Tag

 Dating adalah tradisi/ritual setua sejarah manusia. Dari Adam sampai Casanova, dari Julius Caesar sampai si Komar anak gang buaya, bila berkehendak menemui teman kencan pastilah mereka menyiapkan pakaian dan penampilan yang terbaik.

 

Laki-laki Neanderthalis yang hendak mengunjungi lawan kencannya biasanya menyerahkan binatang hasil buruan sebagai barang pemikat. Pria abad pertengahan di Eropa membawa parfum dan coklat. Sedang cowok modern jaman sekarang pastilah  membawa kembang dan tidak lupa menyiapkan kondom di dompet (Tommy Suharto, K H Noer Iskandar, Benny Murdani, Ginanjar, Ari Sigit, Muslim Taher, Abdul Latif) sambil menunggu sebuah kesempatan terbaik untuk memetik para kembang yang lemah gemulai yang gampang dikelabui duit dengan menggiring mereka ke kamar hotel berbintang buat "istirahat ".

 Tapi Bonang bukanlah mahluk yang otaknya dikuasai bayangan ngeres. Batak satu ini memang pergi ke Plaza Senayan sebelum menemui Nisye untuk membeli boneka sebagai pertanda sayang. Setelah berputaran dari satu toko ke toko akhirnya Bonang mendapati sebuah boneka unik yang menurutnya pas buat Nisye. Boneka Porky Pig itu alangkah lucunya. Bonang beli seharga Rp 25.000 tanpa perasaan berat. Baginya uang bukanlah segala-galanya dibandingkan dengan tulusnya cinta. Lagi pula selain Bonang memang dermawan, hari itu dia juga memang merasa begitu kaya. Uang dari Rasyidi adalah uang terbanyak yang pernah dia punya. Dan Bonang jelas ingin menikmati sepuas-puasnya perasaan kaya ini sebelum sang duit benar-benar pupus lagi nanti.

Kopaja yang dihentikan Bonang di depan Mall ternyata bersupir Amo. Dia adalah pasangan main gaple Bonang ketika mereka memenangkan kejuaraan gaplek di kelurahan Kebon Melati di 17 Agustusan yang lalu. Supir Arab yang bangga karena tinggal berhadapan dengan Djair, seorang penulis komik silat ini adalah seorang supir yang sama sekali tidak licik seperti layaknya saudara-saudara jauhnya di semenanjung Arab sana. Amo bukan saja Arab Tanah Abang yang murah senyum. Kopajanya juga terkenal di kalangan penumpang sebagai "KFS" alias Kopaja Frank Sinatra "karena sepanjang trayek, Amo selalu memasang lagu-lagu Frank Sinatra dan kadang-kadang Perry Como. Hati Bonang berdebar ketika kopaja mendekati bunderan Lapangan Tembak. Amo bertanya  "kenapa ente kok keliatan pucet Nang?. Bonang menjawab jujur "hari ini adalah hari terpenting dalam hidupku Mo. Aku akan bertemu seorang bidadari, ini bidadari Pondok Indah Mo, dan rasanya dia bakalan menjadi pacar pertamaku".
Amo menggaruk-garukkan kepalanya bingung, sambil mendengarkan lagu "Its Impossible"-nya Perry Como. Dia berkata dalam hati "Yah Nang, ente anak gang becek pergaulan cetek mau pacaran sama cewek elit? Its impossible nang ..". Amo menghentikan Kopajanya tepat restaurant baso. 30 detik menjelang terjun ke aspal, Bonang masih sempat melap wajahnya yang berminyak dan tangannya yang berkeringat dengan tisue merek Mandom. Tidak lupa dia memberikan 2 bungkus JiSamsu buat Amo yang mengucapkan "gut lak" sambil tertawa tergelak menyaksikan Bonang yang nampak begitu nervous.

Batak satu ini berjalan dengan rasa bimbang. Di ujung sana samar-samar dia melihat sosok Nisye sedang duduk sambil menyeruput cola dingin. Wajahnya begitu cantik mendebarkan seluruh pori-pori sang Batak. Tubuhnya yang dibungkus kaos putih dan celana Jeans biru muda begitu nampak elegan. Kulit tangannya yang seperti meredam panas Matahari Jakarta menyejukkan hati semua laki-laki normal yang menyukai keindahan. Ketika Nisye melambaikan tangannya, Bonang hampir saja semaput dan berniat kabur mengejar Kopaja si Amo. Tapi insting purba orang Sumatra Utara memang tidak gampang runtuh. Cuma sedetik Bonang bimbang, setelah itu dia malah kembali menjadi Sisingamangaraja sejati yang nekad walafiat. Tidak, tidak ada yang namanya malu untuk raja tanah Karo satu itu.

