Berita mengejutkan datang dari Blok Jalan Teuku Umar, mereka mengancam akan memboikot Pilpres, alasannya selesaikan dulu permasalahan Pemilu Legislatif, dan ke-amburadulan DPT(daftar pemilih tetap) pada pesta rakyat 9 April lalu. Tudingan yang lain, peraturan pemilu yang tidak berpihak kepada kebenaran, dan lagi banyak rakyat yang terpasung karena tidak bisa menggunakan hak pilihnya dan berdasarkan penyigian kelompok ini jumlahnya tak tanggung-tanggung, mencapai puluhan juta orang.

Siapa saja blok Jalan Teuku Umar (kediaman Megawati), ada dua orang Manpres (mantan presiden) yaitu Gus Dur (NU/deklamator PKB) ,Megawati(PDIP), Wiranto(Hanura), Prabowo(Gerindra), ada Sutiyoso(PIS), ada Rizal Ramli, kelompok ini mengklaim sebagai kelompok pembaharuan(?). Mereka berkumpul untuk mengusut (menurut mereka) semua kekacauan Pemilu 9 April baru lalu.

Sementara itu, Amien Rais yang dikatakan termasuk tokoh reformasi ini , setelah semua kritikan-kritikan pedasnya terhadap pemerintahan SBY, justeru kini mengadakan road show memberikan dukungan kepada SBY untuk jadi presiden lagi, aneh tapi nyata, dan itulah politik. Tujuan road show alumni Chigago University dan guru besar FSIP UGM ini, adalah dalam rangka menggalang dukungan aktivis kelompok Islam dan untuk memperkokoh kekuatan kelompok-kelompok Islam, itu pengakuannya terhadap pers..!!..(apa iya..?). Amien Rais dengan karakter ngotot-nya, memang tidak kehabisan akal untuk menaikkan pamor politiknya yang sudah memudar, ibarat lampu, minyak yang tersisa hanya ada pada sumbu lampu, kalau minyak tak segera ditambah, sumbu habis, cahayanyapun padam, begitulah pamor Amien sekarang, dia berikhtiar mencari minyak.

Realitas sekarang adalah, Partai Demokrat yaitu partai yang memperoleh suara terbanyak ketimbang partai lain, Amien tidak lagi mengkritik, justeru mendukung SBY untuk tetap jadi presiden, sikapnya ini bukannya tanpa target, pasti ada maunya, ternyata Amien menyodorkan Ketum PAN Soetrisno Bachir untuk jadi pendamping SBY tegasnya sebagai calon wakil presiden dalam pilpres mendatang. Target lebih jauh lagi, pada pilpres 2014 nanti dimana SBY tidak bisa mencalonkan diri lagi, maka Sutrisno Bachir atau PAN akan dengan mudah mengincar posisi Capres yang dulunya gagal didapatkan oleh Amien Rais. Jadi jabatan cawapres bagi Sutrisno Bachir tak lain adalah dalam rangka pematangan politik Sutrisno Bachir, akan semudah itukah..? Sudah pasti tidak. Kenapa ? Rakyat sudah menilai “kefiguran” seorang Amien Rais, dan rakyat tidak tertarik lagi dengan salah satu tokoh Muhammadyah ini sebab lampunya hamper padam.

So, what..sepertinya Amien tidak rela pamor politiknya hilang begitu saja, tokoh yang dulu sangat getol menghujat TNI ini, cepat-cepat banting stir, dia sangat sadar bahwa tidak ada tempat baginya di blok Teuku Umar, makanya dia dengan sangat yakin dapat meng-obok-obok Golkar,PKS,PPP,PKB dan PBB dengan istilah klise demi kekukuhan partai kelompok Islam.

Namun sangat disayangkan seorang alumnus luar negeri, kok bermental “sektarian” begini, kenapa dan ada apa. Lagi lagi-Islam dijadikan alasan atas semua “kengototan” politiknya, artinya dia kembali bersikap politik aliran, dengan alasan demi memperkokoh persatuan umat Islam. Suatu alasan yang sangat naïf karena datangnya dari seorang Amien Rais.

Permainan politik yang kurang elegan ini sangat kentara dipertontonkan Amien, tidak melihat realitas yang ada, telah terbukti, semua partai Islam paling banter hanya memperoleh suara paling tinggi tak lebih dari 7,8 persen.Itu juga hanya empat partai Islam saja yang banyak dilirik rakyat, PKS,PPP,PKB dan PBB, kebagian hanya 1 persen lebih. Kenapa ini terjadi..?!

Karena Umat Islam dipecah belah/dicerai beraikan oleh para tokohnya sendiri. Dulu ada kiyai yang menyempal dari PPP, dia bikin PBR partai bintang reformasi, adalagi tokoh PAN yang tidak puas, lalu menyempal dan mendirikan PMB,partai matahari bangsa, PKB juga demikian, sehingga ada istilah untuk partai ini PKB, partai kisruh banget..! Ada PKB Muhaimin, ada PKB yang bukan Muhaimin.

 Kini keutuhan umat Islam semakin lama semakin terancam, kenapa .. ?! Gus Dur adalah tokoh NU, berada di blok Teuku Umar, yaitu blok yang akan memboikot Pemilu Presiden juni mendatang, komandannya Megawati Soekarno Puteri. sebaliknya Amien Rais berada di Kubu SBY dengan agenda tertentu sudah pasti. Kita tak tahu persis bagaimana keberadaan Gus Dur di Blok Teuku Umar ini, Personality Gusdur yang notebene-nya adalah Figur Kharismatik NU,dimanfaatkan atau Gus Dur yang memfaatkan blok ini, atau hanya sekedar pembelajaran Politik kepada puterinya Yenni sebagai calon presiden perempuan masa depan , nasi dalam proses jadi bubur, umat Islam semakin terpuruk kedalam perpecahan serius.Kenapa dikatakan perpecahan serius,Sebab satu lagi tokoh yaitu Amien Rais sebagai dedengkot Muhammadiyah, berada pada blok yang berbeda dengan Gus Dur yang NU.

Islam terang-terangan sudah dijadikan alat politik oleh para politisi ini, keberadaan Gus Dur dan Amien Rais di dua blok yang berbeda, sudah mencerminkan kondisi itu. Situasi ini semakin mematahkan selera umat terhadap partai-partai Islam, kwalitas pemilu memang masih jauh dari harapan, dengan alas an DPT gak benar, mungkin ada juga benarnya, DPT kacau balau, siapa yang harus disalahkan, KPU, Pemerintah atau rakyat..?! Sementara Amien dan Gus Dur bertarung politik, partai Islampun sedang menangis, kenapa ternyata partai Islam tidak bias menandingi partai yang bukan Islam dalam perolehan Suara. So, kedepannya apa..?

Sebenarnya Islam tak perlu partai untuk menang, yang perlu adalah umat Islam betul-betul menjalankan perintah agamanya dengan benar setiap hari, sekali lagi setiap hari. Di Partai Demokrat banyak Islamnya, di Golkar sama, di PDIP tidak berbeda, dipartai lain juga begitu, semuanya banyak Islamnya, tapi kenapa harus ada juga partai Islam.
Jalan terbaik sekarang ini bagi umat Islam adalah, semua partai-partai Islam membubarkan diri, dan kalau mau bikin partai juga yang paling baik adalah NU dan Muhammaddiyah bersatu kemudian deklerasikan Partai NU-Muhammadyah, tahun 2014 ikut pemilu, anda pasti sudah tahu, Partai NU Muhammadiyah inipun tidak akan mampu meraih suara terbanyak.