Pada 20-26 Mei 2009 sidang koroner kematian David Hartanto Widjaja, 22 tahun, mahasiswa jurusan EEE, NTU, di Singapura digelar. Saksi signifikan di ruang profesor dan di tangga darurat mengkuatirkan. Temuan sebaliknya: ada data konglomerat Indonesia menyumbang NTU, NUS jutaan dolar US. Dan kilas balik angka 13.

SKETSA ihwal David ini sudah ke-13. Bila menyebut angka 13, di dalam benak saya selalu muncul nama almarhum Lumenta, mantan Direktur Utama Garuda. Untuk sebuah wawancara bagi majalah MATRA di rubrik Pria dan Kesenggangan, sekitar 1986, penggemar motor besar itu, memberikan sebuah buku fotokopian, yang diketiknya sendiri. Di buku itu, almarhum Lumenta berkisah tentang jatuhnya dua pesawat Dakota (DC 3) yang saling bertibanan di udara pada penghujung 1960-an. Kedua pesawat itu, masing-masing berpenumpang 13 orang.

“Operasi pencarian di perbatasan Lampung-Jambi itu tanpa kami duga tuntas dalam tiga belas hari,” ujar Lumenta kala itu.

Ketika saya meminta Lumenta menerbitkan kisahnya, ia bilang tidak tega dengan keluarga korban.

“Nanti saja ketika saya sudah tak ada.”

Di dalam arsip saya, buku kenangan tulisan Lumenta itu hingga kini masih tersimpan.
Urusan angka 13 berikutnya. Jika Anda perhatikan di gedung jangkung di Jakarta, acap lantai 13-nya oleh pemilik diubah menjadi lantai 12 A. Sebaliknya di Singapura. Kendati sudah datang ke-3 kali memverifikasi kasus kematian David ke Singapura, saya jarang sekali naik ke gedung menjulang. Satu dua kali pernah saya lakukan ke lantai 17 Gedung SGX, di mana Shahi Nathan, lawyer keluarga David, berkantor di Harry Ellias Partnership. Di gedung itu, lantai 13-nya dibiarkan ada.

“Umumnya lantai 4 yang dijadikan lantai 3A di sini, “ ujar seorang pejabat di Kedubes RI di Singapura. Angka empat dalam perhitungan Cina berkonotasi Si = mati.

Entah berhubungan atau tidak, konotasi angka 13 dengan sebuah kejutan, bagi saya pekan lalu terjadi. Saya menemukan data pada hari ulang tahun ke-40 National University of Singapura (NUS) dan NTU pada 2006, seorang konglomerat Indonesia memberikan sumbangan beasiswa masing-masing US $ 1 juta.

Karena sulit untuk mengkonfirmasi, perihal nama penyumbang yang memang ada dan dituliskan oleh perguruan tinggi itu di websitenya itu, tidak saya tuliskan di sini. Agar saya tidak celaka 13, terkena ketentuan yang berkait kepada UU ITE, khususnya pasal 27 ayat 3 – – sebuah pasal di mana saya pernah menjadi legal standing di Mahkamah Konstitusi, dan dinyatakan kalah.

Proses kerja jurnalisme yang mengutamakan verifikasi dari bahan tertulis, seakan mendapatkan ancaman nyata, karena UU itu telah memberikan hukuman kurungan 6 tahun dan denda Rp 1 miliar. Inilah beban runyam yang kini dihadapi oleh para jurnalis online di Indonesia.

Beban pahit itu kami rasakan pula bagaimana dalam dua bulan ini sulit mencari saksi-saksi mata kematian David. Terlebih penggalan keadaan yang terjadi di ruang Profesor Chan Kap Luk. Dugaan sosok Zhou Zheng, Project Officer, yang menjadi saksi mata di ruang itu, empat hari setelah kematian David, ditemukan pula tewas. Seutas tali gantungan menggelayut di apartmentnya di lingkungan NTU, namun jasadnya sudah berada di lantai di saat polisi Singapura datang.

Poin berikutnya apa dan siapa yang menyaksikan David di tangga darurat dari lantai B1 ke lantai B2 hingga hari belum juga ditemukan. Sosok Nany, pekerja cleaning service, yang pernah menuturkan mendengar teriakan David, “They want to kill me,” juga tidak bersua. Sebaliknya dari keterangan seorang mahasiswa NTU sejurusan dan seangkatan dengan David, ada saksi yang melihat David di jembatan kaca yang menguhubungkan kaca dengan gedung Techno Park, ketika hendak terjatuh dari ketinggian 14 meter itu.
“Bahkan ada yang memvideokan dengan mobile phone-nya.”

Malam harinya, setelah makan bertiga Nofiyanto Kartamihardja, blogger Cah Ndeso, yang Kamis pekan lalu bergabung ke Singapura, plus bersama Yasmin, sosok alumni NTU yang banyak memasok info pihak-pihak yang dapat kami wawancarai berkait dengan peristiwa ini, kami lalu mengunjungi Henderson Wave, jembatan penyeberangan tertingi yang di Sketsa XII sudah saya tuliskan itu. Sekalian saya meralat penulisan Hendersen, yang seharusnya: Henderson, itu.

