Jusuf Kalla (JK) akan pecah kongsi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Petinggi partai Golkar sepertinya tersinggung dengan ulah seorang petinggi partai Demokrat dan memutuskan untuk mengusung JK menjadi presiden dalam pilpres 2009. Bagaimanakah peluang JK?

JK adalah cerminan pemimpin dengan keterampilan teknis tinggi yang sangat menguasai banyak persoalan. Ketika tampil di kalangan intelektual, beliau selalu tampil memukau dan menjawab setiap pertanyaan dengan tangkas, lugas dan jitu. Dalam hal ini beliau satu tingkat lebih baik dibandingkan SBY.

Dulu jaman Orde Baru, Pak Harto terlihat sangat menikmati dialog dengan petani. Setiap pertanyaan petani selalu dijawab dengan tangkas dan lugas oleh Pak Harto. Beliau seperti bernostalgia dengan masa lalunya yang dibesarkan dalam lingkungan petani.

Begitulah yang terjadi dengan JK saat ini. Ketika tampil di kalangan kelas menengah dan kelas atas manapun, JK selalu tampil prima dan mengesankan. JK memang dibesarkan dari kalangan kelas atas, keluarga pedagang besar dari Makassar. Dan untuk jaminan kemampuan intelektual, JK pernah bersekolah di INSEAD, sekolah bisnis internasional di Perancis.

Gaya JK yang menekankan keterampilan teknis sangat penting bagi dunia politik Indonesia saat ini. Politikus Indonesia kebanyakan berasal dari orang-orang yang sangat aktif di organisasi, namun kurang berpengalaman dalam hal-hal praktis. Akibatnya banyak politikus berbicara dalam bahasa tinggi, bahasa normatif yang berisi visi-visi melambung setinggi langit, namun tanpa substansi dan kejelasan cara mewujudkannya.

JK sangat berbeda dengan politisi yang membosankan itu. Saya masih ingat ketika itu menjelang pilpres tahun 2004. JK tampil di televisi dalam suatu acara dialog. Dengan gayanya yang lugas JK memukau penonton ketika menerangkan secara teknis tidak berlakunya lagi asumsi angka yang lama mengenai hubungan pertumbuhan ekonomi dengan penyerapan lapangan kerja. JK sangat menguasai masalah praktis dan detail dalam membangun bangsa.

JK juga sangat pragmatis. Terlihat bagaimana beliau dengan kepala dingin mampu mendorong penyelesaian persoalan Aceh, yang dalam kacamata TNI adalah kekalahan pemerintah terhadap GAM. Namun penyelesaian pragmatis ini terbukti menenangkan wilayah Aceh dari kekacauan perang.

Sikap pragmatis ini juga mendorong kontroversial ketika beliau seperti menghalalkan penggunaan pesona wanita Indonesia untuk menarik wisatawan dari Timur Tengah ke Puncak. Tentu saja pandangan ini menimbulkan kontroversi.

Soal ini JK memang jelas salah, karena mengungkapkan hal ini secara verbal. Tapi serangan kepada JK terhadap kesalahan ini relatif kecil bahkan tidak berarti. Ini sekaligus menunjukkan JK memiliki kemampuan sebagai pemimpin 'teflon'. Pemimpin yang melakukan kesalahan, tapi kesalahan itu tidak menempel kepadanya.

JK adalah wakil presiden, jadi tidak memiliki tanggung jawab penuh dalam pemerintahan. Walaupun demikian kita bisa mencatat beberapa kelemahan JK, dari berbagai kegiatan dan dialog yang dilakukannya.

Menurut saya, beberapa kelemahan JK adalah (i) memliki pandangan yang salah dalam hal  daya saing bangsa dan (ii) kurang fokus mengurus suatu produk secara komprehensif.

Dalam dialog antara pengusaha dengan partai Golkar, seorang penanya mempermasalahkan penurunan daya saing produk Indonesia. JK menjawab tidak ada masalah dengan daya saing Indonesia, karena tetap ada beberapa komoditi Indonesia yang mampu bersaing di pasaran internasional.

Ini sebenarnya jawaban pedagang. Indonesia adalah bangsa kelas rendah dalam urusan nilai tambah produk. Tahun 2007 Indonesia menempati peringkat kedua terbawah dari 55 negara dan terendah di antara negara ASEAN. Daya saing Indonesia terus merosot dari tahun 2002. Total produktifitas bangsa Indonesia adalah seperlima dari pencapaian Malaysia. Ini berarti pekerja Indonesia masih mengandalkan tenaga fisik, sementara pekerja Malaysia sudah mulai menggunakan otak.

Ini adalah masalah besar bangsa. Tanpa penguasaan teknologi, daya saing produk Indonesia akan rendah dan mengurangi potensi penyerapan tenaga kerja. Untuk itu perlu perhatian khusus kebijakan 'link and match' antara dunia pendidikan dan industri. Sekali lagi ini bukan 100% kesalahan JK. Di tataran nasional hanya Pak Habibie cs yang cukup memberi perhatian pada masalah ini.

