Bandung 22 Februari, 2009  Tanpa terasa, tepat 50 tahun sudah saya tinggal di kota Bandung. Rentang waktu yang cukup lama untuk mengikuti perkembangan kota, budaya dan kehidupan insan ibukota Provinsi Jawa Barat ini. Namun, sampai hari ini saya toh tidak berhasil menemukan latar belakang penamaan Bandung sebagai Parijs van Java. Mengapa dipersamakan dengan kota Paris? Apanya yang sama? Walahualam.
Saya mencoba memaparkan sekelumit pandangan tentang perkembangan kota Bandung, kota yang dahulu kala juga dikenal sebagai penghasil pil kina. Bak pil yang pahit, diselaputi gula, maka tulisan ini diawali dengan the bad side. Kemudian diikuti the better side. Maksudnya supaya tidak terkesan terlalu pesimistik, gitu.

Selama kurun waktu 1959 sampai sekitar 1970an, hawa kota Bandung terasa lebih dingin. Para kawula muda yang berkendara sepeda hampir selalu mengenakan baju hangat. Yang bersepeda motor membutuhkan jaket yang di bagian dada dilapisi koran sebagai windbreaker. Leher dililit dengan syal penghangat. Kalau menonton bioskop, kami selalu membawa lap untuk mengeringkan sadel yang basah kuyup oleh embun malam. Itu sesuatu yang sangat lazim pada waktu itu. Rupanya penghangatan global telah merobah semuanya. Hari ini, pada hari-hari tertentu, di siang hari kota Bandung bisa sangat panas, sekitar 35-37 derajat Celcius. Sungguh tidak terbayangkan 50 tahun yang lalu.

 Perkembangan fisik kota Bandung sudah mencapai titik yang sangat memprihatinkan. Mengapa ? Dengan kasat mata dapat kita lihat betapa semua pembangunan fisik tidaklah didasari suatu master plan. Kalau toh ada master plan yang memadai, pelaksanaan di lapangan sudah menyimpang jauh. Semuanya tergantung kepada pertimbangan dan kepentingan kekuasaan, finansial dan komersial jangka pendek belaka. Saya menyaksikan betapa para pakar planologi alumni ITB merasa sangat terpinggirkan karena gagasan penataan ruang sumbangsihnya diabaikan begitu saja. Pembangunan berjalan terus tanpa mengindahkan tata ruang dan ekologi. Ekologi? Hewan apa itu? Bandung utara terus dibangun, dijadikan area pemukiman. Para pakar hidrologi meramalkan cekungan kota Bandung terancam defisit air di masa yang tidak terlalu lama lagi. So what? Who cares?

 Sudah menjadi pameo di kota Bandung, ganti walikota, ganti alun-alun dan trotoar. Apa pasal? Penduduk kota Bandung menyaksikan pada setiap pergantian walikota baru, maka proyek pertama yang dilaksanakan adalah perombakan alun-alun di tengah kota, dan penggantian trotoar. Seperti proyek wajib, agaknya. Alun-alun dibongkar pasang sampai tidak menyisakan sejengkal tanah pun hari ini. Pada tahun 2007/2008, tanggul pendek pemisah jalan di Jl. Dago (sekarang Jl. Djuanda) yang masih terlihat kokoh dan baik, juga dibongkar seluruhnya.

Yang paling sedih adalah para pelestari gedung-gedung tua bernilai historik yang tergabung dalam wadah Bandung Heritage Society. Para pendekar cagar budaya ini terpana menyaksikan dari hari ke hari tumbang dan musnahnya bangunan-bangunan yang sudah mereka perjuangkan untuk dilestarikan. Pada awalnya para penguasa terkesan sepertinya mendukung prakarsa ini. Namun, agaknya uang lebih berkuasa. Semua komitmen dan dedikasi luntur dibuatnya. Gedung Singer (1930) yang terkenal di Simpang Lima diruntuhkan tanpa ada yang bisa mencegahnya. Wisma Siliwangi di Jl. Ciumbuleuit (1930) dengan halaman yang luas dan asri telah didaftarkan sebagai bangunan yang dilestarikan. Hanya dalam satu malam saja, seluruh bangunan lenyap dan sudah rata dengan tanah keesokan harinya. Hebat nian! Gedung Permorin (1924) di Jl. Braga, dahoeloe Fuchs & Rens, sudah lenyap. Saya sungguh prihatin dalam waktu tidak terlalu lama bangunan bersejarah kota Bandung hanya akan tinggal cerita belaka. Kota Bandung hanya pandai membangun yang baru, tapi sama sekali alpa melestarikan dan merawat yang lama. Hari ini, penduduk kota Bandung ingin berkata: enough is enough. Hati saya bersama para pejuang pelestari cagar budaya kota Bandung. Tetaplah pelihara semangat, jangan sampai padam, sebab kami sudah tidak punya siapa-siapa lagi.

Bandung identik dengan Braga dan Dago. Bagaimana keadaan kedua jalan terkenal itu hari ini?

