jawab dia lirih.

Mobil melaju menembus malam yang makin mendung. Pak Badak menanyakan dimana Bonang mau turun, Bonang menjawab " Turunin saya di Monas saja om " Ketika mobil volvo itu tiba monas, Bonang mengucapkan thanks dan tidak lupa " Terima kasih juga untuk baju dan celana ini om, kalau om mau bisa saya kembalikan lagi."

Pak badak menggeleng " itu semua untuk kamu nak, nggak usah dikembalikan " Pak Badak merasa terharu dan ikut merasakan luka. Diperhatikannya Bonang yang berjalan miring penuh duka menjauh menuju tugu monumen nasional.

 Malam minggu itu disekitar monas banyak terdapat pasangan yang asik berkencan. Bonang berhenti untuk membeli singkong dan tahu goreng. Air matanya entah kenapa turun kembali dengan deras tidak bisa terbendung. Dipilihnya makanan kesayangan kaum pinggiran seperti dia ini dengan perasaan sedih dan lega. Sedih karena harga dirinya terluka, senang lantaran dia menemui dunia dan makanannya kembali. Beberapa cewek centil yang melintas dengan mobil Suzuki Forsa mencoba menggoda sang Rob Lowe yang berbaju keren ini.Tapi Bonang berjalan lurus tanpa menoleh. Beberapa bencong dan pelacur mencoba nasib menawarkan dagangan " Mas , sendirian nih? mau kencan ngga ? " Tapi bonang tetap berjalan lurus.Hujan tiba tiba turun dengan deras. Para pedagang langsung mencari perlindungan di halte bis dan tempat tempat berteduh.Pra pasangan kencan berlari masuk kedalam mobil  meninggalkan koran yang berserakan dalam taman. Sebuah mobil BMW seri 7 tepat melintas di depan Bonang mencipratkan air jalanan ke seluruh tubuhnya ubuh Bonang basah kuyup, tpi dia tidak perduli. Sosok Rob Lowe-diapun luntur, Bonang menampakan ciri ciri anak gangnya kembali. Tapi dia tidak perduli. Bonang tetap menyebrang ke pagar Monumen Nasional.

 Di bawah guyuran hujan dia duduk dipinggir pagar Monas. Dia dudukan pantatnya direrumputan yang basah dibawah cahaya lampu tugu berkepala emas yang melambangkan sebuah harapan arsiteknya tentang kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh penghuni negeri ini. Bonang membuka bungkusan singkong goreng yang sudah dingin dan kuyup. Sambil mendongkak menyaksikan emas jauh di atas sana yang berbinar binar bahkan di malam hujan lebat seperti sekarang inipun, lalu menyaksikan singkong dan tahu goreng kuyup ditangannya.. Bonang yang tidak pernah menangis seumur hidup, seketika merintih dan terisak isak dengan pedih..

 

~ 27 Mei 2009.