JK juga tidak pernah mendorong kebijakan untuk fokus pada sedikit produk unggulan yang harus diurus secara serius dan komprensif oleh pemerintah. Seperti yang ditulis oleh Khudori pengamat masalah pertanian, saat ini Indonesia memiliki 300 produk pertanian yang akan dikembangkan, sementara Malaysia cuma 6 produk. Dan Malaysia sukses, sedangkan Indonesia tidak. Indonesia hanya bergantung pada produk komoditi, bukan pada produk jadi. Dan sejarah harga komoditi menunjukkan nilai tukar komoditi cenderung terus menurun, sementara produk jadi cenderung naik ataupun stabil.

Ini adalah beberapa hal penting yang luput dari perhatian JK.

* * *

Untuk maju sebagai calon presiden, masalah terbesar JK adalah soal 'presidential look'. JK kurang memiliki penampilan presiden untuk sebuah negara sebesar Indonesia. Secara fisik JK berperawakan sedang. Dan JK termasuk 'cuek' dalam masalah penampilan. Kalau dibandingkan dengan penampilan SBY, JK kalah jauh.

Masalah tinggi badan juga akan menghalangi keberhasilan JK untuk maju sebagai presiden. Masalah yang sepertinya sepele ini ternyata berpengaruh dalam pemilihan presiden. Paling tidak ini dibicarakan secara luas di Amerika Serikat (AS).

Dalam debat pertama antar calon-calon presiden partai demokrat untuk pilpres 2008 di AS, Dennis Kucinich tampil sangat menonjol. Dia memiliki visi yang jelas, berpikiran tajam dan tangkas menjawab berbagai pertanyaan. Kelemahannya cuma satu, yaitu tinggi badannya cuma 1.68 m. Pembawa acara terkenal dari CNN, Larry King yang terpesona dengan kecerdasan Kucinich, sempat berujar: “ah andai saja Kucinich memiliki tinggi badan 1.88 m.”

Berbagai upaya telah dilakukan, bahkan Kucinich mengatakan ini adalah kontes pemilihan presiden, bukan 'American Idol'. Namun publik, terutama partai Demokrat, enggan menampilkan calon presiden yang bertubuh pendek yang sebenarnya luar biasa ini.

Sejak era televisi dalam pemilihan presiden, rakyat AS hampir selalu memilih presiden yang lebih tinggi daripada tinggi badan rata-rata orang AS. Rata-rata tinggi badan rakyat AS untuk data tahun 2005 adalah 1.76 m. Dan sejak John F Kennedi hanya satu orang presiden AS yang memiliki tinggi badan di bawah 1.80 m, yaitu Jimmy Carter.

Dalam pertarungan antar partai, presiden dengan tinggi badan lebih, hampir selalu memenangkan pemilihan. Terakhir Presiden Barack Obama yang memiliki tinggi badan 1.87 m mengalahkan  lawannya John Mc Cain yang memiliki tinggi badan 1.75 m.

Malcolm Gladwell dalam bukunya 'Blink', memberikan ulasan menarik bagaimana kita bisa terpesona ataupun tidak karena penampilan ini. Ada tes yang disebut Implicit Association Test (IAT) yang dirancang oleh Anthony G. Greenwald, Mahzarin Banaji dan Brian Nosek. Tes ini intinya kita membuat hubungan secara jauh lebih cepat antara pasangan gagasan yang sudah tertanam di dalam benak kita dibandingan dengan pasangan gagasan yang telah akrab.

Pasangan gagasan kepemimpinan dengan gagasan orang yang gagah, orang yang memiliki postur tubuh tinggi sudah tertanam akrab dalam benak kita. Kita cenderung lebih menyukai dan mempercayai orang yang bertubuh tinggi untuk memimpin diri kita. Ini mungkin pikiran bawah sadar yang diturunkan dari nenek moyang kita ketika kehidupan sangat bergantung pada kekuatan fisik dalam menghadapi tantangan alam.

Tidak hanya untuk pemerintahan, dalam bisnispun, survey menunjukkan 58 persen CEO Amerika di perusahaan Fortune 500 mempunyai tinggi  lebih dari 1.80 m.

* * *

Pemilihan presiden memang bukan kontes idola. Namun bukti menunjukkan faktor tampilan fisik di jaman visual ini sangat menentukan. Pada pemilihan presiden tahun 2004, SBY bukanlah calon yang paling hebat, paling cerdas, paling pas untuk menjadi presiden di jaman reformasi. Amien Rais, sebagai bapak reformasi, lebih tepat dan lebih berhak. Tapi SBY, selain Wiranto, adalah presiden dengan tampilan fisik yang paling sempurna.

Memang ada contoh sukses pria dengan tubuh pendek yang berhasil mengalahkan pria jangkung. Tahun 1976, Jimmy Carter dengan tinggi badan 1.75 m berhasil mengalahkan presiden memegang menjabat saat itu, Gerald Ford, yang bertinggi badan 1.85 m. Walaupun kemudian Carter dikalahkan Ronald Reagan yang bertinggi badan 1.85 m.

Jadi sebelum menentukan calon, ada baiknya partai Golkar mulai memperhitungkan masalah penampilan fisik ini. Kalaupun masih tetap mau mengusung JK, partai Golkar sebaiknya berdoa agar JK mengikuti jejak nasib Jimmy Carter.

* * * * *