Jusuf Kalla (JK) pernah mengundang blogger berjumpa, sebelum Pemilu Caleg lalu. Di pertemuan itu, saya menyampaikan kasus kematian David Hartanto Widjaja, 22 tahun, mahasiswa jenius asal Indonesia diduga dibunuh di kampusnya di NTU, Singapura. Pada 8 Mei 2009 petang, keluarga David diterima JK di kediaman. Saya menyimak dari Singapura, di saat ketat memverifikasi pencarian saksi signifikan menjelang persidangan koroner 20-26 Mei 2009 ini.

 

DI BALIK ketegangan menemui saksi mata, kawan dekat almarhum David, di sela kelelahan, sebulan lalu, saya menyempatkan diri mampir ke Esplanade Theatres on the Bay, Singapura. Bangunan beratap mirip durian itu dibangun berbiaya S $ 600 juta, terletak di lahan enam kali lapangan bola. Panorama sekitar mengarah laut melingkar di sekitar gedung jangkung berkelip berbinar sinar.

Teater utamanya berkapasitas 1.600 tempat duduk. Atap durian berduri-duri 10.868. Di Esplanade-lah pernah dipagelarkan sebuah pertunjukan teater kolosal I La Galigo, karya teater master piece, bagian epos terbesar di dunia. Epik ini hidup di masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan, menjadi epik tertulis terpanjang di dunia melebihiepos Mahabharata.

Di dalam I La Galigo, masyarakat digambarkan tampak hirarkis. Datu, sang penguasa, orang terkemuka dalam kerajaan. Dialah yang menjaga keseimbangan lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Ia pewaris kebijakan dimuka bumi. Dalam kacamata inilah saya menyimak Hartono Widjaja, ayah David, William Hartanto Widjaja, kakak, Tjhay Lie Khiun, ibu, didampingi Christovita Wiloto, advokasi kehumasan, diterima secara bijak oleh JK.

JK prihatin atas kasus kematian Atlet Nasional Olimpiade Matematika 2005 ini. Ia meminta pemerintah Singapura mengusut tuntas kasus kematian tak wajar mahasiswa Indonesia itu.

“Saya mengharapkan jaminan tidak ada initimidasi bagi saksi, agar kasus ini segera terungkap kebenarannya di pengadilan, “ ujar JK.

Sudah sejak lama saya berharap bahwa ada pemimpin bangsa menerima keluarga David sebagai bentuk kepedulian. Kali ini gayung disambut Wapres. Bandingkan misalnya, ketika seorang anak pengusaha anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Ali Said, tahun lalu diculik seseorang. Simbol-simbol negara dipakai Presiden SBY untuk menghimbau agar sang penculik mengembalikan Raisa, putri Ali Said.

Sebaliknya dalam kasus David. Sejak kematiannya pada 2 Maret 2009, negara seakan entah di mana. Padahal dari verifikasi yang kami lakukan, David terindikasi kuat dibunuh – – simak Sketsa 1 s.d.,12, saya di www.blog-presstalk.com. Lebih jauh lagi, sosialisasi yang dilakukan oleh Nanyang Technological University (NTU), di saat hari kematiannya, David disebutkan menusuk profesor, melukai nadi sendiri lalu lompat bunuh diri. Kenyataan ini menyiratkan bahwa anak jenius Indonesia, adalah sosok yang brutal. Rilis NTU berikutnya menyebutkan bahwa perihal itu terjadi karena David dicabut beasiswanya, faktor nilai pelajarannya menurun. Terseret-seret pula kegemaran David yang bermain game online. Sementara pihak kepolisian saja masih terus menyidiki kasus ini kala itu.

Sehingga penerimaan keluarga David oleh Wapres itu, menjadi sebuah bentuk perhatian, agar “kesewenangan merusak” citra anak bangsa yang dilakukan NTU itu memang layak menjadi kepedulian.

Karenanya, saya mengingat kembali ketika berada di bagian lobby Esplanade yang pernah secara bangga mementaskan karya budaya bangsa teater kolosal I Laga Ligo – – menjadi basis budaya JK. Dan terbayangkan ke depan, bahwa Wapres tidak saja sebatas menerima keluarga David, tetapi memantau kasus ini hingga akhir.

MALAM saya di gedung Esplanade itu di bagian lobby tampak 20 deret alat musik tradisonal Cina berdawai, ber-string, diletakkan di bangku yang sudah tersusun. Tak lama kemudian dua puluh gadis langsing berbaju lengan buntung terusan merah tampil. Mereka memetik dawai-dawai alat musik tradisional itu. Suara string mengalun seakan menyatu satu meraung-ruang. Lengan berbahu berleher jenjang mengayunkan jemari lentik gadis-gadis itu. Penonton bertepuk tangan. Tanpa membayar, datang ke Esplanade mendapatkan penghiburan, sekaligus harapan.

