Sabtu, 07 Maret 2009 Petahana Presiden yang mangkus Petahana Presiden atau Presiden petahana seharusnya melakukan kewajibannya dengan mangkus.

Bung, saya kira anda bisa dipastikan akan bertanya apa maksud kalimat ini? Ada dua kata yang tidak biasa dialam kalimat tersebut yakni petahana dan mangkus. Untuk kata tahana ini silakan saja anda membuka link berikut ini dan membacanya  http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/06/03261683/sini.situ.sana, karena baru dimuat di Kompas kemarin tanggal 6 Maret, 2009. Jadi memang masih baru sekali.

Akan tetapi tahana, asal kata petahana bukanlah kata baru karena dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) yang diterbitkan pada tahun 1994, telah ada tertera kata itu: tahana.Yang saya sebut baru itu adalah kata petahana yang dalam bahasa Inggrisnya adalah incumbent. Saya mendukung kata petahana untuk dan agar dipakai dalam kata-kata sehari-hari sejak sekarang, karena terjemahan yang sering dilakukan atau dipakai di banyak media adalah Presiden yang sedang  berkuasa, yang konotasi (asosiasi, implikasi, siratan atau sugesti) penggunaannya terasa kuat kurang nyaman didengar.

Sebaliknya mangkus juga bukan kata baru tetapi telah dikenal sejak sekitar dua puluhan tahun yang lampau. Arti kata mangkus menurut tiga buah kamus yang saya intip atau intai, bisa berarti: mujarab, manjur, berhasilguna, sakti, efektif, praktis, mempan, ampuh, asian, dan ternyata dalam bahasa percakapannya adalah cēsplēng atau tokcèr, bahasa Jawanya: mandi (d yang diucapkan seperti d dalam delapan), dalam bahasa Arabnya: makbul, mujarab dan mustajab. Kita sekarang bisa merasakan bahwa kita sudah kaya dengan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang resmi seperti ini. Tetapi saya heran mengapa kita dengan sengaja, malah penuh gaya, sering membanjiri media dan keseharian sendiri dengan kata-kata asing yang terasa adanya penekanan agar dipakai sebagai pilihan utama. Kalau asal dari bahasa asing Barat, terkesan akan lebih bernuansa terdidik dan bermartabat sebagai orang pintar, sedang kalau kata dari Timur Tengah: nuansa pemahaman agama yang lebih dari khalayak ramai, baik Kristen maupun Islam ataupun Yahudi.Saya juga menyadari bahwa bahasa itu hampir tidak ada yang seratus persen asli. Di dalam penggunaan sehari-hari dalam bahasa Indonesia sendiri kata-kata yang berasal dari bahasa asing juga banyak, misalnya dari: Portugal, Arab, belanda, Inggris, Sansekerta, Jepang, India dan China serta lain-lain bahasa yang menular karena pergaulan, karena perdagangan dan karena budaya. Tetapi alangkah eloknya, apabila kita mau menggunakan yang memang telah ada, apalagi sudah resmi oleh karena telah tercantum di kamus-kamus Bahasa Indonesia.

Tidak jarang penyiar warta berita di radio dan televisi serta para penyampai berita dan pemandu acara membuat kesalahan-kesalahan fatal. Saya sebut sebagai kesalahan fatal karena penggunaan kata asing yang salah bukan saja ucapannya tetapi maknanya sudah melenceng jauh. Para anggota DPR, termasuk para pejabat pemerintahan yang lain, cukup terikut meramaikan kesalahan tersebut.

Mari kita simak kata presenter, saya lihat di kamus Inggris yang ada Nichols dan Shadily tidak ada, tetapi ada di dalam kamus yang memang saya install di dalam Cellular Phone (Telepon Selular,  Hand Phone, Telepon Genggam) milik saya. Sayangnya isi / artinya tidak seperti yang saya harapkan, karena begini: donor, giver, person who makes a gift of property, a person or thing that presents, a person who presents an award, as at a formal ceremony.

Ingatlah kata Konfrontasi yang dilancarkan oleh Bung Karno untuk mengganyang Malaysia juga belum dikenal sebelumnya, dalam bahasa Inggris ketika itu, yang semestinya confrontation. Kata confront memang telah dikenal tetapi confrontation itu merupakan kata baru waktu itu,  menjadi gegap gempita karena dipakai untuk mengganyang Malaysia yang memang sekutu dari Kerajaan yang pimpinannya dijabat oleh seorang Ratu, Inggris sendiri. Semestinya bukan kerajaan tetapi layaknya adalah KeRatuan Inggris Raya (United Queendom??). Juga ingatlah kata Proklamator, yang merupakan upaya Presiden Suharto untuk meredam semangat membela Soekarno terlalu tinggi. Seorang yang ahli dalam bahasa pernah menulis artikel mengenai hal ini yang isinya hampir seperti masalah Konfrontasi di atas. Kata Proclamation dan Proclaim memang ada akan tetapi sudah saya periksa kata Proclamator itu tidak ada, jadi dalam bahasa Indonesia saja kata Proklamator itu dikenal, yang asalnya entah dari mana?? Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris juga bukan, yang terjemahannya panjang: Yang Memproklamasikan!

