This is story about a father.
My father.
But it might be your story too.

Coz, in every son,
There is always a foot print of their fathers.

Either we like it or not,
Thankful for it
or not.

* * *

Saya berasal dari keluarga yang cukup kaya. Tidak cukup miskin pula alhamdulillahnya. Tidak cukup miskin untuk makan nasi aking misalnya. Tapi cukup sederhana sampai uang sekolah bulanan –yang atas kebijakan sekolah, dan atas permohonan keringanan sudah dikorting– masih jadi satu hal yang selalu bikin pening orang tua saya.

Bikin pening, tapi masih mending. Karena ribuan atau bahkan jutaan orang tua lain tidak pernah merasa pening yang demikian, justru karena sejak awal anaknya tidak disekolahkan. Karenanya saya beruntung memiliki orang tua yang bersedia berpening-ria. Dan –mungkin– lebih beruntung lagi, karena mereka bersedia membagi rasa peningnya dengan saya.

Tapi saat merasakannya dulu, tentu saja saya tidak merasakannya sebagai sebuah keberuntungan. Ndak lah. Karena tidak pernah mudah untuk anak SD atau SMP menyetel muka memelas dan menghindari keinginan berbohong mengarang seribu satu alasan saat menghadap Kepala Sekolah atau petugas Tata Usaha. Apalagi untuk anak SMA yang sudah bisa nonjok orang TU yang saat-saat awal bulan selalu terasa jadi sosok paling petakilan.

Yang lebih menyebalkan buat saya kala itu, kalau tahu awal bulan bapak saya dapet rejeki lebih, tapi ibu kemudian memberitakannya dengan seulas senyum sedih.

"Kamu bayar uang sekolah nanti ya. Uangnya sama bapak dikasih ke si anu…"

Sekali, dua kali, dan entah berapa kali karena terlalu sering terjadi. Selalu ada saja si anu, si inu, si inul, si bob kibul, atau siapa saja yang ketiban sial dan datang sama bapak bertepatan dengan saat-saat ia punya rejeki lebih. Dan bapak selalu memberi tanpa mikir anaknya belum bayar uang sekolah, masih nunggak bulan kemarin, atau bahkan bulan kemarinnya lagi.

"Kasihan orang lagi susah. Kita nanti bisa dapat lagi"

Itu jadi kata-kata sakti yang saya paling benci. Saat itu.

Dan perkara begitu bukan cuma soal uang. Saat SMA, pernah bapak tiba-tiba merelakan sepeda motor yang sedianya saya pakai sehari-hari untuk sekolah, dan dipinjamkan sama bapak-bapak yang tiap hari mengantar koran ke rumah. Gara-garanya dia datang lebih siang, lalu saat ditanya cerita sepedanya rusak, dan ia jadi jalan kaki.

Mantepnya, si tukang koran melenggang pergi, dan saya yang jadi jalan kaki ke sekolah.

"Kasihan orang lagi susah."

Dan lagi-lagi itu kata-kata sakti yang terucap. Membuat saya ingin menjawab dengan nada keras, "Bapak lupa. Kita orang susah."

* * *

Itu terjadi bertahun-tahun lalu.
Dan itu terjadi bertahun-tahun kemudian.

Saat dewasa saya sering menemukan diri saya tiba-tiba terbujur kelelahan. Akibat pulang jalan kaki, karena di jalan ketemu kakek-kakek atau ibu-ibu –yang mungkin menipu– bilang nggak punya ongkos, atau seribu satu cerita yang saat-saat mengingatnya lagi, saya sudah tak bisa cerna lagi mana ujung-pangkalnya, apalagi kebenarannya.

Atau saat lain, terpekur kebingungan, lalu serabutan, cari pinjam sana-pinjam sini, lantaran uang sekolah anak saya "tiba-tiba" belum terbayar karena uangnya berubah jadi semen penambal tembok rumah teman yang rubuh, atau jadi lele, atau entah jadi apa di jamban orang.

Saat-saat seperti itu, ibu saya selalu cuma berkata pelan.

"Nggak heran"

Dan saat itulah, kata-kata sakti yang dulu saya benci mengorek isi perut saya, menembus ke punggung, menampar wajah, menorehkan satu rasa yang merobek mulut saya sampai ke telinga.

Malu. Malu pada rasa sebal saya yang dulu.

* * *

This is my story.
But it might be your story too.

Karena sering kali butuh waktu begitu lama untuk menyadari, betapa kita tidak bisa lepas dari kutukan tertentu.

Karena dalam diri setiap anak pasti ada cercah-cercah orang tuanya . Pola sikap, pola pikir, pola perilaku. Yang kita yakini, yang kita lakukan –baik sadar atau tidak — kalau itu adalah copycat dari apa yang kita lihat, dari apa yang kita pelajari, dari apa yang ditanam orang tua dalam diri kita sebagai anaknya.

Dan kita melakukannya kemudian karena keyakinan itu adalah hal yang benar.
Padahal di masa lalu, kita mungkin melihatnya dengan rasa kesal.

Ini mungkin cerita anda,
Tapi semoga bukan.
Semoga anda tidak perlu waktu bertahun-tahun untuk menyadari, betapapun menyebalkan bagi anda,
tapi apa yang dilakukan ayah anda, atau ibu anda dulu…

Bukanlah kutukan.
Itu berkah.

Sentaby,
DBaonk