15 Maret 2008 Jika teknologi Worldwide Inter-operability for Microwave Access (WiMAX) diterapkan, operator selular akan “terganggu” investasinya, bagaimana pula bila teknologi bluetooth, mampu menghantarkan listrik bermuatan data data lengkap 3D bervolume besar? Itu artinya internetan bisa macam ber-intranet, bisa menonton teve sekalian? Tidak perlu lagi akses online. Mungkinkah karena penemuan pengoptimalan bluetooth itu David Hartanto “dibunuh”?Atau juga karena penemuan soal teve masa depan? Sketsa kedua tentang sosok mahasiswa Indonesia cerdas telah berpulang 2 Maret 2009 lalu di kampus NTU, Singapura

Dalam sepekan terakhir, setidaknya dua kali saya makan di restoran Jepang. Kali pertama, di pertengahan pekan lalu di Plaza Senayan, Jakarta Pusat. Sebuah restoran di lantai tiga di plaza itu, masih saja harus antri. Di tengah daya beli sebagian besar masyarakat seakan surut, makan di restoran mahal tidak menyusut.

Kendati demikian, ada yang berbeda. Bila di awal 2008 lalu masih banyak terlihat para pengunjung adalah kalangan pengusaha, eksekutif, petang itu lain coraknya. Para pengunjung banyak, profesional muda makan gaji. Saya ditraktir seorang kawan bekerja di bidang teknologi informasi, kebetulan merayakan ulang tahunnya.

Makan di restoran Jepang kedua, di Jumat, 13 Maret 2009 siang usai shalat, di bilangan Senopati, Jakarta Selatan. Kali itu yang mengajak kenalan di bidang tekonologi informasi lainnya. Kami berempat. Salah satunya, sosok muda Vidiyama Sonekh, yang juga berkutat di seluk-beluk dunia Information Communication Technology (ICT). Saya menyampaikan soal kegundahan ihwal kematian dan judul riset David Hartanto, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Nanyang Technology University (NTU), jurusan Electrical Engineering, berbunyi: Multiview acquisition from multi-camera configuration for person adaptive 3D display” atau rekontruksi 3D dari cctv merupakan requirement penting mendukung, “Intelligent video surveillance system.”

Saya sampaikan kepada Vidiyima, bahwa ada sosok mahasiswi adik kelas David mengirim email, berjudul sebuah cerita pendek perkenalan dan kematian David ditulisnya. Tulisan itu di antaranya masuk ke beberapa milis di internet. Di antaranya Angel – – begitu nama gadis itu – – menceritakan di saat riset yang sudah 70%, kepada Angel, David mengatakan sang pembimbing menantang, meragukan keberhasilan David itu..

“Dan jika memang David bisa menuntaskan risetnya, sang profesor mengatakan David bisa mendapatkan hadiah Nobel,” begitu tulisan Angel.

Angel menyebutkan, bahwa dalam dua pekan terakhir, sebelum hari kematiannya, David enggan diganggu. Bahkan di facebook-nya di internet, pada tag-nya David menuliskan, enggan diganggu, bahkan telepon pun ia menolak menerima.

Dalam keadan demikian Angel akhirnya menyempatkaan datang ke apartement David. dan menemui David yang sedang tertidur. Ia fokus ke proyek akhirnya itu. Konon menurut Angel, pada hari kematiannya itu, David justeru ingin mengabarkan kepada sang profesor, bahwa ia sudah berhasil di risetnya.

David meninggal 2 Maret lalu di saat ia berkonsultasi dengan dosen pembimbing tugas akhirnya, Prof. DR. Chan Lap Luk, 45 tahun, di Universitas Teknologi Nanyang, (NTU) Singapura. Kematiannya menimbulkan spekulasi, karena antara berita awal dan kisah lanjutan, sambung-menyambanung kabar keganjilan.

