MENULIS rutin, saya mendapatkan berbagai bahan ibarat tersaji tersendiri. Ibarat belanja ke pasar, bagaikan hendak membuat sayur asam, masing-masing potongan sayur; daun melinjo, jagung, labu, nangka, kacang panjang, seakan tergelar di meja tak sengaja. Saya tinggal menggodok dengan bumbu. Bahan laksana potongan puzzle itu, seakan datang tanpa diundang. Semuanya memberikan motivasi agar tangan ini segera menggerakkan keyboard komputer.

Jumat, Februari 2009 petang, saya melewati jalan TB. Simatupang, Lingkar Luar, Jakarta Selatan. Sebelum melalui Cilandak Town Square (Citos), mata saya selalu melirik ke kiri. Di sana ada showroom dan service center mobil Ferrari dan Maserati. Ihwal Ferrari – – yang juga sebuah pengalaman empiris – – pernah saya tulis di: http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=137, berjudul Ferrari Hitam dan Sontoloyo.

Setelah Citos, biasanya mata saya tak lagi meleng. Namun Jumat petang itu, kepala seakan dipaksa teleng.

Di Jl. TB Simatupang Nomor 18, itu tampak sebuah hanggar dan showroom baru. Di bagian atap ada tulisan Lambhorgini. Dari jalan saya melihat di balik kaca showroom, dua mobil Lambhorgini dipajang.

Persis di depannya aspal jalan yang saya lalui, mengelupas. Musim hujan memulai ceruk mengelupas berlubang-lubang.

Sekelebat benak saya seakan diisi visual mobil sport handal itu ceper habis. Itu artinya jika dibeli, baru keluar showroom, sang mobil seakan berada di wadah tak tepat.

Saya membayangkan, pembeli mobil menaikkan kendaraan mewah itu ke truk, dan setiap hendak dijajal ditrukkan ke Sentul.

Lalu di sirkuit itu dia dijajal ngebut. Agaknya demikianlah visulisasi yang pas. Dan jika tidak di sirkuit, sang mobil dipajang di garasi, diletakkan di jejeran mobil paling depan di muka rumah berbeton rapat berpilar-pilar – – desain rumah tak sesuai dengan alam tropis.

Saya justeru membayangkan menyetir Lamborghini di jalan-jalan mulus di Eropa, atau menjajalnya di oto ban, di sirkuit balap. Asyik sekali pasti.

Namun lamunan saya terhenti, ketika mobil yang saya tumpangi berkelas Avanza, milik kawan, berguncang. Aspal mengelupas membuat pantat seakan digaruk bebatuan jalanan di TB Simatupang itu.

Ketika sampai di rumah, seorang kawan sudah menitipkan pesan jahil di Facebook saya.

“Dealer Lamborghini sudah dibuka, beli dong satu!”

“Iklannya sehalaman penuh di Kompas hari ini.”

Dealer resmi Lambhorgini di Jakarta itu menyediakan jenis Gallardo LP560-4 dan Murcielago LP640 sebagai andalan. Gallardo LP560-4 mampu menyemburkan tenaga s 560 PS. Ia varian terbaru dari seri Gallardo. Varian ini diluncurkan pada Geneva Auto Show, digelar 2008 lalu.

Gallardo bermesin 5.200 cc V10 itu bisa dinikmati dengan harga US$ 568 ribu atau sekitar Rp 6,7 miliar – – masih off the road.

Jika belum puas dengan Gallardo, dan Anda memiliki US $ tambun, misalnya baru saja menjadi pengusaha batubara, sontak berkelimpahan dolar, bisa beralih ke Murciélago, bermesin lebih galak. Mobil sport ini mampu menyemburkan 633 tenaga kuda bermesin berkapasitas 6.500 cc. Harganya US$ 798 ribu atau sekitar Rp 9,4 miliar, off the road. Dengan dibukanya dealer resmi, itu artinya suku cadang dan servisnya aman.

Untuk calon pembeli di rentang harga segitu, saya duga, justeru pilihan tertuju ke harga paling mahal. Untuk memudahkan menghitung, belum termasuk Pajak Penambahan Nilai Barang Mewah (PPN BM), setidaknya Rp 10 miliar kocek harus dikuras.

Itu artinya negara produsen Lamborghini mendapatkan devisa, sementara kita mengeluarkan dolar. Jika dolar diperoleh membeli mobil sport itu adalah hasil dari mengekspor sebuah produk yang masuk ke pasaran bebas, tentu fine-fine.

