Desember 15, empat puluh tahun lalu: Seorang pemuda kurus berjaket kuning tengadah di tepi hutan Cemoro Kandang. Matanya menyibak daun cemara, mengabaikan mentari senja, lekat pada batu yang menjulang tertinggi di tanah Jawa. Bibirnya lirih mengumandangkan nada Donna Donna, seolah menepis kebisingan Jakarta. Pemuda yang terjun dalam kancah peralihan penuh pergolakan di negeri ini, bersenjatakan pena dan mimbar jadi panggungnya. Sebelum 1965, ia adalah mahasiswa yang menyaksikan borok pemerintahan Soekarno dan menyuarakan kritik dengan tajam.

Setelah meletus peristiwa G30S 1965, pemuda itu tetap berdiri di
di luar garis dan kritis sesuai getar nurani. "Lebih baik terasing,
daripada menyerah pada kemunafikan". Ketika sebagian rekannya dan
sesama aktivis telah menjadi anggota dewan dan menikmati fasilitas
negara, ia tetap menulis serta memilih menepi di puncak gunung.

Desember 16, empat puluh tahun lalu:

Pemuda kurus berjaket kuning itu menerobos hutan cemara bersama
matahari senja, kakinya lekat mendaki batu yang tertinggi di tanah
Jawa. Bibirnya masih melafal alunan Donna Donna bak mantera gunung
bagi puncak Semeru dari pemujanya. Sunyi dan sendiri bagai sahabat
sejati, dibalik bujukan kekuasaan dan ketenaran. Arif Budiman, abang
si pemuda itu menerawang. "Di kamar belakang rumah kami, ada sebuah
meja panjang. Penerangan listrik selalu suram karena voltase selalu
naik turun, dan banyak nyamuk. Kadang saya terbangun dari tidur,
karena terdengar suara mesin tik. Pasti Gie, dari kamar yang suram
dan banyak nyamuk itu. Sendirian, masih mengetik karangan!".

Sunyi dan sendiri, bak beralas gunung beratap hamparan bintang.
Pada Desember 16, empat puluh tahun lalu. Pemuda itu memilih
menutup kisahnya tepat di usia 27 tahun kurang dari semalam,
berselimut embun diiringi nyanyian cemara puncak Semeru.

Bulan empat tanggal empat, empat puluh tahun kemudian, hari ini:

"Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya
lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang ..
makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang
mengerti. Kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya
yang saya lakukan? Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian."
(Soe Hok Gie, 'Catatan Seorang Demonstran', 1983)

Sabtu, 04 April 2009
-endyonisius.multiply-