29 Maret 2009  Verifikasi mengerucut riset David. Deretan kematian menyusul David. Keindonesiaan PINTU, wadah Pelajar Indonesia NTU, layak dipertanyakan

JUMAT, 27 Maret 2009, sekitar pukul 11.20 waktu Singapura, lebih sejam dibanding waktu di Jakarta, di bilangan perempatan jalan di Pioneer Road. Udara cerah. Kesibukan kota Bandar Singapura sebagaimana hari biasa. Sosok Hun Kun Lun, 29 tahun, Warga Negara Cina (WNC) juga periset di fakultas Electrical and Electronical Engineering (EEE), Nanyang Technologycal University (NTU), Singapura – – satu fakultas dengan almarhum David Hartanto Widjaja, mahasiswa Indonesia yang terindkasi kuat dibunuh pada 2 Maret 2009 lalu – – sedang menyeberang jalan. Sebuah mobil tiba-tiba menabrak Hun Kun Lun. Ia dilarikan ke rumah sakit National University Hospital. Nyawanya tak tertolong.

Untuk ukuran Singapura berdipsilin tinggi berlalu lintas, seseorang seakan sengaja ditabrak, menjadi sebuah kejadian langka. Kalimat ini, bukan bermaksud mengatakan berkaitan ke kasus kematian David. Akan tetapi faktanya, sejak kematian David, menjadi tiga jasad terbujur; pertama David sendiri, kedua Zhoe Zheng asisten Proefesor Chan Kap Luk, pembimbing skripsi David, empat hari setelah kematian David ditemukan gantung diri, dan kini, tepat 25 hari setelah David pergi, lenyap pula nyawa Hun Kun Lun..

Kepada Koran Lianhe Wanbao Cina, pihak NTU, Singapura , menolak mengomentari kejadian ini. Di The Sunday Times, NTU menganggap kematian Hun Kun Lun tidak sama dengan dua peristiwa terjadi sebelumnya. Sebuah keterangan yang logis, dan tidak perlu dibantah.

Jelas tidak sama.

Wong matinya saja beda!

JUMAT, 27 Maret 2009, sekitar pukul 15.30 petang. Coffe Bean di lantai dasar Plaza Senayan itu belum dipenuhi pengunjung. Beberapa kursi masih menunggu pelanggan. Saya membuka lap top, mencari Facebook di internet, mendapatkan sinyal chat dari seorang rekan di Singapura: indikasi kematian Hun Kun Lun, berkait ke kasus David. Akan tetapi sulit sekali mencari kontak, karena pihak NTU menutup diri, apalagi pihak kepolisian Singapura.

Sebagai sebuah aplikasi pertemanan, bagi saya Facebook telah membantu mengumpulkan kerabat, teman sekolah, dan berbagai pihak yang peduli akan kematian David. Dengan William kakak kandung David, ikon namanya saya buat terus on di kolom chat, agar mudah berkomunikasi.

Seorang gadis, bercelana jeans datang. Sebelumnya ia telah berkomunikasi via SMS dengan saya. Ia adalah Galuh Pangestu Inraswari, reporter TVONE, Jakarta. Melalui telepon kami berbicara akan berangkat bersama-sama ke Singapura, bertiga dengan seorang kameramen, untuk bisa saling mendukung berbagai info memverifikasi kasus kamatian David, mahasiswa jenius asal Indonesia itu, yang oleh NTU justeru enam jam setelah kematiannya diberitakan menusuk Profesor Chan Kap Luk, karena beasiswanya dicabut, lalu melukai nadi sendiri dan melompat bunuh diri dari lantai 4 kampus NTU. Namun fakta di lapangan, terlalu banyak menyanggah keterangan NTU, sebagaimana sudah saya tuliskan di 5 Sketsa sebelumnya.

Galuh menceritakan soal rencana liputan untuk siaran setengah jam TVONE. Kami bersepakat berangkat bersama. Saya sebagai pemegang Garuda Frequent Flyer mencoba mencari tiket promo ekonomi Garuda, yang tampaknya tersedia, US $ 147 round trip ke Singapura. Galuh buru-buru mengurus segala keperluan liputannya.

