Tag

Kemis, 18 Maret 2008 IN MEMORIAM PROF. DR. BOB HERING <Jatinegara, Indonesia 1926 – Stein, Holland, 18 Maret 2009>  Ketika mendengar dari seorang sahabat dekat melalui tilpun, bahwa Prof Dr Bob Hering telah meninggal pada tanggal 18 Maret dinihari , aku betul-betul terkejut tak terhingga. Sejenak seperti tak tau apa yang difikirkan. Terbayang sosok badannya, wajah Bob Hering yang selalu senyum ramah dan optimis. Terbayang Ibu Netty Hering yang sedang dirundung kesedihan, ditinggalkan suami tercinta.

Sungguh tak terduga samasekali. Fikiranku kemudian terrundung kesedihan teramat sangat serta rasa berat sekali kehilangan seorang sahabat akrab. Sahabat pribadi dan sahabat Indonesia sejati.

Tak lama kemudian aku tilpun Ibu Netty Hering: 'Ibu Netty', kataku, saya ingin dari lubuk hatiku meyampaikan rasa sedih dan belasungkawa yang teramat sangat kepada Ibu Netty berhubung dengan meninggalnya Pak Bob! Sejenak terdengar isak sedu-sedan Ibu Netty. Makin hatiku rasa teriris-iris.

'Pak Isa', kata Ibu Netty, 'Bapak meninggal dalam usia 83 tahun. Akhir tahun lalu Pak Bob bilang kepada saya untuk cari Pak Isa. Ia ingin bicara. Sayang, ketika itu Pak Isa ada di Indonesia. Taukah Pak Isa mengapa Pak Bob ingin bicara?', tanya Ibu Netty. 'Ya, tentu sebagai sahabat dekat yang sudah lama tak ketemu', kataku.

'Ya, tetapi juga karena Pak Isa adalah dari 'Stichting Wertheim', kata Ibu Netty. Tak lama kemudian penyakit yang beliau derita rupanya semakin serius. Akhirnya, sungguh sayang dan rasa menyesal sekali, keinginan Pak Bob untuk cakap-cakap dengan aku tak terjadi. Akupun sudah lama ingin berkunjung kerumah beliau di Stein dan bertukar-fikiran mengenai banyak hal menyangkut Indonesia.

Rupanya aku hanya bisa 'jumpa' lagi dengam Bob Hering, pada hari Senin, 23 Maret 2009, jam 14.00 pada hari kremasi beliau nanti.

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun! Semoga Ibu Netty Hering dan keluarga beliau tabah menghadapi musibah ini.

* * *

Bob Hering adalah sahabat karib dan sejati yang tak akan terlupakan seumur hidup. Pertama kali aku jumpa langsung dengan Prof Dr Bob Hering adalah pada hari peluncuran karyanya historiobiografi brilyan, 'SOEKARNO FOUNDING FATHER OF INDONESIA 1901-1945 '. Sebagai orang Belanda yang dari lubuk hatinya adalah pencinta Indonesia, negeri dan rakyatnya Bob Hering punya s a t u idam-idaman yang teramat sangat, yang perealisasiannya tidak sederhana, yaitu —- agar peluncuran bukunya itu dilakukan di WILAYAH REPUBLIK INDONESIA. Tak ada tempat lain di negeri Belanda untuk itu, salain di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Den Haag.

Yaitu: — Di Aula NUSANTARA, KBRI Den Haag.

Tak terkirakan betapa gembiranya Bob Hering, ketika Dubes Indonesia Untuk Nederland ketika itu, Abdul Irsan, mendukung keinginan Bob Hering itu. Demikianlah terjadi suatu peristiwa bersejarah: – – Diluncurkannya buku Bob Hering 'SOEKARNO FOUNDING FATHER OF INDONESIA 1901 – 1945', di KBRI Den Haag, Nederland. Bertepatan pula dengan hari bersejarah, yaitu Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2002.

