Tag

 Bapak Badaksono adalah seorang konglomerat berbakat diplomat. Seperti layaknya diplomat dia pandai menyembunyikan sesuatu seperti cengar cengir dan menipu lawan bicara dengan retorika gundul gundul pacul yang mudah menjerat orang dalam perangkap kata-kata muluk serta janji-janji palsu. Persis seperti para birokrat di Indonesian Consulate di manapun di muka bumi ini yang terbiasa membongkok pada pak Konjen, keluarga pak Konjen, tamu Konjen dan semua orang tamu penting yang mereka jemput dari airport seperti rombongan budak negroid pada white master. Bapak Badaksono memang selalu nampak arogan dan angkuh.

 

Tapi seperti Suharto pada almarhum bininya. Atau pada para mentri yang memang punya istri bertampang menakutkan, orang boleh segan terhadap wibawa dan dompet pak Badak. Sedang di balik pintu rumah, pak Badaksono justru segan dan sering keder terhadap Sulastri, bininya. Tidak heran saat bu Badak menanyakan tentang hasil penyelidikan lakinya soal Nisye, pak Badak menjawab

"Ah tidak ada yang mesti dikhawatirkan bu, si Nisye cuma bosan berteman dengan teman satu sekolahan, teman laki-lakinya itu cuma sahabat biasa"

Wajah Bu Badakpun perlahan nampak lega, awan kusut di mukanya sedikit demi sedikit menghilang. Tapi setelah dia terdiam, Bu Badak malah membuat pernyataan yang mengejutkan.

" mas, kita undang temannya Nisye itu lusa malam untuk dinner bersama, gimana?"

Tanya Bu Badak sambil membetulkan giwang berlian sebesar kacang atom yang dibelinya di Amsterdam dua bulan yang lalu.

Pak Badak terkejut, dia berusaha mengelak

" Bu, apa gunanya kita mengundang dia? "

" yah supaya kita tau, bagaimana pergaulan Nisye di luar sekolahnya " Jawab Bu Badak kalem tapi meyakinkan. "

"tapi…tapi bu.." Pak Badak masih terus berusaha mengelak.

" Sudahlah mas, ini juga buat kepentingan anak kita . Oke?" Jawab bu Badak kesal.

Pelototan bu Badak berhasil memadamkan kebimbangan suaminya. Seperti eyang Suharto yang konon ngeri pada bini lantaran sang Tien adalah keturunan ningrat, makanya perlu disembah sembah, dituruni pokoke bangsawane kabeh, Pak Badakpun surut menciut kembali ke ruang tamu. Terduduk di sofa dia berusaha mencari jalan keluar. Bagaimana caranya mengundang cowok amatiran itu tanpa menimbulkan pertentangan antara istrinya dan Nisye di meja makan nanti. Bagaimana caranya agar cowok itu tidak kelihatan begitu kere sehingga bisa masuk ke stratosphire keluarga ini. Setelah satu jam bersemedi di sofa, sambil meneguk Margarita pak Badak akhirnya menemukan ilham. Dia segera berlalu menuju kamar dan menemui kembali istrinya yang sedang terduduk memoles make up Elizabeth Arden di wajahnya yang masih nampak meninggalkan sisa-sisa kecantikan walaupun beberapa garis usia mulai berseliweran seperti jembatan toll Slipi. Disentuhnya pundak istrinya dengan rasa sayang, lalu dia berbisik dengan lembut ,

" Bu, saya setuju dengan idemu mengundang temannya Nisye itu. Tapi lebih baik kita tidak beritahu pada Nisye masalah ini , biarlah ini kita jadikan semacam suprise "

Kata Pak Badak sambil berharap harap cemas. Bu Badak berbalik dan memberi senyuman manis,

" Gitu tho mas, saya rasa itu ide bagus "

Pak Badak mengecup pipi istrinya dengan lembut,

" Jadi malam minggu ini, kita tidak jadi berangkat ke Manila bu?"

" Ah lupakan saja mas, bulan depan saja nanti sekalian kita mampir ke Manila setelah pulang dari mengecek rumah kita di Boston "

Bu Badak berdiri dan beranjak menuju kloset untuk mengenakan pakaian merek Caroline Harrera.

" Mas, saya pergi ke tempatnya Susi dulu, sampai ketemu nanti malam ya mas, saya sudah suruh mbak Pur untuk masak pecel lele buatmu buat lunch nanti "

Bu Badakpun berlalu menuju garasi. Mas Basofi Sudirman, supir pribadinya yang penggemar fanatik dangdut yang bercita-cita bikin album dangdut sendiri nampak sudah stand by dengan kesetiaan seekor anjing gembala Jerman. Pak Badak segera menekan intercom membangunkan AM Saefudin di pos satpam yang sedang asik menekuni gambar setengah nude artis lokal di majalah Popular.

" Pak Paluwi, Tolong antar saya ke Plaza Senayan" sergap Pak Badak cepat.

