Saya sedang cari-cari tuhan yang lebih cocok untuk zaman ini. Tuhan  generik yang mahaesa  –tuhan monotheisme buatan Timur Tengah–  sudah makin tak cocok dengan budaya sekarang. Tuhan yang mahaesa terasa terlalu androsentris, ia terlalu memihak pada lelaki; terlalu etnosentris, ia terlalu memihak pada orang-orang yang menyebut diri "umatnya"; dan terlalu antroposentris, ia terlalu memihak pada manusia. Abad ini perlu tuhan yang berbeda.Tahukah anda, mengapa  tuhan yang mahaesa itu bablas androsentris, etnosentris, dan antroposentris? Bagi yang belum tahu, teman anda yang suka telatbangun ini,  akan coba menjelaskan.

Ternyata, bablasnya tuhan Timur Tengah menjadi seperti di atas itu adalah  murni hasil kreativitas orang Yahudi. Aha, Yahudi lagi, Yahudi lagi. Apakah ini teori konspirasi baru? Tidak juga. Memang itulah yang terjadi. Tabiat tuhan yang mahaesa seperti sekarang adalah hasil kreativitas orang Yahudi, yang kemudian dikembang-kembangkan oleh orang Kristen, ditiru-tiru orang Arab, dan akhirnya dimamah orang-orang di Nusantara.

 Konsep tuhan di Yahudi tidak lepas dari pengaruh budaya Sumeria-Akkadian-Babilonia-Kanaan, singkatnya budaya Kanaan. Dulu, tuhan dalam budaya Kanaan bukanlah tuhan yang mahaeasa seperti tuhannya Pancasila saat ini. Tuhan mereka  bukan tuhan tunggal melainkan tuhan jamak dalam wujud keluarga. Mirip dengan tuhannya orang Batak, ada bapak, ada ibu, ada anak lelaki dan ada anak perempuan. Konsep tuhan seperti itu berakar pada kultur Kanaan. Dalam kultur tersebut, dahulu kala, yang paling kesohor adalah tuhan puteri, sang  dewi cantik yang seksi. Dia tuhan keindahan dan kelembutan, tuhan kehidupan. Dia memang tuhan perempuan, tetapi bukan sejenis makhluk yang fokus hanya pada urusan beranak-pinak. Sang dewi berpasangan dengan semacam tuhan pangeran yang pasif, yang keberadaannya dikaitkan dengan hujan dan tetumbuhan, tuhan lemah yang kemudian mati oleh terpaan kekeringan, tetapi yang dibangkitkan kembali dan dimahkotai di singgasana kekuasaan surgawi.

Dalam budaya Kanaan, sang dewi dan pangeran pasangannya adalah Anath dan Ba'al, sedang tuhan ayah dan permaisuri adalah El dan Asherah.

Konsep tuhan para leluhur Yahudi berkembang dalam alam pikiran budaya Kanaan. Leluhur Yahudi mengadopsi konsep tuhan Kanaan  dan merevisinya.  Mereka menerima tuhan El dan menamainya Yahweh. Hingga abad ke-6 BC, di antara suku-suku Yahudi masih populer gagasan tuhan Yahweh yang memiliki isteri bernama Asherah. Pada sosok tuhan kala itu, ada maskulinitas dan feminitas. Pengakuan akan tuhan  feminin yang hadir bersama tuhan maskulin memelihara kehidupan yang seimbang dan kesetaraan penghargaan pada lelaki dan perempuan dalam masyarakat. Akan tetapi, dan inilah kesalahan Yahudi itu, perlahan-lahan tuhan Asherah diperosotkan menjadi sekadar simbol dan akhirnya digusur dari kuil-kuil sesembahan. Tinggallah tuhan ayah, sang lelaki, penguasa tunggal, sang maskulin, tuhan satu-satunya, yang mahaesa.