Bagi Bob Hering tak ada hari yang lebih menggembirakan baginya ketika peluncuran bukunya itu berlangsung di wilayah Republik Indonesia, di KBRI Den Haag, Nederland.

Ketika memperkenalkan buku Prof Dr Bob Hering tsb, penerbitnya 'Koningklijke Instituut voor Taal Land en Volkenkunde (KITLV) Nederland, menulis sbb: Bob Hering adalah seorang (mantan) Pofesor Studi Asia Tenggara di James Cook University of North Queensland, Austrlia — yang kini tinggal di Stein, Belanda. Biografi yang ditulisnya tentang Soekarno, ditulis dengan menggali banyak sumber yang hingga dewasa ini tidak diketahui, adalah h a s i l dari studi-seumur hidup yang dilakukannya mengenai Soekarno.

* * *

Adalah untuk pertama kalinya seorang asing, dalam hal ini seorang Belanda, yang menjadikan masalah Bung Karno, sebagai tema pokok studi seumur hidup dan penulisannya. Dalam pembicaraan yang berkali kulakukan dengan Bob Hering, terkesan sekali betapa beliau terpesona, mengagumi dan mencintai tokoh Bung Karno.

Aku balik sangat kagum dan hormat sekali pada Bob Hering. Melalui studi yang cermat ia tiba pada kesimpulan yang begitu tegas dan mantap mengenai Bung Karno. Lebih-lebih kita yang kagum karena kesimpulan itu muncul dari seorang Bob Hering yang tadinya adalah seorang letnan KNIL yang ketika itu dapat tugas sebagai personil Belanda dalam Misi Militer Belanda (MMB) di Indonesia, dalam rangka pelaksanaan Perjanjian Konferensi Meja Bunda (KMB).

Demikianlah, setelah melakukan penelitian dan studi yang menyeluruh dan mendalam, selama bertahun-tahun, Bob Hering akhirnya tiba pada kesimpulan dan pandangan yang baru samasekali terhadap Indonesia dan perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya terhadap Bung Karno.

JOESOEF ISAK , pemenang pelbagai Award internasional termasuk Wertheim Award 2005, untuk usaha, kegiatan serta perjuangannya demi hak kebebasan menyatakan pendapat, menulis dalam sambutan terbitnya buku Bob Hering itu, antara lain.:

'Walaupun tidak hadir, saya sungguh gembira menyambut hari ini, hari peluncuran buku Biografi Bung Karno oleh sahabat baik saya, Bob Hering, hari yang sudah saya tunggu-tunggu sejak lima tahun yang lalu.

'Selamat sehangat-hangatnya kepada Penulis! Dan juga penghargaan saya sampaikan kepada KITLV Leiden sebagai penerbit yang memungkinkan inteligensia dunia mengenal Bung Karno dari satu sudut-pandang berbeda dari biografi-biografi sebelumnya yang pernah ditulis mengenai Soekarno.

'Saya melihat dua aspek istimewa dalam peluncuran buku biografi Soekarno ini; pertama karena untuk pertama kali Soekarno disorot dengan satu sudut-pandang yang saya anggap sudah bersih sama sekali dari berbagai "reïficaties" , kedua – meskipun ditulis dalam bahasa Inggris – buku ini ditulis oleh seorang Belanda dan diluncurkan pertama kali di negeri Belanda.

'Saya garis-bawahi — oleh orang Belanda dan terbit di negeri Belanda, karena saya mengharapkan buku baru Bob Hering sekarang ini akan merangsang publik Belanda untuk menilai kembali Soekarno secara lebih wajar dan proporsional. Sebenarnya sejarah telah membuat Indonesia-Belanda memiliki hubungan kultural yang khusus, tetapi semua itu lenyap atau rusak karena sikap keliru pemerintah Belanda mau pun pers Belanda secara umum terhadap Soekarno.

Demikian antara lain penilain tinggi Joesoef Isak, Pemimpin Penerbit Buku Bermutu HASTA MITRA, Jakarta.