Melalui milis, blog dan forum diskusi, saya mendapatkan kiriman email dari seorang blogger di Singapura, banyak kejanggalan terjadi. Apalagi setelah empat hari kematian David, sosok peneliti lain, yang Zhue Zheng, yang di waktu David bertemu Prof Chap, konon juga hadir, kemudian ditemukan mati gantung diri.

Di facebook, saya melihat intensi yang tinggi dari Christovita Wiloto, praktisi komunikasi, mem- postsetiap video dan link artikel berita kematian David. Di komunitas Kaskus di internet, diskusi soal ini hingga saya menuliskan topik ini untuk kedua kalinya, masih saja seru. Wartawan TEMPO, Budi Riza, awal pekan lalu menulis ke salah satu milis di internet untuk membantu memberikan kontak di Singapura akan siapa saja yang paham dan bisa dihungi sebagai saksi menyangkut kematian

Sambil menyantap beef-teriyaki di restoran Jepang di Jumat siang itu, sosok muda Vidiyama di depan saya menanggapi indikasi kemungkinan soal penemuan David dan sang profesor. Di dunia bluetooth, memang selama ini teknologi itu sudah diketahui menghantar medan listrik.

“Bisa jadi penemuan David memang akan mampu memuat data berpita lebar, bahkan video, yang bisa diakses dan diterima melalui jaringan gadget sesama pengguna bluetooth,” ujar Vidi.

Perihal itu memang baru sebauh kemungkinan.

Ketika kemungkinan itu saya sampaikan kepada Ardi Sutedja, praktisi ICT, anggota milis Apwkomitel, yang sedang transit di London, Inggris, dalam perjalanan pulangnya ke Jakarta, Minggu, 15 Mareta 2009, dalam rangka mengikuti sebuah fellowship di bidang ICT, mengirimkan sebuah link ke situs internet kenalannya di London. Situs itu memang sudah lebih advance memanfaatkan tekonologi bluetooth, di alamat http://www.blinksystems.co.uk.

Di Blinksystems itu pengembang konten di antaranya telah memanfaatkan jaringan bluetooth, laksana semacam intranet. Bisa jadi penemuan David, optimalisasi data yang lebih visual, muat besar dilalu-lintaskan via bluetooth, tanpa lagi mengggunakan akses online – – cukup lintas gadget saja. Jika saja demikian adanya, David telah meninggalkan sesuatu yang berharga.

Memang menjadi pertanyaan kemudian mengapa terjadi keributan dengan sang profesor?

Sampai harus terjadi indikasi penusukan David oleh sang profesor?

Ada juga kemungkinan penemuan David lainnya, sebagaimana dipertanyakan oleh Lucas MD, pembaca tulisan saya pertama di Kompasiana.com, blog publik. Ia menuliskan apakah karena penemuan sebuah device pembuatan 3D animasi? Yang berkait ke peralatan piranti pemindai gerak (Motion Capture)? Ataukah menyangkut 3D display (auto stereoskopic), yang menjadi teve masa depan.

Kebetulan saya menggeluti dunia animasi. Pada 1993-1996, saya pernah membuat serial animasi wayang 2D berjudul Burisrawa, sempat jadi 6 episode, masing-masing berdurasi 24 menit. Kemudian pernah pula mebuat film untuk simulaliton ride wayang 12 menit dalam format 3D. Saya mengikuti teknologi motion capture. Bahkan sekitar 5 tahun lalu pernah saya usulkan kepada Departemen Perindutrian RI, untuk mengadakan motion capture yang real time dengan infrared kamera. Total kamera ada 18, buatan Inggris di total harga sekitar Rp 3,7 miliar.

Alat itu akan membantu industri, karena sudah dipakai oleh pembuat film di Holywood. Namun anggaran yang tersedia kala itu hanya bisa untuk membeli 9 dari target 18 kamera, yakni Rp 1,9 miliar. Celakanya dalam pengadaan di Departemen, yang dibeli hanya kamera berformat kualifikasi VGA, kamera biasa. Bisa dibayangkan anggaran negara terbuang percuma. Pengadaan alat itu hingga hari ini terindikasi bermasalah kolusi. Saya mematahkan anggapan temuan David berkait ke ihwal Motion Capture, karena jauh hari teknologi infra red di bidang ini sudah duluan ditemukan.

