(Seperti inilah Isa AS yg saya lihat di dalam mimpi, cuma sarungnya yg berwarna merah tua itu bukan diselempangkan di bahu, melainkan dipakai seperti layaknya kita memakai sarung sembahyang. Isa masih ada bersama kita.)

T = Mas Leo,

Saya baru baca buku 2012, gimana menurut penglihatan Mas Leo tuh?

J = Kebangkitan spiritual sudah terjadi dimana-mana di seluruh dunia saat ini, we are becoming more universal, more spiritual. In short, more humane. Cuma itu saja hikmahnya.

T = Kira-kira ada korban nggak dari situasi baru itu?

J = Korban? Bukankah kita semua telah menjadi "korban" dari percepatan peningkatan spiritualitas di seluruh dunia yg berlangsung saat ini?

Kemarin saya sampai di rumah hampir pukul 8 malam setelah menghadiri acara silaturahmi dengan Mbah Achmad Chodjim dan sekitar 40 orang rekan spiritual lainnya. Saya langsung tidur tanpa meditasi lagi, dan jam 11 malam lewat saya terbangun. Sambil klayar kliyer minum kopi dan merokok saya coba mengingat mimpi yg baru saya alami.

Mimpi itu bermula dengan kerumunan banyak orang termasuk saya, lalu ada orang-orang yg ingin pergi ke suatu tempat suci. Mereka ternyata naik ke suatu tempat tinggi mengikuti suatu bendera berwarna putih yg ditancapkan di atas bukit batu itu.

Bendera putih itu bermotifkan pria sedang shalat yg terbuat dari kaligrafi Arab. Kita sering melihat kaligrafi pria shalat seperti ini. Tetapi di mimpi itu, kaligrafi itu menjadi motif dari suatu bendera berwarna putih yg sengaja ditancapkan di puncak suatu bukit batu.

Orang-orang naik ke tempat itu, yg walaupun bentuknya jelek tetapi banyak yg mempercayai sebagai suatu tempat suci. Saya juga ikut naik, tetapi saya memiliki keraguan karena kaligrafi berbentuk orang shalat itu hanya ilusi optik saja. Kalau kita memakai kaca mata berbeda, atau memandang dari sudut yg berbeda, maka yg terlihat bukanlah kaligrafi orang shalat melainkan bentuk-bentuk tidak jelas.

Kurang lebih seperti ilusi negara Islam gitu lho!

Anehnya, di mimpi itu saya merasa bahwa orang banyak itu adalah orang Yahudi, dan kami mencari tempat suci Yahudi, dan diberikan petunjuk berupa bendera putih dengan motif orang shalat yg terbuat dari kaligrafi huruf Arab.

Lalu saya melihat ayat-ayat kitab suci Yahudi muncul berurutan di depan saya, dalam Bahasa Indonesia. Ayat-ayat itu terlihat dan terbaca oleh pikiran saya. Saya lupa bunyinya apa, yg saya ingat cuma satu kata: Jezreel.

Apabila anda menguasai kitab-kitab Yahudi, anda tahu bahwa Jezreel itu adalah suatu tempat di Israel di mana dinubuahkan akan terjadi Armageddon atau perang terakhir antara Al Masih dan mereka yg mengikut kebathilan.

Tempat yg dikerubungi oleh orang-orang Yahudi itu saya rasa tidak aman. Saya merasa bahwa akan ada teroris yg meledakkan tempat itu. Ini perasaan saya di dalam mimpi, sehingga akhirnya saya menyeberang jalan.

Saya menyeberang jalan dari tempat itu dan melihat ada banyak orang berkerumun juga. Seperti ada kios-kios atau kamar-kamar yg dipenuhi oleh banyak orang.

Lalu salah seorang yg duduk di situ seperti hilang ingatan dan menembaki orang-orang Yahudi yg berkumpul di atas bukit. Saya lihat saja bahwa ternyata apa yg saya duga menjadi nyata dengan munculnya si pembunuh.

Si pembunuh ini memaki-maki terus, dan akhirnya bisa menemukan juga bahwa saya dan banyak orang lainnya ternyata berada di sebuah kamar kecil. Dia menyuruh kami ke luar dari ruangan itu.

Kami semua ke luar dari ruangan itu, dan saya bahkan sempat membawakan jaket milik si pembunuh itu yg tertinggal di dalam kamar, dan menyerahkannya kepada pemiliknya ketika saya ke luar dari kamar. Si pembunuh itu menunggui kami untuk semuanya ke luar kamar.

Setelah itu kami berjalan beriringan ke arah kiri. Mimpi ini bermula dari arah kanan, naik ke atas bukit, menyeberang jalan, ke luar kamar, dan akhirnya berjalan ke arah kiri yg rasanya seperti berjalan menuju rumah masa kecil saya.

Yg terasa mengganjal bagi saya adalah suatu figur memakai baju putih dan sarung berwarna merah tua. Figur ini mukanya seperti orang Barat, berewokan. Baju putih merupakan hal biasa, tetapi sarung sembahyang berwarna merah tua polos merupakan sesuatu yg janggal.

Figur berbaju putih dan bersarung merah tua itu saya lihat baru saja dibaptis di dalam kamar yg baru kami tinggalkan. Dibaptisnya di dalam suatu bak kecil sehingga harus menekuk lututnya untuk masuk ke dalam bak itu. Ini juga suatu hal yg aneh.

Tapi si figur itu berkata kepada saya bahwa dia sudah pernah membaptis dirinya sendiri sebelumnya. Membaptis diri sendiri kan tidak boleh, pikir saya di dalam mimpi itu, tetapi saya diam saja dan berjalan terus.

Lalu saya terbangun.