* * *

Kedua kalinya aku bertemu langsung dengan Prof. Dr Bob Hering, yaitu ketika bersama-sama dengan istri beliau, Ibu Netty Hering, hadir dalam kesempatan HARI PERINGATAN SEABAD BUNG KARNO, yang diadakan di Amsterdam. Meskipun beliau harus menggunakan korsi-beroda untuk bergerak kesana-kamri, namun bersama istri beliau yang mendampingi dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, beliau memerlukan jauh-jauh datang dari Stein untuk hadir dalam Hari Peringatan 100th Bung Karno.

Mengikuti acara pada hari itu, mendengarkan pidato-pidato, sajak-sajak dan esai-esai yang dibacakan, serta kemudian nyanyi dan tari Indonesia yang dipertunjukkan pada kesempatan itu, aku lihat betapa BOB HERING MENCUCURKAN AIR MATANYA KARENA BEGITU TERHARUNYA BELIAU. Suatu pencerminan betapa cintanya dan rindunya Bob Hering dengan Indonesia dan rakyatnya.

* * *

Kini Bob Hering sudah tiada.

Tetapi nama Bob Hering akan tetap harum, akan tetap diingat sepanjang massa, tidak saja oleh sahabat dan kenalan beliau, tetapi juga oleh banyak orang Indonesia, oleh rakyat Indonesia yang menghargai dan menghormati Bob Hering sebagai seorang sejarawan Indonesianis yang tulus dan obyektif.

Generasi muda Indonesia, lebih-lebih akan merasa bahagia dan beruntung sekali diwarisi Bob Hering dengan sebuah karya yang begitu tinggi mutu dan nilainya sperti SOEKARNO FOUNDING FATHER OF INDONESIA 1901 – 1945 dalam khazanah literatur sejarah Indonesia.

Tak terkira rasa terima kasih kita atas usaha seumur hidup Prof Dr Bob Hering, suatu pencerminan dan realisasi nyata kepedulian dan rasa cinta beliau terhadap negeri dan bangsa kita.

Mengenai Bob Hering:

Kolom IBRAHIM ISA Kamis, 02 Agustus 2007

M.H. THAMRIN, Prof BOB HERING & KWIII PENGHARGAAN DAN MEDALI EMAS Untuk PROF. DR. BOB HERING Ibu Netty Hering, istri Prof. Dr. Bob Hering, dua hari yang lalu, lewat tilpun, menyatakan terima kasihnya atas artikel yang kutulis mengenai buku biografi politik M.H. Thamrin yang ditulis suaminya. Menurut Ibu Netty Hering, ia akan meneruskan artikel tsb kepada Walikota Blitar, Djarot Syaiful Hidayat. Barangkali pembaca masih ingat, berita yang dibuat oleh wartawan 'Rakyat Merdeka', A. Soepardi, a.l. sbb:
'PEMERINTAH kota Blitar memberikan penghargaan kepada Prof Dr Bob Hering (82), warga Belanda yang tinggal di kota kecil, Stein, atas aktivitasnya dalam kaitan hubungan dengan Indonesia'. Supardi: 'Hadir dalam acara (19 Mei 2007) itu, Wakil Kepala Perwakilan KBRI Belanda Djauhari Oratmangun, Walikota Blitar H Djarot Saiful Hidayat, Poerwanto (Kepala Pusat Studi Bung Karno), Netty Hering, istri Bob Hering dan yang lainnya'.

Selanjutnya, koresponden Rakyat Merdeka di Belanda A. Supardi Adiwidjaya melaporkan, bahwa pemerintah kota Blitar, menurut Djarot, memberikan penghargaan dan medali emas kepada Hering atas dedikasi dan atas sumbangannya dalam pembangunan perpustakaan Bung Karno di kota Blitar. Pemerintah dan masyarakat kota Blitar juga berterima kasih kepada Hering yang telah merelakan koleksi buku-bukunya untuk diberikan kepada rakyat Indonesia, terutama koleksi-koleksi untuk pengembangan perpustakaan Bung Karno di kota Blitar.

