orang minang suka mengigau tentang ‘mambangkik batang tarandam’
alias mengulangi kejayaan di masa lalu

imho,
orang minang akan kembali sedikit menjadi kaum yang disegani,
jika menauladani tokoh-tokoh yang suka mereka banggakan di masa lalu,
hatta, sutan sjahrir, tan malaka, etc.
yaitu membuka cakrawala fikirannya,
berfikir secara rasional,
berani melawan adat dan kebiasaan yang sudah tidak cocok dengan
jaman, dan yang membelenggu kemajuan zaman itu sendiri,
namun toleran;

orang-orang minang pada awal abad lalu hingga pertengahan abad,
banyak berada di baris depan,
karena ilmu pengetahuan yang mereka miliki,
dan keberanian mengkritisi adat, kepercayaan, dan kebiasaan yang menghalangi kemajuan,
entah sutan takdir alisjahbana, chairil anwar, hatta, tan malaka, sjahrir, etc.

jangan lupa tokoh-tokoh yang kita sebutkan sebagai tokoh besar minangkabau di masa lalu,
kebanyakan mengasah kepala mereka dengan ilmu dari luar khususnya ilmu ‘barat’,
banyak dari mereka sekolah ke belanda;

jauh sebelumnya era sutan takdir, chairil anwar, tan malaka, hatta, m yamin,
agus salim, muh natsir, etc.
meski kontroversial, tuanku imam bonjol juga melakukan hal yang sama,
merevolusi kebiasaan kaum minangkabau yang menurutnya tidak cocok dengan ajaran baru,
yaitu ajaran islam dari kaum arab di timur tengah,
yang menurut sang tuanku lebih tepat dari ajaran ada,
dan membawa nilai-nilai kemanusiaan yang lebih maju;

namun, kini orang minang tampaknya telah melupakan para nenek moyangnya,
orang minang kini adalah orang-orang yang pemalas,
kaum yang penakut,
yang tidak berani membuka mata,
tititnya kecil, tidak punya nyali membuka pintu pagar,
lalu melangkah keluar dari kerangkeng fikiran yang mereka percaya,
mereka umumnya menelan bulat-bulat apa yang disampaikan para datuk-datuk, ulama-ulama, walikota, gubernur, etc;

dan mereka, orang minang itu, dengan kebebalan, ketololan, serta keongokannya,
berbondong-bondong mencaci maki orang-orang yang mencoba membukakan kerangkeng bagi mereka;

selama orang minang itu terus meringkuk dalam tempurung kepicikan itu,
dan berpura-pura cerdik dalam ketololan yang bego itu,
maka tidak ada cerita tentang membangkit batang terandam;
karena orang minang itu tititnya memang kecil.