“waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan…” (Sapardi Djoko Damono)"Tuhan", Substansi Representative

Tuhan, sebuah kata yang dulunya tidak bermakna apa-apa. Maklum, sama halnya dengan kata lain, “tuhan” adalah tanda, semacam symbol formal terhadap sesuatu yang ditunjuk manusia. Charles Sanders Pierce, seorang filosof Perancis, mengatakan bahwa kata merupakan ekspresi dari logika formal manusia. Oleh karena itu, bisa jadi, karena keterbatasan linguistic, kata tidak mencerminkan fakta/realita yang ingin disampaikan sesungguhnya. Facta non verba. Tetapi, hebatnya lagi, predikat yang diberikan pada ‘tuhan’ inilah yang mencengangkan. Sebenarnya, ‘tuhan’ memiliki kedudukan sama dengan kata-kata yang lain, hanya saja, manusia –sebagai pemberi logika- telah memberikan ‘tuhan’ dengan predikat super dan terinstutisionalisasi. Tidak salah. Wajar saja, toh hakikat manusia memang selalu merasa tidak puas. Merasa ada yang lebih darinya. Inilah pangkal dari keberadaan ‘tuhan’ dan agama saat ini.

 Apa yang ingin saya bahas di sini adalah mengenai simbolisasi religious. Kalau saya lebih suka menyebutnya sebagai substansi representative, yaitu sesuatu yang mendefinisikan sesuatu yang lain, hingga terkadang makna sesuatu yang didefinisikan itu malah menjadi kabur.  Istilah kerennya adalah semiotika religious (Audifax. 2007. Semiotika Tuhan. Pinus). Apapun istilahnya, tetapi maknanya sama, yaitu (itu tadi) simbolisasi religious. Hal ini penting saya bahas, karena symbol dengan yang disimbolkannya itu bagaikan bayang-bayang dan benda realnya. Ironis, tidak banyak orang yang menyadari hal ini. Banyak orang yang terlibat konfrontasi tidak intelek hanya karena mempermasalahkan “bayang-bayang” itu. Katanya, bayang-bayang itu merupakan refleksi sejati dari esensi transenden. Tapi nyatanya ? Mereka meributkan bentuk bayang-bayang itu. Mereka lupa kalau matahari berevolusi. Tidak hanya diam di atas cakrawala saja. Aneh saja melihat tingkah mereka, bertengkar demi bayang-bayang padahal bayang-bayang itu sendiri musykil untuk bertengkar. Persis seperti yang dikatakan Sapardi Djoko Damono, “bayang-bayang tidak pernah meributkan siapa yang berjalan paling depan”. Manusialah yang selalu mempermasalahkannya, wong bayang-bayang saja tidak protes, koq manusia malah protes ?

Manusia suka sekali membuat setumpuk parameter dan definisi tentang bayangan dan benda real itu yang –katanya- universal. Jacques Derrida pernah mengatakan jika banyak parameter-parameter tadi dianggap memiliki validitas universal, padahal sejatinya masih banyak parameter itu yang tidak menangkap apa yang diharapkan seluruh manusia. Alih-alih, parameter tersebut malah mencekokkan setumpuk rules yang menguntungkan sejumlah orang dan merugikan orang lain –tergantung pada konteksnya-. Seharusnya, masih menurut Derrida, parameter-parameter itu harus mempunyai dimensi tambahan, yaitu semacam tanggung jawab di depan alteritas dan perbedaan, apa yang melampaui batas-batas deskripsi, terpencil, dan sunyi. Ini berarti harus mengartikulasikan tuntutan universalisme yang diasosiasikan dengan pencerahan. Pada akhirnya, ini akan memulihkan penglihatan manusia –yang semula kabur karena “katarak”- sehingga ia mampu melihat entitas sejati di balik bayang-bayang itu, bukan hanya substansi representative belaka.

