Tag

 Sepulang sekolah hari Senin itu, Bonang pergi menjenguk ibunya yang berjualan piring, pajangan dan asbak murahan bercampur dengan kaos kaki serta celana dalam merek Hings di emperan Pasar Bendungan Hilir. Sampai sore dia membantu merayu orang orang yang berjalan lalu lalang keluar  masuk pasar. Berharap mereka membeli barang-barang bermutu jualan ibunya itu dengan teriakan khas orang Batak yang mampu menenggelamkan suara berisik mesin bemo. Serta mengalahkan Anwar-pedagang kaki lima asal Pariaman yang terkenal memark up profit " kaos sekali cuci rontok " jualannya seperti proyek-proyek keluarga Cendana sebesar 50.000 persen lebih dengan modal kecil atau tanpa modal sama sekali.

 

Sore itu mengikuti kebiasaannya Bonang datang bertandang ke salon si Memet. Dan jelas saja Memet bawel bercerita tentang kedatangan tamu seorang Bidadari wangi yang mencari Bonang dengan mobil mengkilap bersupirkan "Menpangan AM Saifudin". Betapa terkejutnya Bonang, tanpa basa-basi dia segera pulang. Dalam penerbangan dengan bemo dari arah Bendungan ke Tanah Abang, Bonang duduk di samping pilot berbau ketiak dilengkapi hawa panas mesin yang menguap memasak pantat. Tapi inilah seninya bagi orang miskin, panasnya bajaj atau bemo mereka treat bagai nikmatnya sauna buat kalangan orang elit. Bonang menikmati perjalanan penuh getaran itu melewati Pejompongan, menembus Penjernihan berbelok ke Karet Kubur sambil terus memikirkan Nisye, kekasih fatamorgana yang telah merampas bagian terbesar dari jiwanya secara brutal. Yang membuatnya gila. Yang membuatnya lupa dengan Komariah-sambil tidak lupa mencubit-cubit lengan kiri, seolah-olah dia ingin meyakini semua itu bukan cuma mimpi.

Sejak pulang dari Bendungan Bonang mengurungkan diri dalam kamar.
Dia bersemedi mencari ilham berharap menemukan manuver terbaik yang bisa mendekatkan dirinya pada Nisye. Semalaman dia tidak minum dan makan. Ketika Ibunya mengetok pintu triplek kamar yang didominasi poster Sukarno dan Oma Irama – idola keluarga Bonang – dia tetap tidak mau membuka barang satu sentipun. Dia cuma menjawab "sudahlah bu, aku nggak mau makan, hari ini aku sedang kosentrasi buat ulangan las ketok ducco besok.." Bahkan dia tidak membukakan pintu buat Bapaknya sekalipun. Ketika ditanya dari luar pintu "Nang, ada apa denganmu nak?". Bonang menjawab "sudahlah Pak, aku lagi belajar teori tehnik membubut mesin. Jangan ganggu aku", dengan galaknya sehingga membuat keder si Ucok adiknya yang tadinya berusaha menanyakan mengapa uang 7000 rupiah di celengannya raib 5 menit setelah Bonang masuk kamar dia 2 hari yang lalu itu?

Malam musim summer di Jakarta adalah malam yang gerah. Dan karena satu-satunya musim di Jakarta adalah summer, maka semua rumah orang elit sibuk menyalakan AC pendingin ruangan. Nisye seperti Bonang tidak bisa tidur malam itu. Dia mendekap selusin boneka sahabatnya yang lucu-lucu di atas tempat tidur dibalik selimut halus yang melindunginya dari sengatan AC sentral yang berbisik pelan membikin nyaman suasana. Dan di sebuah rumah setengah permanen di Jalan Haji Sabeni, di ujung gang seng, Bonang juga terbaring keringatan. Seperti biasanya dia lalu berdiri menyalakan AC merek natural dengan membuka lebar lebar jendela kamar. Angin yang lumayan sejuk masuk menyambut Bonang di kamar. Tapi angin AC ini adalah angin yang susah ditebak. Bila mereka memintas dari barat menyapu wc umum yang terletak 3 gang dari sini sebelum mencapai kamar, Bonang jelas harus menutup pintu jendelanya lagi rapat-rapat.

Matahari pagi muncul di langit timur. Bonang yang telah mati matian mencari ilham dengan bergadang semalaman sambil mendengarkan lagu-lagunya Iis Sugianto, segera beranjak duduk dan menulis surat.