Arti penting buku Bob Hering mengenai pejuang kemerdekaan Mohamad Husni Thamrin,
sudah kita baca dalam rangkaian tulisan ini (yang sekarangpada Bagian-3 dan terakhir).

Baiklah selanjutnya kita ikuti tulisan  Soebandi Soeryaatmadja,  salah seorang alumni KWIII,  sebuah sekolah di Batavia dimana MH Thamrin dan Prof. Bob Hering juga mengikuti studi menengahnya. Tulisan Soebandi dibuatnya dalam bentuk sebuah resensi atas buku Prof. Bob Hering, sbb.(Lengkap)

BIOGRAFI SEORANG Ex – KWII-er Oleh Ex – KWII-er
H.W.J Hering, MH Thamrin and his quest for Indonesian Nationhood, (Kabar Seberang, 1996), 397 HALAMAN. FL. 65,00.
Seorang sejarawan Belanda, H.J. (Bob) Hering, ex-murid Sekolah KWIII kelas 1E – 1941/42, telah menulis biografi  politik  tokoh nasional M.H. Thamrin. Beberapa cuplikannya disertai catatan singkat disajikan di bawah ini.

ASAL-USUL Mohammad Husni Thamrin lahir pada tanggal 16 Februari 1894. Ayahnya ialah Thamrin Mohammad Tabri, yang lahir pada tanggal 10 September 1860 dari pasangan M. Nurani dengan Ort, seorang pengusaha Inggris pemilik hotel di Petodjo.
TM Tabri terkenal sebagai Jaksa Babit, setelah bekerja sebagai wedana di Betawi.

AWAL JALAN HIDUP Oleh ayahnya MH Thamrin disekolahkan di SD kemudian SMU Belanda (KWIII) dan lulus setelah ayahnya meninggal (1911) pada tahun 1912. Kariernya dimulai sebagai seorang magang di kantor Residen Batavia, lalu sebagai klerk pada KPM (perusahaan pelayaran Belanda), kemudian menjadi anggota Dewan Kotapraja Batavia (1919). Ia mendirikan Persatuan Kaum Betawi yang kemudian meleburkan diri ke dalam Parindra (1935). Gubernur Jenderal De Graeff mengangkatnya menjadi anggota Volksraad dengan maksud agar sebagai seorang moderat mengimbangi unsur nasional radikal dari PNI. Thamrin malah tampil sebagai ketua Front Nasional dan anggota College van Gedelegeerden yang mengambil siasat 'Bekerjasama dengan Belanda, tetapi tetap memperjuangkan kemerdekaan Indonesia'(1930).

PERJUANGAN DI VOLKSRAAD. Dengan siasat tersebut diatas MH Thamrin menggantikan Dr. Soetomo pemuka Parindara yang menolak diangkat sebagai anggota Volksraad. Partisipasi Thamrin dimulai dengan berprofil rendah, namun pada usia 33 tahun ia segera tampil sebagai seorang yang mahir berdebat melawan anggota Belanda, sehingga disegani oleh semua lawannya yang lebih tua.Ditahun 1920-an dan awal 1930-an, pergerakan nasional non kooperator dalam kesulitan setelah Ir Sukarno dipenjarakan di Sukamiskin lalu dibuang ke Ende di Flores, serta Hatta dan Syahrir yang mendirikan PNI Baru (Pendidikan Nasional Indonesia) dibuang ke Digul. Thamrin sebagai kooperator di Volkskraad dalam pidato-pidatonya menuntut kemerdekaan bagi rakyat Indonesia.  Sekitar tahun 1935, Thamrin tampil sebagai tokoh terkemuka Parindra (Partai Rakyat Indonesia) yang juga sukses dalam bisnis, setara pengusaha Cina dan Belanda. Oleh Jaques de Kadt, seorang sosialis demokrat Belanda, Parindra dianggap sebagai partai kapitalis pribumi yang moderat. Pada tahun 1933, empat tahun sebelum de Kadt tiba di Indonesia, Thamrin bersama Dr. Soetomo, Ketua Parindra, dan para pemimpin Rukun Tani meletakkan dasar bagi kekuatan ekonomi pribumi yang setara dengan kaum Belanda dan Cina.

