Laporan Iwan Piliang tentang Investigasinya di Singapura

 

Esensi jurnalisme menurut Bill Kovach di buku The Element of Journalism, adalah verifikasi. Kegiatan memverifikasi mesti dimulai dari bahan tertulis. Sketsa 8 ini, salah satu, dari perjalanan ke Singapura selama sepekan, kurang beberapa jam.

April 13th, 2009  BINARAN gemerlap lampu gedung-gedung di kawasan Boat Quay, Singapura, Senin malam, 6 April 2009 itu, membayang ke laut. Rona merah, kuning, biru, putih membuat air seakan berwarna. Sesekali kapal kecil membawa pelancong hilir mudik menggerakkan laut menguak pancaran kelir membias air. Laku kapal itu mengingatkan kepada kegiatan saya menguak misteri kematian David Hartanto Widjaja di Singapura kali ini.

 

Sosok gadis di samping saya, alumni Nanyang Technological University (NTU), Singapura, menemani malam itu. Yasmin, sebut saja namanya begitu, duduk merapat ke samping saya. Kami mengobrol soal rekonstruksi kejadian. Banyak info sebagai latar yang diberikan Yasmin berkait ke kasus kematian David, mahasiswa fakultas Electrical and Electronic Enginerring (EEE), NTU, di semester akhir, pada 2 Maret 2009. Rilis awal dari NTU menyebutkan bahwa David telah menusuk Profesor Chan Kap Luk, 45 tahun, dosennya sendiri, lalu menyayat nadi lengan, melompat dari lantai empat kampusnya.

 

Seonggok makanan sengaja kami bawa duduk ke tepian tangga terbuka mengundang tikus datang. Sepasang remaja bule di belakang kami mengusir sang tikus. Kemudian tikus sekepalan tangan itu mendekat lagi. Adegan mengusir tikus itu terjadi hingga lima kali. Bagi saya pengalaman melihat tikus lapar di Singapura, menjadi tanya. Di kawasan mentereng itu kini telah bertikus. Sepuluh tahun silam ketika duduk bersama isteri di tempat sama, saya tidak melihat tikus sama sekali. Juga ketika berkesempatan lainnya ke sana, terakhir lima tahun lalu.

 

Memandang ke ujung kanan, sebuah hotel bintang lima plus, The Fullerton, terlihat bearsitektur kolonial beratrium. Deretan gedung jangkung, termasuk bangunan UOB Plaza, gedung tertinggi di Singapura, berdiri melangit di punggung kami. Di pelataran UOB itu, sebuah patung hitam burung gendut, karya Fernando Botero, pelukis asal Kolombia, seakan berkicau menertawakan kami.

 

Pikiran saya sejenak tertuju kepada karya lukisan Botero. Pada November 2006 lalu, ia memprotes kekejaman yang terjadi di penjara Abu Graib, Irak, yang dilakukan tentara AS. Lebih 60 karyanya lukis Abu Graib-nya, sempat dicekal berpameran di AS. Namun Museum Marlborough Gallery di Manhattan, New York, Amerika Serikat, berani menggelar karya kritis itu. Dan sebagai terima kasihnya, Botero yang bertaat kaedah berkarya melukis objek berwajah beranatomi gendut itu menghibahkan seluruh karya Abu Graib itu kepada Amerika Serikat.. Baru kali itulah saya melihat karya lukis Botero bernuansa darah – – walaupun tetap dengan wajah gendut lucu, sosok botok, bulat-bulat.

 

“Ada tikus lapar.”

 

“Ada karya Botero.”

 

Malam yang kontras.

 

Yasmin telah membukakan mata saya akan keberadaan Singapura terkini.

