Tag

 Hidup terus berjalan, waktu terus mengalir. Seperti proses ketuaan yang selamanya tidak bisa kita cegah. Rasa cinta yang membludak juga selamanya tidak bisa dicabut dari hati orang yang sedang in love. Itulah sebabnya Bonang nekad menelpon Nisye begitu bubaran sekolah di Lapangan Banteng sana. Sekelompok homo nampak mencoba menggoda Bonang dengan genitnya, sebelum sang Batak yang nenek moyangnya dulu konon adalah kanibal itu memelototi dan menghardik mereka. Dan rombongan manusia laki-laki yang tadinya kelihatan macho bercelana jeans ketat itu, sekejab berubah menjadi perawan kenes yang hobi pakai rok mini. Secepat kilat mereka kabur menghindari batak beringas ini.

 

2 kali kring, telepon diangkat. Hati Bonang berdenyut-denyut seperti beduk yang sibuk ditalu anak-anak betawi setiap malam takbiran.

" hallo?"(suara Nisye muncul begitu merdu, Bonang seperti terlempar dari box telepon umum, sekejab sang Batak berubah mental menjadi seperti petani jawa yang kurang ide – makanya terus menerus menyembah Hamengkubowono.)

"hal.. haloo.. ini Nisye?", kata Bonang gagap.

"Ya benar, siapa ini?".
(Suara Nisye terdengar senang, dia tahu ini Bonang tapi sebagai mananya lagak perempuan, dia pura-pura jual mahal mencoba menyembunyikan rasa gembiranya.)

" hai Nis. ak.. akuu Bonang nih.. app apaa kabarmu?"

" hai Bonang, saya baru aja pulang sekolah. Kamu dimana?"

" akk akku disinilah.. di mana ini.. oh di Lapangan Banteng.."

" oh gitu.. ada acara apa hari ini?"

" akuu sih hari ini mes mesti ke ke Bendungan Hilir, ban bantu ibuku."

"Oh, thanks lho untuk dua suratnya.."

" iyaa iyalahh…" ( bibir Bonang gemetaran, dia harus mengatakan ini.)
" ak.. aku ingin bertem temuu kam..u .."

"Hmmm boleh.. kapan dan dimana ketemunya?" (Nisye berusaha mengendalikan emosi untuk berteriak YES! Menpangan Saefudin supir disampingnya nampak senyum-senyum mengerti)

"Aku ada wak.. waktu sorre ini kalau mau .."

" ok jam 5 sore ini kebetulan Nisye mau ke Senayan. Mau ketemu di mall lagi?" (Menpangan terkekeh-kekeh sambil menyetir melintasi Pondok Indah mall, Nisye segera mencubit paha kurus laki-laki tua ini..)

" hmmm bagai mana kalaau kalauu di warung baso lapangan tembak?"
(Ada gempa dalam dada Bonang.. ada carnaval dalam hati Bonang)

"Okie Dokie", sambut Nisye dengan senang.

"Apa? Donkey?", Bonang tidak mengerti ..

"Ha ha ha.. bukan.. itu artinya oke" Nisye tergelak.. mobil sudah sampai di garasi.. Guru les balet sudah menunggu dibangku patio depan.

"Oh Aku kira kamu ngatain aku mirip donki.."

" sampai nanti Bonang… saya mau makan dan latihan balet dulu.. bye.."

Telepon terputus dan Bonang masih saja mematung memegang gagang telepon, wajahnya subringah merekah bagai sun flowers berpapasan dengan cahaya sang surya. Bonang tetap terpaku lama dalam box telepon, sampai seorang bencong mirip Try Sutrisno berwajah halus, memakai bedak dan gincu, mengetuk kaca box berulang-ulang.

"Mass.. gantian dong nelponnya, eike juga kan punya date juga nih.. emangnya situ aja yang punya gebetan?", kata Try dengan genitnya..

Bonang tersadar, kali ini sang Batak tidak galak, dia malah memberikan senyum terbaik buat si homo Try, sambil keluar dia sempat tabok pantat bahenol bencong ini.

"Aiii aii bandel dehh kamuu.. nanti ta, kiss baru tau rasa deh", kata si Try kesenangan. Bonang terkekeh-kekeh sambil berjalan menuju halte bis..