Celakanya, langgam orang kaya baru, sebagai indikasi konsumen produk demikian, acap mendapatkan dana membeli “jajanan” itu, bukan dari hasil sebuah penetrasi pasar dari menjual produk unggulan.

Teman saya dulu bekerja di sebuah perusahaan multinasional, mengkritik, “Sirik aja lo, kalau pembeli membayar pajak apa salahnya, toh dengan uangnya!”

Memang tidak ada yang salah.

Saya hanya tertegun ketika Ibu Ruth, guru sekolah alternatif untuk anak-anak terlantar dan pemulung, di Gandul Cinere, Jakarta Selatan, membutuhkan kekurangan uang Rp 3,5 juta lagi, bagi mengikutkan siswa-siswanya yang berprestasi ke sebuah event lomba.

Padahal minggu lalu, SMS dari Fitri, kenalan di Facebook, yang pernah mengajak saya ke sekolah khusus untuk kalangan marjinal itu di Gandul, Cinere, Jakarta Selatan telah pula meng-sms, bahwa atap sekolah yang dibuat di belakang rumah itu, baru saja roboh di terjang angin kencang.

Saya kala itu membayangkan wajah anak-anak, yang orang tuanya pemulung, walaupun sekolah digratiskan, terkadang masih berusaha membayar Rp 5.000 sebulan, sebagai bentuk sense of belonging, adab dan budi kelas bawah yang terkadang lenyap diparanin kelas atas.

Benak saya penuh. Ingatan kepada kawasan kumuh di seputar Jakarta, khususnya lingkungan orang tua saya di mana saya pernah ada di Karet Belakang, di gang-gang kecil, Karet Kuningan, Jakarta Selatan, yang mengandalkan makanan utama mie instant pengganjal perut kanak-kanak sehari-hari kini, beralasan murah.

Tidak ada yang salah, membeli mobil mewah.

Toh kehidupan memang harus berjalan. Rezeki, konon diatur yang di Atas. Untuk tahu bahwa ada orang kaya, perlu pembanding ada orang miskin.

Begitu logika yang pernah dipaksakan seorang kawan pembaca tulisan-tulisan saya.

Untung saja kawan itu tidak melanjutkan kalimatnya: menciptakan orang-orang miskin, juga menjadi hal biasa!

Di tulisan yang lalu saya menyinggung soal film Red Cliff 2. Selain mengingatkan akan Sun Tzu,ihwal taktik dan strategi perang, telah mengantarkan saya kepada teori pemerintahan di jaman Tiongkok kuno, di mana dalam sebuah teori kekuasaan, biarkanlah rakyat bodoh dan miskin, maka kekuasaan dapat melegalkan diri dan melanggengkan kekuasaan. Di ranah kekuasaan demikian hidup para kroni, bermewah-mewah.

Masih dalam memori Red Cliff 2. Di film itu ada panglima muda gagah yang berani menjaminkan kepalanya jika gagal mendapatkan 100.000 anak panah dalam tiga hari. Maka dengan logika sama, jika uang satu Lamborghini itu Rp 10 miliar diserahkan bagi memproduksi konten mobile, dengan aplikasi yang bagus, maka setidaknya saya akan memotivasi pengembang konten dan programmer membuat 50 konten, membuka setidaknya ratusan orang lapangan kerja, sekaligus devisa.

Mengacu ke Jepang, di setiap 10 aplikasi atau konten yang dibuat, akan dihasilkan satu killer aplication. Sehingga setidaknya dapat lima konten yang jadi US $. Maka jika saja Rp 10 miliar di tangan saya, dalam setahun dengan berani saya mengembalikan US $ 2 juta minimal. Dan jika gagal, saya pun ikutan panglima di film Red Cliff, siap dipenggal kepala, sebagai jaminan.

Ini sungguhan!

Bukan kisah jaman Tiongkok, itu.

Amit-amit, susahnya mencari permodalan bagi dunia kreatif di negeri ini, bagi bisnis yang sesungguhnya mampu menghasilkan US $.

Sebaliknya negara, kekeh habis tanpa berpikir mendirikan venture capital, walaupun sudah mendeklarasikan tahun 2009, tahun ekonomi kreatif. Dan karenanya, saya menjadi sadar, setelah mengingat kembali salah satu teori kekuasaan Cina kuno itu: biarkan rakyat miskin dan bodoh, melempang-langgeng kekuasaan.

SMS Ibu Ruth, guru sekolah alternatif itu, belum saya jawab.