Tuhan sebenarnya, hanyalah symbol, atau semiotika (bagi beberapa kalangan), atau substansi representative (istilah saya) yang semuanya berhulu pada sosok transenden berupa logos, yaitu entitas absolute yang diberikan predikat takterbatas oleh keterbatasan (manusia).  Dalam perkembangannya, manusia telah mencoba menuhankan (memberikan predikat takterbatas) berbagai hal dengan segala derivasinya, mulai dari Allah SWT, Yesus, Nabi, Budha, rasio, akal budi, atom sederhana, bahkan ego manusia. Hasil pemberian predikat ini akan menjadikan –tuhan yang semula transenden-, tuhan yang imanen dan sangat personal sangat tergantung representasi manusia. ‘tuhan’ yang banyak beredar di khalayak umum, ya ‘tuhan’ imanen ini; yang terdikotomi dari ‘tuhan’ transenden. ‘tuhan’ imanen, sangat manusiawi. ‘tuhan’ yang memiliki preferensi terhadap gender tertentu, ‘tuhan’ yang macho dan patriarchal, atau ‘tuhan’ yang memiliki segenap sifat taklangsung manusia.  Umumnya, pemikiran logosentris ‘tuhan’ imanen semacam ini merupakan konformitas dengan perkembangan social, budaya, serta keyakinan suatu komunitas. Idealnya, hal ini terbentuk oleh kombinasi iman dan akal, yang lebih sering didominasi oleh akal. Di sinilah, proses kritis-evaluatif sangat diperlukan. Sejatinya, kita mesti menilai posisi eksistensi dari subjek penilai dan pengevaluasi nilai tersebut –yang memang berperan sebagai parameter baku bagi nilai dan dipergunakan sebagai fondasi nilai-.

Saya berpendapat, jika symbol religiusitas perlu dibaca dan dikaji ulang atas entitas yang dilekatkan manusia pada sosok transenden dan ilahi itu. Mustinya, fenomena kehadiran tuhan dan manifestasi tidak sekedar dibaca sebagai symbol (tanda dalam semiotika), melainkan lebih kepada penekanan maknanya. Tetapi, masalahnya, ‘makna’ mengandung berbagai macam gagasan kompleks manusia, mulai dari pluaritas, konstelasi, suksesi rumit yang malah sering terjebak dalam ruang ambiguitas dan ambivalensi. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya melakukan intrepretasi atas symbol itu. Mungkin sebagian orang mengatakan jika symbol itu bermakna a, sedangkan yang lain bermakna b, dan yang lainnya malah mengatakan symbol itu di luar ranah a dan b. Tetapi, di balik makna yang beranekaragam itu, malah tersimpan banyak hal penting saat proses penginterpretasiannya. Maksud saya adalah sebagai berikut, ketika Anda membaca sebuah kata ‘mati’, lantas apa yang terlintas di benak Anda pertama kali ? Sebagian besar akan menjawab, jika ‘mati’ yang dimaksud adalah mati fisik –nyawa terlepas, tubuh lemas, dan tidak bernafas-. Nah, sekarang, coba Anda pergi merenung sebentar, lalu pikirkan pertanyaan saya berikut, “Berapa kali Anda sudah mati selama ini ?”. Nah, apa yang terpikir di benak Anda ? Anda bingung ? Pasti yang pertama kali Anda lakukan adalah mempertimbangkan kembali makna ‘mati’ itu. Dan mungkin –sekali lagi mungkin, tergantung keterbukaan pikiran Anda-, Anda akan menemukan sebuah arti baru. Hingga pada suatu titik, di mana Anda akan menemukan banyak persamaan dari makna ‘mati’ yang telah Anda pikirkan selama ini. Intinya adalah pada pembacaan ulang gagasan akan makna kata itu. Makna sebuah kata akan sangat tergantung pada kekuatan pikiran orang yang menguasai kata itu. Semakin dangkal kekuatan pikiran manusia, maka semakin sedikit pula pemahamannya akan makna kata itu. Dan inilah poin masalah saya, sebuah substansi representative akan memiliki arti tergantung dari kemampuan pikir orang yang menguasainya. Maka, sebenarnya saya tidak heran, ketika orang hanya mampu menjawab berbagai macam pertanyaan controversial saya berdasarkan dogma yang sudah ada sebelumnya. Ini sebenarnya cukup menjelaskan kemampuan berpikir mereka yang masih dangkal, belum bisa memaknai kata dengan lebih bermakna.

