Active ImageKasus Buddha Bar ini sebenarnya sudah lama. Di milis2 buddhis sudah jadi pembicaraan sejak beberapa waktu yang lalu. Sekarang lebih heboh karena pemilu 2009 semakin dekat. (Waktu masbambang nulis, itu mengenai cabang yang medan. Ternyata sekarang buka cabang yang di Menteng.) Setiap kejadian sebisa mungkin dimanfaatkan untuk keuntungan partai. Dalam perspektif ini, jelas megawati dan sutiyoso kecolongan. Kesannya jadi pemimpin koq kurang peka. Masa ada nama agama begitu koq diambil franchise-nya. Apakah kekurangan franchice resto/cafe yang lainnya? Meski minoritas, pengaruh dalam perolehan suara dalam pemilu nanti pasti ada. Dengan kondisi jumlah partai yang begitu banyak, 1-2% suara bukan perkara remeh.

 

Dalam kaitan soal perijinan, jelas pemerintah (dinas pariwisata) yang kasih ijin sangat tidak peka. Meskipun tidak ada protes dari kalangan umat buddha, sudah selayaknya pemberi ijin lebih peka soal ini. Aku ada pengalaman ketika dolo, jaman Gus Dur jadi RI-1. Ketika itu sedang bantuin orang ngurus pembukaan toko di jalan Wahid Hasyim. Ketika mengurus ijin, nama yang diajukan adalah toko "Wahid" (dari nama jalan), oleh pemda ditolak, karena nama WAHID dianggap memanfaatkan nama presiden. Kenapa sekarang, ada nama Buddha Bar, meski itu internasional franchise koq bisa lolos? Hal yang sama, kalu terjadi pada islam, aku hakul yakin 1000% pasti ditolak! Dinas pariwisata yang berlindung dibalik surat persetujuan 3 organisasi budhis, yang satu malahan organisasi kepemudaan, menurutku terlalu mengada-ada. Walubi, yang resmi ada di depag, tidak diminta pendapatnya.

 

Sekarang soal Buddha Bar. Bagaimana sebaiknya sikap umat budha sebaiknya? Sekarang memang terjadi 2 sikap. Yang satu menentang, yang satu lagi cuek. Aku kira kedua sikap itu oke2 saja. Yang menentang, karena merasa tidak nyaman patung nabi yang dihormati ditaruh di resto/cafe, menemani orang/tamu ngedugem. Kayaknya koq tidak dihormati. Aku bisa memahami sikap ini, terutama dalam kaitannya dengan kondisi indo. Bayangkan misalkan suatu saat terjadi maksiat di sana, terus fpi menggebrek. Bisa2 agama buddha dijadikan agama sesat karena dianggap terlibat/mendukung kegiatan tersebut. "Lah, waktu berdiri kenapa situ gak protes nama buddha dipakai? Berarti umat buddha indo emang setuju segala bar, cafe dll." Pan susah juga! Minimal, dengan ada yang protes, jadi ada pernyataan sikaplah.

 

Lalu aku sendiri sikapnya gimana? Cerita dibawah ini mungkin bisa mewakili sikapku.

 

Ada 2 bhikhu sedang melakukan perjalanan, dan tiba di sebuah vihara tua yang rusak di pinggir kota. Ketika itu menjelang musim dingin. Tidak ada dahan kayu yang bisa dijadikan perapian. Satu2nya bahan kayu tinggal sebuah patung budha yang sudah kusam. Akhirnya, bhikhu yang lebih tua memotong patung kayu buddha tersebut dan dijadikan api unggun. Kejadian ini menimbulkan protes dari bhikhu yang lebih muda.

 

"Koq Buddha yang kita hormati dibakar?"

 

Bhikhu tua menjawab: "Kalau masih bisa dibakar, bukanlah buddha!"

 

Salam,

wiro

Ini sedikit suasana Buddha Bar cabang Australia yang bisa diliat di:
http://www.buddhabar.com.au/