Anehnya, sosok gadis lulusan NTU di samping saya, yang banyak memberikan latar, info, akses terhadap temen-teman almarhum David justeru bercucuran airmata.

“Saya ingat akan kakek bermain sandiwara,” ujar Rema, sebut saja namanya begitu.

Sosok Rema telah meninggalkan Jakarta sejak sebelas tahun silam. Peristiwa kerusuhan Mei 1998, telah membuat luka yang dalam. Di saat masih duduk di sekolah menengah pertama, ia sudah harus berpisah dengan orang tuanya, berpisah kakak dan adik. Ia memendam dalam peristiwa yang tidak akan pernah hilang di dalam hidup, yang melukai hati bak disayat sembilu. Dengan keteguhan hati, Rema menjadi sosok mandiri, berkuliah di NTU. Ia kini menjadi seorang enjiner, mandiri bekerja di perusahaan Singapura.

Jauh di lubuk hati Rema yang dalam kini, tidak pernah menemukan jawab, mengapa selalu saja ada kekerasan dan kekerasan di dalam kehidupan. Karena itulah, ketika David Hartanto Widjaja diberitakan bunuh diri, ia meradang. Luka lamanya seakan menganga, mencari jawab dan benar saja; verifikasi nyata adanya, banyak kejanggalan di balik kematian David.

Jika sebuah bangsa yang dikenal dengan beragam kebudayaannya, macam akar budaya panjang yang ada di kitab epik I Laga Ligo itu misalnya, menjadi cerminan kehidupan, adalah aneh jadi sebagai bangsa di negeri Indonesia di setiap waktu masih mengedepankan kekerasan, melukai fisik sesama saudara.

Maka saya pahami apa yang dilakukan JK, baik berupaya melakukan upaya damai di Poso, Ambon, bahkan mencari jalan titik damai bagi saudara kita di Aceh, sebuah terobosan signifikan – – karena perihal kerukunan itu juga tertuang dalam kitab I Laga Ligo.

Khusus kasus Aceh, saya menjadi teringat akan liputan Alfian Hamzah, untuk majalah PANTAU 2003 lalu, di era GAM itu. Dengan jenaka Alfian menuliskan bagaimana di kamp-kamp di tengah hutan, antara TNI dan GAM saling mengatai melalui goresan-goresan spidol, cat atau arang. Di luar dar –der-dor, deskripsi tentang saling katai itu, manjadi lucu disimak, membuat geli tawa, menjadi tanya mengapa kita saling bantai?

Sesungguhnyalah di dalam perang, di dalam dendam, di dalam kemarahan, jika takzim tersenyum lebar sebentar, akan lain jadinya.

HARI INI saya berjumpa dengan Hendrik Teng, salah satu teman dekat almarhum David, yang studi di Amerika Serikat. “David itu anak pintar, jenaka, tugas saya di AS saja banyak dibantunya, padahal saya di jurusan berbeda di mekanikal,” ujar Hendrik, ketika kami bertemu di Banquet Food Court, Boonlay, Singapura, sambil makan Chicken Rice.

Hendrik kebetulan empat bulan ini bekerja di Singapura. Ia memiliki teman sekantor orang Vietnam, yang lulusan NTU dan satu jurusan juga dengan David. “Teman Vietnam itu mengatakan Profesor Chan Kap Luk, yang diduga tersangka pembunuh David, memang orangnya kasar, suka marah-marah dan mengatai mahasiswa,” ujar Hendrik.

Rema juga mendapatkan keterangan yang sama seperti paparan Hendrik. Lagi-lagi urusan hati, urusan kemarahan membara. Saya percaya obat penawarnya tiada lain membaca peradaban, mengasah rasa, hati dan budi dengan seni dan budaya, macam mendengar dentingan dawai musik tradisonal di Esplanade itu, misalnya. Mungkin saja jika Profesor Chan Kap Luk ada di Esplanade, Rema memiliki kawan bercucuran airmata.

Saya sepakat dengan JK, dalam kasus David kebenaran harus kita tegakkan. Selanjutnya iqra menyimak dan membaca peradaban melalui kitab adiluhung macam I Laga Ligo bisa menjadi sebuah terobosan meiningkatkan mutu kehidupan. Sehingga kian hari kita terhindar bar-bar. ***

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.com