Menjelang magrib, Galuh mengirim SMS, bahwa email resmi yang dikirimnya ke NTU, permohonan wawancara dan meliput NTU, untuk rekonstruksi kasus David, ditolak.

“Berita tak enak Bang,” ujar Galuh di SMS.
Saya membuka forward email dari Galuh. Saya membaca balasan dari Hisham Hambari, Assistant Director Corporate Communications Office, NTU. Inti soal mereka menolak liputan NTU untuk pemirsa TVONE di Indonesia.
“Itu bukti ada apa-apanya. Kalau nggak, ngapain mereka menutup diri,” ujar William Hartono Widjaja, kakak kandung David.
Dugaan di benak William, menjadi keingin-tahuan semua pihak.

Pada hari yang sama Budi Raharjo Santoso, Ketua Pelajar Indonesia NTU (PINTU), organisasi kekerabatan mahasiswa Indonesia di NTU, sebagaimana ditulis di harian Jakarta Post menghimbau berbagai pihak di Indonesia untuk tidak membuat berita-berita yang menduga-duga, berbau miring. Bahkan dengan nada meninggi Budi mengatakan, “Masih banyak mahasiswa Indonesia di NTU yang kini juga belajar, dan tidak harus terganggu karena berita meninggalnya David.”
Bagi saya ungkapan Budi itu sah saja. Namun jika hati nuraninya yang bicara akan lain cerita. Indikasi kejanggalan kematian David, kini, bukan lagi basa-basi. Pemerintah Singapura, sudah mulai “meralat” tentang bunuh dirinya David. Bahkan kepolisian Singapura, berjanji akan mengeluarkan hasil optopsi 2 April 2009, pas di hari sebulan kematian David.
Logika sederhana, jika indikasi tidak beresnya kematian David seharusnya membuat PINTU, bersatu padu, laksana sebuah pintu, tempat masuk ke dalam suatu ruangan berpadu membangun kekuatan menekan NTU dan pemerintah Singapura. Bersatu mengatakan kepada pemerintah Singapura untuk mengusut kematian David penuh kejanggalan.
Eh, ini bukannya berbuat demikian, malah menghimbau komunitas on-line Indonesia terutama menghentikan spekulasi. Akan halnya tulisan saya ini, saya pertanggung-jawabkan secara jurnlisme, dengan kerendah-hatian menjauhkan diri dari spekulasi.
Kedalam email pribadi saya, sudah mulai ada kalimat memojokkan, menertawakan liputan saya ini. Ada juga komentar akan sikap profesional menulis; saya acap salah ketik dan mengeja.
“Jangan sok menulis hal serius, jika menuliskan nama mata kuliah David saja salah-salah.”
Jurnalis memang tak sepantasnya manusia super. Ia bekerja berlandasarkan prinsip dasar.
Menurut Bill Kovach di buku The Element of Journalism, elemen jurnalisme itu meliputi setidaknya 9 hal; Kewajiban utama jurnalisme kepada pencarian kebenaran, Loyalitas utama jurnalisme kepada warga negara, Esensi jurnalisme disiplin verifikasi, Harus menjaga independensi dari objek liputan, Membuat diri sebagai pemantau independen dari kekuasaan, Memberi forum bagi publik untuk saling kritik dan menemukan kompromi, Membuat hal penting menjadi menarik dan relevan, Membuat berita yang komprehensif dan proporsional dan Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya.
Saya sangat memegang pokok pikiran Kovach, sosok “hati nurani” jurnalisme Amerika Serikat itu kini. Pada 6 tahun silam ketika ke Jakarta, saya sempat bertemu Kovach. Dari Kovach saya belajar ber-kerendah-hatian berdisiplin verifikasi. Itulah yang mendasari penulisan saya soal David, tidak ke urusan kesok-tahuan di situ.