Bonang menyalami tangan Nisye sambil menyembunyikan porky pig di tangan kiri di balik badan. Tapi Nisye justru berdiri dan memeluk ringan Bonang. Mudah diduga Bonang kembali pucat pasi, lagu-lagu melankolis Hetty Koes Endang di dadanya tiba-tiba berhenti berubah menjadi lagu hard rocknya Metalica yang tidak pernah dia mengerti.

"Nisye ini ada hadiah untukmu", kata Bonang sambil mengulurkan sang boneka babi buatan Taiwan. Nisye tersenyum senang, dan menerimanya secara gembira walaupun sebenarnya dalam hari Nisye dia berkata "kok boneka ini lebih mirip Habibie dari pada si Porky?".

"Aduh Terima kasih banyak ya Bonang… Bagus sekali bonekanya", jawab Nisye.

"Ini saya juga bawa hadiah untuk kamu", Nisye mengeluarkan satu gallon es krim coklat merek Hagendaz dan menyerahkannya ke Bonang. Mudah diduga anak gang satu ini langsung tertawa-tawa senang.

"Kamu kocak Nisye.. Ha ha ha. Kok tau sih kalau aku ngidam ini es krim?", tanya Bonang yang vocalnya begitu keras menggema mengganggu pengunjung restaurant.

Nisye juga ikut tertawa dia bilang, "Saya melihat kamu kok waktu kamu comot es krim dari bajumu dan jilat-jilat tanganmu di luar pintu mall sana."

Bonang tertawa. Mereka tertawa bersama sama, dan Tuhan-pun di langit sanapun ikutan tertawa melihat mahluk ciptaannya begitu romantis dan mesra. Bonang menggenggam tangan Nisye dan mengucapkan terima kasih. Sambil menceritakan kembali pengalaman pertama bertemu di Mall, mereka memesan baso urat dan teh botol. Wajah Bonang berseri tampan, sekali-kali dia mencuri wajah Nisye yang terbiasa menunduk setiap kali menyeruput minuman. Dan Nisye juga kadang mencuri wajah Bonang, yang terbiasa menggasak makanan di warteg tanpa upacara pendahuluan tanpa beban. Bonang bercerita soal Abung yang sempat menganggap Nisye itu mahluk halus. Juga soal berapa lama dia menghabiskan waktu untuk menulis surat pada Nisye. Nisye tertawa kembali terpingkal-pingkal. Perlahan dia menyadari cuma laki-laki inilah yang bisa membuat dirinya begitu riang. Lambat tapi pasti Nisye mengakui berdekatan dengan Bonang adalah suatu keasyikan tersendiri. Sudah berapa lama Nisye tidak tertawa selepas ini.

Adalah rombongan Eggy, mantan pacar Nisye yang menggangu suasana romantis mereka berdua. Cowok Menado berbadan besar itu keluar dari mobil sport Mitsubishi 3000-GT berdampingan dengan 3 mobil gengnya yaitu Grand Cherokee, Audi A-8 LX, Porsche Carrera. Bersama-sama mereka keluar dari mobil yang diparkir sembarangan. Berenam mereka berjalan masuk barengan kedalam kedai baso. Nisye mengeleskan wajah dari Eggy karena dia tidak mau urusan dengan anak Gubernur Sulut yang pernah menghianati hatinya ini. Tapi Eggy malah petentengan, setelah menutup telepon genggam yang berkali-kali berdering, dia bertanya pada Nisye "Eh Nis? Elo date sama supir Bajaj dari mana?", dengan angkuhnya.

Bonang tersentak, dia tidak mengerti apa yang terjadi, Bonang membalikkan badan berdiri dan menatap Eggy. Nisye mencoba meredam suasana dengan menyuruh Bonang duduk kembali. Bonang bertanya "siapa dia Nis? Kenapa dia merendahkan aku seperti itu?". Nisye menjawab, "nggak usah dipikiri Nang. Dia cuma seorang anak sinting yang kurang kerjaan". Bonang hendak duduk kembali ketika Eggy melancarkan serangan berikutnya. "Supir bajaj nekad juga mau macarin anak keluarga Badaksono", cetusnya.. Sekejab meledaklah tawa para geng elit ini membuat kuping Sisingamangaraja merah matang.