Ketika saya diturunkan kawan di halte Busway di bilangan Ragunan, Jakarta Selatan, saya menelepon Arifin Wshar, Manager Audit di perusahaan taksi Blue Bird. Ia salah satu kenalan baik, yang acap sekali saya todong budi baiknya. Sudah tak terhitung kebaikannya kepada kami. Dan hari itu, untuk ke sekian kali saya meminta sebuah voucer taksi, bagi mengantarkan saya kepada sebuah lapangan Polo, ke bilangan arah Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, keesokan hari.

JALAN tol Jagorawi di Sabtu, 7 Februari itu lancar. Di Jakarta udara mendung, tetapi menjelang ke kawasan Gunung Putri, Bogor, di sebelah kiri, matahari seakan melap-gelap sayap kanan awan. Biru langit menyembul, menggerakkan awan buhul-membuhul.

Ke luar pintu tol Gunung Putri arah Kranggan. Usai membayar, petugas tol menunjukkan jalan lurus, ke arah Jagorawi Golf Club, salah satu padang golf terbaik di Indonesia. Padang hijau dengan club house beratap rumah adat Minang, milik pengusaha M. Zakir, itu di hamparan mata memandang menghampar hijau manau.

Pilihan rumput di hole, bergradasi kontras dengan hamparan padang berjarak ke setiap hole. Tujuan saya bukan mematuk bola golf, namun ke Nusantara Polo, lapangan Polo satu-satunya di Jakarta – – juga di Indonesia agaknya.

Polo, menurut Boyke Setiawan, General Manager di Nusantara Polo, mengatakan berasal dari daerah Tibet, negeri di awan itu. Di Tibet disebut Phulu.

“Dulunya yang dipukul adalah potongan kepala manusia yang dihukum, dan disaksikan oleh penguasa,” ujar Boy.

Dari Tibet, "permainan" itu, turun ke daerah Chuckka, India. Di India diperhalus, dengan bola kepala domba.

Oleh kaveleri tentara Inggeris, yang menjajah India, permainan itu diadop menjadi beradab berwibawa sekaligus berkelas.

Adegan kepiawaian menunggang kuda, memacu kuda, sekaligus mematuk bola dengan tongkat khsusus sekaligus, akan mengasyikkan dan menengangkan. Apalagi ada goal ke gawang yang disasar. Jadilah Polo mendunia. Pertandingannya acap disuguhkan ke hadapan ratu dan bangsawan berkelas, eksklusif.

“Di saat Inggris musim dingin, kuda-kuda Polo dibawa ke Argentina, yang mulai masuk musim panas. Maka berkembang pula Polo di Argentina,” tutor Boyke.

Singkatnya Polo olahraga beregu dimainkan di atas kuda bertujuan mencetak gol ke gawang lawan. Pemain mengendalikan bola kayu atau plastik, ukuran 3 – 3,5 inci, menggunakan pemukul panjang, disebut mallet.

Gol dianggap sah apabila bola lewat di antara gawang ditandai dengan dikibarkannya bendera oleh petugas di dekat gawang.

Setiap regu polo terdiri dari empat orang pemain dengan pergantian kuda bila agar tidak lelah, tidak terbatas.

Permainan berlangsung dalam periode tujuh menit yang disebut chukka. Keseluruhan permainan dapat berjalan antara empat sampai enam chukka tergantung pada peraturan turnamen dan asosiasi masing-masing.

Polo masuk ke Indonesia pertama 1937 , dibawa Belanda. Saat sudah berdiri Batavia Polo Club (BPC) di Lapangan Banteng, Jakarta. Pertandingan pertama yang dilakukan melawan regu polo Malaysia. Saat terjadi perang dunia ke dua dan Indonesia dijajah Jepang, BPC bubar.

Pada 1992, Hashim S. Djojohadikusumo dan James T. Riady kembali memperkenalkan polo di Indonesia dengan mendirikan JPEC – – Jakarta Polo and Equestrian Club – di Bukit Sentul Selatan. Di tahun itu pula, Indonesia menjadi anggota FIP ( Federation of International Polo. Hashim sebagai Ketua Asosiasi Polo Indonesia.

Di bawah bimbingan Subiyakto Cakra Wardaya sebagai presiden Persatuan Olahraga Berkuda Indonesia (Pordasi), Asosiasi Polo Indonesia menjadi Komisi Polo Indonesia di bawah Pordasi. Ketuanya tetap Hashim Djojohadikusumo. Karena kesibukan sang ketua berbisnis di luar negeri, perkembangan Polo di Indonesia terhenti 2002.