 

Jika saja kelak penegak keadilan Singapura di relnya, lalu David yang saya indikasikan kuat dibunuh, kemudian memang terbukti dibunuh oleh profesornya sendiri, ada baiknya pula segenap bangsa ini meminta Botero membuat lukisan, bagaimana kontrasnya sebuah kemegahan kampus NTU, simbol kemahligaian peradaban dan intelektualitas Asia di Singapura yang berada di kawasan 200 hektar di daerah …., dengan bangunan dan fasilitas mewah, justeru merendahkan derajat kemanusiaan, menggampangkan nilai seutas nyawa. Lebih celaka, sejarah telah mencatat pembohongan publik: kampus sebagai hulu intergritas, menghilirkan rilis kematian David yang ngawur. Saya menduga, tentu Botero akan suka rela, riang gembira, melukis untuk David, kelak.

 

Maka di Senin malam itu di Boat Quay, yang menjadi bandar perdagangan utama seabad silam itu, bersama Yasmin kami fokus mencoba membuat berbagai sketsa di kertas.

 

Keluarga David, telah menerima hasil otopsi yang diserahkan pihak NTU, melalui email dan mengirimkan aslinya. Otopsi dilakukan Centre for Forensic Medicine, Health Science Authority, di bilangan Outram Road, Singapura. Hasilnya menyebutkan ada 36 titik luka; 14 di antaranya luka benda tajam. Sisanya luka dalam, termasuk di bagian leher, yang di Sketsa sebelumnya, saya tuliskan ketika jasad David dilihat orang tuanya di leher anaknya berplester tiga baris.

 

Melalui telepon dan membaca media online di Jakarta, Senin siang, 6 April 2009, Munim Idris, ahli forensik senior dari UI, mengatakan hasil otopsi David itu tisak sah. Menurut Munim, seharusnya pihak Kedubes RI di Singapura turut meng-endorse, melalui tanda tangannya.

Perihal itu, setelah saya konfirmasikan ke pihak Kedubes, di Jl. Crosworth, di tengah kota Singapura, justeru sebaliknya. Mereka mengaku tidak punya hak akses. Justeru Kedubes meminta bantuan saya berkomunikasi menghubungi keluarga David, agar Kedubes bisa mendapatkan hasil otopsi.

 

“Tolong sampaikan ke keluarga David, bahwa perihal demikian, di aturan Singapura, hanya next kin, keluarga terdekat, yang dapat memintanya, “ ujar Yayan Mulyana, juru bicara Kedubes RI Singapura.

 

“Kami kecewa, mengapa pihak polisi Singapura menyerahkan otopsi ke NTU, bukan langsung kepada kami,” ujar Hartono Widjaja, ayah Almarhum David.

 

Malam itu juga saya mendapatkan kabar keluarga David, mereka akan menyusul saya ke Singapura, menemui banyak pihak; melakukan langkah non litigasi dan jika perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan lawyer Singapura perihal hasil otopsi itu, menjajaki melakukan upaya litigasi. Lagi-lagi andil Yasmin, gadis di samping saya itu banyak membantu.

 

Yasmin berkordinasi dengan Christovita Wiloto, yang sejak awal kasus ini telah membuat dokumentasi foto, yang didapat dari blog Straits Time. Christov juga telah membuat groups di Facebook, tentang kasus ini yang anggotanya kini telah mencapai lebih 12 ribu orang. Kami berkolaborasi, tanpa ada yang mengatur. Christ menjalankan kegiatan non litigasi, termasuk kantor PR-nya di Jakarta, memfasilitasi berbagai konperensi pers. Christ setiap akhir menetap di Singapura, menjadi sosok penting dalam gerakan tanpa bentuk yang secara spontan berjalan. Ia pula yang menjuduli saya sebagai ketua TIM Verifikasi kematian David. Sebuah jabatan informal, yang begitu saja mendarat.

 

Hingga larut malam saya masih berada di kawasan bandar Boat Quay, yang arealnya macam ceruk perut ikan – – dipercaya orang Cina membawa keberuntungan – – diprakarsai pendiriannya oleh Raffles itu.

