Tag

 Beberapa tahun yang lalu kita memperingati Seabad BUNG KARNO. Kemudian mengenangkan 100 Tahun BUNG HATTA. Bersama-sama mengenangkan beliau-beliau sebagai PERINTIS DAN PEJUANG KEMERDEKAAN INDONESIA. Sebagai pemimpin-pemimpin Nasional Indonesia, sebagai para 'FOUNDING FATHERS bangsa INDONESIA.

Hari ini tanggal 05 Maret 2009, kita memperingati ultah ke100 SUTAN SJAHRIR,
perintis dan pejuang kemerdekaan sejak zaman kolonial Belanda, dan mantan
Perdana Menteri Pertama Republik Indonesia. Itu semua memang seharusnya
demikian. Memperingati, mengenangkan beliau-beliau itu adalah bagian dari
proses mengenal dan belajar dari sejarah bangsa.

Hal itu juga adalah suatu proses pemikiran kembali, menoto fikiran kembali,
dalam ambil bagian melempangkan penulisan dan intrepretasi sejarah bangsa ini.
Karena selama lebih dari 32 tahun rezim Orba dan pengaruhnya sampai dewasa ini,
pencatatan, penulisan dan intrepretasi sejrah bangsa Indonesia banyak
direkayasa, diplintir dan oleh penguasa.

Catatan sejarah kita menunjukkan betapa para pejuang dan printis kemerdekaan
Indonesia seperti Bung Karno, Amir Syarifuddin dan Sutan Sjahrir, yang pada
akhir hidupnya dijebloskan di penjara atau tahanan rumah. Tokoh pejuang Tan
Malaka yang pernah oleh Bung Karno dan Bung Hatta dicalonkan sebagai pemimpin
Republik Indonesia, bila mereka gugur, mengalami nasib dieksekusi tanpa jelas
siapa yang bertanggungjawab atas esekusi itu.

Mr Amir Syarifuddin, mantan Menteri Pertahanan, Penerangan dan Perdana Menteri
RI, mengalami nasib dieksekusi di Ngalihan, Jawa Tengah atas perintah
Kolonel Gatot Soebroto, Gubernur Militer Republik Indonesia ketika itu (1948).
Sama halya dengan 10 tokoh-tokoh pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia lainnya,
tanpa proses pengadilan.

Berusaha mengenal dan menarik pelajaran dari tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan
Indonesia, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir dan Tan Malaka, menjadi
lebih mudah karena beliau-beliau itu sendiri semasa hidup dan perjuangannya
banyak menulis karya-karya perjuangan politik, berpidato, ceramah, maupun
tulisan yang bersifat refleksi seperti buku SUTAN SJAHRIR, 'RENUNGAN
INDONESIA' , dll.

Mengenai tokoh-tokoh pejuang nasional tsb berkat berakhirnya formal rezim Orba,
berangsur-angsur mulai ditulis (kembali) mengenai sejarah hidup masing-masing.
Tidak sedikit pakar asing yang ambil bagian dalam penulisan. Disini patut
disebut karya luar biasa Dr Harry Poeze, sejarawan Belanda, yang menulis
biografi Tan Malaka, sebagai karya-hidupnya.

* * *

Keseriusan dan kegawatan menyangkut masalah sejarah bangsa, dampaknya masih
terasa dan nyata hingga dewasa ini. Antara lain termanifestasi dalam kenyataan
bahwa tidak sedikit 'sejarawan', 'historikus' atau 'pakar sejarah' dan
cendekiawan Indonesia masa kini, yang sebagian besar hasil didikan periode
Orba, – masih bersikap 'lepas tangan' atau 'angkat tangan' terhadap pelbagai
masalah sejarah yang diperbincangkan atau didiskusikan masyarakat terutama
kalangan ilmuwan. Sebagai cendekiawan samasekali tidak merasa ikut
bertanggungjawab terhadap 'rekayasa' fakta dan pemahaman sejarah bangsa yang
dilakukan dengan sewenang-wenang pada masa rezim Orba. Padahal mereka merupakan
bagian dan ikut bergelimang dalam kesewenang-wenangan penguasa rezim Orba,
tetapi sedikitpun tidak merasa menyesal. Mereka menolak untuk mengkoreksi
sikap dan pandangan salah di masa lampau. Sebagian malah dengan keras kepala
terus mempertahankan sikap mereka seperti di masa Orba yang 'memulas' dan
'memanipulasi' kebenaran.

Contoh yang paling menyolok mengenai sikap dan pandangan sejarah yang salah tsb
dengan jelas bisa disaksikan dengan munculnya usul-usul dan penilaian mereka
sekitar peranan mantan Presiden Suharto dalam sejarah. Kemudian mengusulkan agar
mantan Presiden Suharto dinobatkan jadi 'pahlawan nasional'.

* * *

Ketika masih dalam periode rezim Orba, SUBADIO SASTROSATOMO penerus pemimpin
Partai Sosialis Indonesia diundang oleh suatu lembaga di Nederland, datang
berkunjung ke Belanda untuk suatu pertemuan yang menyangkut hubungan
Indonersia-Belanda. Beliau datang bersama wartawan senior Rosihan Anwar.

Sengaja disebut disini nama SOEBADIO SASTROSATOMO. Ini penting dalam kaitannya
dengan sekarang sekitar PERINGATAN 100 TH SUTAN SYAHRIR.

