T:  To the point, kalau memang menurut anda bahwa Allah / Tuhan atau whatever is that itu adalah hasil dari kesadaran kita, artinya menurut anda bahwa Tuhan itu secara Dzat tidak ada, secara materi tidak ada, is that correct?

J = Menurut saya, segala macam pembahasan tentang Allah / Tuhan adalah hasil dari pemikiran manusia. Asmaul Husna itu hasil pemikiran manusia yg mengkonsepsikan bahwa ada asma-asma Allah.

Allah / Tuhan yg asli ada, dan adanya di dalam kesadaran anda, kesadaran saya, dan kesadaran semua manusia. Dan Allah yg asli ini bukanlah Allah yg dikonsepkan, melainkan cuma bisa dirasakan saja.

Anda tahu bahwa Allah ada, dan adanya di dalam kesadaran anda. Ini adalah Allah yg lebih dekat kepada kesadaran anda dibandingkan dengan urat leher anda sendiri.

T = Jadi yang menciptakan alam semesta ini beserta isinya dan semua hukum yang mengikatnya itu siapa, karena menurut anda Tuhan itu hanya sekedar konsep, artinya Tuhan itu tidak ada dalam "sosok". Kalau itu cuma konsep berarti tidak berwujud, kalau tidak berwujud berarti tidak bisa menciptakan sesuatu. Tapi kenyataannya alam semesta ini beserta isinya ada. Tolong anda jelaskan kenapa Tuhan yg hanya cuma konsep (hasil pemikiran manusia) tapi bisa menciptakan alam semesta ini beserta isinya dan segala hukum yg mengikat atas segala hal.

J = Alam semesta beserta segala isinya telah ada terlebih dahulu sebelum ada konsep tentang Tuhan. Manusia berevolusi dari jenis monyet-monyetan yg tinggal di dalam goa sampai akhirnya menjadi manusia metroseksual yg tinggal di kota metropolitan Jakarta Raya. Segalanya itu proses.

Kita sekarang tahu ada Teori Evolusi, ada Teori Bing Bang, dan berbagai teori dari ilmu pengetahuan untuk menjelaskan asal usul alam semesta dan evolusinya. Tetapi ini semua teori yg relatif baru. Walaupun lebih bersifat ilmiah, ini teori-teori baru.

Teori lama tentang alam semesta diberikan oleh agama-agama. Dalam tradisi Samawi, teori penciptaan manusia di Taman Firdaus ditulis oleh Nabi Musa AS. Jadi, Tuhan menciptakan Adam sebagai pria pertama, lalu Hawa sebagai wanita pertama diciptakan dari tulang rusuk Adam. Ini teori saja dan jelas tidak ilmiah. Teori penciptaan manusia di Taman Firdaus cuma sahibul hikayat atau mitos belaka.

Ada juga teori penciptaan alam semesta dalam waktu enam hari saja oleh Allah. Teori ini juga ditulis oleh Nabi Musa AS. Kita sekarang tahu bahwa alam semesta tidak tercipta seperti itu, tetapi teori sahibul hikayat dari Musa AS cukup memadai untuk manusia masa lalu yg bahkan mengimaninya.

Kita sekarang menganggap kisah-kisah penciptaan alam semesta oleh Allah yg termuat di kitab suci sebagai mitos belaka. Yg kita pakai adalah teori yg lebih ilmiah seperti Teori Big Bang, Teori Evolusi, dsb.

Allah yg asli itu ada, dan adanya bukanlah di konsep-konsep tentang Allah yg tidak lain dan tidak bukan merupakan hasil pemikiran manusia di masa lalu. Allah yg asli itu hidup di kesadaran anda sendiri. Bisa juga dibilang bahwa Allah adalah proyeksi dari kesadaran anda sendiri. In the end, yg ada cuma kesadaran anda sendiri saja. But, so what gitu lho!

Ada juga kalangan tertentu di Indonesia yg percaya bahwa dalam waktu kurang dari 10 ke depan akan muncul utusan Allah sekelas rosul.