 

Sejak Raffles menandatangani perjanjian memastikan status pelabuhan bebas bagi Singapura, segera saja para imigran dari negara tetangga membludak masuk. Dalam waktu enam bulan, pemandangan umum di lokasi ini seabad silam; para kuli dan swaylo (pekerja air) yang terbakar matahari, sibuk menjaga keseimbangan karung beras berat di pundak mereka, berjalan di atas papan bergoyang-goyang, membongkar muat manca ragam hasil bumi. Pada 1860-an itu, tiga perempat dari semua usaha pelayaran dilaksanakan di Boat Quay. Dari wilayah ini titik awal keberhasilan Singapura menjadi sentral bisnis.

 

Malam kian larut. Pertanyaan mengapa David dibunuh kian membuncah di benak saya. Bersama Yasmin, kami menelusuri jalan menyeberang ke arah The Merlion, patung kepala Singa, berbadan duyung. maskot Singapura itu. Patung itu, dua pekan setelah kematian David, disambar petir. Dua ruas bulu di atas kepalanya botak.

 

Malam itu saya lihat botaknya sudah ditambal.. Dini hari, di balik lampu gedung Esplanade beratap khas macam durian itu, kami melangkah pulang dengan bulu di tangan merinding, di tiup angin dingin, dengan kegundahan tajam.

 

Yasmin, “David, siapa membunuh mu?”

 

“Mengapa kamu dibunuh?”

 

Mencari jawaban itulah saya ke Singapura.

 

 

 

RABU, 8 April 2009, sesuai janji pukul 9.00, dengan orang tua David, dan Christovita Wiloto, kami bersepakat bertemu di stasiun MRT, Raffles Place. Dari penginapan saya di bilangan Jl. Besar, lokasi yang banyak dihuni backpackers , sangat mudah mencapainya. Sekitar lima menit saja ditempuh dari stasiun MRT kawasan Lavender.

 

Tiba di kawasan Raffles Place, ada taman terbuka, ada patung perunggu post modern berbentuk kapal layar. Sebelah menyebelah gedung jangkung, di antaranya Ocean Tower, Clifford Center, The Arcade UCO Bank, Bharat Building, juga UOB Center. Bila Senin malam saya menghadap laut, pagi itu panorama menghadap kesibukan kota di pagi bergerak sesak.

 

“Kita duduk saja di taman terbuka ini, sehinga jika ada apa-apa publik melihat kita, “ kata Christovita Woloto.

 

Keberangkatan saya ke Singapura, penuh dengan perlawanan batin, betapa berisikonya menelusuri kasus David. Mengingat President NTU, Su Guaning, adalah Chairman The Defence Science and Technology Agency (DSTA) lembaga penting di bawah MINDEF, kementrian pertahanan Singapura. Profesor Chan Kap Luk, juga orang penting DSTA. Sedangkan Computer Vission, aplikasi yang dipakai David ditugas akhirnya, menurut DR Ary Setijadi, ITB Bandung, hanya dua saja muaranya: entertainment atau militer. Benang merahnya Presiden NTU, Ketua jurusan Profesor Chan dan David, mengkriyakan Computer Vission, aplikasi yang sangat penting untuk mengkompres data secara maksi.. Begitu juga sosok yang kemudian ikut tewas, gantung diri empat hari setelah kematian David, project officer, Zhou Zheng Baca Cao Ceng) – – dalam satu ranah sama.

 

Hartono Widjaja, ayah Alm,. David, dan ibu nya, Ny,. Tjhay, kakak Wiliam Hartanto Widjaja serta pamannya Kusuma Widjaja, Christovita dan saya, berenam kami menunggu waktu pukul 11. 00, untuk bertemu lawyer Shashi Nathan dari firma hukum Harry Ellias Partnership. Obrolan di pagi itu ditemani burung-burung murai batu, berterbangan di taman di depan Osen Tower itu.

 

Setelah berjalan kaki ke arah kanan melalui dua blog bangunan termasuk menyusuri kawasan Lau Passa, bangunan berkerangka besi beratap khas, pasar peninggalan Inggris, tempat food court yang cukup terkenal kini. Shashi Nathan dan timnya sudah menunggu kami di kantornya.