Setelah membantu ibunya dua jam di Bendungan Hilir, Bonang pulang. Segera mandi dan memakai pakaian terbaik – kotak kotak dan celana jeans andalannya merek Gufo, made in Tangerang. Di depan kaca retak dia menyisir rambut ikalnya sambil mengucek-ucek Brisk membuat rambut kepalanya berminyak bagai muka Amien Rais.. Ketika menyadari dia harus makan di kedai Baso Lapangan Tembak yang lumayan harganya, dia nerveous keringatan. Segera Bonang masuk kamar Ucok. Adiknya sedang tidak ada di tempat. Barangkali ucok sedang main bola di lapangan kampung Lontar sana. Dengan cekatan Bonang merogohkan tangan ke balik dinding triplek. Tapi celengan si Ucok juga hilang tidak ada di tempat..

Suku Batak adalah suku yang kreatif. Mereka jarang  putus asa dan seperti yang sudah-sudah, terkenal bermuka tembok. Celengan Ucok boleh disembunyikan. Tapi kata orang, rejeki itu bisa datang dari mana saja asal manusia mau berusaha.

Dengan gagah  Bonang melangkah ke rumah Hasan Rasyidi. Pak rentenir itu kaget ketika mengetahui Bonang datang untuk membayar utang beserta bunganya sambil menebus radio tape beserta 10 kaset pop dangdut gadaiannya. Ini diluar kebiasaan Bonang, sebab selama ini Bonang tidak pernah menebus kembali jam weaker, pulpen parker, dan 2 majalah Playboy pemberian Asikin yang dulu digadaikan pada Hasan Rasyidi.

Hasan Rasyidi boleh saja preman pemberani, tapi kali ini Hasan keder melihat kesungguhan batak yang ditakuti anjing sekampung ini. (Bonang tidak pernah digigit anjing justru anjing pernah digigit Bonang). Sambil gelagapan Pak Rasyidi mengaku barang Bonang hilang. Bonang pura-pura marah besar, Bonang menggebrak meja dan berteriak "Tahukah kau harga radio tape merek nationalku itu?". Rasyidi teronggok di sudut sofa.."Berapa nang?", katanya sendu.. Bonang hampir saja mengaku bahwa radio bekas yang dibelinya cuma Rp 5.000, tapi bakat dagang dari ibunya cepat muncul " Rp 20.000 rupiah!!", jerit dia mantap.. "Oke oke.. potong saja hutangmu plus bunganya nang", kata Rasyidi tergagap-gagap. Melihat muka pucat pasi arek-arek pemeras orang kecil ini, Bonang merasa diatas angin. "Tunggu dulu.. aku belum sebut harga koleksi kaset pop dangdutku itu..!!". Rasyidi semakin menekukan ekornya di antara dua paha. Mental penggemar film Porno yang nonton bila sang Istri sibuk dagang beras di pasar itu benar-benar mirip dengan fans Persebaya yang biasa menggarong tukang jajanan sepanjang konvoi. Mereka tampil berani jika keroyokan. Ditinggal sendiri, mereka lebih kenyi dari banci.

" Koleksi editor special dari A Rafiq terutama album Nurlela itu harganya Rp 50.000 ..". Bonang mulai menurunkan tensi suaranya. Dia tahu Rasyidi pasti menawar. "Jadi berapa yang harus saya bayar?", tanya penggemar sabun lux, yang fungsinya lebih dari sekedar mandi. Bonang menjawab tanpa keraguan  "Aku berutang padamu Rp 8.500  termasuk bunga. Dan kau berhutang padaku Rp 70.000 jadi kau masih berhutang padaku 68 ribu rupiah", kata Bonang sengaja membuat hitungan yang salah. Dan benar saja Jawa bloon seperti Rasyidi segera menawar, tanpa berpikir soal hitungan dia bilang "Saya bayar 65 ribu saja ya nang? Saya sedang bokek nih.. 3 hari yang lalu rumah ini kemalingan nang..". Ucap Rasyidi meminta iba.

 Bonang berpura-pura bijaksana, "okelah..", katanya lembut. "Lain kali kau jaga barang gadaian orang hati-hati", pesan Bonang. Pak Rasyidi mengangguk-ngangguk setuju.. Sebelum melangkah keluar pintu Bonang menoleh kembali kebelakang, Rasyidi pucat kembali. " dan satu hal lagi… kau kalau kasih bunga pinjaman jangan 40 % sebulan kaya begitulah.. tidak baik itu".

Rasyidi terpuruk di sofa kembali di depan sebuah meja kosong tanpa TV.  Bonang melangkah bagai seorang satria dengan self confidence yang kuat. Hari itu  dia mencapai dua hal secara bersamaan. Pertama mengajari seorang preman tentang moral. Kedua dia sekarang merasa kaya dan sanggup membayari Nisye makan di Baso Tembak tanpa berkeringat dingin, sambil nanti mengganti duit adiknya yang dia curi selama 2 minggu belakangan ini.. (*)
 

~03 Mei 2009