Di 2005, di bawah bimbingan Prabowo Subianto, didirikan Nusantara Polo Club. Klub ini mewakili Indonesia untuk pertama kali dalam turnamen Kings Cup 2006 di Thailand dan meraih peringkat ketiga di bawah Malaysia dan Jordan. Dalam akhir dari turnamen ini, negara ASEAN: Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, dan Indonesia sepakat membuat polo sebagai cabang olahraga resmi yang dimainkan dalam SEA Games 2007 di Thailand.

Dan kehadiran saya hari itu ke Nusantara Polo memenuhi undangan Tim Facebook Prabowo Subianto, sebagai hadiah menang menulis di blog, makan siang bersama Prabowo – – yang sebelumnya dua kali tertunda.

DARI club house Padang Golf Jagorawi, jalan menuju lapangan Polo, sesuai penunjuk arah, masih 1,5 km lagi. Jalan kecil di kanan-kiri ditumbuhi pokok bambu, pohon-pohon hutan alami, semak belukar ditingkah aliran got seakan mengingatkan desa. Burung-burung kecil terbang kian ke mari.

Tak jauh ternyata mencari alam berbeda di kesumpekan Jakarta. Cukup dengan ongkos taksi Rp 140 ribu, wujud dunia sudah lain.

Saya perhatikan hamparan rata rumput hijau yang dipapas rapi dari arah club house lapangan Polo itu, bagaikan ambal hijau tebal di sebuah ruang dingin nyaman. Ukuran lapangan sekitar dua kali lapangan bola kaki.

Sekelebat saya terlamunkan. Masa kecil dulu di Padang, Sumatera Barat, saya menyaksikan pacuan kuda bersama kakek almarhum. Namun rumput di pacuan kuda di kampung dulu, tidak serapi dan panorama alam tak sebagus di Nusantara Polo Club.

Bayangan orang-orang dekat yang mendahului saya, seakan ada di depan pandang. Kakek, Ibu, yang baru dua bulan lalu berpulang, seakan melayang-layang di kehijauan suasana. Saya percaya bahwa surga itu dominan hijau dan di mana air mengalir. Dalam hati saya panjatkan doa kepada Tuhan, agar di hamparan alam yang memberikan kesan keberasan-Nya, semoga mengantarkan ibu ke Surganya Tuhan. Amin.

Wajah Nico Curto, pemain profesional Polo, asal Argentina, menyalami saya. Lamunan saya lenyap.

Pertama jumpa dengannya sama-sama menonton Red Cliff 2 pekan lalu. Dari Nico saya tahu bahwa setelah sepakbola, Polo adalah olah raga nomor dua di Argentina.

“Dan Argentina salah satu negara terbesar pengekspor kuda Polo dunia,” ujar Nico dengan bahasa Inggris beraksen latin.

Satu ekor kuda Polo biasa, yang standar dijual di Argentina Rp 50 juta. Untuk yang sudah profesional bermain Polo, bisa mencapai Rp 4 miliar harganya. Padahal seorang pemain Polo, membutuhkan setidaknya 4 kuda. Bila pertandingan 4 chuckka, maksimal kuda hanya boleh main satu chuckka, atau 7 menit.

“Jika dipaksakan kuda bermain lebih 7 menit, berakibat fatal, kuda bisa mati,” ujar Boyke.

Biaya latihan Polo untuk sejam, mulai dari menunggang kuda, dewasa Rp 500 ribu dan anak-anak Rp 250 ribu. Anak umur 8 tahun sudah bisa mulai belajar menunggang kuda. Tahap berikutnya memegang tongkat pemukul, berlari memukul bola, dan seterusnya.

Ketelatenan latihan, kepiawaian sehati bersama kuda, ketangguhan memukul dan kejelian menggiring bola bersama kuda, beberapa poin penting di olah raga ini.

Keterbatasan sarana, kemahalan harga kuda, biaya perawatan kuda, aksesori, mulai dari sepatu hingga pelana, kesemuanya memang membuat Polo menjadi olahraga eksklusif.

Namun di balik keekslusifannya ini, Argentina cerdik. Polo bisa menjadi penghasil devisa negaranya.

Seharusnya Indonesia yang tidak memiliki pergantian musim, bisa membiakkan kuda-kuda Polo handal dunia, melahirkan atlit yang melatih ke berbagai dunia, macam Nico Curto yang ada di sini – – tidak cuma mengekspor kelas pembantu rumah tangga.

PERTANDINGAN antara tim Polo Thailand dan Indonesia di Nusantara Polo itu, diawali dengan barisan pemain dan dua wasit bersama kuda-kuda memberi hormat ke penonton. Tak lama kemudian masing-masing regu mengambil tempat. Dalam bahasa anak saya yang habis main kuda-kudaan, terasa sekali irama kaki kuda bersuara tupak-tupak, gagah, enak didengar dan dipandang.

Kuda Polo, ekornya sengaja disisir diikat rapi. Agaknya agar tidak menyibak mencelakai pemain. Tampak dari belakang, pantat kuda-kuda itu terasa punggin, ekornya tidak berjuntai bergerai.

Sisa air hujan di lapangan basah, menambah kecipak-kecipuk suara lapangan ditingkah kaki kuda. Seru bila melihat bola dipukul jauh, sehingga andalan pada kecepatan lari kuda dan kendali pemain. Benar-benar menjadi tontonan mengasyikkan tersendiri.

Jujur, saya menjadi ketagihan menontonnya. Seru.

Hari sudah kian petang. Pukul 18.45 saya meninggalkan padang Polo itu. Kendati Prabowo Subianto, Capres Partai Gerindra, karena kesibukannya, belum juga bisa hadir ke Nusantara Polo. Ketika meninggalkan tempat, saya melihat pengusaha Maher Algadrie, dari Kelompok Usaha Kodel, juga menanti lama.

Saya tentu tak kecewa. Saya beruntung, karena baru itulah dalam sejarah hidup saya bisa menyaksikan Polo secara langsung. Dulunya hanya dari televisi dan tak tahu cara mainnya.

Saya kemudian malah happy, karena di Plaza Semanggi, sudah menunggu calon presiden yang kami unggulkan di komunitas online, melalui http://www.partaionline.org, yakni, Ganang Tidarwono Soedirman, 47 tahun.

Belum banyak Ganang dikenal publik. Sesungguhnya partai di landbase, ada juga yang mau mendukungnya. Cuma kembali ke urusan di negeri ini segalanya bicara uang. Dukungan kepada Ganang belum terjadi. Figur saja seakan belum cukup.

Ganang cucu kandung Panglima Besar Soedirman, acap memberi komentar tulisan-tulisan saya di presstalk.info – – selain Bambang Sulistomo, yang juga berdarah pahlawan itu.

Komentar Ganang tajam, khas, keberpihakannya nyata kepada rakyat. Itu antara lain alasan saya menjagokannya. Kendati terkesan bermain, apalagi cuma partaionline, bukan partai resmi, tetapi itulah, dunia maya.

Malam itu Ganang yang menetap di Jogja, tampak santai dengan Polo short-nya. Kami membicarakan kebaikan-kebaikan dan sisi potif pendahulu bangsa.

Ketika sampai di rumah, waktu menjelang sama dengan saat saya berangkat pagi hari. Ibunya anak-anak bertanya, dapat hadiah apa? Saya berikan satu polo shirt. Dan memberi ciuman untuk mereka.

Dua anak saya 10 dan 8 tahun yang sudah mengerti komputer, acap membuka facebook saya. Bersama ibunya, mereka memainkan game pet society di akun saya.

“Ayah sudah sangat kaya, dapat uang banyak, karena temannya banyak,” ujar Dito, anak tertua.

”Tetapi setelah kami belikan perabotan banyak, ditarok di rumah ayah, kami pindahkan barang-barangnya ke rumah Mama, Dito dan Kelvin, juga ke Traya.”

Kelvin anak kedua. Dan Traya si kecil yang sebentar lagi ulang tahun ke-2. Di dalam hati, luar biasa betul hari itu. Tuhan telah memberikan “kekayan” amat luar biasa kepada saya.

Facebook, killer aoplication, satu lagi, pemakan devisa kita, selain Lamborgini dan kuda Polo. Facebook telah membuat bandwith “terpakai” besar – – padahal kalau saja pemimpin negeri ini cerdas, sejak dulu seharusnya memfasilitasi para pengembang konten yang kreatif berproduksi.

Sayang Facebook seakan tak bisa lagi dikejar.

Karenanya, kita butuh pemimpin baru, muda, yang bisa berpikir berbuat membalik keadaan. Rakyat online yang cerdas, saya yakin memahaminya.

Semoga saja 2.610 kata narasi di atas berguna.***

Iwan Piliang