Berikut ini percakapan antara seorang rekan (D) di Vienna, Austria, dan saya (L) di Jakarta. Semoga bermanfaat.

D = Begitulah, Mas Leo, Memang konsep agama agama Ibrahim dari suku suku Semit, yakni Yahudi (Thora dan Talmud), Kristen (Injil) dan Islam (Quran) mempunyai struktur yang sama, yakni dari apa yang diungkapkan Musa, Ibrahim, Yesus sampai Muhammad, yang percaya adanya wahyu melalui nabi nabi, orang yang bernubuat. Semua kisah, kidung, pesan, perintah, larangan, dikemas dalam bentuk pesan yang disampaikan melalui wahyu. The Ibrahimic religions.

Sangat berbeda dengan sudut pandang falsafah leluhur kita dari Asia: India, Tiongkok, Jepang, Indonesia…

Allah dalam budaya suku suku Semit dipercayai sebagai pribadi yang bicara, seolah bapak tua (pasti bukan ibu atau anak muda), melalui perantara. Apa yang diucapkan diimani sebagai dogma yang tak boleh di utik utik. Nah, kalau apa yang Dia katakan berbeda penyampaiannya, maka jadi ramai, seperti yang dialami manusia 2000 tahun terakhir. Kepada umat yang satu disampaikan pesan lain daripada pesan pada umat kedua, ketiga dst. Ini menyebabkan terus terusan terjadi kisruh, yang sering bersenjata, antara umat ketiga agama ini.

Kata "Allah", memang hanya dikenal dalam lingkup budaya berbahasa Arab, dan juga digunakan oleh kaum Nasrani di Arab. Kristus yang menggunakan bahasa Aram, tak mengenal istilah ini. Juga orang Yahudi mengenal kata YHWH, bukan Allah. Tidak saja itu, apa yang dipesankan Allah (=God) dalam ketiga agama ini juga berbeda. God dalam budaya Israil tak mengenal Yesus, juga Muhammad. Umat Nasrani mengimani God berwujud tiga (Trinitas), dan God dalam Islam mengutus Muhammad, yang tak dikenal dalam agama agama lain, dan tak ada istilah trinitas.

Dalam agama agama dan kepercayaan di Asia, yang diwariskan oleh leluhur kita, tak ada God yang berdiri di langit dan berkata apa apa, juga tak ada utusan berbentuk malaikat siapapun.

Dari Tao sampai Buddha ditekankan, keIlahian ada dalam alam semesta, yang bermanifestasi dalam diri kita semua, tiap insan. Kebaikan dan keluhuran kita lakukan, bukan atas perintah siapa siapa, namun demi keluhuran itu sendiri. Karena sesuatu yang baik, adalah baik (terlepas siapa yang mengatakannya).

Karena disini tak ada yang katanya, diperintahkan dari langit, maka tak ada mutlak mutlakan, tak ada eyel eyelan. Juga tak ada takdir, yang jlegerrr… diputuskan dari langit, yang ada, adalah wujud dari tiap tindakan kita sendiri. Baik atau buruk.

L = Iyalah, memang seperti itu realitanya, agama-agama semitik itu memiliki tradisi nubuah, berucap atas nama Tuhan. Dan lucunya, agama-agama semitik juga menutup sendiri tradisi nubuah itu setelah periode tertentu.

Agama Yahudi bilang bahwa nubuah telah selesai setelah kitab suci di-buku-kan (di- baku-kan). Kristen juga begitu. Islam juga begitu.

Pedahal, aktifitas nubuah berlangsung terus. Walaupun kitab-kitab suci agama-agama semit itu telah di-baku-kan, kegiatan nubuah berjalan terus sampai saat ini dan, tentu saja, sampai kapanpun. Bernubuah is to prophesy, as simple as that.

Tradisi-tradisi non semitik memiliki juga aktifitas serupa dengan nama berbeda. Di Jawa ada kegiatan dawuh, berbicara atas nama orang yg telah meninggal. Pedahal yg berbicara si manusia itu sendiri, yg mungkin tapping ke memory manusia lain atau bahkan ke memory milik alam atau Tuhan.

