April 22nd, 2009  Sketsa lepas di sela verifikasi kasus kematian David, mahasiswa asal Indonesia yang terindikasi dibunuh itu. Menyimak peranan Kedubes di gemerlap kota Merlion, melayani mancaragam permasalahan TKI. Banyak PRLT yang kemudian berkembang karirnya…
DARI Kedutaan Besar Indonesia di Jl.Chattsworth No.7, di Singapura, mobil Camry hitam yang disetir oleh Fahmi Aris Innayah, terus meluncur, Sabtu, 18 April 2009, menuju Sekolah Indonesia Singapura. Di halaman Kedubes masih tampak beberapa pekerja pembantu rumah tangga menunggu bis mengantar. Mereka Tenaga kerja Indonesia (TKI). Satu bis mini sudah jalan duluan.

Belum sempat membelokkan mobil ke kanan keluar pagar kedutaan, telepon selular Fahmi bergetar. Ia menjawab melalui bluetooth. Seorang penanya melalui telepon.

“Ini Kedutaan Indonesia?”

“Iya, dengan siapa?”

Suara di seberang menjawab kurang jelas.

“Saya sudah tiga kali ganti majikan Pak, dalam enam bulan.”

“Siapa namamu? Itu artinya kamu tak mendapatkan peningkatan gaji tetap?”

Belum tuntas solusi diberikan, sudah ngantri lagi telepon masuk.

“Pak Fahmi, kasihanilah saya, di kampung mana kena banjir”

“Keadaan terasa sulit banget, gaji saya dicicil, gaji delapan bulan lalu belum dibayar.”

Suara anak kecil berkelahi terdengar.

“Maaf Pak ini anak-anak berantem pula.”

Satu anak majikan menangis

“Pak nanti saya telepon lagi ya…”

Suara telepon terputus.

Saya yang duduk di samping kiri Fahmi, mendengar seluruh dialog itu. Tatapan saya terpana ke jalanan bersih dan lapang, beda sekali dengan ruas Jl. HR Rasuna Said, Jakarta, kini aspalnya bolong-bolong di kiri jalan, misalnya. Pikiran saya melayang kepada kepahitan dan kesulitan para TKI itu. Di Singapura jumlah mereka lebih dari 80 ribu.

Barulah dua puluh menit kemudian telepon Fahmi jeda.

“Handphone saya hidup dua puluh empat jam dalam sehari,” ujar Fahmi, staf layanan masyarakat KBRI, Singapura.

Praktis bagi Fahmi, bahwa roda kehidupan yang 7 x 24 jam, dipersembahkan menerima segenap keluh-kesah dan mencaragam persoalan kehidupan TKI. Bukan saja dari pembantu, termasuk tenaga kerja lain, macam pelaut.

Lima hari sebelum saya semobil dengan Fahmi, peristiwa lebih mencekam baru saja terjadi: seorang pembantu rumah tangga, hendak melompat dari sebuah apartemen majikannya. Segenap kepolisian Singapura bekerja intens, mereka mencoba membujuk agar sang pembantu mengurungkan niat. Bahkan level pejabat bintang dua turun tangan. Mereka putus asa merayu.

“Pihak kepolisian menghubungi kami.”

“Kami segera ke lapangan. Tak sampai sepuluh menit sosok yang akan bunuh diri itu mau dibujuk.”

“Ia butuh keluarga, sanak saudara untuk curhat.”

Apa yang dilakukan Fahmi?

Membujuk, mendengar, bahkan bila perlu memeluk laksana adik sendiri. Dari situlah ia paham keadaan kejiwaan sang TKI. Pada kasus keinginan bunuh diri dari lantai 25 itu, lebih karena kepiluan mendalam.

“Bagimana tak kecewa berat, TKI itu meninggalkan anak dan suami. Dari Singapura dia mengirim uang pulang kepada suami. Eh, uangnya dipakai suami kawin lagi!” ujar Fahmi.

Malu saya sebagai lelaki.

KAWASAN sekolah Indonesia di bilangan Jl. Siglap 20 A, di lahan lebih sehektar itu bangunannya dua lantai, di bagian bawah banyak ruang terbuka. Kelas-kelas banyakan di lantai dua. Ada pula aula yang bagian tengahnya bisa disulap untuk dua lapangan bulu tangkis. Di halaman, pohon nangka menguatkan ke Indonesiaan. Saya perhatikan dua batang berbuah, sepokok sebuah, di pohon lain tiga. Buahnya hijau tajam, mengingatkan kepada sayur mayur yang dijual di banyak tempat di Singapura, macam timun, sawit, lebih dalam hijaunya, macam sayuran yang dijual di Ranch Market di Jakarta.

Sejak pukul 10, ruang kelas di lantai dua itu sudah penuh diisi dengan kelas reguler. Pelajarnya, ya, kalangan TKI. Ada yang belajar komputer, bahasa Inggris, Mandarin, dan juga kuliah melalui seorang tutor Universitas Terbuka, mengambil gelar S1.

“Sudah ada tujuh puluh dua orang yanmg sarjana,” ujar Wardana, Duta Besar RI, Singapura.

