Tag

 Saya mengenal Hilsy Gomez dari respon sehelai note yang saya pajang di kantor. Dua anak kucing liar supercute yang lahir di halaman belakang memerlukan pemilik rumah dan pet lover yang baik dan bertanggung jawab, begitu isi pengumuman itu. Dari sekian banyak manusia, cuma Hilsy satu satunya orang yang dengan senang hati bersedia mengadopsi Mickey dan Mika, nama sementara dua kitten yang berbulu lebat yang sudah seminggu tinggal di bawah semak oleander itu.

 

 Hari Sabtu yang lalu, saya membawa Mickey dan Mika ke rumah Hilsy yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Downtown Las Vegas. Rumah sewa tua berkamar 2 yang jika malam hari saya akan ngeri jalan sekitar sini. Tipikal kantong daerah imigran dan minoritas yang memiliki catatan kriminal yang tinggi. Tapi Hilsy jelas bukan keluarga kriminal. Seperti kebanyakan orang latino dia adalah pekerja keras dan punya dedikasi yang tinggi mencoba merajut masa depan yang lebih baik buat diri dan keluarganya.

Hilsy memiliki 2 anak. Suaminya bekerja menjadi seorang butcher di sebuah steak and seafood restaurant. Income mereka dibawah rata-rata. Dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu saat Hilsy menyeberang border secara illegal, ekonomi dia jelas lebih baik. Tapi dibanding dengan rata-rata perantau yang menghabiskan waktu 20 tahun di negeri orang, Hilsy bagaikan kereta mogok berbanding a high speed train. Kemiskinan dia seperti sebuah aib bagaikan huruf " A " ala The Scarlet Letter bagi masyarakat maju dan modern seperti Amerika. Tapi juga sekaligus berkah bagi Hilsy dan keluarga. Dan saya ingin menceritakan "berkah" dan liability menjadi seorang Hilsy atau orang-orang seperti dia bagi kami di sini dibandingkan dengan orang-orang miskin buat anda di Indonesia.

Hilsy beberapa bulan yang lalu mendapatkan federal income tax return berjumlah $ 6.000 dari pemerintah, dengan mengaku low income dan mengklaim 2 anak plus sejumlah dependent yang kemungkinan besar fiktif. Selain itu Hilsy memanipulasi cap kemiskinan dan tanpa asuransi dia masuk rumah sakit dan melahirkan kedua anaknya hampir dengan tanpa biaya alias gratis atas tanggungan pemerintah yang artinya mempergunakan uang para pembayar pajak seperti puluhan juta orang termasuk saya. Susu dan pendidikan anaknyapun ditanggung negara. Sekolah anak anaknya kelak juga sama. Walaupun kelihatan miskin, saya tidak lekas jatuh kasihan dengan orang orang seperti Hilsy. Mereka bukan seperti orang miskin di Indonesia yang dipaksa keadaan untuk mencari uang secara kreatif tanpa bantuan negara. Dibandingkan dengan orang kelas menengah yang kerja keras dan selalu memiliki resiko untuk jatuh bangkrut, Hilsy malah hidup tenang. Amerika yang cenderung sosialis dalam soal mengurusi orang miskin, membuat orang miskin spoiled seperti Hilsy. Dan seperti dimanapun negara yang mempraktekkan sosialisme, beban sosial negara yang besar selalu cenderung membuat sebuah negara bangkrut. Untuk membayar ongkos subsidi salah arah tersebut, terpaksa negara menaikkan pajak yang akibatnya membuat segmen kelas menengah susah untuk berbisnis lantaran high tax. Lalu tingkat pengangguranpun ikut terdongkrak.

Hilsy, seperti krisis global yang bermula dari Amerika akibat pemerintah lagi-lagi mempraktekkan sosialisme ( memberi kemudahaan orang miskin yang tidak mampu untuk membeli rumah yang tidak bakalan mampu mereka bayar kelak ) adalah orang miskin yang tidak bertanggung jawab. Dengan sejumlah subisidi ini dan itu, dia yang walaupun tinggal dirumah sewa kelihatan miskin memiliki mobil truck ford ajujubilah boros berseri F-500. Sewaktu bensin sedang mahal-mahalnya, dia menghabiskan hampir 100 dollar hanya untuk membeli bensin full tank. Dan dia sering makan dengan keluarga di luar yang bagi saya adalah sebuah pemborosan yang tidak perlu.

Lantaran kenyataan itu, saya lebih simpati dengan para low income di Indonesia. Orang miskin di tanah air memang pada hakekatnya miskin lantaran hampir tidak memiliki peluang atau peluangnya sengaja ditutup oleh orang kaya. Dari perjalanan saya beberapa kali ke kantong-kantong kemiskinan di Indonesia, saya menolak untuk mencap orang Indonesia itu pemalas. Mereka adalah pekerja keras dan tangguh. Tidak seperti orang-orang seperti Hilsy yang cari makan dari bantuan pembayar pajak dan negara.

Saya berterima kasih pada Hilsy yang rela mengadopsi Mika dan Mickey. Tapi setelah kenal dan tahu cerita dia dari mulutnya sendiri, saya makin sebel dengan partai sosialis bernama demokrat dan Obama. Hilsy saat ini sedang hamil tiga bulan. Dia bilang dia akan menetap di rumah sakit 4 malam lantaran proses melahirkan bernama C -section. Berapa biaya yang bakal dia keluarkan saya tanya lantaran dia tidak memiliki asuransi? Pihak rumah sakit cuma meminta $ 1.600, kata dia cengengesan. Habe teringat kakak  di Los Angeles waktu istrinya melahirkan menghabiskan hampir $ 40.000 itu cuma dari 3 hari menginap di hospital ( bagusnya dia memiliki asuransi ). Lalu membayangkan Hilsy dan sisa ongkos bersalin yang harus ditanggung pembayar pajak pekerja keras dan republican yang lurus macam saya. Tidak heran kenapa Habe begitu nggak demen sama Obama.

April 6, 2009

Habe