Karena tak tahu kenyataan yang terjadi dalam masyarakat, sang pejabat dengan seenaknya mengeluarkan pernyataan,:” Berkat kami, Indonesia swasembada beras, pada tahun 2009 ini Indonesia akan eksport beras.” Iklan ini datang dari para pejabat Golkar, dan kesempatan ini juga didompreng oleh Pejabat Partai Demokrat.

Dirumah seorang toke beras, biasanya diruang (baca:gudang) khusus tumpukan beras, tak ada lagi ruang yang tersisa, karena banyaknya stock beras, malah sampai keatap bak bukit beras, kini lantai itu terasa bak lapangan sepak bola, kanapa? stock tak ada, beras kosong, lho..!! mana stock berasnya, dengan menggarut-garut kepalanya yang tidak gatal,dia menjawab, belakangan ini dia kesulitan memperoleh stock beras baik dari petani maupun dari perusahaan penggilingan padi,ditanya lagi kenapa kesulitan, karena beras langka katanya..!

Harga beras terus naik, itu biasa, tapi kalau hari-hari naik terus, ini bukan mekanisme pasar lagi, tapi sudah menjurus kepada “ketidak berdayaan para penguasa untuk mengendalikan harga pasar”, dan ini berlaku bukan hanya kepada item beras saja, tapi pada umumnya yang namanya sembako mengalami hal serupa.

Paradoks yang dicanangkan pejabat negeri ini bahwa kita akan eksport beras pada 2009 ini, hanya bualan kampanye kosong yang tidak akan jadi kenyataan. Para pejabat negeri ini tidak pernah tahu, dan mereka tidak pernah mengerti dan melihat kenyataan bahwa konversi lahan sawah produktif yang sangat cepat terutama dipulau Jawa, jumlahnya cukup mengagetkan hamper 5000 hektar pertahun,artinya bakal tidak akan tergantikan oleh percepatan pembukaan lahan sawah baru diluar pulau Jawa..!

Dan lagi, para pejabat ini hanya asal hitung hitung berapa kerusakan lahan sawah dan berapa penurunan produksi padi akibat hantaman bencana alam, terutama banjir yang meluluh lantakkan produksi petani, dihampir semua daerah nusantara, dan harap ingat banyaknya alih fungsi lahan sawah dipulau Jawa ini merupakan ancaman sangat serius terhadap ketahanan pangan negeri ini, sebab 60% dari total produksi beras nasional dipasok dari pulau Jawa..!Ini juga komentar salah seorang pejabat terkait..!

Pernyataan-pernyataan antara satu pejabat dengan pejabat lainnya sangat kontradiktif, satu pejabat bilang akan mengeksport beras pada tahun 2009 ini, sementara pejabat lain bilang alih fungsi lahan sawah yang produktif saat ini sedang terjadi, adalah ancaman serius produk beras, kesimpulan yang bisa kita ambil adalah iklan kampanye politik tentang eksport beras tahun ini, tak lebih dari iklan kampanye bohong untuk mengelabui rakyat. Pernyataan tanpa dasar ini hanyalah kampanye-kampanye gombal politisi otak udang, dan mereka sengaja meniupkan optimisme kosong ini ketengah masyarakat, supaya masyarakat tertarik, suatu trick terselubung yang dibungkus dengan eksport beras.

Masih ingat peristiwa Mao Tze Tung , atau dikenal juga dengan nama Mao Ze Dong..? Revolusi kebudayaan lagi marak, sekitar 30 tahunan silam, sekitar tahun 70 –an, dan saat itu ekonomi Cina dalam kondisi belum menggembirakan, sang Mao menanyakan pada menterinya, tentang persediaan pangan bagi rakyat Cina, dengan mantapnya sang menteri menjawab bahwa cadangan pangan/beras melimpah bahkan untuk meyakinkan Mao, si menteri membawa pemimpin komunis Cina itu berkeliling negeri untuk melihat langsung gudang penyimpanan beras (disini semacam Gudang Bulog).

Pada semua tempat yang dikunjungi Mao melihat bahwa gudang-gudang itu melimpah ruah dengan beras. Tapi selama dalam perjalanan pulang Mao melihat selalu ada kelaparan dimana-mana, ada apa sebenarnya, ternyata beras yang dilihat Mao hanyalah akal-akalan si menteri untuk mengelabui atasan, Beras itu dipindahkan dari gudang-gudang yang berbeda, yaitu gudang yang satu kegudang lainnya yang berhampiran, disesuaikan dengan jadwal kunjungan sang Pemimpin.

Sepertinya kondisi hampir serupa ini sedang berlangsung di Indonesia..? betul..! malah lebih gawat, justeru yang mengelabui itu bukan sekedar menteri, tapi yang mengelabui itu Big Bos-nya menteri..!! anda pengen tahu apa tindakan yang diambil sang Mao terhadap menterinya..?simenteri dipecat dengan tidak hormat, diadili dan dihukum penjara seumur hidup, belum cukup 3 tahun menjalani hukuman, simentri meninggal karena serangan jantung..!! dan harap ingat, apa yang terjadi dengan tukang kibul dan rekayasa di Indonesia, dapat dipastikan bahwa kita takkan pernah tahu, berbeda dengan Mao, beliau tidak sudi dikibulin..!!