D = Betul juga. Budaya Kejawen juga mengenal konsep wahyu atau dawuh, dimana dipercaya oleh seorang pelaku kebathinan (sing nglakoni), bahwa ada wangsit, yang mengatakan ini itu, atau ini itu akan terjadi. Ini pada dasarnya juga nubuat. Ini biasanya, setelah orang mendatangi situs situs gaib, makam keramat, prasasti purba, sumur, pohon atau yang lain.

Beda utama dengan struktur kepercayaan suku suku Semit atau agama agama Ibrahimist, Yahudi, Kristen dan Islam, wahyu ini sangat amat mutlak dan dipercaya datang langsung dari God, berlaku untuk selamanya. Dalam budaya Kejawen ini sangat individual, dan tidak di-baku-kan.

Disini unsurnya adalah percaya, dimana seringkali memang lebih comfortable percaya yang gaib gaib, daripada berpikir kritis. Dalam sejarah kita banyak contoh konfrontasi antara yang gaib gaib ini dan fenomena nalaryah. Perang Diponegoro, misalnya, dimana dipercaya Diponegoro mendapatkan wahyu macam macam, memiliki kekuatan gaib untuk mengusir Belanda. Belanda menghadapi Diponegoro dengan konsep taktis militer, yang juga dipergunakan dalam Perang Napoleon. Artilerie medan ternyata mengalahkan kekuatan gaib.

L = My point is, kegiatan ber-nubuah atau prophesying itu berjalan terus sampai saat ini dan sampai kapanpun manusia hidup di atas bumi. Kita semua bisa naik ke kesadaran tinggi yg adanya di diri kita dan ber-nubuah tentang apa yg harus kita lakukan. Di kesempatan lain saya pernah bilang bahwa presiden pertama NKRI itu seorang nabi. Sukarno was prophesying when he said: "Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit!"

Dari mana Sukarno berani bilang seperti itu kepada bangsa Indonesia yg baru lahir? Tidak dari mana-mana melainkan dari kesadaran yg ada di dalam dirinya sendiri. Bisa saja dibilang sebagai kesadaran tinggi ketika Sukarno bisa merasakan bahwa dirinya menjadi satu dengan his Higher Self, yg dalam konteks budaya tertentu disebut sebagai Allah. Ketika Sukarno ter-inspirasi oleh kesadaran tinggi itu, maka dia berani mengucapkan kata-kata itu: "Gantungkanglah cita-citamu setinggi bintang di langit!"

Dan banyak manusia di Indonesia yg mendengar kata-kata itu bilang: Amin. Amin artinya jadilah. Jadilah apa yg kau ucapkan.

Dan saat ini kita melihat bahwa apa yg diucapkan oleh Sukarno menjadi kenyataan, tidak terhitung banyaknya putra dan putri Indonesia yg menggantungkan cita-cita mereka setinggi bintang. Pedahal waktu Sukarno mengucapkannya, bangsa kita masih memiliki perasaan rendah diri ketika berhadapan dengan bangsa-bangsa lain. Kita masih memiliki inferiority complex. Tetapi, banyak dari kita berani bilang amin, dan mereka mengalami sendiri bahwa apa yg diucapkan oleh Sukarno bukan pemanis bibir saja melainkan berkhasiat.

Menggantungkan cita-cita setinggi bintang artinya menaruh harapan kita di tempat yg tinggi sekali. Bintang itu cuma bisa kita lihat, tetapi tidak pernah kita capai. Kita tahu kita tidak akan pernah mencapainya, tetapi kita akan selalu bisa melihatnya. Ketika malam cerah maka kita akan bisa melihat bintang itu. Selalu ada di sana, dan tidak pernah kemana-mana. Itulah cita-cita kita.