Ada yang menanggapi bahwa Fatwa Mahkamah Agung mengenai hukuman mati disangkanya penerbitannya dilakukan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia). Dia mengaku salah bahwa seharusnya MA bukan MUI, disertai keterangan bahwa dia terikut dengan pengetauan umum bahwa yang selalu memproduksi Fatwa itu hanya MUI. Saya menanggapi bahwa Fatwa menurut saya mungkin juga salah. Yudikatif itu Mahkamah dan MUI bukan Mahkamah Ulama Indonesia. Pertanyaan saya apakah Fatwa tidak ada bahasa Indonesianya yang sepadan? Masakan Mahkamah Agung mengeluarkan fatwa? Menurut Tesaurus Bahasa Indonesia Indonesia padanan kata fatwa adalah = ajaran, amanat, masukan, nasihat, petunjuk, pengarahan, peringatan, petuah, wejangan.Menfatwakan = memberi tau, membilangi, menasihati, mengingatkan. Menurut hemat saya padanan dalam bahasa Indonesia itu yang paling mirip untuk keperluan yudikatif Mahkamah Agung hanya petunjuk yang sesuai. Akan tetapi rasa-rasanya tidak mengikat secara hukum, seperti memang dimaksudkan begitu. Petunjuk yang tidak mengikat secara hukum. Dari keseluruhan kata-kata padanan tadi tidak ada yang mantap untuk yang bersifat keputusan yang mengikat. Jadi saya anjurkan gunakanlah kata yang ada di dalam bahasa Indonesia  saja, cari dan konsultasilah dengan para ahli bahasa kita. Kurang baiklah sebuah institusi setingkat Mahkamah Agung menggunakan kata-kata asing terlalu banyak, seakan-akan kita ini sedang mengalami keadaan panik saja, sedikit saja ada masalah, langsung menggunakan bahasa asing. Sudah cukup rasanya, kenyang dan penuh rasanya ranah hukum diisi serta menggunakan istilah hukum yang berasal dari bahasa Latin, belanda lalu Inggris, apalagi Arab.

Sekarang kalau kita amati di pinggir jalan, dari baliho, umbul-umbul iklan jual barang, jasa dan promosi lain-lain sudah lebih dari 60% menggunakan bahasa asing, yang sebagian besar berbahasa Inggris. Hampir semua kompleks real estate mempunyai nama pengenal lokasinya menggunakan bahasa Inggris.

Cucu sayapun berumur 3 tahun diikutkan pre school (kok bukan pra sekolah), saya antar ke sekolah. Guru-guru yang ada menyapa dia: “Good Morning, Kayla …” demikian halnya kalau menyapa murid-murid lainnya. Banyak yang semangat mengeluarkan istilah-isilah bahasa Inggris lainnya, tetapi kagetlah saya ketika saya coba berdialog dengan salah seorang dari mereka, roman mukanya point blank menggambarkan ketidak-mengertiannya dalam dia mendengarkan apa yang saya katakan dalam bahasa Inggris. Ada terbersit sedikit: Ah mungkin bahasa Inggris sayalah yang  kurang bagus. Lalu saya coba lagi berkata-kata dengan guru yang lain, hasilnya sama saja. Ya mungkin harapan saya terlalu tinggi sehingga saya mengalami yang seperti itu. Bukankah yang dihadapi adalah murid-murid yang berbahasa Indonesia saja masih belum mampu? Jadi bahasa Inggris para pengajar tidaklah perlu terlalu tinggi (?).Restaurant atau restoran memajang menunya dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesianya dengan huruf lebih kecil berada di baris di bawahnya. Saya berbuka puasa di hotel Atrium, di daerah Senen pada suatu saat. Saya ingin makanan yang berkuah, jadi saya tanya apakah ada Mie Rebus? Seperti geledek jawaban yang saya terima: “Tidak ada, Pak. Tetapi kalau noodle ada!” Beruntunglah yang mendengar semua tersenyum, tidak ada yang pingsan …   Anwari Doel Arnowo – 3/7/2009  –  2:08:14 PM