Bonang berdiri kembali, tapi Nisye juga ikut berdiri dan menarik tangan Bonang untuk segera keluar dari kedai Baso. Nisye segera memanggil sang pelayan untuk membayar bill, tapi Bonang segera mencegah. "Biarkan aku yang membayar Nis", kata dia mantap sambil meraba kantong celana, dan astaga Tuhanku, diantara pusat perhatian Eggy dan teman temannya, juga di depan Nisye. Bonang menyadari kantong celananya rata, dompetnya tidak ada di tempat. Keringat dingin keluar bercucuran, dia lalu ingat "Pasti Batak yang duduk di sebelah aku dalam kopaja tadi yang copet dompetku. Kurang ajar bah.. Suku makan suku". Bonang gelagapan, dengan lemas dia bilang "Nis.. dompetku kecopetan..". Mendengar itu meledaklah kembali tawa riuh Eggy and the Gang.

Dan Menado yang gagal memacari adiknya Tanti di Paris. Dan ketika mencoba balik dengan Nisye tapi ditolak total. Yang sok jago lantaran ikut karate sampai ban biru langsung menyambar kembali dengan salvo, " narik bajaj dulu seminggu, biar elo mampu bayarin cewe setiap kali pacaran".

Siapakah yang memerintahan Bonang berjalan mendekati Eggy? Entahlah.. Bonang memang berbadan tegap, tapi tubuhnya jelas tidak sebongsor Egy yang kebanyakan vitamin, Bonang juga tidak pernah latihan silat atau karate. Cuma Eggy tidak menyadari bahwa kepalan tangan seorang miskin adalah kepalan tangan beton yang sangat kapalan. Dia juga tidak tahu entah dari mana datangnya keberanian laki-laki kere ini menghampiri, dan sebelum dia sempat sadar tiba-tiba tubuhnya terjengkang jatuh menimpa kursi, wajah Menado sehalus banci ini memar, bibirnya pecah, hidungnya membiru, dan teman satu gengnya konon cuma mematung tidak berdaya ketika sang leader nyusruk di balik meja. Bonang masih berdiri, tangannya berdenyut-denyut dan dia siap melayani 6 kawanan musang ini jika perlu. Tapi kerumunan banci ini perlahan-lahan mundur sambil membangunkan Eggy yang masih setengah siuman mukanya memar.

Nisye menatap dari kejauhan dengan rasa tidak percaya. Kekagetan Nisye berubah menjadi kekaguman pada Bonang, sambil juga menyukuri Eggy yang wajarnya  belur.

Bonang lalu menghampiri Nisye." Nis, biarkan aku pulang. Sorry suasana hari ini jadi rusak karena ulah temanmu itu", kata Bonang lirih.

"Nggak apa apa Nang. Saya bisa mengerti..", Nisye juga berkata lirih.

"Sampai nanti Nis", ucap Bonang sambil menggenggam halus pundak Nisye, setelah itu dia melangkah menuju halte di dekat bundaran Lapangan Tembak,Senayan.

"Sampai nanti Bonang", jawab Nisye masih tertegun menatap sang pria idaman berjalan gontai kehilangan semangat.

Dua menit Bonang terpaku di pinggiran jalan, hatinya merasa begitu terluka karena penghinaan Eggy. Bonang jelas tahu diri dan sadar bahwa dia memang orang miskin, tapi penghinan terhadap orang kere dan supir bajaj adalah sangat keterlaluan. Karena beberapa teman dekat Bonang  yang terbaik adalah supir bajaj juga. Dan mereka mereka ini adalah kawan-kawan terbaik yang pernah dia temui. Mereka adalah manusia dan mesti dihargai.

Bonang masih termenung ketika sebuah Bajaj berhenti mendadak tepat di depan hidungnya.
" hoi Nang, mau balik loe?", tegur si supir yang tangannya hitam legam.

Bonang tersenyum happy berpergokan dengan Abung sahabat karibnya yang sekarang menarik Bajaj milik Pak Haji Sidik, raja tanah di Kebon Pala III. Seperti sedang membaca isi pikirannya tiba-tiba saja entah bagaimana Abung bisa singgah memergoki  Bonang di Senayan.

Sambil melangkah masuk Bonang menyeletuk.

"Yu know wat?", tanya Bonang,
"Wat?". Tanya Abung yang memang pernah ngapalin
kata-kata ini dari film seri Baywatch
..
 "I lop you men !!!", teriak Bonang sambil menepak-nepak kepala Abung yang cekikikan sambil menyetir bajajnya meliuk-liuk di antara sederetan mobil mewah di awal magrib di depan gedung TVRI.

Hidup adalah sebuah progres.Ada saatnya damai ada saatnya kita melayani konflik. Tapi apapun namanya hidup harus terus maju kedepan.

Dan Bonang serta Abung sekali lagi berlalu bersama-sama dalam Bajaj yang melaju pasti, di antara ketiak modernitas kehidupan, eratnya persahabatan selalu mampu menghadirkan banyak kehangatan dan kebahagian, bagi orang-orang yang mau membuka diri dan mengerti….. (*)

 

~ 04 Mei 2009.