Tag

Saya mendapatkan surat ini tanpa sengaja di web.Surat ini ditulis 8 atau 9 tahun yang lalu. Mungkin tidak menarik untuk dibaca, cuma agak unik lantaran betapa satu dekade itu lewat begitu cepat, tanpa permisi dia lewat seperti seorang selonong boy tidak kenal tata krama.
..
Sungguh lucu bagaimana saat itu saya sudah merasa begitu tua dan
renta. Dari ketiga manusia yang saya kenal, cuma Edizal yang pernah
bertemu muka dan sampai sekarang masih berhubungan. Selebihnya saya
tidak tahu bagaimana nasib dan perjalanan hidupnya.

Sekarang saya seperti mentertawakan rasa ketuaan saya itu. Mungkin
begitulah rasanya proses ketika orang muda berubah menjadi tua. Melihat
ke belakang saya jadi suka cekikikan jadinya.

Saya tidak tahu apakah surat ini penting untuk dimuat di Superkoran dan
anda baca. Tapi mungkin paling tidak anda bisa mengerti bagaimana seorang
sedeng seperti saya mengalami evolusi dalam pemikiran dan pemahaman.
thats all…
***
]

SURAT-SURAT PENDEK UNTUK PARA SAHABAT.

Edizal,
Aku menulis ini dalam keadaan lesu. Aku ingin berkeluh kesah padamu. Tadi malam keponakanku Larisa menelpon dari Jakarta. Seperti layaknya keponakan dari keluarga miskin, jelas dia menelpon aku untuk minta duit suruhan ibunya seperti yang sudah sudah. Dengan memakai alasan " Risa naik kelas 2 SMP ranking 2 " aku ditampar oleh kenyataan menyakitkan. Ah..bukan soal hadiah yang dia minta.Tapi aku merasa telah begitu tua. Keponakanku ini kutinggali ketika masih bayi sewaktu aku berangkat ke Eropa. Dia juga masih berumur 3 tahun ketika aku pulang pertama kali, dan terakhir kali aku mudik Risa masih kelas 5 SD. Setahun yang lalu Risa sudah menstruasi, sekarang dia telah menjadi gadis. Dan pagi tadi, aku terbangun dan merasa begitu renta. Aku menatap langit-langit kamar dalam sebuah kebekuan aneh.Jiwaku kosong dan hambar.Barangkali aku memang tidak muda lagi,Dalam keadaan seperti ini Ed, aku ingin benar ngobrol dengan kamu di warung kopi entah di Jakarta atau
 di Padang atau barangkali di Tokyo sana untuk merayakan sisa sisa usia muda dan menikmati persahabatan denganmu sebelum semua ini dirampas sang waktu dan berlalu.