Parahnya jahudi-jahudi itu, mereka pun menyematkan atribut lain pada tuhan yahwe tadi, yakni etnosentrisitas. Mereka membuat tuhan itu menjadi semacam tuhan yang perilakunya tak masuk akal, karena terlalu memihak pada etnis jahudi.  Jahudi-jahudi itu  –dalam silang persaingan budaya dan demi konsep kebangsaan– mengembangkan konsep tuhan yang etnosentris, tuhan jahudi  yang tak sungkan membunuh dan melenyapkan suku bangsa lain demi si jahudi. Tuhan itu menuntut loyalitas dan ketaatan penuh dari suku bangsa jahudi. Dialah tuhan yang berseru dalam semangat kecemburuan, "Jangan ada padamu ilah lain di hadapanku!" Artinya, pada masa itu sesungguhnya ada banyak tuhan-tuhan selain yahweh, persis seperti keadaan di nusantara ini dahulu kala.   Ganjaran untuk loyalitas itu, jahudi pun menjadi the chosen  people, orang-orang terpilih yang dibela mati-matian oleh sang yahwe dalam perang-perang  mereka yang tiada berkesudahan.

Begitulah. Konsep tuhan yang dulunya plural, tidak seksis, dan tidak picik dalam budaya kanaan tua diubah oleh orang jahudi sesuka-suka udel mereka menjadi tuhan maskulin  yang mahaesa, angkara murka pencemburu yang doyan perang. Dalam konsep tuhan seperti itu, jahudi diuntungkan menjadi umat terpilih, ada tuhan yang berjaga siang dan malam memelihara kepentingan mereka.

Dalam perjalanan waktu, para nabi pun dilahirkan, dan karya mereka dibukukan menjadi kitab-kitab. Tentu saja, nabi-nabi ini hampir semuanya lelaki. Pandangan-pandangan mereka yang bias gender memenuhi halaman-halaman kitab suci.  Ada musa ada ibrahim, ada dawood ada yusuf. Semuanya jahudi.

Tak heran, jika Kristen dan Islam, dua agama yang lahir dari tradisi Yahudi, adalah juga dua agama yang bias gender, agama yang mengutamakan kepentingan lelaki. Kristen zaman sekarang memang telah lebih terbuka terhadap kesamaan hak lelaki-perempuan, dibandingkan dengan saudara sepupunya Islam, akan tetapi pada kelompok-kelompok Kristen fundamentalis yang membaca kitab secara hurufiah, pemihakan pada lelaki masih sama buruknya seperti yang dijumpai di Islam.

Selain itu, di bawah permukaan yang kadang kala tampak tenang,  semangat etnosentrisme masih tetap menggelora  pada kedua agama ini. Kristen dan Islam tetaplah agama "etnosentrik" –dengan pengertian "etno" yang lebih luas dari sekedar suku, bisa mashab, bisa denominasi– tidak perduli sekuat apa pun mereka berteriak bahwa keduanya adalah agama universal. Mereka mengadopsi konsep the chosen people, menganggap diri lebih bertuhan dari kelompok lain, merasa diri lebih benar dan oleh sebab itu lebih berhak menguasai. Gagasan the chosen people menjadi tonggak yang menyemangati misi pekabaran injil untuk memenangkan jiwa-jiwa,  menjadi landasan dakwah Islamiah Arabiah, menjadi pembenar bagi kolonialisme barat, menjadi bara api semangat Islam Kaffah, menjadi alasan semangat WASP, menjadi pemicu perda syariah. Padahal, lihat, awalnya hanyalah gagasan, gagasan tentang tuhan yang dihasilkan di dalam batok kepala  manusia, gagasan yang telah dan masih terus diubah-ubah dalam pikiran, disesuaikan dengan kebutuhan, akan tetapi pada saat yang sama kumpulan  manusia yang malas berpikir yang memenuhi bumi ini telah menerima gagasan-gagasan kreatif manusia terdahulu itu sebagai harga mati yang turun dari langit.