" ya pak, ya pak ,ya pak " Jawab pak Paluwi yang berjalan terbungkuk bungkuk seperti rombongan budak yang bekerja di keratonan Jogja. Setengah terbata bata sambil meluruskan celananya yang tadi kembung seperti tenda pramuka lantaran itu cover majalah. Volvo kembali melesat keluar istana menuju Plaza Senayan. Sampai di mall, Pak Badak berputaran masuk dari butik ke butik. Di Versace dia membeli beberapa pakaian laki laki dan celana ukuran 31,32 dan 33. Dia juga membeli sepatu Salvatore Feragano ukuran 8 ,81/2 dan 9 sekaligus, Tidak hanya itu dia juga membeli tali pinggang merek Perry Ellis juga ukuran 31 ,32 dan 33. Membayar dengan American Express Platinum yang membuat pelayan toko tergiur dan menelan air ludah berkali kali dan berharap " Aduh kalo si om mau ngajak saya jadi bini ke lima, saya mau aja deh " Setelah selesai Pak Badak langsung menuju ke mobil, AM Saefudin terkaget-kaget kembali karena Pak Badak masuk secara tiba tiba langsung menutup pintu mobil. Secara tergesa gesa dia berusaha menyembunyikan Majalah Popular bahan khyalanannya itu lagi sambil merapikan celana kembungnya kembali.

" pak Paluwi, Dengarkan baik baik ya. Tolong kirimi ini baju, pakaian sepatu ini pada temannya si Nisye besok siang. Bilang sama dia bahwa keluarganya Nisye mengundang dinner malam minggu depan "

Pak Badak nampak begitu serius wajahnya nampak begitu bersungguh-sungguh membuat pak Paluwi meringis dan ber iya pak, iya pak setengah lusin kali.

" bilang juga sama dia supaya tidak memberitahukan kedatangannya pada Nisye juga tidak memberi tahu soal kiriman baju ini pada Nisye. Dan Pak Paluwi juga jangan sekali kali memberi tahu soal ini pada siapapun apalagi pada ibu, oke? "

Kata Pak Badak mencari kepastian.

" Pasti pak, siap pak, perintah pasti saya laksanakan pak,"

Jawab Pak Paluwi tegas seperti para serdadu Kopassus dongo yang siap melaksanakan perintah atasan untuk menculik para akitifis dan mahasiswa, dan membunuh sebagian dari mereka tanpa berpikir, tanpa argumentasi. Pak Badakpun merasa lega walaupun tadinya sempat cemas lantaran dinner adalah upacara ritual penting bagi istrinya yang very keratonan. Dalam dinner model kerajaan ini, pakaian dan penampilan adalah sesuatu yang sakral. Walaupun temannya si Nisye itu tidak punya arti penting baginya, entah kenapa dia tidak rela bila ada semacam penindasan , eksekusi dan penghinaan dari istrinya pada anak muda ini. Tadinya sempat juga Pak Badak bimbang, buat apa semuanya ini dia lakukan? Biarkan saja semuanya terjadi apa adanya, toh seperti ujung magnit yang berlainan kutub, orang kelas bawah dan kelas atas itu memang tidak bisa berdiri bersisian. Tapi bagaimanapun Nisye adalah anak kesayangan satu satunya. Tidak mungkin baginya membuat perasaan putrinya hancur lantaran jurang kasta ini memisahkannya dari orang yang dia sukai. Biarlah dia memberikan sedikit kebebasan bagi Nisye untuk mengenal dunia yang lain. Toh semakin bertambah usianya nanti, Nisye bakalan mengerti bahwa dunia mereka memang berbeda.

 Matahari Jakarta siang itu masih tetap membakar dengan rutinnya. Beberapa bencong nampak mengamen di perempatan lampu merah. Mobil Pak Badak berhenti tepat berdampingan dengan seorang bencong bergincu tebal yang dengan sigap langsung membunyikan kecrekan dan menyayikan lagu " Gubuk Derita " wajahnya yang kurus penuh bekas bopeng yang ditutupi bedak murahan berusaha untuk terus menerus tersenyum seolah olah dia ingin memberi tahu dunia bahwa dia bahagia, entah untuk mengelabui siapa. Di dalam volvo itu Pak Badak menatap pemandangan itu dengan rasa tidak nyaman. Kaca mobil yang seperempat terbuka mulai bergerak. Sang bencong mendadak berharap kaca itu akan turun dan sang om menjulurkan tangan memberikan uang. Tapi orang miskin di mana mana memang selalu dihindari orang. Bahkan Tuhan sendiri jarang mengabuli permintaan mereka. Maka tidak heran kaca mobil Pak Badak bukannya turun justru naik keatas seolah mengatakan persetan dengan dunia luar.

Tidak, pak Badak yang punya yayasan sosial maha gede melakukan ini bukan karena kikir. seperti biasa alibi orang berduit adalah " Ah jika aku berikan ini uang, itu akan memanjakan mereka, membuat mereka malas, kenapa mereka ngga cari kerjaan aja dari pada ngamen dan ngemis ?" Sedang sang bencong yang cuma diberikan asal knalpot dan debu juga punya alasan yang bersebrangan" Ah orang kaya memang pada pedit semua, memangnya gampang cari pekerjaan ? elo orang bisanya teori doang," pikir sang bencong yang sebenarnya adalah pria perkasa sejati sambil berlari menyebrang jalan untuk pulang ke rumah kontrakan di daerah Pondok Pinang. Sujarwo nama bencong palsu itu pulang untuk makan siang sebelum kembali melanjutkan babak perjuangan berikutnya untuk survive melanjutkan hidup keras di rimba kejam ibukota. Sujarwo terduduk di bangkunya yang reot sambil mengunyah gado gado campur nasi sambil memandangi ijazah IKIP Muhamadiyah yang menorehkan namanya yang tergantung di dinding…

~22 Mei 2009.