 Di tahun 50-an, di sepanjang Jl. Braga berderet pertokoan kelas atas. Rahayat dan para kawula muda di jaman itu hanya bisa mondar-mandir melototi semua barang yang diperagakan di balik kaca. Dengan gaya keblanda-blandaan, diberikanlah sebutan ‘Bragaderen’ bagi kegiatan lalu-lalang depan toko ini. Sampai-sampai orang Jakarta pun datang untuk mencari produk-produk langka yang ditawarkan di Braga. Sungguh bergengsi bila bisa berbelanja di Braga. Namun, perobahan jaman tidak berpihak kepadanya. Lambat tapi pasti, Braga kehilangan competitive edge yang dimilikinya, dan menyerah kepada pendatang dan pemain baru yang bernama department stores dan malls yang bermunculan. Hari ini, Braga praktis sudah mati. Berbagai upaya tambal sulam tanpa konsep yang mantap telah dilakukan tanpa hasil. Braga tetap saja mati.

Jaman doeloe, Jl. Dago merupakan tempat pemukiman kelas elite yang asri, sepi, adem dan nyaman. Rumah-rumah berarsitektur gaya Belanda tahun 1930an menghiasi jalan ini. Jaman telah merobah segalanya. Jl. Dago kini telah menjadi pusat komersial baru. Didominasi oleh hadirnya puluhan factory outlets, kemudian diikuti oleh sederetan kegiatan pendukung seperti restoran, hotel, bank, dll. Bandung yang menjadi pemasok tekstil dan produk tekstil, telah mengekspor ke pasar internasional. Busana jadi bermerk terkenal diproduksi di Bandung. Pada awalnya, factory outlets ini menjadi tempat menyalurkan produk-produk yang gagal memenuhi standard mutu ekspor. Karena ternyata sangat laku, maka para produsen ini kemudian sengaja memproduksi produk yang dijual melalui factory outlets. Perkembangannya sungguh di luar dugaan. Bukan hanya Jl. Dago yang dipenuhi factory outlets, tetapi juga Jl. Cihampelas, Jl Riau (sekarang Jl Martadinata) dan banyak lainnya. Luar biasa.

Dibukanya jalan tol Cipularang pada tahun 2005, telah membuat perjalanan darat Jakarta ke Bandung dapat ditempuh hanya dalam dua jam saja. Penduduk Jakarta berduyun ke Bandung di akhir pekan. Apalagi di akhir pekan panjang, kota Bandung terasa sesak dan pengap. Tak dapat disangkal, hadirnya orang Betawi ini memang sangat membantu memutar roda perekonomian kota Bandung. Tapi bagi sebagian penduduk lagi, kehidupannya terasa sangat terganggu. Macet, macet dan macet. Rasanya ingin meniru para penduduk Santa Barbara, kota dekat Los Angeles, yang di akhir pekan dibanjiri manusia dari Los Angeles. Sebelum memasuki kotanya, mereka memasang banner: “LA, Go Away”.

Lho kok kina melulu sih? Mana gulanya? Sabar sedikit. Pil kina kan pahitnya yang banyak? Selaput gulanya cukup tipis saja. Dengan begitu kita menyisakan ruang untuk perbaikan. Itulah tujuan penulisan ini.

Saya menggolongkan diri saya sebagai ‘tukang makan enak’, tetapi saya sungguh tidak menyadari sewaktu para teman begitu sering nyeletuk: ‘Wah, di Bandung banyak makanan enak ya’. Di benak saya, ah biasa-biasa saja. Yang enak itu kan adanya di Kelapa Gading dan mall di Jakarta. Mungkin saya dihinggapi penyakit: the grass is greener blah blah blah. Setelah lebih mengamati, eh memang betul, Bandung itu makanannya enak-enak. Yang perlu diacungi jempol adalah kreativitas orang Bandung. Mereka kreatif dalam menampilkan dekorasi tempat makannya. Desain. Warna. Nuansa. Ambience. Mereka kreatif dalam mengemas sajian makanannya. Kini bermunculan restoran makanan Sunda yang menampilkan sajian yang lain daripada yang lain. Tamu tinggal memilih aneka hidangan yang disajikan di wadah tradisional yang sangat menarik. Resto semacam ini berkembang pesat dan bermunculan di kota Jakarta dan Surabaya. Kota Bandung menjadi acuan bagi para pendiri resto baru di kota-kota besar lainnya.

Di bidang fashion atau mode, sepertinya Bandung juga punya peran yang penting. Begitu juga di bidang arsitektur. ITB dan Universitas Parahyangan telah mencetak arsitek-arsitek kondang. Di bidang seni, baik itu seni lukis, pahat, musik dll, Bandung sudah lama dikenal sebagai pemasok seniman bermutu dan produktif.

Muncullah pertanyaan, masihkah kota Bandung itu Parijs van Java?

Jaman dulu saja, penyamaan kota Bandung dengan kota Paris mengherankan saya. Apalagi hari ini.

Iklan