Begini keterangannya: Sutan Syahrir bersama Amir Syarifuddin, adalah
pemimpin-pemimpin Partai Sosialis Indonesia. Partai politik yang berkali-kali
ambil bagian dalam memimpin perjuangan menegakkan Republik Indonesia melawan
Belanda. Suatu ketika Sutan Sjahrir dan Amir Syarifuddin berpisah. Amir
Syarifuddin dinyatakan sejak lama sebelumnya adalah Komunis. Sedangkan Sutan
Sjarir terus sebagai tokoh pimpinan Partai Sosialis (PSI).

Dalam pergolakan politik Indonesia, pemerintahan Presiden Sukarno di-kup oleh
Jendral Suharto. Ditegakkan rezim Orde Baru. PKI dan semua parpol dilarang
oleh rezim militer Jendral Suharto. Menurut keterangan otentik seorang sahabat
dekat yang oleh banyak teman dianggap 'orang PSI, — PSI yang ketika itu
sudah menjadi 'partai terlarang', dalam kenyataanny — PSI sebagai suatu
partai, maupun sebagai aliran politik tidak pernah bubar, tidak pernah
berhenti. Partai itu tetap bertahan. Dan berfungsi sebagai suatu lembaga
politik. PSI dan pengikutnya juga ambil bagian menggulingkan Presiden Sukarno
dan berkoalisi politik dalam rezim Orba Suharto.

Praktek-praktek rezim Orba yang menginjak-injak demokrasi dan HAM, membikin
tokoh-tokoh PSI terbuka matanya. Mereka saksikan sendiri bahwa rezim Orba
hakikatnya lebih buruk, jauh lebih represif terbanding pemerintahan Presiden
Sukarno. Sikap mereka di masa lampau yang menentang Sukarno dinilainya keliru.
Maka harus dikoreksi.

Adalah SUBADIO SASTROSATOMO sendiri, menurut keterangan tsb, yang menyatakan
bahwa kekuatan pendukung Bung Karno, para pendukung Bung Hatta, termasuk
golongan Kiri dan juga kaum Komunis yang ditindas oleh Orba, harus bersatu.
Bersamasama berjuang melawan rezim Orba.

Demi mempertahankan Republik Indonesia, demi kemajuan bangsa ini,
kekuatan-kekuatan politik pendukung BUNG KARNO, BUNG HATTA, SUTAN SJAHRIR dan
KEKUATAN KIRI LAINNYA <maksudnya termasuk Kaum Komunis) harus bersatu,
berjuang bersama membangun INDONESIA BARU, yang SOSIALIS.

Mengenngkan 100 TH SUTAN SJAHRIR, salah seorang pemimpin nasional Indonesia
yang menganut faham SOSIALISME dan bercita-cita membangun SOSIALISME di
Indonesia, adalah menarik menghubungkannya dengan tulisan mantan pemimpin PRD,
BUDIMAN SUDJATMIKO, baru-baru ini (Kompas, 27 Februari 2009), a.l sebagai
berikut:

'. . . . . . . kegeniusan para bapak bangsa yang otentik itu sempat
terinterupsi selama 32 tahun era Orde Baru yang menghabiskan sebagian waktunya
untuk memfitnah sosialisme sebagai ideologi para ateis dan kaum ekstremis.

Selanjutnya:
'Hampir 64 tahun kita merdeka dan sudah lebih dari 10 tahun kita memasuki era
reformasi, tetapi kita justru semakin jauh dari jiwa sosialisme yang diamanatkan
para bapak (dan ibu) bangsa melalui Pembukaan UUD 1945. Hak-hak ekonomi rakyat
malah diingkari oleh sebagian besar elite politik dan ekonomi kita. Di antara
indikasi dari pengingkaran itu adalah dikeluarkannya undang-undang yang
memberangus kedaulatan rakyat atas sumber daya ekonomi bangsa.

. . . . .

Tulis Sudjatmiko lagi: Hampir 64 tahun kita merdeka, ada tiga hal yang justru
berada dalam bahaya. Pertama, kedaulatan bangsa (terutama di bidang pangan,
energi, keuangan, dan pertahanan). Kedua, keadilan sosial. Ketiga, ke-bhinneka-
tunggal- ika-an kita berdasarkan Pancasila.
Semua ini terjadi karena banyak elite politik kita telah mengganti semangat
demokrasi, patriotisme, dan sosialisme dengan semangat pragmatisme ala
neoliberal, plutokrasi (kekuasaan politik berdasarkan uang), bahkan kleptokrasi
(kekuasaan politik berdasarkan kemampuan mencuri uang).

Kehendak mulia para pendiri bangsa untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan turut menciptakan ketertiban dunia
berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial kian digantikan oleh histeria
spekulasi keuangan global kapitalistik.
. . . . . <Budiman Sudjatmiko Ketua Umum Repdem PDI-P>
Selesai kutipan sebagian dari tulisan Budiman Sudjatmiko.

* * *

Kiranya adalah paling cocok, dalam rangka mengenangkan 100 Tahun Sutan Sjarir,
dikaji kembali ide-ide SOSIALISME Sutan Sjahrir, difahami sesuai fikiran
Sosialisme yang dianutnya.

Agar dipertimbangkan dan dipraktekkan konsepsi penerus ide Sutan Sjarir,
Subadio Sastrosatomo, untuk digalangnya kerjasama dan persatuan para
pendukung faham Sosialis Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir dan kaum Kiri lainnya,
— demi MEMBANGUN INDONESIA BARU yang adil dan makmur.