Tag

 Saya teringat dengan  omongan Thomas Jefferson -Presiden Amerika ketiga dan salah satu arsitek deklarasi kemerdekaan USA ketika sedang bebincang bincang dengan  dua orang Indonesia di Taipei Internasional Airport saat  menunggu penerbangan berikutnya ke Jakarta- Bahwa walaupun  pemikiran Jefferson  "semua manusia lahir sederajat" kedengaran manis di telinga, pada realitanya  manusia lahir dengan tingkat kasta yang berbeda beda.  Made Garut Widiarta adalah salah satu  contohnya.  Umurnya baru 20 tahun  berasal dari Bali. Saya memergoki Made  dalam perjalanan  pulang  dari vakansi selama sebulan di Hawaii dan California. Dalam umur semuda itu Made telah menjadi pesilancar cukup punya nama.Dia diundang sebuah majalah surfing ternama di Amerika untuk pembuatan artikel dan foto ops. Tertawanya manis dan  sangat ramah.Sejak umur 15 tahun, kata Made dia telah sering ikut kompetisi pesilancar Internasional seperti di Bali, Australia dan New Zealand. Dengan penuh percaya diri Made kasih tunjuk fotonya yang kelihatan gagah di majalah . Saya tentu ikutan bangga lantaran ada anak muda Indonesia yang  punya ketrampilan tinggi tidak mau kalah bersaing dengan para bule di gelanggang Internasional .

" tapi saya belum sehebat Rizal Tanjung " kata Made ketika saya puji. Dari dia saya tahu bahwa ada lagi anak Indonesia yang namanya berkibar di dunia pesilancar. Made tunjukan foto Rizal yang sedang menunggang ombak di surfer magazine. Tubuh Rizal kurus kemayu.Wajah Rizal yang sangat awam  rata rata seperti itu banyak bertebaran ditemui tiap kali kita di Jakarta naik bis umum atau metromini. Tapi nama Rizal kabarnya berkibar dan telah go internasional dikalangan  penggemar ombak.Sekali lagi saya angkat tangan dan merasa ikutan bangga dengan mereka berdua.

 Made  hampir tiap 4 bulan pergi melalang bumi. Luar negeri bagi dia cuma ladang bermain seperti saat saya  kemping ke Cibodas ketika saya masih di SMA. Jarang anak muda memiliki nasib sebaik dia. Pesawat bagi orang yang memiliki rejeki maha tinggi cuma seperti omprengan yang suka saya tumpangi  ketika ngapel dengan pacar dikala pra OKB. Maka tentu tidak salah jika saya menolak statement Thomas Jefferson bahwa
orang itu lahir setara. Sebab Made Garit Widarta tentulah beda kasta dengan nasib orang yang seperti :

Namanya Nacem. Perempuan bertampang toku itu saya pergoki di ruang tunggu Airport yang sama. Walaupun tampangnya toku umurnya sebenarnya cuma 44 tahun. Berasal dari Subang. Duduk cengengesan di pojokan tidak bergabung dengan rombongan tkw yang rata rata masih muda yang bekerja di Taiwan. Tutur katanya lebih kejawa jawaan dari kesunda sundaan. Dia bilang telah bekerja 2 tahun sebagai pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga Cina di Taipei. Beberapa gigi Nacem nampak rontok saya tebak lantaran depresi mungkin lantaran kemiskinan. Dia pernah bekerja 4 tahun di Jedah dengan keluarga Arab sana. Saya korek apakah benar banyak tkw di Arab diperkosa para bangsat di sana. Iya jawab. Cuma untungnya majikan saya sudah tua dan tidak pernah macam macam. Arab, kata Nacem semua laki lakinya super menjijikan jika mereka melihat perempuan. Saya saja yang tua begini masih sering diikutin anak anak muda arab. Pernah saya diintip dari jendela kamar saat saya lagi tidur
 siang. Saya lempar pakai sendal. Bayangkan bagaimana tingkah mereka jika melihat tkw muda dari Indonesia. Nacem juga pernah mewanti wanti anak perempuannya untuk tidak bekerja di Arab. Orang cina jauh lebih sopan dan baik dari orang Arab begitu  kesimpulan dia.

 Orang seperti Nacem yang terlahir miskin jelas berbeda kasta apalagi nasibnya dibandingkan dengan Made.
Made di Cingkareng dijemput oleh teman seperingkat atas high class. Sedang 3 tahun yang lalu sepulang dari Arab yang menjemput Nacem beserta rombongannya adalah sebuah mobil van yang diatur oleh perusahaan yang mengirim mereka ke timur tengah untuk dirumahkan sementara di bilangan Jakarta. Awalnya  kami dijamu makan minum mas, tutur Nacem lirih. Lalu sehabis itu satu persatu kami dimasukan kamar untuk digeledah sampai hampir telanjang bulat oleh beberapa laki laki yang curiga bahwa mereka menyembunyikan duit cash di balik baju dan celana. Taman saya sampai stress ketakutan mas. Kita diperas habis habisan. Untungnya saya bawa duit cash tidak banyak. Sebagian besar uang saya kirim lewat bank. Yang kasihan teman teman saya mas. Mendengar cerita Nacem saya makin menyalahkan Thomas Jefferson yang tidak kenal orang bernasib malang dijegal oleh para begal bangsanya sendiri. Saya kasih saran juga sehabis mendengar cerita Nacem untuk aga hati hati ketika sampai di Bandara Cingkareng nanti. Tahun lalu saya melihat dengan mata kepala sendiri seorang TKW dari Hongkong diperas sampai ingin nangis lantaran untuk bisa keluar dari pintu exit yang berbeda, dia harus membayat 500 ribu rupiah lantaran dia tidak ingin dijemput oleh van yang diatur oleh pihak travel yang mengirim dia bekerja ke Cina seperti Nacem.

Dengan tulisan ini saya ingit meralat  omongan poor Jefferson. Manusia tidak pernah lahir sederajat.  Saya lebih setuju dengan filosofi Hinduisme  yang lebih realistik bahwa manusia memang lahir dengan sejumlah kasta yang sudah disiapkan. Kelas pariah seperti Nacem dimanapun dia berada harga dirinya cuma segobang dibandingkan orang berduit dan kokay  seperti Made yang harkatnya lebih tinggi dari ionosfir. Ketika mendarat di Cingakerng dan membaca slogan di banner "selamat datang pahlawan devisa" saya hampir tertawa getir. Pahlawan devisa itu wahai pak Jefferson yang bijaksana adalah rombongan sapi perah preman dan negara. Negara itu adalah Indonesia. Yuck !

February 6 2008

Habe