Hari Kamis yang lalu, 26 Februari 2008, seperti biasa berangkat menuju sebuah kampus di sudut Bandung. Hari itu terasa biasa saja, jalanan Dago masih macet karena traffic light di simpang Dago menyala tidak beraturan, belum lagi ditambah banyaknya angkot yang ngetem serampangan. Sekitar 100 meter sebelum pagar utama kampus saya, ada pemandangan menarik –at least bagi saya-. Pemandangan yang sudah jarang saya saksikan di tengah-tengah rutinitas ini. S

ekelompok bocah jalanan sedang melempar canda, tertawa lepas tanpa beban. Kejadian ini cukup mengusik saya, mengapa bocah-bocah jalanan itu dapat tertawa, begitu ceria. Apakah penyebabnya ? Secara materi, jelas mereka sangat jauh dari berkecukupan. Dari 5 orang bocah yang saya lihat, hanya ada satu bocah yang tubuhnya sedikit gempal, sisanya taklebih dari orang-orangan sawah hidup; kurus. Saya yakin, bagi mereka, makan tiga kali sehari itu adalah suatu hal istimewa. Beberapa saat kemudian, tangan saya sudah menyalami tangan-tangan mungil mereka. Ujang, Desi, Bondan, Udin, dan Dewi. Itulah nama mereka, tampaknya Bondan –bocah yang paling gempal tadi- adalah yang tertua, usianya baru 13 tahun. Rata-rata, umur mereka sekitar 10-13 tahun.

“Kita sudah engga sekolah lagi Om”, kata Bondan ketika saya bertanya pendidikan mereka. Saya masih terus penasaran, apa yang menyebabkan mereka pagi-pagi buta sudah ada di jalanan.
“Dik, kalian pagi-pagi di sini ngapain ? Orang tua kalian mana ?”
“Kita bentar lagi mau jalan Om, saya dan Bondan mau ke Gelapnyawang (sebuah tempat makan di selatan kampus saya-penulis), kalau yang lain kayaknya mau keliling dago atau nongkrong di jembatan laying (maksudnya adalah jembatan laying surapati-penulis)”, sahut si Dewi. Sepertinya Dewi ini yang paling manis di antara yang lain, walaupun jelas, tubuhnya hitam legam terkena sengatan matahari.
“Orang tua kami juga kerja di jalan Om, di daerah Cibiru”, sambungnya
“Wew, keluarga pengamen tampaknya”, pikirku

Perbincangan kami terus berlanjut. Sesekali mereka tertawa mendengar pertanyaan-pertanyaan yang terlontar. Saya terus bertanya perihal keseharian mereka. Bondan, misalnya yang ternyata kakak dari Desi, mengatakan kalau biasanya, seminggu paling banter 2 kali bertemu dengan orang tuanya –untuk menyetor uang hasil kerja mereka-. Udin juga tak kalah santer bercerita mengenai pengalamannya ketika pertama kali terjun ke jalanan, lalu dipalak oleh sekelompok preman. Tetapi akunya, sekarang hal tersebut sudah biasa. Berbeda dengan Udin, yang turun ke jalan karena memang terpaksa karena harus membantu emaknya mencari tambahan uang untuk menyuapin kedua adiknya yang masih kecil; Dewi menjadi anak jalanan karena tidak tahan sering dipukuli oleh ibunya. Padahal, berdasarkan cerita Dewi, orang tuanya bukan berasal dari golongan tak mampu.

Yang saya heran, ketika saya tanya Dewi, apakah orang tuanya tidak mencari; Dewi hanya menggeleng lemah. Orang tua macam apa mereka ? Saya agak kesulitan untuk mencari informasi perihal kehidupan Ujang, bocah yang menurut saya paling kurus dari yang lain. Perawakannya kecil, hitam, kumal dengan kaos putih penuh noda. Ia mungkin tipe bocah pemalu dan pendiam. Tetapi, saya yakin ada trauma besar yang tersirat dari tatap matanya ketika beberapa pertanyaan mengenai masa lalu, saya gulirkan kepadanya. Ada hal yang paling menarik bagi saya, walaupun mereka mempunyai kehidupan yang keras, tetapi pagi itu, mereka masih sanggup tertawa, bermain seperti layaknya anak kecil biasa. Tak ada rasa penyesalan atau sedih yang memancar dari wajahnya. Wajah mereka polos dan lugu. Saya yakin, saya telah melihat malaikat-malaikat kecil. Saya yakin, saya telah melihat tuhan pada mereka. Wajah-wajah seperti bocah-bocah ini sudah sangat jarang ditemui di kota Bandung, apalagi di sekitar kampus ini. Rata-rata, wajah penghuni kampus ini penuh dengan keseriusan dan arogansi, seolah dari seantero jagad, hanya mereka yang paling pintar, paling banyak tugas, dan paling sibuk. Saya sempat terhenyak mendengar jawaban Bondan, ketika saya bertanya, “Mengapa kamu terlihat sangat senang ? Bukankah kehidupan kalian keras ?”