Pada tanggal 10 Mei 1940 Belanda diserang dan diduduki Jerman, sedang Ratu Wilhemina beserta pemerintahnya mengungsi ke London. Tuntutan Thamrin makin vokal dan ia mempertanyakan keabsahan Belanda memerintah Hindia Belanda. Dalam sidang Volksraad 9 November, Thamrin mengecam keputusan Belanda untuk mengganti nama Inlander menjadi Indonesia, tanpa mengganti nama Hindia Belanda menjadi Indonesia. Ditanyakan dalam pidato berbahasa Indonesia: 'Adakah telur ayam jika tidak ada ayamnya?' Verboom, seorang anggota Belanda, lalu menyambutnya dengan ucapan: 'Zeer juist' (Tepat sekali), dan Thamrin segera menjawab dengan: 'Terima kasih'.
SEBUAH TESTAMEN Dalam dasawarsa 1930-an ketika GAPI (Gabungan Partai Indonesia) dibentuk, di Volksraad Thamrin dan rekan-rekannya turut berkampanye menuntut Indonesia berparlemen, namun gagal. Belanda tidak mengabulkan tuntutan itu.

Pada rapat Parindra se-Jawa Tengah di Jogya, 28-29 Desember 1940, dalam pidatonya Thamrin berkata: 'Jangan berputus asa kendati kampanye Indonesia Berparlemen telah ditolak di Volksraad. Haluan dunia kita sedang mengalami perubahan yang telah diperlihatkan oleh sejarah selama beberapa masa. Saya tidak dapat mengatakan apa yang akan terjadi, tetapi perbuatan kita harus tetap kukuh diilhami oleh percaya diri dan kesadaran persatuan. Kita harus percaya bahwa cita-cita kita akan tercapai selama kita terus berjuang dan tidak putus asa. Suatu cita-cita tak pernah tercapai dalam waktu singkat. Kita hanya dapat memperjuangkan tujuan kita selangkah demi selangkah'.
Kurang dari dua minggu kemudian Thamrin meninggal, dan pidato tersebut menjadi testamen.

'AFFAIR' YANG BERBUNTUT MAUT Gara-gara Mr. Amir Syarifuddin ditahan oleh Polisi Belanda dan kebetulan Thamrin harus ke Bandung, maka ia terpaksa menyerahkan penyelesaiannya kepada seorang rekannya.
Thamrin dituduh tidak punya rasa setiakawan terhadap sesama pimpinan GAPI oleh Moehammad Tabrani, yang akhir Juni 1940 melancarkan kampanye untuk menjatuhkan Thamrin sebagai salah seorang pimpinan GAPI. Tabrani sesumbar bahwa dia mempunyai senjata kuat yang akan membuat Belanda menindak Thamrin. PID (Dinas Intel Belanda) yang mencurigai bahwa Thamrin sebenarnya 'anti belanda dan agen Jepang', menjelidiki sesumbar Tabrani dengan menggeledah kantor redaksi SK Pemandangan pada tanggal 6 Januari 1941. Mereka menemukan klise surat Thamrin kepda Tabrani tertanggal 17 Mei 1940, yang minta kepada Tabrani agar SK Pemanangan memuat tulisan yang mengecam larinya Pemerintah Belanda ke London waktu Tentara Nazi menyerbu dan menduduki Belanda. Surat itulah rupanya yang disebut senjata kuat Tabrani.