Dalam khasanah verifikasi itu sudah panjang list nama yang saya hubungi. Termasuk mencoba mengontak Daniel Harjanto, animator, dulu pernah menjadi GM untuk perusahan post production, Post Office, milik Peter F Gontha. Daniel kemudian pernah memimpin rumah paska produksi milik Singapura VHQ, sebelum 1998, masih milik Singapura. Saya pernah pula bekerja di VHQ di saat Daniel memimpin. Daniel kini bekerja sebagai menajer animasi di sebuah animation house di Batam, Riau Kepuluan, yang baru saja merampungkan film animasi 3D Sing to Dawn, yang semula tidak terampungkan oleh Media Development Authority (MDA), Singapura. Melalui telepon, Daniel mengatakan tak paham soal aplikasi OpenCV yang sedang diriset David sebelum wafat.
Nama-nama lain yang mengantarkan saya kepada riset David, di antaranya Vidiyama Sonnekh, Anthony Seger dan Ardi Sutedja, kerabat di Kadin Indonesia dulu, kini penggiat masalah telematika, anggota milis Apwkomitel, jaringan warnet. (Silakan baca Sketsa sebelumnya).

JAKARTA, di Minggu. 29 Maret 2009. Menjelang tengah hari, jalanan di Soedirman dan Thamrin ditutup bagi kendaran bermotor, ada poster bertuliskan Car Free Day di beberapa ruas jalan macam di bilangan Dukuh Atas. Akibatnya jalan alternatif menembus dua ruas jalan utama itu menjadi macet, kendaran bertumpuk macam di Dukuh Atas itu.
Padahal pukul 12.00 saya berjanji dengan Ardi Sutedja untuk kami makan siang di warung Ampera di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Warung yang bermula dari Bandung, dan dibuka sejak 1960-an itu menyediakan makanan ala Sunda, yang dapat dipilih lauk pauknya lalu dipanaskan. Empat jenis sambal , termasuk cabe ijo, dan aneka lalapan gratis.
Suasana Warung Ampera yang biasanya berpendingin udara, hari itu terasa panas. Setelah menyelesaikan makan, cepat kami mencari tempat minum kopi di bilangan Citiloft, mal dan apartement di bilngan Jl. KH Mas Mansyur, Jakarta Pusat itu.
Di kedai kopi Star Buck, Ardi memberikan sebuah CD berisi buku dan tulisan yang banyak tentang Security Surveillance Ecosystem Guide, keluaran Intel Corporation itu. Di Sketsa sebelumnya, William kakak David telah menyampaikan bahwa David sedang mengoprek riset dan skripsi memakai aplikasi OpenCV, keluaran Intel Coporation, open source.
Anthony Seger, seorang lulusan Electrical Electronical Engineering, 20 tahun silam dari USC, AS, mengatakan – – sebagaimana sudah saya tulis di Sketsa sebelumnya – – bahwa jika David mengioptimalkan OpenCV, dipastikan berkaitan ke riset yang bernilai ekonomi.
Judul skripsi David: Multiview aquisitions from Multi-camera configuration for person adaptive 3D display. Proyek dengan Nomor: A3026-81. Summary: Multi cameras willbe used to obtain multiviews of scene. Syarat mengambil topik ini: Strong Mathematical Skills and C/C++ programing. Untuk risetnya itu, David dirujuk ke laboratorium EEE3, Information System Research Lab (Loc: S2-B3a-06).
Di buku pertama yang diberikan Ardi bercover foto seorang petugas spolisi sedang mengamati multi kamera yang memuat gambar dari CCTV. Buku ini mengupas ihwal Digital Security Surveillance (DSS), jika diterjemahkan kira-kira: aplikasi atau back office keamanan pengintaian digital. Ardi Sutedja, sudah mengamati masalah topik ini sejak 2003 lalu.
Buku kedua, lebih dari 300 halaman; Inteligent Network Video, Understanding Modern Video Surveillance Systems oleh Fredrik Nilsson, Axis Communications. Buku bercover kamera pengintaian beresolusi tinggi itu baru diterbitkan pada medio 2008 lalu.
“This is the first physical security convergence book to provide the Big Picture on the technical an operational of IP networked video surveilance systems, and may well be most complete an authoritative book written to date.” Pengantar Kavin Marier, pemimpin redaksi IPVS Magazine.
Buku kedua itu, dalam penelusuran saya, juga menjadi bacaan David.
Kongklusi dari buku dan tambahan banyak artikel tertulis yang saya himpun, kian mengerucutkan riset David ke arah pengoptimalan kamera CCTV bagi pengintaian dengan objek 3D (tiga dimensi). Aplikasi open souce memang membuat programmer bisa menciptakan sebuah penemuan aplikasi baru, bisa jadi juga paten baru.
“Dan logikanya paten baru itu juga akan bisa menghasilkan paten-paten turunan,” ujar Ardi Sutedja pula, “Jadi sudah semacam multi level marketing paten jadinya.”
Jika penemuan mentriger paten baru di bawahnya, dan itu terindikasi menyangkut keamanan suatu negara, riset ke arah sana memang bernilai ekonomi tinggi tidak berkira.