Nubuat bekerja seperti itu, ada yg mengucapkan dan ada yg bilang amin. Ketika nubuat diucapkan dan ada yg bilang amin, maka nubuat itu mulai bekerja. Bukan karena ada Allah atau bahkan Jibril, melainkan karena ada kesadaran manusia yg mengucapkan kata tertentu dan ada kesadaran manusia lainnya yg meng-konfirmasi ucapan itu.

Barack Obama baru-baru ini bilang: "Yes, we can." Dan ratusan juta manusia di seluruh dunia bilang amin. Dan kita lihat bahwa nubuat yg diucapkan oleh Obama itu sedang berjalan untuk terwujudkan, bahkan saat ini. Makanya saya juga bilang bahwa Obama is a prophet, seorang nabi. Dia berani mengucapkan apa yg muncul di kesadaran di dirinya, dan orang-orang lain yg juga terbuka kesadarannya berani bilang amin.

Inilah yg selama ini saya sharing dengan begitu banyak rekan-rekan, yaitu tentang pengertian bahwa kita tidak perlu tergantung dari segala macam wahyu atau nubuat masa lalu yg sudah tidak lagi relevan, apalagi nubuat yg berasal dari Timur Tengah dan sering kali juga dikutip out of context.

Saya sharing bahwa yg namanya Allah tidak lain dan tidak bukan adalah kesadaran tinggi yg adanya di semua manusia. Kalau kita mau diam saja, maka kita bisa "naik" ke kesadaran tinggi itu dan memunculkan pengertian intuitif di diri kita. Pengertian intuitif itu selalu sama di manapun, yaitu kita mengerti bahwa kita itu ada karena kita ada, bahwa kita berharga, bahwa kita tidak akan kehilangan apapun, bahwa hidup itu untuk enjoy saja tanpa merasa perlu meninggikan diri sendiri atau merendahkan orang lain, tanpa perlu memaksakan syariat.

Kalau sudah ada syariat, maka yg muncul bukanlah kesadaran tinggi, melainkan turunan daripadanya.

Nabi Musa menerima wahyu yg berbunyi: "Eheieh asher eheieh", aku adalah aku. I am what I am. Itu adalah ucapan yg muncul di kesadaran Musa ketika dia bertanya siapakah kau?

Kau yg dinamakan sebagai JHVH (Yahveh) oleh Musa ternyata juga tidak menguraikan siapa dirinya selain bilang bahwa aku adalah aku.

Tetapi Musa kemudian menggunakan otoritas dari JHVH untuk menuliskan segala macam syariat yg harus diikuti oleh suku-suku Ibrani itu dengan cara mencatut nama JHVH. Pedahal JHVH atau nama Allah yg asli itu juga merupakan ciptaan Musa sendiri.

Musa lalu bilang: Akulah JHVH yg membawa kamu keluar dari Mesir dan membawamu ke tanah terjanji, dan beginilah syariat yg harus kamu ikuti, blah blah blah… Dan termasuk di sini adalah syariat sunat untuk anak laki-laki dan haram makan babi yg sangat terkenal itu. Tradisi sunat dan haram makan babi berasal dari Musa, dan secara tegas dan tanpa ragu-ragu Musa bilang bahwa itu perintah dari JHVH atau God. Pedahal sunat dan tidak makan babi merupakan tradisi di masyarakat Semit bahkan sejak lama sebelum Musa menuliskan syariatnya.

Pertanyaannya sekarang, apakah segala macam syariat itu dari God atau dari Musa sendiri? Menurut saya, kalau sudah menjadi syariat atau pengaturan cara berperilaku manusia, maka Musa sudah memanipulasi kesadaran tinggi yg ada di dirinya. Yg asli dari God itu cuma perkataan: "Eheieh asher eheieh", aku adalah aku. Cuma begitu saja.

Tetapi namanya manusia yg masih hidup, maka Musa masih tetap harus bertahan, dan untuk bertahan hidup maka digunakanlah pengertian intuitif bahwa God itu ada di dalam dirinya sendiri. Dan digunakannya dengan tidak tanggung-tanggung pula, yaitu dengan memberikan syariat atau hukum-hukum. Atas nama God, pedahal dari otak Musa sendiri yg memang brilliant.