Karena salah satu spesialisasi saya adalah interpretasi simbol-simbol yg muncul di dalam mimpi, maka saya langsung urutkan lagi mimpi itu. Dari kerumunan orang yg berada di sebelah kanan, lalu naik ke atas bukit di sebelah kiri, lalu menyeberang jalan dan masuk ke dalam suatu kamar, pembunuh yg membantai orang-orang yg berkumpul di bawah bendera bermotifkan orang shalat, dan terakhir pria brewok yg seperti orang bule itu.

Pria inilah yg merupakan enigma bagi saya.

Dia dibaptis di dalam kamar, tapi menurut pengakuannya dia telah membaptis dirinya sendiri sebelumnya. Lalu sarungnya itu yg berwarna merah tua terasa sangat familiar walaupun kita jelas tidak pernah melihat warna sarung sembahyang yg seperti itu.

Clue bagi saya cuma satu, yaitu nama pria itu A, a young friend that I love and now studying in Australia. Tapi A wajahnya tidak seperti itu.

Kemudian saya tidur lagi, dan bangun menjelang pukul empat pagi dengan pengertian bahwa pria itu adalah Isa Al Masih atau Yesus Kristus. Yesus selalu berpakaian gamis putih, dan berjalan kemana-mana dengan sarung yg berwarna merah tua dan diselempangkan di bahunya.

Ternyata itu Yesus sendiri, dan baru kali inilah saya melihat Yesus di dalam mimpi saya.

Ternyata wajahnya itu berewokan, seperti wajah orang Barat, dan Yesus ternyata tidak berada di kerumunan orang yg mencari tempat suci, melainkan berada bersama-sama dengan banyak manusia lainnya yg mengungsi ke suatu ruangan sempit.

Yesus bahkan dibaptis dengan ikhlas dan pasrah di bak yg sangat sempit di ruangan itu. Dan Yesus juga akhirnya berjalan beriringan bersama manusia lainnya yg berjalan terus ke arah kiri.

Arah kiri itu terlihat seperti menuju rumah masa kecil saya di masa keberagaman lebih dihormati. Di saat orang-orang bisa ikut masuk ke dalam gedung gereja, dan segala macam daging tidak dipertanyakan keharaman atau kehalalannya.

Tempat di atas bukit itu ternyata ilusi belaka, walaupun banyak orang dipancing untuk datang dengan bendera berwarna putih bermotifkan kaligrafi orang shalat, ternyata tempat itu akhirnya dibombardir dengan senapan otomatis oleh seorang teroris.

Segalanya itu simbol belaka.

Tempat di atas bukit itu adalah tujuan orang yg ingin mencari Allah di suatu tempat di bumi ini. Bentuknya seperti Bukit Zion di Yerusalem di mana didirikan Masjidl Al Aqsa. Tetapi tempat itu ternyata ilusi belaka. Saya tahu bahwa tempat itu akan dihancurkan, itu Jezreel, Armageddon.

Al Masih yg dinanti itu ternyata tidak ada di tempat Yahudi. Saya termasuk orang yg lari dari keyahudian di dalam mimpi itu. Keyahudian adalah simbol dari syariat, hukum-hukum yg mengekang manusia.

Tapi Yesus berada di dalam kamar sempit di seberang jalan bersama banyak manusia lainnya. Dan Yesus ternyata menggunakan sarung berwarna merah tua itu seperti kita menggunakan sarung. Kita bisa lihat bajunya yg berwarna putih, dan sarungnya yg berwarna merah tua.

Apa yg terlihat di mimpi memang hanya simbol, dan bisa diartikan seperti saya sekarang mengartikannya. Ada kaitannya juga dengan kejadian sehari-hari juga.

Seperti sudah saya singgung di atas, sore sampai malam sebelumnya saya menghadiri acara silaturahmi bersama Achmad Chodjim dan puluhan teman lainnya. Selama full separuh acara, saya duduk persis di belakang Achmad Chodjim. Mungkin saya bisa akses memory dari kesempatan silaturahmi dengan banyak rekan spiritual saat itu. Dan yg saya akses berupa simbol-simbol yg artinya sudah saya berikan di atas.

Ada syariat, ada kerumunan orang yg mencari tempat suci di mana diharapkan Al Masih akan datang kembali dan memimpin perang di jalan Allah. Ternyata Isa Al Masih tidak ada di tempat suci itu, di keyahudian, melainkan ada di seberang jalan bersama orang-orang lainnya, ternyata bersempit-sempitan dengan kita semua di suatu ruangan kecil. Dan ternyata Isa Al Masih mengenakan sarung seperti kita mengenakan sarung.

Dan Isa berjalan bersama kita, ke arah kiri, ke masa depan, di mana ada rumah masa kecil saya ketika orang-orang tidak takut masuk gereja, di mana agama tidak menjadi masalah, di mana tidak ada haram dan halal soal makanan.

Yg ada cuma silaturahmi, spiritualitas, aman dan damai. Saya tidak melihat balas membalas di dalam mimpi. Yg terlihat adalah perubahan adegan semata. Memang ada adegan kekerasan ketika tempat yg konon disucikan itu diteror dan ditembaki, tetapi saya tidak melihat orang bergelimpangan mati. Yg saya lihat, justru orang yg menembaki itu akhirnya membiarkan kita semua pergi.

Dan kita semua ke luar dari ruangan sempit itu, berjalan terus ke tempat yg lebih lega. Isa ada di situ. Isa selalu bersama kita.

Kemarin adalah hari kenaikan Isa Al Masih ke dalam Surga yg dirayakan oleh umat Nasrani di seluruh dunia. Islam juga mengakui bahwa Isa AS naik secara utuh ke atas langit. Saya tidak percaya itu. Saya percaya Isa masih ada bersama kita.

Leo
@ Komunitas Spiritual Indonesia <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.