Sulitnya membedakan ‘sesuatu’ dari kata yang disusunnya telah menjadi perdebatan panjang dalam dunia filsafat. Manusia mampu berbicara tentang ‘sesuatu’ dan mengetahui ‘sesuatu’ berdasarkan kata / symbol. Dalam hal ini, berarti manusia telah mengganti ‘sesuatu’ dengan kata/symbol yang telah disesuaikan dengan ‘sesuatu’ pula. Masalahnya, kita jadi semakin buyar dengan esensi dari sesuatu itu. Contohnya adalah esensi dari ‘mati’. Apa yang tergambar dalam pikiran manusia belum pasti dapat tergambar jelas oleh kata ‘mati’ itu. Sama halnya ketika ‘mati’ disimbolkan dengan gambar tengkorak atau kuburan. Semua itu belum berarti bahwa ‘mati’ dapat full represented by kata/symbol yang disusun oleh akal-budi manusia. Dasar pemikiran inilah yang menyebabkan Charles Sanders Pierce, bapak semiotika modern, untuk mengembalikan ‘sesuatu’ itu ke dalam ‘sesuatu-dalam sesuatu itu sendiri-. Tetapi di luar itu, apa yang telah diterima sebagai sebuah symbol dapat diterima tanpa harus melalu sebuah perenungan. Misalnya, kebenaran Alquran/Injil yang diterima mentah-mentah sehingga mereka meyakini hal-hal di dalam situ sebagai sesuatu yang sacral dan holistic. Sebaliknya pula, orang dapat menginterpretasikan hal-hal di dalam situ sebagai pembenaran atas pembunuhan atau tindakan tidak rasional (seperti mencemooh blog saya, mengancam untuk membunuh saya, dll). Ini semacam melakukan pembacaan terhadap pemaknaan suatu kata secara berulang dan pendekonstruksian ‘Derrida’ untuk merombak ulang paradigma yang kita pegang selama ini. Rekognisi terhadap peran apparatus simbolik dalam aktivitas manusia selama ini telah mendasari berbagai macam cabang ilmu, sialnya, bahkan pendefinisian symbol yang selama ini saya jabarkan pun tidak memuaskan diri saya. Karena apa yang saya tuliskan di sini adalah bentuk kata-kata yang sepenuhnya juga merupakan bagian dari symbol itu sendiri. Semacam symbol dalam symbol. Oleh karena itu, saya tidak selalu terpaku pada kata-kata, karena sejatinya apa yang saya maksud sulit untuk saya utarakan dalam symbol/kata-kata. Itu hanya merupakan penggeseran realitas dari apa yang direpresentasikannya. Saya jadi teringat perkataan Syekh Siti Jenar kepada Sunan Bonang: "Sudahlah, Pak. Kita ini cuma sok tahu saja tentang ALLAH. Nyatanya, kita berdua belum pernah bertemu ALLAH. Apa yang kita anggap ALLAH selama ini tidak lebih dari namaNya belaka. Kita mengatasnamakan ALLAH dan berdebat atas nama ALLAH, padahal kita belum juga melihatNya. Jujurlah Bonang ! Siapa yang akan kau tipu? Dirimu sendiri? " (Saya agak lupa perbincangan aslinya, yang pasti akhirnya Siti Jenar berakhir di tiang gantungan…)

~The Sophie’s World~