Konsep tuhan yang mahaeasa juga terlalu antroposentris. Tuhan yang mahaesa sebagai tuhan telah nyata-nyata terbukti bersikap dan berperilaku terlalu memihak pada manusia dibandingkan dengan pada makhluk hidup lainnya. Ia  menempatkan manusia dalam posisi yang luar biasa penting, padahal manusia sesungguhnya bukan apa-apa, hanya pendatang baru di planet ini. Manusia sebagai spesies barulah hadir dalam satu menit terakhir dari analogi 24 jam usia  bumi.

Analogi jam biasa digunakan untuk menyederhanakan evolusi makhluk hidup di bumi. Saat awal munculnya makhluk hidup di bumi dipatok sebagai pukul 0:00, sedangkan saat sekarang adalah hampir duapuluh empat jam sesudahnya, beberapa menit sebelum pergantian hari. Makhluk hidup, aneka spesies, silih berganti hadir pada titik-titik waktu tertentu dari waktu umur bumi yang dianalogikan baru sehari semalam itu.

Pagi tadi telah mampir spesies bersel tunggal arkhaik dan telah punah pula, sekitar tengah hari telah mampir sesaat dan kemudian punah dinosaurus dan archeopteryx, menjelang tengah malam mampir makhluk berdahi cekung yang mampu berdiri tegak. Begitulah, telah   mampir jutaan species dan telah punah pula pada titik-titik waktu tertentu sepanjang usia bumi dalam analogi yang 24 jam itu. Tiba-tiba dalam satu menit terakhir, tepat  sebelum pukul duabelas malam teng, yakni zaman singkat kita sekarang,  spesies manusia muncul. Manusia adalah  pendatang baru, tetapi pendatang baru  tak tahu diri yang menganggap dirinya makhluk mulia penguasa bumi. Dengarlah, tuhan antroposentris itu berseru, "penuhilah bumi dan taklukkanlah!" maka kita pun sibuk beranak pinak, menjelajahi bumi hingga ujung-ujungnya dalam semangat penaklukan, lupa perlunya fungsi alam lestari, lupa ekologi.

Itu sebabnya saya katakan, saya sedang mencari tuhan yang lebih cocok dengan zaman ini.  Seperti Yahudi-Yahudi itu, dulu mereka merekayasa tuhan bagi mereka agar cocok untuk zamannya, kini saatnya ada kebutuhan untuk melakukan hal yang sama, meng-upgrade tuhan yang mahaesa itu  menjadi tuhan yang lebih ekofeminis, yang lebih ramah terhadap alam dan manusia lain, yang bukan pencemburu, dan yang tidak gila perang. Mungkin inilah saatnya bagiku melirik pada tuhan lokal, paling tidak tuhan jenis itu lebih membumi sebagai bahan baku untuk direkayasa.

Akan tetapi, sayang, tuhan lokal ini pun sudah habis bulu-bulunya dicopoti oleh daripada Suharto.

Lha, terus bagaimana? Ya nggak bagaimana-bagaimana. Memang ada kebutuhan akan tuhan baru, tapi saya juga sadar nggak mudah melakukan itu, dan saya juga bukan nabi atau politisi yang dalam sejarah cukup besar potensinya merekayasa tuhan. Bagiku, cukuplah jika kebetulan ada fundamentalis yang baca tulisan ini kemudian terbuka matanya, bahwa jor-joran menang-menangan soal tuhan, apalagi dukung-dukungan pakai kekerasan, hanyalah tanda kurangnya pengetahuan.

Sebelum saya menutup tulisan ini, atau tepatnya sebelum anda memaki-maki saya sebagai atheis, saya ingin katakan bahwa saya bukan atheis. Saya percaya pada tuhan. Akan tetapi, dalam keyakinanku,  tuhan sebagai konsep berbeda dengan  tuhan yang sesungguhnya. Konsep tuhan diciptakan di dalam batok kepala manusia, ia akan selalu tidak sempurna, selalu berkekurangan, dan  berpotensi bias. Tuhan Yahudi dicipta untuk kepentingan Yahudi, tuhan Arab untuk kepentingan Arab. Tuhan yang sesungguhnya, jika anda percaya dia ada, ia tak terdefinisikan. Yang ditulis orang di kitab suci hanyalah upaya pendekatan.