Kami pulang dengan taksi dan entah kebetulan atau tidak argonya S $ 13 dolar.
“Dan ketika persidangan 20 Mei, pas 13 hari kamu di Singapura,” ujar Yasmin.
Lagi-lagi urusan angka 13.

Yang pasti ketika menuliskan Sketsa XIII ini, paling-panjang waktu tertunda menuntaskannya, ada saja yang membuat tulisan menjadi terbengkalai. Di luar liputan Sketsa dan media mainstream yang telah mengemuka, kisah behind the scene liputan tidak kalah heboh dan seru dibanding upaya pencarian saksi, terutama adegan para crew televisi yang mendatangani apartment profesor Chan Kap Luk di Park Oasis, Jurong East, berkelit dari petugas keamanan apartment, menunggu berdiri di depan pintu yang tak kunjung dibukakan, bahkan orangtua David juga pernah datang, setelah membaca di media Singapura, bahwa ia ingin bertemu, giliran didatangi malah menghindar.

Tentunya behind the scene akan dikupas di buku saya mengenai kasus David kelak.

SABTU, 16 Mei 2009, untuk membunuh waktu dari ketegangan verifikasi, saya menyempatkan menonton pacuan kuda di Kranji, Singapura. Sudah sejak 17 April 2009 berlangusng event international pacuan kuda, dan puncaknya 17 Mei 2009, pacuan utama berhadiah US $ 3 juta.

Ketika kecil di Padang pada penghujung 1960-an, saya masih ingat bersama kakek menonton pacuan kuda di Bukit Ambacang, Padang Sumatera Barat. Karenanya ketika 1979 ke Jakarta, saya sempat menyimak pacuan kuda di Polumas, Jakarta Timur. Kini pacuan kuda di Jakarta sudah tak ada, hanya di Padang saja, karena sudah menjadi aset daerah, pacuan berlanjut hingga kini.

Akan tetapi membandingkan tempat pacuan kuda yang ada di Indonesia dengan di Singapura, benar-benar ibarat bumi dan langit. Arena penonton pacuan kuda modern, berlantai tiga, ada penonton biasa tanpa AC membayar S $ 3, ber-AC S $ 7 dan ada pula paket penonton Gold membayar S $ 98, berikut dinner buffet. Tempatnya mewah macam hotel bintang lima. Kapasitas penonton melebihi untuk 100.000 orang. Sebuah layar besar teve, ukuran dua kali lapangan basket di lapangan, membantu segenap penonton tidak perlu memakai kekeran.

Pacuan berjalan profesional. Pasar taruhan ramai. Otomasi komputer canggih. Back office berjalan dengan komputasi modern, dijamin tak bakalan ada cek-cok urusan taruhan dan hadiah. Semua berjalan cepat seirama derap kaki kuda kuda bagus mahal di lapangan yang berharga bisa mencapai jutaan dolar seekor.

Di situlah saya melihat sebuah derap ekonomi berputar besar.

Senin, 18 Mei 2009, ada headline foto di koran Strais Time, sosok Prives, kuda yang memenangi lomba dan mendapat S $ 3juta. Ditengah berita ekonomi, politik, foto kuda juara tampil di halaman satu. Di sinilah berwarnanya Singapura. Bandingkan dengan berita di koran kita.

Olahraga pacuan kuda tidak tumbuh, gerak ekonomi di sektor ini tidak berkembang. Kita harus ke Singapura untuk sekadar melihat pacuan kuda bergengsi sekaligus beradab.

PENGADILAN Coroner Court mulai 20 Mei saya yakini kredibel. Namun bagaimana fakta-fakta yang dibawa penyidik ke persidangan, inilah menjadi kunci keadilan. Saya mentatat bahwa polisi akan mengembalikan laptop David sepekan sebelum persidangan, tidak terjadi. Dalam kenyataan demikian, omongan Avadear, Deputy Superintendant (DSP), di kepolisian Jurong East, yang menyatakan polisi Singapura salah satu yang ternbaik di dunia, menjadi catatan saya. Dalam keadaan demikian, tinggalah doa saja, semoga pengadilan ini agar menunjukkan bahwa kebenaran memang masih ada.

“Hari pertama, persidangan koroner menghadirkan dua orang petugas forensik,” ujar Shashi Nathan.

Kedua ahli forensik itu adalah; Mariam Wang dan Gilbert Lau. Lalu pada 21 Mei, saksi yang diajukan ke persidangan adalah Proesor Chan Kap Luk, sosok kunci kematian David. Selanjutnya 25 saksi lain, akan dihadapkan secara maraton sepanjang persidangan yang agaknya cukup melelahkan itu.

Bila kemudian, bola yang diindikasikan digiring NTU, khususnya Chan Kap Luk, dibenarkan pengadilan; bahwa David menusuk profesor, melukai nadi lengan sendiri lalu lompat bunuh diri, maka akan lengkaplah sudah lembaga NTU dimana konglomerat Indonesia berderma maka nista nian nyawa anak bangsanya sendiri jadinya. Semoga tidak kisah tragis begini yang melinggis-kikis. ***

Iwan Piliang, lileterary citizen reporter, blog-presstalk. com