 

Dari Shashi kami mendapatkan penjelasan, bahwa hasil otopsi masih terlalu umum. Otopsi dilakukan oleh DR. Marian Wang. “Turut di endorse oleh Profesor Gilbert Lau,” ujar Shashi.

 

Gilbert Lau, sosok senior di ranah otopsi Singapura, macam Munim Idris-nya Indonesia. Shashi, kelahiran 1967 punya akses langsung ke Gilbert, termasuk kelak meminta foto-foto otopsi jasad David – memang sudah menjadi standar baku dalam proses otopsi.

 

“Leher luka dalam, ada banyak luka benda tajam, memang menjadi pertanyaan, ada apa di balik kematian David,” ujar Shashi.

 

Kedubes RI di Singapura, juga memfasilitasi keluarga David bertemu dengan lawyer dari Drew & Napier, yang pernah membantu Kedubes dalam kasus Barokah beberapa waktu lalu. Namun dengan akses dan kemampuan yang diperlihatkan oleh Shashi, keluarga David tampaknya akan memilih Shashi Nathan. Dan untuk itu, tampaknya akan membutuhkan dana besar berurusan dengan proses hukum Singapura. Untuk ukuran keluarga yang berada di kelas menengah bawah, mungkin publik dapat mencarikan solusi bagi keluarga David.

 

Proses hukum Singapura, untuk kasus kematian tak wajar, akan menuju pengadilan koroner (Coroner Court). Saya memverifikasi apa sesungguhnya pengadilan ini. Kantor pengadilan ini ada di Havelock Square. Bangunanya mirip macam gedung Sapta Pesona, Menteri Pariwisata dan Budaya Indonesia di Jakarta, tapi tidak jangkung. Di luar gedung tak ada tulisan Coroner Court. Hanya ada judul: Subordinate Courts. Dan di salah satu ruang sidang di bangunan itulah ada yang disebut Coroner Court.

 

Persidangan koroner terbuka untuk umum. Publik dapat menyampaikan bahan, termasuk bahan yang diprakarsai oleh Citizen Reporter, atau oleh siapaun. Di dalam Coroner’s Inquiry nanti diputuskan, jika proses kematian seseorang mengindikasi kuat kematian tak wajar, maka penyidik wajib melakukan penyidikan tuntas, sehingga pengadilan dapat memutus perkara, memenjara jika emang terbukti ada pembunuh. Goal terbaik dari Coroner’s Inquiry adalah keputusan: open verdict.

 

Hingga hari ini melalui surat dari Jurong Police Division HQ, Jurong West Avenue 5, Singapura, melaui surat Nomor: J/200903002/0133 (SOHCE), 6 April 2009 yang ditujukan ke Consular Kedubes RI, dengan surat yang ditandatangani Soh Kien Peng, ASP, Chief Investigation Officer, dan CC kepada kelurga David, maka 17 April 2009 ini persidangan koroner sudah memasuki tahap Coroner’ Mention I. Di first mention ini, masih tertutuip sifatnya, karenanya sudah diperlukan lawyer, memverifikasi data dan segala temuan.

 

Proses koroner akan memakan waktu panjang dan biaya yang besar, yang diperkirakan mencapai $ 100 ribu. Persidangan pertama koroner, Shashi Nathan memperkirakan, waktunya baru mulai di Juli 2009. Seba setelah first mention, akan ada mention lanjutan, bagaikan tulisan Sketsa ini, akan berseri-seri mention.. Dan sebagai bangsa yang menghargai proses hukum, adalah sewajarnya memang proses adab hukum Bandar Singapura ini layak dikawal dan dituruti prosedurnya oleh segenap anak bangsa yang peduli. Hingga tulisan ini saya buat, Kedubes RI kita di Singapura, sedang menjajaki ke mungkinan menunjuk Shashi menjadi lawyer keluarga David. Namun sebagaimana hambatan klasik, Kedubes bekerja dengan DIPA, anggaran proyek yang sudah ada, lasus insidentil ini memerlukan pula sdukungan Deplu dan juga perlemen. Semoga saja negara bisa berbuat dalam kaus yang mencederai rasa bekebangsaan ini.