Saya justeru tertarik untuk membaca blog saya yang di Kompasiana, mencermati ihwal auto stereoskopic, yang bisa menjadi televisi masa depan Bila diurut hingga ke ujung, bisa-bisa berpelaung menonton televisi yang 4D (empat dimensi) tidak lagi perlu menggunakan kamera khusus, termasuk menonton di bioskop yang jika dihilirkan akan menjangkau teknologi hologram itu.

Televisi 4D yang dapat ditonton mata biasa, menurut Lucas MD, kini memang sedang dalam pengembangan kalangan industri, yang kelak menjadi televisi masa depan.

Sehingga kuat dugaan saya, di dua kemungkinan hal itulah penemuan David bercokol. Pertama dari latar yang diceritakan Angel, dan kedua kemungkinan indikasi yang diungkap Lucas MD, pemberi komentar di tulisan pertama saya di Kompasiana, dan saya telah meminta izin Lucas mengutipnya.

Titik persoalan, jika memang sebuah temuan yang menjadi debat dan silang sengketa antara profesor dan mahasiswanya, soal hak paten kemungkinan, lalu berujung kepada pertengakaran dan pembunuhan, saya memang sangat mengherankan mengapa NKRI tercinta ini yang punya pemerintahan yang sah dan kredibel, memiliki rakyat 230 juta ini tidak meminta secara resmi pengusutan tuntas kematian David?

Indikasi kepah-pohan liputan media Singapura, kampus NTU yang seakan menutupi kasus ini, sang profesor yang kini sudah dengan tenang kembali mengajar, berbagai perihal harus dipertanyakan?

Akan tetapi bila mengkaji dari 3 kematian anak negeri dalam 3 pekan terakhir: pertama sosok Devi, wanita yang diperkosa di Pamulang, Banten, tidak diterima rumah sakit karena tak punya kartu miskin, dirawat mesyarakat di pos ronda, dan kemudian mati, tanpa perhatian negara. Kedua sosok balita 1,7 tahun, di Serang Banten, yang orangtuanya baru saja mau dihadirkan oleh Aji Setikarya, ke Banten teve – – satu keluarga gizi buruk – – anaknya meninggal paginya sebelum sang ayah sempat diwawancarai Banten TV.

Dan ketiga, ya, soal sosok David ini.

Sudah sejak lama penghargaan akan nywa di negeri ini seakan murah-murah saja.

Lebih parah lagi, penghargaan rendah kepada kecerdasan, kepada credential asset, kepada nilai integritas dan kejujuran, sebaliknya memberi nilai utama kepada kebendaan dan uang, maka telah membuat brain drain. Anak-anak pintar negeri ini pun tidak terbilang akhirnya bekerja di negeri orang.

Di saat 16 Maret 2009 hari ini, dimulai kampanye partai politik secara resmi, kampanye memilih Caleg, satu pun dari mereka tak bersuara. Bahkan lebih sadis, ketika saya mengingatkan seorang Caleg sebuah partai untuk meperhatikan sosok wanita macam Devi yang mati bagaikan anjing di tengah jalan, sang Caleg malah marah, dengan jawaban, bahwa ia tak perlu diingatkan. Padahal Caleg itu pernah satu almamater kuliah dengan saya.

Ratusan triliun uang kini dihamburkan untuk berdemokrasi, Pemilu, Pilpres, Pilkada Gubernur dan Pilkada Bupati. Namun sayang sekali, kita tak mempu menaikkan mutu peradaban, menghargai sisi intangible asset pada tempatnya. Malang memang nasib manusia warga Indonesia yang saya sebutkan di atas. Juga malang benar, warga kebanyakan orang Indonesia yang kini hanya menjadi “penonton” pesta demokrasi, di mana negara seakan entah ada di mana di dalam setiap masalah hidup warga bangsanya sendiri. ***

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.com