Selamat sore Nisye.
Kini aku sudah tahu bahwa getaran gelombang perasaanku juga melanda dirimu. Terus terang saja ini agak melegakan perasaanku. Setidaknya aku tidak lagi merasa penasaran…Aku dengar dari si Memet, kamu mencari alamatku, barangkali kamu kesasar tidak ketemu karena rumahku memang kecil menyempil dan berada di gang yang tidak bisa di masuki mobil. Lain kali akan aku ajak kamu datang kerumah untuk berkenalan dengan keluargaku, kita bisa makan nasi uduk sama-sama di Kebon Kacang asal kamu tahan menjadi pusat perhatian tetangga-tetanggaku yang rese selalu ingin tahu masalah orang.

Nisye, entah kenapa aku merasa begitu sayang padamu. Berkenalan denganmu barangkali adalah garis nasibku. Barangkali status hidup kita berbeda jauh. Kamu adalah ikan hias mahal yang hidup di air jernih seperti ikan laut atau arwana yang sering kutatapi di aquarium penjual ikan di Jalan Sumenep setiap kali bolos sekolah.

Nisye.
Kamu aku harus bilang, aku cuma seekor ikan gabus yg hidup di kali yang keruh. Duniaku adalah sampah dan ampas manusia. Ikan hias sepertimu setiap kali mendongkak melihat keatas permukaan air yang terlihat adalah wajah-wajah ramah penuh kekaguman. Sedang ikan sepertiku setiap kali mendongkak keatas yang terlihat adalah barisan pantat bersarung yang gemar membombardir kami dengan kotoran habis-habisan.. Aku harap kamu mengerti akan semua itu.

Nisye. Aku mulai merindukan kamu.
Siksaan ini harus segera dihentikan.
Bila kamu bersedia, aku ingin bertemu kamu..

TTD

Bonang Tape Bolong

NB: Sejak melihat kamu, si Nuraini asisten si Memet mengaku pada teman-temanya bahwa dia punya kenalan baru anak Mentri..

Selesai mandi Bonang bergegas menemui Pak Hasan Rasyidi ketua RT 14 merangkap rentenir yang menjual jasa utang dengan bunga lebih tinggi dari bunga BRI plus komisi. Bonang meggadaikan radio bututnya beserta 10 koleksi The Best of Dangdut 80-90 sebesar 7000 rupiah, lalu setengah berlari dia menemui Abung yang sedang memanaskan Bajaj. Bonang menyerahkan sepucuk surat dan menitipkan sebungkus Jisamsu pada Abung untuk diserahkan pada Nisye dan Tigor sang satpam siang nanti. Wajah Abung berseri-seri seperti Konglomerat Cina setiap kali memberi komisi ketika menerima tender yang lumayan dari para menteri.

Hari itu Bonang pergi sekolah dengan langkah ringan. Ulangan mengelas dan membubut dilewati dengan gampang. Wajah dia penuh senyum bahkan Pak Kosim Guru PMP yang tampangnya rusak seperti Rudini sempat terheran-heran " hari ini tumben si Bonang mau duduk didepan mencatat Pasal Pasal UUD 45 dengan tekun". Biasanya setengah pelajaran Bonang akan permisi ke kamar kecil untuk tidak kembali lagi.

Selasa itu, selesai sekolah Bonang tidak mengunjungi Ibunya di Bendungan Hilir. Baru pertama kali dalam 3 tahun ini Bonang mendapatkan cuti mendadak secara sepihak. Bonang langsung pulang, mengganti baju, makan dengan lahap dan keluar menunggu Abung pulang di gang sebelah. Bonang dengan sabar dan penuh harap duduk di depan warung rokok Mang Ucup. Detik berganti menit, menit menggumpal menjadi jam. Matahari telah memerah di langit barat, tapi Abung belum juga pulang. Hati Bonang gelisah menunggu berita dari Abung, dia ingin tahu apakah suratnya benar-benar telah sampai ke tangan Nisye melalui Tigor.

 Tapi sosok Abung tidak kunjung datang. Magrib telah tiba dan berlalu. Suara adzan Isya telah mengumandang menggema di udara. Abung yang seharusnya pulang 2 jam lalu untuk digantikan dengan supir bajaj yang lain di shift malam, seperti hilang ditelan bumi.

Abung is Missing in Action…(*)

 

 

~22 April 2009.