Tahun 1955 John F Kennedy mendapat hadiah Putlizer untuk karyanya Profiles in Courage. Buku ini menggambarkan kegigihan 8 Senator Amerika Serikat – yang hidup di jaman, tempat berbeda dan menghadapi masalah yang berbeda pula – dalam mempertahankan idealisme sendiri yang berhadapan dengan partainya sendiri ataupun pendapat umum. Semua Senator ini berani menghadapi semua kritikan tajam, cercaan dari semua orang dan resiko kehilangan popularitas. Buku ini adalah tentang keberanian. Kennedy mengutip Ernest Hemingway yang mengungkapkan “courage is grace under pressure”.

Calon presiden terkuat, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), memilih Boediono sebagai calon wakil presiden (cawapres) dalam pemilihan presiden Republik Indonesia periode 2009 – 2014.

Tindakan berani SBY, yang diluar pakem, yang memilih cawapres yang tidak berasal dari partai politik ini tentu saja mendapat kritikan tajam dari mitra dari koalisi yang baru saja dibina.

Yang patut ditonjolkan dalam preferensi SBY ini adalah Boediono – gubernur Bank Indonesia saat ini – merupakan seorang ekonom yang berpengalaman dan kompeten. Boediono mencerminkan orang yang berhasil memegang jabatan tinggi karena kemampuan teknisnya. Dan SBY memilih Boediono lebih karena alasan teknis.

Dan dengan alasan ini maka SBY terancam kehilangan dukungan banyak pihak termasuk masyarakat. Partai politik yang marah jelas akan menarik dukungan, sedangkan masyarakat akan melihat kombinasi ini tidak ideal secara geografis, karena keduanya sama-sama wong Jowo.

Pemilihan cawapres seperti Boediono ini membuktikan SBY itu orang yang berani, dan tidak seperti yang dikatakan banyak orang bahwa dia peragu. Keberanian SBY ini membuat ia masuk nominasi Profiles in Courage versi Indonesia. Paling tidak saat ini baru ada satu nama yang pantas masuk daftar, yaitu: Pak Harto!

* * *

Berpolitik itu butuh keberanian. Tapi selain itu berpolitik itu juga harus mengesankan. Ada banyak orang yang memegang jabatan hebat dan tinggi di negeri ini akan segera kita lupakan, karena kita tidak melihat warisan baik yang ia tinggalkan. Berapa banyak pemimpin partai atau politikus yang pada suatu masa berita tentangnya banyak menghiasi media massa, lalu kemudian turun dan menghilang dan kita sama sekali tidak bisa mengenang jasa-jasanya bagi negeri ini.

Tentu saja jalan SBY masih sangat panjang. SBY harus mengatasi kompetitor kuatnya seperti Jusuf Kalla, ataupun Megawati dan Prabowo. Tapi SBY sudah memulai langkah berani pertama.

Melihat keadaan politik sekarang, saya berasumsi SBY akan bisa melanjutkan pemerintahannya, sehingga SBY bisa melanjutkan ke langkah berani berikutnya.

Langkah berani berikutnya yang patut kita tunggu dari presiden mendatang adalah penerapan teknokrasi. Anggota kabinet tidak usah lagi mengambil dari orang-orang partai namun terdiri dari para profesional yang kompeten dalam bidangnya masing-masing. Kabinet di jaman reformasi memiliki banyak ketua ataupun aktifis partai.

Indonesia masih membutuhkan orang yang memiliki kompetensi sangat tinggi untuk membangun berbagai sektor. Orang itu harus sangat menguasai permasalahan secara komprehensif. Sungguh tidak arif dan bijaksana menyerah suatu urusan departemen kepada yang bukan ahlinya seperti ketua /aktifis partai dimana mereka harus belajar dulu sebelum menjalankan tugas. Kalau mereka “quick learner” ya mungkin tidak apa-apa, tapi kalau ternyata mereka memang tidak kompeten yang akan dipertaruhkan dan dirugikan adalah kesejahteraan rakyat.

Sesungguhkan seorang presiden tidak perlu khawatir kekurangan stok orang-orang yang andal pada suatu bidang. Ada banyak bintang-bintang cemerlang yang telah mengabdikan hidupnya di suatu bidang.

Saya memikirkan misalnya Onno W Purbo sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi, Fadel Muhammad/ Gamawan Fauzi sebagai Menteri Dalam Negeri, Yohanes Surya/ Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan, Ulil Abshar-Abdalla sebagai Menteri Agama, Soemanto/ Master Limbad sebagai Menteri Pertahanan Keamanan, Ponari sebagai Menteri Kesehatan. (Tentu saja 2 menteri terakhir tidak benar ;-))

Selanjutnya kita juga berharap SBY melakukan langkah berani terakhir yaitu mempersiapkan kadernya untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Mantan Direktur BRI, Djokosantoso Moeljono pernah mengungkapkan secara indah tugas pemimpin yang pertama, adalah: mempersiapkan pengganti!

Pak Harto pernah mempersiapkan Habibie sebagai penggantinya. Inilah saatnya SBY melakukan hal serupa. Saya berandai-andai, beranikah SBY menunjuk kader muda potensial partai Demokrat seperti Anas Urbaningrum sebagai calon penerusnya?

SBY memiliki modal besar untuk tugas bersejarah ini. Dan jika tidak meleset dalam pemilihan presiden mendatang, SBY akan sampai di puncak kemashyurannya. Apapun yang dikatakan SBY tentang pengantinya akan didengar orang.

Keberanian SBY akan tuntas jika dia sanggup mempersiapkan kadernya dari sekarang. SBY akan berhak masuk dalam Profiles in Courage versi Indonesia. Dan kita akan mengenang kepemimpinannya.