Menurut saya, apabila prediksi itu benar, maka orang yg akan muncul kemungkinan besar asalnya dari luar agama-agama, dengan pertimbangan sbb:

1. Kalau anda percaya Tuhan ada, maka Tuhan akan tetap akan ada, dan tidak tergantung dari agama.
2. Tuhan yg cuma eksis kalau orang beragama bukanlah Tuhan, melainkan konsep saja.
3. Agama seringkali tidak mengajarkan manusia untuk menemukan Tuhan, melainkan menjadi robot syariat belaka demi kepentingan golongan tertentu.
4. Manual dari semua agama atau syariat, kalau dijalankan sampai tuntas, tidak akan menghantar manusia sampai menemukan Tuhan.

Dalam Islam, ada yg namanya jalan syariat, tarekat, dan makrifat. Dan, walaupun banyak orang bilang bahwa jalannya itu seperti anak tangga berurutan dari syariat naik ke tarekat dan akhirnya makrifat, saya sendiri, berdasarkan pengalaman dan intuisi, akhirnya mengerti bahwa jalan syariat itu ada batasnya. Dan batasnya itu menjadi robot syariat. Untuk keluar dari syariat perlu membebaskan diri dan masuk jalan tarekat. Tarekat artinya pemikiran bebas.

Jalan tarekat ada batasnya juga, pemikiran demi pemikiran hanya akan sampai pada kesimpulan bahwa apapun bisa kita konsepkan, dan valid bagi kita sendiri, walaupun tidak harus valid bagi orang lain. Jalan tarekat itu jalan buntu juga, berputar di situ saja. Untuk keluar dari jalan tarekat harus lompat lagi dan masuk jalan makrifat.

Jalan makrifat adalah menjadi diri sendiri saja, mengikuti intuisi yg muncul dari dalam diri sendiri tanpa takut dikucilkan, tanpa takut dipandang rendah oleh orang lain. Jalan makrifat adalah jalan nabi-nabi. Nabi Muhammad mengikuti jalan makrifat, Nabi Musa juga, Nabi Isa juga. Makanya kisah hidup mereka begitu aneh.

Syariat harus ditinggalkan, dan lompat masuk tarekat. Setelah itu tuntas harus lompat lagi, masuk makrifat. Dan mereka yg sudah berada di jalan makrifat memang sangat susah untuk diikuti jalan pikirannya oleh mereka yg levelnya masih "bawah".

Honestly, I hate to talk about "makrifat", tetapi dalam konteks pemikiran Indonesia mau gak mau harus digunakan juga. Mau gak mau kita harus akui bahwa ada level "bawah" dan ada level "atas". Itu istilah yg selama ini saya hindari untuk gunakan, tetapi mungkin mulai harus digunakan juga karena semakin kita jujur maka orang akan semakin terbantu. Kalau ada yg kita sembunyikan, maka kita tidak bisa membantu sepenuhnya.

Kalau kita sudah mengeluarkan semuanya dan ternyata orang masih belum terbantu juga, ya sudah. Kita cuma bisa membantu sebatas kemampuan kita saja, and no more than that. We are still human.

Walaupun Tuhan adanya di dalam kesadaran kita, we are still human.

Leo
@ Komunitas Spiritual Indonesia <http://groups. yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.

Postscript:

Jalan Syariat, Tarekat dan Makrifat lahir begitu saja kemarin ketika saya "tranced" ketak ketik ketak ketik. Walaupun saya tahu bahwa ada sesuatu yg kurang kalau mengikuti jalan pemikiran tasawuf yg umum, ternyata saya tidak bisa memperbaikinya. The writing stays intact as it is.

Hakekat harusnya berada di antara tarekat dan makrifat, tetapi saya tidak bisa memasukkannya di sana ketika tulisan itu sedang dibuat, dan tidak bisa memasukkannya juga ketika tulisan itu sudah jadi. It's a kind of automatic writing, semacem kesambet roh yg bisa bikin orang muter-muter kayak gasing dan merasa memeluk Allah. But in my case, my ten fingers moved by themselves. Tanpa mikir jadinya seperti itu. Itulah yg masuk ke dalam kesadaran saya, fully put into a written form.

Ternyata makrifat sebenarnya cuma keadaan di mana kita menjadi diri sendiri saja. Dan hakekat atau essensi, bukankah itu pengertian-pengerti an saja ? This writing is hakekat, pengertian.