Tag

 Keluarga Tapebolong adalah keluarga kristen Protestan yang jauh dari mapan. Kehidupan mereka sehari-hari adalah seperti kehidupan jutaan keluarga muslim yang terkapar yang banyak bertebaran di seluruh tanah air. Hidup mereka keras, mereka harus berjibaku habis-habisan menjalani hari demi hari untuk sekedar memperpanjang napas walaupun lebih sering sesak napas dan terhempas.

 

Ibu Tapebolong adalah seorang ibu yang ikhlas, religious sekaligus dermawan.. Walaupun dalam keadaan terdesak "saint Butet of Tebing Tinggi" ini – begitu julukan teman-teman gerejanya – masih mau menolong orang-orang susah seperti keluarga bu Supeni yang sebulan lalu kematian suaminya lantaran tukang martabak ini berani melawan paswalpres yang menegurnya untuk jangan berhenti di seberang markas mereka di Tanah Abang sana.

Konon ketika kepala laki-laki muslim yang taat dan tidak pernah takut pada siapapun kecuali Allah ini dikepruk para laler ijo berseragam, para tukang pukul para diktator dengan popor-suara retak batok kepalanya terdengar sampai satu blok. Wajahnya pecah ketika dia berteriak "Allahu Akbar" yang menggema mengalahkan adzan mesjid sebelum rebah selama-lamanya di aspal jalan.

Bonang adalah seorang kleptomanik kecil jelas saja. Dia juga orang Batak yang kadang selalu nampak kurang basa basi dan sedikit rude. Tapi sebulan yang lalu seperti ibunya, Bonangpun membantu keluarga Supeni mengurus jenazah kepala rumah tangga itu. Seperti Ibunya, hati Bonang adalah sehalus daun putri malu, tersentuh sedikit dia akan langsung bergerak.

Ibu Tapebolong selain memasak dan memberikan sumbangan uang pada keluarga Janda beranak 5 ini, dia juga patungan dengan teman-teman untuk membantu biaya penguburan di Pemakaman Islam di Karet Kubur. Tapi tidak seekstrim putranya yang Protestan Liberal, Bu Tape Bolong berhenti membantu ketika batas ritualisme agama tiba. Sedang Bonang selain ikut memandikan jenazah, justru ikutan nyempung sholat Ghaib walaupun cuma komat-kamit dalam bahasa Indonesia. Dia juga malah ikut mengaji nujuh harian kematian pak Supeni. Berbekal peci dan sarung pinjaman si Buyung, anak Padang yang sama sekali tidak kikir di keluarga very kikir Abdul Latif di gang kelor yang pernah memalukan seluruh etnis Padang di Jakarta lantaran pernah bikin organisasi PPS alias Pedagang Pro Suharto sambil jualan stiker. "I Love Suharto Family", di Pasar Senen yang harganya kelewat mahal, tapi " bisa manjur menangkal preman yang mau memeras toko anda" begitu janji si Latif.

 Sebaliknya keluarga Nisye di Pondok Indah, the Badaksono Family – adalah keluarga muslim yang elit. Seperti layaknya keluarga papan atas, selain nampak mentereng, terang benderang dan berkilauan karena memiliki corporation raksasa seperti pabrik petrokimia, koran Republika, 2 televisi swasta, dan dekat dengan kekuasaan, mereka juga harus nampak dermawan dengan menggalang fund raising membantu partai tertentu yang " banyak mikirin rakyat ."
Pak Badak yang pernah naik haji plus plus plus 6 kali, misalnya mempunyai yayasan sosial bernama BUWMM (Bantuan Untuk Warga Miskin Mandiri) yang bisa juga berarti (Bah.. Uang dan Wanita Memang Mengasyikan) dan seperti tradisi di tanah air tercinta, jelas laporan keuangan tidak pernah diedit, dan konon 1 tahun setelah berdiri, kantor yayasan yang bermoto bahasa Arab "Al fulus wal Umati" yang artinya kira-kira "duit bukan untuk orang mati" ini banyak mempekerjakan cewek-cewek seksi ber-rok mini. Mereka ini juga biasa ikut perjalanan dinas Pak Badak mengunjungi negara-negara Timur Tengah (dengan pakaian sopan) setelah itu mengunjungi Eropa (dengan pakaian super non-sopan).