Penemuan tersebut dipakai PID untuk alasan menggeledah rumah Thamrin malam itu juga, walaupun Thamrin sedang sakit. Dia dikenakan tahanan rumah dan dokter pribadinya,dr. J. Kayadu, baru diizinkan menengoknya pada tanggal 10 Januari 1941, sehingga suntikan untuk membendung demam Thmrin tidak mempan. Keesokan harinya, pagi-pagi, Thamrin meninggal dunia, boleh jadi karena serangan jantung.
TUDUHAN PID TIDAK TERBUKTI Dalam biografi ini, Bob Hering menegaskan bahwa tuduhan PID tidak terbukti, dengan mengutip ucapan Mr. Jonkman, Ketua Volksraad, yang menolak keras pendapat bahwa Thamrin bersikap tidak jujur, pura-pura koperatif. Bagi Jonkman, orientasi politik Thamrin selalu jelas, tidak ditutup-tutupi, Thamrin menggunakan siasat kerjasama, terutama dalam Volksraad, tanpa merahasiakan tujuannya.

KESAKSIAN BOB HERING Ketika pada hari Sabtu 11 Januari 1941, iring-iringan jenazah M.H. Thamrin dari rumahnya di Sawah Besar menuju pekuburan Karet, sampai di persimpangan Harmoni, disanalah Bob Hering yang berdiri ditengah rakyat yang berjubel di pinggir jalan ikut menyaksikannya.
Dilihatnya ribuan rakyat mengantar jenazah yang iringannya dikawal oleh Mr. Jonkman (Ketua Volksraad). Dr. H.J. Van Mook (Direktur Economische Zaken), Van Helsdingen (mantan Ketua Volksraad), Pijper (Inlandsche Zaken), semuanya berpakaian hitam, dan Dr. Hoesein Djayadiningrat, Mr Soetan Takdir Alisjahbana, Dr. A..K. Gani, Mohammad Natsir, Mr. A.K. Pringgodigdo, Mochtar Praboe Mangkoenegara, Edeleer Soejono, serta tokoh-tokoh Parindra, Soekardjo Wirjopranoto, Woerjaniningrat, dan Dr Marzoeki Mahdi.

Bob Hering yang lahir pada tahun 1925 di Meester Cornelis (kini Jatinegara) telah menulis biografi politik Thamrin ini berdasarkan hasil studsi bahan arsip dan leteratur yang luas, serta wawancara-wawancara, dari tahun 1976 sampai 1993, dengan sekitar 50 orang di Nederland dan Indonesia, yang pernah mengenal Thamrin secara pribadi.
ACUAN TAMBAHAN 'Moeson', tahun 41, no 6, 15 Desember 1996: harian KOMPAS; Ensiklopedi Indonesia. < Resensi buku Bob Hering oleh alumni KWIII, Soebandi Soeryaatmdja, dikutip dari 'WARTA KAWEDRI', No. 5, Juni 1998. Penerbit YAYASAN KAWEDRI, d/a Perpustakaan Nasional RI.Jalan Salemba Raya 28 A. Telp. 310 1411, pesawat 424; Jakarta 100002.
* * *
KEHARUSAN MENGENAL SEJARAH GERAKAN KEMERDEKAAN Demikianlah 'Resensi' yang ditulis sembilan tahun yang lalu oleh Soebandi Soerjaatmadja mengenai buku Bob Hering: Biografi Politik H.M. Thamrin, telah disiarkan kembali di media ini, dengan maksud menjadi bahan pertimbangan dan pelajaran bagi pembaca. Terutama para sejarawan dan kaum muda kita.
Mengenal sejarah bangsa sendiri, terutama mengenal sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa ini, adalah mutlak diperlukan untuk mengenal siapa kita, IDENTITAS bangsa Indonesia yang masih muda ini. Agar kita tidak tenggelam dalam pesimisme yang tersebar di kalangan masyarakat mengenai identitas dan haridepan nasion Indonesia. (Selesai)