 

 

 

BERTEPATAN dengan keberadaan keluarga David di Singapura, New Paper, salah satu Koran di Singapura, mengutip Profesor Chan Kap Luk, sosok yang sebelum diberitakan media, ditusuk David, berkenan bersua keluarga David. Kami bersepakat agar keluarga datang ke sana. “Kami mesti ketemu Profesor Chan, biar ngga penasaran,” ujar Ny. Tjhay, ibunda Alm. David.

 

Saya sampaikan pula, Selasa, 7 April, bersama wartawan Metro Realitas, Metro TV, Arianty, saya sempat ke apartment Chan Kap Luk, di apartemen Park Oasis 35 di bilangan Jurong East. Kami dapat naik ke 15 apartmentnya, namun apartment Chan tidak tampak kehidupan, dan tak lama kemudian dua orang petugas dari building management kawasan itu, secara halus “mengusir” kami.

 

Maka di Jumat, sekitar pukul 16.00 waktu Singapura, dengan dua taksi, kami ke kediaman Chan Kap Luk. Di sana sudah ada wartawan TV One, Galuh, dengan kameramennya. Juga ada, Remy, dari The Online Citizen, wadah bagi Citizen Reporter Singapura, yang kemudian mulai terbangun gairahnya memberitakan kasus David setelah melihat keberadaan kami di Singapura.

 

Kami langsung menuju lantai 15 apartement Chan Kap Luk. Beberapa kali dibel, pintu aprtement-nya yang kini sudah dipasang kamera pengintai, tidak kunjung terbuka. Wartawan TV One, tanpa dosa, mewawancarai Ny. Tjhay di depan pintu apartment berpengintai itu.

 

Tak lama kemudian, dua orang “satpam” yang pernah mengenal saya, naik. Awalnya mereka tampak agak marah. Namun Christovita Wiloto yang ikut menemani menyambut ramah, saya menjelaskan yang datang adalah keluarga, maka kedua orang itu bercakap dalam bahasa Melayu, “Ya kami sudah mengenal di televisi.”

 

Mereka meminta kami menunggu di lobby. Dan berjanji akan meminta waktu Profesor Chan bertemu. Sekitar lima menit kemudian, “satpam” muda turun menemui kami, meminta waktu tambahan bernegosiasai. Setelah sepuiluh menit berlalu, Profesor Chan yang di awal kasus diberitakan ditusuk Alm David, secara resmi menyampaikan tidak berkenan menerima keluarga David melalui Satpam. Rombongan kami memutuskan pergi.

 

Dalam konteks inilah saya menyebut Chan Kap Luk, sebagai kupluk. Kupluk di dalam kamus bahasa Indonesia berarti peci. Namun dalam lema ini saya ingin menyebut arti slang kupluk, macam orang memukulkan kopiah kupluk ke kawannya, karena kesal,. Julukan kepada Chan Kup Luk, lebih karena kesal, berani bicara ke pers, bahwa ia berkenan menerima keluarga, giliran kalimatnya dibeli, dia bersembunyi.

 

Begitulah.

 

Sketsa VIII, ini saya tutup hingga urusan kupluk ini dulu.

 

Banyak Sketsa akan mengalir ihwal David, termasuk tiga kali menelusuri tempat kejadian perkara di NTU.

 

Yasmin mengirim SMS kepada saya, bahwa Straits Time di Senin pagi 13 April 2009 ini menurunkan tulisan setengah halamannya, yang menampar muka Profesor Chan Kap Luk. Itu artinya upaya sepekan kami di Singapura, mungkin bisa disebut sebagai langkah mendapatkan liputan media Singapura yang terkenal pro pemerintah itu.

 

“Today Straits Times article smack the proffesor on his face,” ujar Yasmin di SMS-nya. ***

 

 

Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter