Gubernur Sumatera Selatan membuat gebrakan hebat. Sesuai dengan janji kampanyenya, rakyat Sumatera Selatan akan menikmati dua hal yang gratis, yaitu: pendidikan dan pengobatan. Langkah ini termasuk luar biasa, karena ini pertama kalinya kebijakan gratis diterapkan dalam cakupan satu provinsi.

Sebelum Provinsi Sumatera Selatan, beberapa kabupaten sudah melakukan kebijakan pendidikan gratis. Secara nasional, pemerintah pusat juga melakukan kebijakan jaminan sosial dengan program bantuan langsung tunai, beras untuk orang miskin dan pembiayaan kesehatan bagi orang miskin.

Memang langkah Indonesia menuju negara kesejahteraan (welfare state) masih sangat jauh. Beberapa kebijakan yang belum dilakukan sebagai syarat negara kesejahteraan adalah jaminan penghasilan bagi orang yang kehilangan pekerjaan dan jaminan hari tua bagi semua penduduk.

Inspirasi negara kesejahteran memang didapat dari negara-negara Eropa. Dengan segala variasinya, negara kesejahteraan di Eropa berusaha mengurus rakyatnya dari lahir hingga meninggal.

Negara kesejahteraan ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Negara memberlakukan pajak yang sangat tinggi. Dan untuk itu diperlukan pertumbuhan ekonomi yang stabil. Jika pertumbuhan ekonomi menurun, pendapatan negara berkurang, sementara beban negara tetap bahkan bertambah oleh pengangguran, maka dapat dibayangkan betapa beratnya menjalankan sistem negara kesejahteraan.

Fakta yang ada sekarang, hampir semua negara kesejahteraan mengalami kemunduran. Swedia sebagai benteng terakhir kehebatan negara kesejahteraan juga mengalami kemunduran.

Futurolog John Naisbitt dalam bukunya Mind Set, membahas khusus kemunduran Eropa ini. Dia mengatakan tanpa ladang minyak seukuran seperti yang ditemui di Arab Saudi, sistem jaminan sosial Eropa tidak bisa dibiayai. Negara kesejahteraan akan bangkrut.

* * *

Indonesia memang belum menjadi negara kesejahteraan. Dan Indonesia mempunyai masalah besar dalam menuju cita-cita negara kesejahteraan ini, yaitu:  kekayaan Indonesia terbatas.

Kekayaan alam Indonesia memang banyak, tapi tetap terbatas untuk membiayai negara kesejahteraan. Ladang minyak luar biasa besar belum ditemukan. Selain itu kehidupan bisnis yang dinamis, yang bisa menghasilkan pajak yang juga luar biasa, belum terjadi di Indonesia.

Masalah utama kita sekarang adalah kebijakan ala negara kesejahteraan yang diterapkan secara lokal di suatu daerah sangat mencederai prinsip keadilan. Adilkah dalam negara kesatuan RI, rakyat di Sumatera Selatan memperoleh pendidikan dan pengobatan gratis, sementara di Kalimantan Barat tidak?

Jika semua daerah memberikan jaminan sosial yang sama tentu saja ini adil. Namun kebijakan saat ini adalah tidak sama. Ada daerah yang memberikan hal dasar gratis, sementara di daerah lain menghadapi masalah gizi buruk. Ini tidak adil.

Biasanya daerah yang mampu memberikan hal gratis ini adalah daerah yang kaya sumberdaya alam seperti Sumatera Selatan. Dana bagi hasil sumberdaya alam membedakan daerah kaya dan daerah miskin. Daerah kaya sumberdaya alam bisa memperoleh sampai 70% dana bagi hasil.

Soal pendapatan masing-masing daerah juga terjadi keanehan. Pada suatu masa negeri ini menolak mati-matian federalisme, sementara yang dilakukan justru melebihi federalisme. Christianto Wibisono pernah menulis bahwa di Amerika Serikat dan Jerman sebagai 'mbahnya' federalisme, tidak ada dana bagi hasil sebesar itu. Daerah mendapat 70%, sementara pusat mendapat komisi 30% hanya bisa terjadi di negara Republik Indonesia yang berbentuk kesatuan ini. Ini yang menyebabkan ketimpangan pendapatan antar daerah yang kaya sumberdaya alam dengan yang miskin.

Jadi kebijakan jaminan sosial yang berlaku lokal harus dikoreksi. Bagaimanapun Pancasila sebagai dasar negara masih berlaku. Sila kelima: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, masih berlaku. Semua kebijakan yang menyangkut kebutuhan dasar dan kesejahteraan rakyat harus berlaku sama di setiap jengkal wilayah Indonesia.

Keadilan sosial itulah yang menjadi tujuan kita berbangsa dan bernegara. Kalau di sini gratis, maka hendaknya gratis pula di sana. Jangan sampai di sini gratis, di sana menangis.