Agustus 1998, hampir sebelas tahun lalu, bapak saya meninggalkan dunia jasad untuk selama-lamanya.

Saat itu empat orang teman saya khusus datang dari jauh untuk ikut menshalatkan jenazah bapak, yang belum pernah mereka temui semasa ia hidup. Datangnya agak terlambat, jadi yang tersisa bagi mereka hanya sebuah pesta.

Lho kok pesta?

Istilah itu bukan datang dari saya, tapi dari mulut salah satu teman yang melayat. Pasalnya suasana rumah waktu itu memang lebih mirip pesta ketimbang berkabung. Memang nggak bisa bohong kalau di wajah-wajah yang seliweran masih tersirat mendung yang gelap. Tapi tak ada yang terduduk sendu, apalagi menitikkan air mata. Malah lebih banyak yang cengar-cengir atau tertawa terbahak-bahak.

Untuk acara hibur-hiburan menguatkan jiwa, lelucon silih berganti diceritakan. Kebanyakan ya seputar mendiang bapak. Bagaimana pengalaman-pengalaman kecil masing-masing anggota keluarga dengan bapak semasa ia masih hidup. Yang menyenangkan, yang ndak menyenangkan, diceritakan dengan gaya yang membuat pendengarnya tertawa, atau nyengir paling tidak.

Misalnya seperti yang diceritakan satu kakak perempuan tentang saya.

Dulu bapak paling sebel kalau melihat saya males-males. Tidur melulu atau ngejogrok di pojokan, mbaca buku nggak bergerak selama berjam-jam. Kalau sudah begitu bapak suka ngomel dan menyuruh saya olahraga atau apa. “Bergerak!” begitu bahasanya. Dan suatu kali, karena kumat, saya menyambut ucapan bapak dengan sigap. Keliling kampung jalan kaki sambil mengggerak-gerakkan badan terus-menerus seperti orang ayan. Orang sekampung mungkin mengira saya habis disetrum bapak pakai aki genset.

Yang begitu kurang ajar tentu saja.
Tapi nggak papa. Bapak pasti sudah lama memaafkan saya.

* * *

Begitulah cara kami sekeluarga menghadapi kenyataan pahit yang harus dihadapi. Yang sudah mati toh tetap akan mati. Tapi satu semangat yang dipelihara : yang hidup tidak boleh mati. Badan, apalagi jiwanya. Ibu terutama -sebagai orang yang pasti paling kehilangan- tapi juga untuk kami anak-anaknya. Karena bapak, sekeras-kerasnya ia, tetap jadi bapak yang dicintai dengan sangat.

Kalau ada satu saja yang terlihat mulai terpekur, tepukan di bahu atau colekan dengan senyuman yang mengugahnya. Bukan acara peluk-pelukan dan berbagi tangisan. Di antara kami ada semacam kesepakatan tanpa perlu dituliskan atau dikatakan sebelumnya. Yang begitu, bukan caranya. Karena yang demikian cuma menyebarkan aura negatif semakin lebar. Semakin dalam. Biarlah kalau mau nangis nanti malam saja. Di bantal masing-masing. Atau kalau nggak mau juga, selalu ada yang siap jadi teman begadang dan ngebanyol.

* * *

Salah satu teman saya sampai terucap,

Kalau nggak lihat lu sama abang-abang dan kakak perempuan lu cinta sama bapak lu, orang bisa ngira bapak lu orangnya kejam banget.

Lha kok gitu?

Soalnya ditinggal mati malah pada riang gembira.

* * *

Tapi kalau dirunut, pola seperti itu justru diajarkan mendiang bapak.

Menjelang meninggalnya, bapak dirawat berbulan-bulan di rumah sakit. Ibu menungguinya tanpa pernah pulang satu hari pun dari rumah sakit. Saya dan kakak-adik dan ipar-ipar bergantian menemani.

Menjelang hari-hari terakhirnya, bapak banyak ngebanyol. Segala suster digodain dengan ditanya dengan nada bercanda, “Bajunya putih-putih, kok nggak ada sayapnya.” Canda yang horor kalau hanya diceritakan dengan kata-kata. Tapi kalau disaksikan langsung, saya jamin akan membuat kita tertawa.

Atau bapak sibuk menyuruh membukakan pintu karena kucing di luar pintu terdengar mengeong-ngeong kelaparan (Kamar bapak dirawat memang menghadap taman, dan kadang ada kucing juga entah dari mana). Bersama yang menjaga hal seperti itu dijadikan lelucon : “Bangun aja kagak bisa masih ngurusin kucing, kalau sudah bisa duduk bisa-bisa klita disuruh pelihara kambing di rumah sakit.”

Ibu kalau mendengar lelucon seperti itu, ia akan tertawa. Untuk beberapa saat itu bisa menyegarkan kelelahan fisik dan psikis yang terpancar dari raut wajahnya.

Dan memang itu tujuan bapak.

Untuk apa berbagi rasa duka. Lebih baik berbagi rasa suka. Walau dapat dimaknai sebagai sebuah dusta, adalah lebih baik berbagi suka di dalam duka kita. Bahkan dalam duka karena ditinggal orang yang tersayang. Karena salah satu kondisi paling tidak nyaman, adalah berada dalam rumah orang yang tengah kematian, dan bila seisi rumah mengisinya dengan aroma kedukaan.

Percaya atau tidak, saya menulis ini dengan duka yang dalam.
Ingat bapak. Karena pagi ini ngelayat tetangga yang kematian.

Tapi saya tidak ingin membagi duka saya.
Karena daripada melakukan itu, saya lebih memilih untuk berdusta.

Sentaby,
DBaonk