Bisa dibayangkan, bila pengintaian menggunakan kamera beresolusi tinggi di sebuah tempat, secara 3D bisa melacak seorang anak manusia di jagad mana pun termasuk di planet luar angkasa, cukup melalui kamera yang berbasis internet protocol (IP), dan sosok itu, termasuk Presiden Obama, misalnya, bisa ditembak via remote senjata jarak antar benua, dan tentu saja menjadi sebuah revolusi teknologi, urusan keamanan negara jadinya.
Riset David tentulah belum sampai ke arah persenjataan jarak jauh itu.
Tetapi perhatian dan risetnya yang spesifik, bisa menguraikan ke penemuan lebih jauh optimalisasi aplikasi OpenCV bagi kamera pengintaian tiga dimensi (3D), yang dapat digabungkan dengan back office internet berkecepatan tinggi. Back office itulah antara lain yang digarap David.
Saya berani menuliskan bahwa di Sketsa ke-6 ini, urusan riset David kian mengerucut tajam. Sementara kematiannya menyisakan saksi mata di NTU, yang mendengar teriakan, “They want to kill me,” di saat david lari kea rah tangga darurat dari ruang Profesor Chan Kap Luk. Saksi mata itu harus saya temui. Dua poin itulah tinggal fokus verifikasi saya.
Hingga di sini, saya membayangkan wajah isteri dan anak-anak saya. Isteri yang pernah bekerja di production house itu memahami pula soal audio visual. Dari awal ia meminta saya hati-hati.
“Ini indikasi mafia industri,”

MENDADAK Selasa, 23 Maret 2009 sekitar pukul 14.30, Titien Syukur, adik Sumawaty Syukur, Direktur PT Jakarta Monorail, mengabari saya. Bahwa Risa dan Lisa Jusuf Kalla, dua putri Wapres itu, berkenan menemui saya, ingin tahu lebih jauh tentang persoalan indikasi David dibunuh di pukul 16.00 hari itu. Saya tak menyi-nyiakan kesempatan itu. Sekitar 45 menit kami berjumpa di Plaza FX, bilangan Senayan, Jakarta Pusat..
Dalam pertemuan dengan kalangan blogger terbatas terpisah sebelumnya, Jusuf Kalla (JK) di Café Pisa, Jakarta Selatan, sempat saya minta perhatiannya soal David. JK, menjawab normatif, menunggu keputusan pemerintah Singapura dalam melakukan penyidikan.
Dengan pertemuan informal bersama puteri JK itu, saya yakin, bahwa setidaknya JK punya perhatian, terhadap masalah kemanusiaan, lebih jauh masalah citra bangsa, anak bangsa yang dipojokkan dan lebih dalam lagi ihwal sebuah riset anak jenius negeri ini, mesti dibongkar lahir dan batin.
Semoga saya tak keliru menuliskan bahwa JK yakin anak Indonesia jenius-jenius. BJ. Habibie, contoh signifikan, memiliki paten banyak dalam pembuatan rentang sayap pesawat, bahkan ihwal landing dan take off vertikal pesawat. Konon patennya sudah dilepas ke NASA, AS, itu.
Maka ketika Ketua PINTU, _wadah Pelajar Indonenesia NTU di Singapura malah meminta publik untuk diam, kerongkoangan saya seakan tercekik, menjadi tidak bisa bercakap apa-apa, seakan sakit menelan ludah sendiri.
Apakah mereka di PINTU itu setelah tamat dari NTU, tidak berminat bekerja di Indonesia?
Lebih jauh mungkin tak merasa perlu mengenal Indonesia?
Padahal, inilah momen tiada duanya untuk mereka tampil di barisan depan!***

Iwan Piliang, literary citizen reporter, Blog-presstalk.com