Akhir-akhir ini iklan kampanye partai semakin deras mengguyur layar kaca, disetiap acara stasiun televisi swasta.

Menjelang hari terakhir pesta demokrasi di negeri tercinta ini, berkampanye lewat media elektronik menjadi sebuah ritual penting yang harus semakin giat dilakoni para partai peserta. Beberapa partai malah memiliki cukup banyak niche market dan ide, sebagai sasaran pada banyak golongan masyarakat yang berbeda. Para pemain lama (partai peninggalan jaman orde baru) yang tadinya terkesan konservatif pada satu term, tidak mau kalah dengan penawaran para pemain baru, kini ramai-ramai membuka diri dengan memberikan kesan citra diri yang berwarna-warni macam pelangi. Kalau ada sebuah partai yang dulunya memiliki citra agamis begitu kental, sekarang menyodorkan janji pembaruan sembari mengajak kaum 'crusties' hingga minoritas LGBT untuk mendukung mereka. Lalu kalau ada sebuah partai yang dulunya begitu reformis dan berkesan membela wong cilik, sekarang tiba-tiba menawarkan keajaiban mimpi ala 1001 malam. Semua intepretasi tersebut tidak terlepas dari peran penting media iklan. Bila sebuah iklan media cetak memiliki 100 arti, maka sebuah iklan media elektronik bisa bercerita tentang dongeng 1001 mimpi.

Sedikitnya sebuah iklan harus mengandung 3 (tiga) dasar kriteria agar bisa disebut sebagai iklan yang bagus, ini menurut pendapat seorang Said yang tidak memiliki disiplin ilmu advertising.

Yang pertama, harus lebih menonjolkan keunggulan produknya ketimbang unsur/materi pendukung iklan tersebut. Kalau misalnya sebuah produk merasa sudah memiliki brand image yang begitu terkenal seantero jagad, sehingga cukup menampilkan logo/nama produk dibagian akhir, itu saya anggap bukan iklan yang bagus. Bahkan iklan megah sebuah produk rokok-pun, karena memang dilarang oleh peraturan beriklan sehingga tidak bisa menampilkan produk, tetap menjadi sebuah iklan yang tidak bagus. Sekali lagi, ini pendapat seorang Said.

Kedua, harus memiliki unsur seni yang mampu menampilkan keindahan. Memang tidak semua orang bisa memahami keindahan dari lukisan abstrak atau design ruang kontemporer misalnya, tapi paling tidak kita bisa membedakan pemandangan di kaki gunung Pangrango dengan toilet umum di terminal Grogol. Ini penting bila kita masih mau disebut manusia yang belum kehilangan akal sehat.

Ketiga, harus bisa meninggalkan kesan yang dalam dan tidak mudah dilupakan. Untuk beberapa produk yang memiliki pasar bagi semua golongan (misalnya softdrink, makanan ringan, dll) memang tidak terlalu sulit, cukup dengan mengulang-ulang nama produk serta kelebihannya sebanyak tiga kali (jangan kurang). Tapi untuk produk tertentu yang belum/tidak familiar ditelinga pemirsa, ini relatif membutuhkan imajinasi dan sudut pandang yang berbeda.

Dari minimum tiga unsur yang harus dipenuhi di atas, saya cenderung menekankan poin terakhir adalah yang paling penting.

Mengapa?

Strategi pemasangan iklan di media elektronik, idealnya adalah menjadikan jargon iklan tersebut menjadi brand image sebuah produk yang ditampilkan untuk periode waktu selama mungkin. Kira-kira artinya, pasang iklan se-minimalis mungkin, mencuci otak pemirsa se-maksimal mungkin. Sedikit contoh, masih ingat 2 kata ini: "Tanya Kenapa?". Pasti banyak yang tahu kalau kalimat tersebut hasil kreasi dari sebuah iklan, tapi tidak sedikit yang tahu itu iklan produk apa.

Kesimpulan sederhana metode iklan tersebut mengetuk milyaran neuron di dalam batok kepala seorang Said, manakala melihat short message Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terbaru, yang menampilkan ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Dalam balutan nuansa minimalis, tim kreatif yang membuat iklan tersebut berhasil menampilkan tokoh Majelis Syuro PKS itu dari sudut pandang yang berbeda. Tampak begitu kharismatik, dengan berwibawa meyakinkan kita, bahwa "harapan itu masih ada". Sense seperti ini terakhir kali pernah saya rasakan jaman stasiun televisi cuma satu, TVRI, itupun bukan lewat media iklan, tapi saat menyaksikan sosok alm. Soeharto memberikan wejangan buat para petani di acara Dari Desa Ke Desa. Kesan magis dari seorang pemimpin yang begitu menyayangi rakyatnya, memberikan kepastian ditengah ketidak-pastian (bukan iklan), seolah bukan omong kosong. Almarhum membuktikannya dengan berkuasa selama 30 tahun, saya sudah korting 2 tahun. Terlepas dari seorang Soeharto adalah koruptor besar di negeri ini, sedangkan Hidayat adalah tokoh dari partai yang punya jargon bersih dari korupsi.

Membayangkan bila tim kreatif pembuat iklan partai Gerindra bisa secerdas tim kreatif partai PKS, sosok seorang Prabowo Subianto mungkin akan lebih memancarkan aura pemimpin kharismatik, walaupun konsep pemimpin yang dekat dengan rakyat sudah cukup bagus. Prabowo bukan hanya sekedar tokoh yang dekat dengan rakyat kecil, tapi juga seorang leader dengan background militer yang layak diberikan image tegas, berwibawa dan mampu memimpin bangsa ini dalam suatu perubahan. Sudah saatnya bangsa ini dipimpin oleh orang yang punya prinsip, tidak bisa disetir oleh anak-anak bawang, dan memiliki ideologi nasionalis yang kuat. Ini harus dipikirkan lebih serius oleh tim kreatif iklan partai Gerindra.

Terbukti dengan adanya koalisi Prabowo dengan Gus Dur (tokoh ulama NU yang sekularis), membuat panik para pesaing Capres-Cawapres dari berbagai kubu. Seperti yang Prabowo katakan: "PKB dan NU adalah stabilisator bangsa, sedangkan Gerindra adalah partai nasionalis yang berjiwa religius". Harapan seperti ini yang bukan mimpi 1001 malam.

Pada pesta pemilu besok, kalau Said masih diberi waktu oleh Sang Khalik, satu suara saya pastikan buat Gerindra.

Saudara, harapan itu.. masih ada.

 

April, 2009.
(dari tepi bibir pulau Jawa)