Bu Badak lain lagi, perempuan yang lebih banyak berbahasa Perancis dari pada Kromo Inggil pesisir, lebih banyak menghabiskan waktunya ke cafe café dan main judi di Monaco, Las Vegas dan Christmas Island. "Judi haram kalau kalah. Judi halal jika menang" begitu yang sering Bu Badak bilang pada teman-teman. Ketika rombongan pajangan butik ini tertawa-tawa mendengar ocehan Bu Badak, si Ibu meneruskan "dan Jangan lupa 10 persen dari kemenangan saya salurkan sebagai zakat untuk orang miskin..". Jelas meledaklah tawa riuh perempuan-perempuan top yang menggetarkan sudut ruang tamu yang penuh pajangan impor dan grand piano, suara cekakan mereka kadang terdengar para pembantu dan tukang kebon keluarga dari kamar mereka seperti lolongan anjing hutan yang menyeramkan.

Tapi Nisye adalah keramik cantik spotless yang lahir dari pabrik batu bata.
Seperti sebuah mukjizat, sejak kecil dia telah mengenal konsep salah benar dengan ukuran yang universal entah dari mana. Barangkali tinggal di London bertahun tahun kebanyakan sendirian jauh dari ortu di sebuah dormitory elit, membuat pikirannya lebih banyak menjelajah melalang rimba rimba kehidupan, mencari esensi dan makna seperti layaknya para philosoper yang kesepian.
Tanpa sepengetahuan Ibu Bapaknya, dia mempelajari Islam secara lebih dalam. Walaupun masih jarang sholat, Nisye bisa membaca Quran lantaran pernah belajar pada seorang tua dari Libanon 3 summer yang lalu di London. Seperti Bonang, hati Nisye penuh dengan romantisme kemanusiaan. Walaupun jarang mengkritik orang tuanya (lantaran jarang bertemu) dia tahu ada yang tidak etis dalam keluarga haji dan hajah Badak ini.. Tapi jelas semua problemnya dia simpan sendirian baik-baik di dalam hati.

Hari itu Bonang, Batak yang humanis tersentuh penderitaan kaum kecilnya seperti si Abung. Bonang juga sangat terganggu memikirkan keluarga janda Supeni yang mulai sekarang anak-anaknya yang masih kecil mulai menderita kurang pangan. Khoidir yang tertua berumur 12 tahun sudah tidak bisa kerja jualan koran lantaran sedang terserang cacar air. Dan yang termuda, bayi berumur 6 bulan tubuhnya mulai biru-biru lantaran kurang susu.

Hari ini Bonang kurang banyak memikirkan Nisye entah kenapa.
Dan Nisye selesai mandi sore juga mengalami gejala yang sama.

 Walaupun sering melirik telepon genggam menunggu call dari Bonang, pikiran dia masih terganggu dengan kehilangan Ardy, abangnya Tanti, teman dekatnya di sekolah yang hilang ketika ikut demo mahasiswa. Tanti terus menerus menangis setiap kali dicall. Orang Tuanya telah menyewa selusin lawyer dan detektif partikelir bahkan para preman kampung buat mencari putra tunggalnya. Dan seperti yang sudah-sudah, bila berhadapan aparat, semua orang seperti berhadapan dengan The Great Wall di Cina sana. Anda boleh meraung-raung, anda boleh melolong-lolong, tapi bila keluarga anda tidak cepat-cepat ditebus dengan duit atau bisa menggertak Abri dengan koneksi orang gede, anak, bapak atau abang anda akan masuk daftar orang hilang. Nasi telah menjadi basi, orang yang anda cintai telah diekskusi…

***

~26 April 2009