Begitulah cara kerja wahyu atau nubuat dalam agama-agama semit (Yahudi, Kristen, Islam). Ada God atau Allah yg muncul kesadaran si manusia, tetapi ada juga syariat atau hukum-hukum yg sering disalah-kaprahkan sebagai berasal dari Allah juga karena si nabi itu otomatis akan mengeluarkan ucapan atas nama Allah. Thus says the Lord, beginilah Allah berfirman, blah blah blah…

Pertanyaannya sekarang, haruskah kita mempertahankan segala macam syariat seperti yg diucapkan atau dituliskan oleh Musa dan nabi-nabi semit lainnya? Dengan alasan bahwa apa yg nabi-nabi semit ucapkan itu merupakan wahyu atau perkataan Allah?

Kalau kita mau logis dan rasional, tentu saja kita harus bilang secara tegas tidak. Segala macam syariat itu cuma pengaturan sesaat bagi manusia-manusia yg hidup di masa itu. Kita sudah hidup di masa yg berbeda, dan "syariat" bagi kita adalah pengertian intuitif yg muncul di kesadaran kita di sini dan saat ini saja. Demokrasi dan penghormatan terhadap HAM (Hak Azasi Manusia) merupakan "syariat" bagi kita di era Post Modern ini, contohnya. Musa dan para nabi semit itu tidak mengenal demokrasi dan HAM. Dan God atau Allah yg mereka sembah juga tidak mengenal demokrasi dan HAM. Kalau kita mau terus menggunakan syariat dari ribuan tahun lalu, maka artinya bukan para nabi semit itu yg bodoh, melainkan diri kita sendiri.

Para nabi semit itu mengerti bahwa God atau Allah adanya di dalam kesadaran tiap orang dan bisa memunculkan syariat baru setiap saat yg relevan dengan ruang dan waktu di mana kita hidup. Syariat atau pengaturan itu cuma merupakan turunan dari bersatunya kesadaran manusia dengan kesadaran tinggi yg ada di dirinya sendiri. Dan syariat itu juga tidak lekang oleh waktu, melainkan selalu bersifat temporal, selalu berubah.

Pelecehan HAM wanita oleh para pria dulu merupakan syariat, karena katanya Allah memerintahkan wanita untuk tunduk kepada pria. Dan wanita-wanita itu mau saja mengikuti pelecahan HAM itu dengan alasan ingin masuk Surga. Kalau mau masuk Surga maka harus menurut kepada pria, dan bukan sebaliknya. Pedahal itu semua cuma akal-akalan saja yg dibuat oleh si nabi atas nama Allah juga. Untungnya pelecehan wanita oleh para pria sudah tidak lagi menjadi syariat di sebagian besar dunia.

Eheieh asher eheih, aku adalah aku. Cuma kata-kata itu saja yg sifatnya abadi dan selalu muncul di kesadaran di diri tiap manusia dari budaya apapun atau masa apapun ketika berhasil "naik" ke kesadaran tinggi di dirinya sendiri dan bertemu dengan Tuhan.

Di luar itu semuanya adalah syariat, dan bukan berasal dari Tuhan yg asli, melainkan dari pemikiran-pemikiran si nabi itu sendiri yg mungkin relevan dengan ruang dan waktu di mana dia hidup, tetapi jelas sudah tidak relevan lagi dengan apa yg kita semua hadapi saat ini di tahun 2009 M waktu bumi.

+

Leo
@ Komunitas Spiritual Indonesia <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.

Patung Nabi Musa yg dibuat oleh Michael Angelo. Terlihat di tangannya Musa membawa batu bertuliskan 10 Perintah JHVH. JHVH adalah nama Tuhan yg diciptakan oleh Musa. Beberapa ribu tahun sesudah Musa, nama itu ber-evolusi pula dan sekarang dikenal sebagai Allah. Pedahal yg muncul di Musa cuma pengertian intuitif "eheieh asher eheieh", aku adalah aku.