Gani,
Dimanakah kamu wahai sahabat? Apakah kota Berlin membuatmu begitu sibuk? Apakah kamu masih berjuang dengan segala macam diktat dan survey yang melelahkan? Gan, tidakah kamu tahu betapa dekat dan mengertinya aku pada perasaanmu.Mungkin lantaran kita adalah sama sama perantauan .Belasan tahun sudah kita terbuang. Pengalaman hidup bukan main banyaknya. Satu persatu orang-orang yang kita kenal berkawinan atau bermatian. Gan, kamu adalah manusia ulet. Kamu tidak pernah pulang. Walaupun kita sama sama anak dari keluarga kelas bawah, kita punya mimpi besar yang sama, kegelisahan yang sama, dan obsesi dan emosi yang sama. Gani, waktu berjalan begitu cepat. Tapi bagi orang perantauan seperti kita waktu itu berlari dan melesat kencang. Aku telah kawin sekarang, sepupuku Nirvan juga telah kawin walaupun dia masih menganggur dan istrinya kena PHK di Bank dan mereka tinggal di rumah kontrakan. Adiknya Ismal, yang terakhir kali kulihat masih kecil juga telah kawin
 dengan orang Bengkulu punya anak satu dan tinggal numpang di rumah Bapaknya. Ah..semua orang pada berkawinan Gan.. adik tiriku juga sebulan yang lalu kawin, pramugari Garuda cantik yang pernah kupacari dulu juga telah kawin entah dengan siapa. Ini membuatku sedih Gan.. Walaupun perkawinan adalah hal yang wajar, aku merasa di tinggali semua orang. Aku merasa tua dan tua dan tua sendirian.. Umurku sudah 34, jelas aku tidak punya hak untuk mengeluh dan maratapi masa muda yang berlalu. Tapi aku ingin kamu tahu gan, hidup dalam kesunyian itu alangkah melelahkan. Umur kita barangkali sama..Kita jauh dari teman, kekasih yang pernah kita miliki, sekarang telah di miliki orang lain. Saudara kita satu demi satu bertumbangan. Satu dua sukses, sebagian besar lainnya karam.. Ah Gani, aku harus bilang ini,jangan biarkan hidupmu berenang sendirian dalam lautan sepi. Sudah saatnya kamu bangkit dan mencari pasangan hidupmu. Perkawinan adalah sebuah tradisi,sebuah
 ritual, sebuah siklus yang tidak bisa kita hindari.. Rampaslah perempuan terdekat yang bisa kamu jadikan istri, kembalilah ke tanah air bila tidak ada yang dekat di Berlin .Dan bila kamu memang telah kawin janganlah kamu biarkan persahabatan ini mendingin dan basi. Jangan tinggali aku Gani, aku ingin kita merayakan tua bersama sama dengan pendamping di sisi.

Thomas,
Surat -suratmu selalu aku simpan dalam disket.Eureka, sahabat.. Tulisanmu selalu sarat akan compassion dan cerdas. Aku ingat catatan perjalanan dinasmu ke Jawa sana dulu untuk ( meng audit atau survey? ) bantuan pinjaman bank asing tempatmu bekerja pada pemerintah. Betapa dalam surat sederhana demikian aku menemukan sebuah emosi dan rasa sosial yang tinggi. Tom,Jakarta pasti membuatmu selalu bussy .Ya ya..semua orang sibuk tentu saja. Aku di sinipun sama. Hidup ternyata cuma rangkaian rutinitas yang membosankan. Seminggu yang lalu aku jalan-jalan ke Kansas City lagi Tom. Kota tempatmu sekolah dulu tidak berubah banyak. Tidak seperti Jakarta , gedung gedung tinggi tidak bermunculan. Tapi Kansas tetap menarik dan apik.Aku sempat juga iseng mengunjungi Kansas City International Airport. 3 terminal yang jaraknya berjauhan rasanya sama sekali tidak efektif sama sekali. Tom, aku iri dengan kehidupanmu di Jakarta. Rasanya kamu menikmati setiap detiknya dengan
 senang hati. Jelas karena gajimu di Bank asing itu tidak kecil. Dan kamu bisa pergi,makan dan date kemana saja sesuka hati.

Tom,
Aku akan pulang tahun depan. Aku harus pulang karena hari demi hari di sini aku makin terlindas homesick. Kita tidak pernah bertemu jelas saja. Seperti Edizal dan Gani, umur kita berada di persimpangan usia yang menentukan. Damn Tom, Aku tidak ingin kita bertemu ketika uban telah menguasai batok kepala. Aku tidak ingin meilhat kamu setelah menjadi renta, aku tidak ingin kamu menyaksikan kerut merut dahi keriputku nanti. Angka 30 sudah lewat. Angka 40 samar samar berada di muka. Thomas…kita harus melakukan sesuatu sebelum terlambat. Mari reuni , mari bikin pesta hedonis mini. Dan jangan lupa pacaranlah sebanyak banyaknya Tom, sebelum kamu harus memilih mur untuk baut hidupmu nanti. Tom, umurku sudah 34. Beberapa orang sudah memanggilku bapak. uban mulai nampak terlihat. Setua ini, aku masih belum punya apa -apa dan menjadi apa -apa. Cuma dengan menulis dan memiliki sahabat, aku merasa terhibur dan sedikit punya arti.

Edizal, Gani dan Thomas.. Jangan kalian biarkan aku sendirian di sini

Habe