“Om, mengapa kami harus sedih ? Aku sudah senang kalau bisa berkumpul dengan teman-teman. Lagipula, walaupun hidup kami susah, tetapi masih banyak yang lebih susah dari kami, lebih banyak juga yang indah dari dunia ini. Toh, tidak ada bedanya, apakah kami hari ini mau tertawa atau menangis, pada kenyataannya, sekarang aku masih hidup”
Jawaban dari bocah itu bagaikan petir bagi saya. Selama ini, saya menyangka jika hanya yesus, budha, Muhammad, atau nabi lain yang dapat berkata bijak. Jawaban Bondan, menurut saya lebih jenius dari jawaban mahasiswa kampus ini. Menurut saya, jawaban itu lebih filosofis dari apa yang diajarkan di sekolah filsafat Driyarkara. Saya menemukan firman hidup yang sejati dari mereka. Beberapa saat kemudian, saya ajak mereka untuk sekedar mengicipi bubur ayam takjauh dari kampus itu. Saya terus mengobrol dengan mereka. Semakin lama saya mengobrol, semakin saya merasa bodoh. Selama ini, saya bahkan tidak sadar betapa indah dunia ini. Betapa dunia adalah anugerah. Manusia terlahir untuk menikmati tiap bagian dunia. Akhir-akhir ini saya lupa. Sibuk dengan rutinitas dan emosi saya sendiri. Atau mungkin juga sok sibuk dengan pikiran-pikiran nakal saya untuk menjauhkan mutiara hitam dari cangkang kerangnya. Akhir-akhir ini, saya kerap kali bersungut-sungut, meratapi hidup ini yang begitu-begitu saja. Sedangkan mereka ? Dengan kehidupan sekeras mereka, mereka masih tersenyum, masih sadar betapa dunia ini sangat indah. Betapa bodohnya saya. Semua itu hanya karena saya LUPA ! Saya lupa akan indahnya hal-hal yang mungkin terlihat sepele. Dulu, saya sering terkagum-kagum dengan matahari yang terus terbit di timur, saya merasa takjub mendapati Pak Parman, satpam di kampus saya, rela menggeliat lebih pagi demi 3 anaknya yang masih kecil. Saya bahkan merasa terheran-heran dengan kerikil yang terserak begitu saja di jalanan. Saya lupa itu. Saya tidak dapat lagi mengingat keindahan dunia, betapa ajaib sosok manusia yang memiliki semua panca indera dan dapat mencerap nyaris semua fenomena fisik di bumi. Sungguh ajaib, ketika manusia bahkan tidak dapat merasakan arus-arus darah yang mengalir dalam urat nadi mereka. Sungguh aneh memang, ketika manusia tidak dapat mendeskripsikan dengan tepat apa yang telah ditangkap oleh indera mereka. Itu artinya, setiap manusia memiliki persepsi sendiri mengenai alam sekitarnya, yang tidak dapat dideskripsikan keluar.

Saya mestinya sadar, bahwa keindahan dunia tidak tergantung dari keras-lembutnya kehidupan yang saya jalani. Ia mengada sendiri. Keluar begitu saja. Apapun yang mengelilinginya, tidak lebih dari dekorasi yang berusaha memalsukan keindahan sejati itu. Saya mestinya mengerti, bahwa saya hidup di tengah keajaiban, di bumi yang merupakan debu galaksi, di antara 100 milyar galaksi lainnya. Saya mestinya tertegun jika mengetahui bahwa alam semesta ini adalah cermin, di mana wajah tuhan yang sesungguhnya terpantul di sana. Saya mestinya dapat melihat keindahan di mata anak pengamen jalanan seperti mereka, dengan suara yang kadang hilang ditelan keangkuhan kendaraan orang berada. Begitu indahnya dunia ini. Bagaikan puzzle, di mana kitalah bagian dari puzzle itu. Tidak pernah manusia dapat melihat keindahan puzzle itu, kalau manusia belum keluar dari dalam puzzle itu, sejenak melihat dari pinggir. Bocah jalanan seperti merekalah yang terkadang jauh lebih saya butuhkan, daripada kotbah-kotbah pendeta yang semalam masih sibuk mengangkangi wanita, atau ceramah-ceramah ulama yang semalam masih asyik berfantasi dengan istri-istri mereka. Saya merasa bersyukur telah bertemu tuhan sekali lagi dalam hidup ini. Setelah mengucapkan terima kasih dan membayar bubur ayam, kami pun berpisah. Samar-samar, saya melihat Ujang, Udin, dan Dewi perlahan menghilang di bawah baliho besar sebuah parpol, yang dengan lantangnya mengatakan “Anti Korupsi dan Anti Maksiat !”.

~The Sophie’s World~
(Didedikasikan untuk bocah-bocah jalanan seperti mereka)