Tag

 Beruntunglah orang yang tinggal di Bandung. Lantaran setelah sekian lama saya memburu sosok Allah, saya menemukan esensi Dia di sebuah angkot yang saya naiki dari depan stasiun kereta api menuju daerah Sukarno-Hatta.

Nama Allah tertera di sebuah pajangan sejenis gantungan kunci terbuat dari kayu berayun-ayun dibawah kaca spion mengikuti irama angkot yang kadang me-rem mendadak membuat sang Allah membentur windshield. Kadang juga Allah terpelanting ke kanan kiri lantaran sang supir tidak perduli mengemudi di jalan paling berlubang sekalipun. Nama supirnya saya tidak tanya. Uang kumal ribuan dia tumpuk secara tidak rapi di pojok dashboard campur baur dengan uang logaman seratus atau lima ratus perakan. Wajahnya jelas terlihat sangat lelah. Mulai narik angkot sejak pukul 6 pagi. Tapi di hari yang menjelang sore, di antara ketiak jalan di kota Bandung yang padat dan sempit itu,sang supir tetap berlaku ramah. Kerah bajunya kumal memang. Tapi personalitynya tetap sebening kaca.

Menyaksikan nama Allah bergerak kiri kanan di dalam angkot Bandung. Dia seperti sebuah bandul ditangan seorang hipnotisian. Pelan dan samar sebuah kesadaran baru muncul setelah saya begitu lama didera pertanyaan mengapa alam dan manusia Bandung begitu ramah. Kini saya yakin legenda mengenai taman Eden di Bible atau taman firdaus di Quran, bukan diciptakan Allah di Irak atau di langit  sana tapi di tanah Pasundan. Jalan di sini memang kadang bermacetan, tapi jarang saya menemukan orang yang cepat naik darah. Tutur kata mereka bagaikan sebuah symphony. Bahkan pak polisi yang seharusnya bertampang angker, di sini mereka cuma another asep or ujang yang kebetulan berseragam coklat dibayar negara.

Allah atau sang Gusti Allah memberkahi tanah Sunda. Lalu dia menempatkan kreasinya yang terbaik di kota Bandung. Jelas tidak semua Sunda itu sama. Imam Samudra misalnya memang orang sunda tapi dia orang Banten bukan dari Paris Van Java. Orang Sukabumi bukan pure pasundanese, mereka adalah orang sunda pinggiran. Dan orang Bogor? Mereka tidak lain adalah orang Depok yang menyamar dan dengan seenaknya saja mengaku sebagai titisan dari Prabu Maharaja Lingga Buana. Penguasa tanah Parahyangan. yang konon pernah dikhianati Mahapati Gajah Mada.

Sosok Allah seperti bandulan di dalam angkot jurusan entah kemana itu – juga yang mungkin membuat orang Bandung seperti Mat Kopling yang di internet terkenal berlagak cowboy sangar yang  tidak pernah mau berkompromi, ketika ditemui aslinya bertutur lebih halus dari bahasa kromo inggil. Wajahnya  yang tidak menunjukan wajah psikopat cenderung ganteng. Perilakunya bak malaikat. Di bawah langit Bandung yang basah, dia mau bersusah payah menyediakan waktunya untuk menjemput saya, seorang yang pernah memaki dia sebagai seorang idiot kampungan, lalu menjajani saya makan sop buntut terenak sejagad raya di di kawasan Cipaganti. Air mukanya bak air muka nabi nabi ( serius, ini bukan lantaran saya dijajanin dia ), Istri dan anaknya di foto nampak cantik. Hidupnya nampak penuh dan kelihatan happy. Jika Allah adalah Tuhan Bapak, Mat Kopling tentu adalah  sang Jesus. Dia membalas kebringasan saya selama ini dengan budi pekerti sunda yang lebih halus dari benang-benang sutra. Dia adalah mata air kesantunan. Sialnya lantaran kebaikan Mat Kopling saya jadi merasa begitu punya salah banyak pada dia. Tapi lantaran darah Minang saya yang arogan itu mungkin yang menghentikan diri ini untuk secara jantan meminta maaf pada dia.

Berbahagialah orang orang Bandung. Makanan mereka buatan surga. Perempuannya geulis-geulis. Allah berayun-ayun di bangku depan angkutan kota kecil jurusan entah kemana. Dianugrahi malam malam tanpa gerah. Dikelilingi gunung-gunung yang nampak hijau dan asri. Jujur, walaupun saya tetap tidak mempercayai Allah sebagai menifestasi ketuhanan, saya tetap percaya jika Allah itu benar ada, sekali lagi jika…dia pastilah orang Sunda.

ps : thanks a lot Mat Kopling!

February 21, 2009

Habe