Kantin menjual masakan Indonesia tersedia. Ada bakso. Sambil menyantap gulai ikan yang beraroma kari, saya berbincang dengan Wardana. Ia mengutarakan apa yang dilakukan kedutaan sudah suatu yang lebih di luar kapasitas diplomat. “Namun karena mereka ini warga kita, maka sisi kemanusiaan menggerakkan untuk meningkatkan kulitas mereka,” ujarnya.

Dalam pekan ini rombongan Kedubes RI, meberikan sosialisasi akan pelatihan menyiapkan SDM berkualitas. “Sehingga kelak TKI yang datang sudah matang,” kata Wardana.

Sebelum santap siang, Wardana sempat memberikan motivasi kepada sekitar 300 TKI, umumnya pembantu rumah tangga. Mereka dipandu berkelompok oleh para volounter, mahasiswa Indonesia dari berbagai perguruan tinggi di Singapura, termasuk dari NTU.

Kala itulah saya melihat Ketua Himpunan Penata Laksana Rumah Tangga Indonesia (HPLRTIS), Sumarni Markasan. Ia salah satu PRLT yang berhasil. “Ketika tiga tahun pertama di Singapura, saya dalam situasi sulit,” ujarnya. Ia bahkan pernah tidak digaji majikan.

Kompas, pada Agustus 2009 menuliskan: Penunjukan Sumarni sebagai Ketua HPLRTIS tak lepas dari figurnya yang ingin terus maju dan pantang mundur. Ia mulai bekerja di Singapura sebagai PRLT pada 1996. Saat mulai bekerja, ia sama sekali tak bisa berbahasa Inggris, juga tak memiliki keterampilan, seperti mengoperasikan komputer.

Maka, ketika bekerja pada majikan asal Amerika Serikat tahun 1998, ia mengambil kursus bahasa Inggris selama enam bulan. Lewat kursus dan interaksi dengan majikan, kemampuan bahasa Inggris Sumarni semakin baik.

Pengalaman menjadi PRLT di Singapura juga mengubah pola pikir Sumarni. Kemajuan teknologi dan penerapannya di hampir semua lini kehidupan warga Singapura semakin membuka pikirannya.

”Saya melihat, segala sesuatu dilakukan dengan komputer,” kata Sumarni. Ia lalu bertekad harus bisa menggunakan komputer.

”Saya mau menguasai komputer. Saya ingin pandai dan mau belajar. Saya mau sekolah,” kata Sumarni. Dia lalu berupaya mencari majikan yang dapat memberi keleluasaan dan waktu baginya untuk belajar.

Saat bekerja dengan majikan asal Swiss pada 2000, ia mendapatkan apa yang diharapkan. Ia belajar komputer di Institut Informatika, Singapura, selama sekitar 1,5 tahun. Belajar komputer dia lanjutkan saat berganti majikan baru yang asal Finlandia.

Belajar komputer di Institut Informatika, Singapura, bukan hal mudah. Instruktur memberi bahan dan materi dalam bahasa Inggris. Materi studi komputer, seperti Power Point, Excel, Microsoft Office, tak mudah diserap jika penguasaan bahasa Inggris lemah.

Tantangan lain suasana belajar di lembaga itu. Para siswa berasal dari berbagai kalangan, mulai dari manajer sampai pelajar, dari sejumlah negara seperti China, Malaysia, India, dan Singapura.

Gaji Sumarni kini sekitar 800 dollar Singapura atau sekitar Rp 5 juta. ”Itu belum termasuk bonus yang diberikan majikan,” katanya. Bahkan, oleh majikannya yang asal Finlandia, Sumarni diajak berlibur ke Inggris dan Finlandia.

Dari gaji yang dia kumpulkan selama bekerja di Singapura, pada tahun ke-7 Sumarni mampu membeli lahan untuk kebun senilai Rp 70 juta. Lahan yang dikelola orangtuanya itu ditanami pohon buah-buahan.

Sumarni juga menginvestasikan uang yang dia peroleh untuk membeli rumah. ”Harga rumah saya sekitar Rp 100 juta dan sekarang dikontrakkan,” kata Sumarni yang mendapat uang kontrak Rp 7,2 juta per tahun.

Maka di siang yang segar saya perhatikan Sumarni bercelana panjang hitam dan berbaju putih ketat begitu menjaga body language-nya ketika bersalaman dengan saya. Jabatan tanganya erat.

“Saya Sumarni.”

Tawanya lebar.

Saya jamin jika Anda bertemu dengannya di Jakarta, pasti menduga bahwa Sumarni seorang wanita karir.

Pede dia.

Di kelas siang itu saya simak seorang guru taman-taman kanak-kanak asal Cilacap meninggalkan profesinya, lalu mara ke Singapura. “My salary in Cilacap limited,” ujarnya

Seorang lagi yang maju ke depan kelas mengatakan,” My name is ….my English is very limited… wrong-wrong dikit bolehlah.”

Agaknya di mana ada kemauan di situ ada jalan menjadi spirit para PRLT itu. Belajar memang kudu tiada henti. Saya perhatikan mereka juga kian bersemangat memilih tutor para mahasiswa Indonesia yang cantik, ganteng.

Begitulah antara lain kegiatan Minggu Kedubes RI yang saya simak siang itu.***

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.com