Barack Obama adalah pemimpin yang mempunyai segalanya. Dia mempunyai kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosi. Dia lulus dan memiliki prestasi akademik di sekolah hukum ternama sebagai bukti kecerdasan intelektualnya. Dia seorang yang baik hati, tulus dan pidatonya menggugah pendengar sebagai bukti kecerdasan emosionalnya. Dengan semua ini, apakah dia memiliki kemungkinan gagal?

Dalam perjalanan penelitian mengenai hal yang paling berperan dalam kesuksesan pribadi maupun kepemimpinan, telah terjadi perubahan paradigma. Daniel Goleman yang melakukan revolusi pemikiran itu. Dari paradigma kecerdasan intelektual, IQ (Intelligent Quotient), bergeser pada kecerdasan emosi, EI (Emotional Intelligence). EI mengatasi keunggulan IQ.

Unsur dasar kecerdasan emosi adalah kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial. Dalam survei yang dilakukan oleh peneliti di Hay/McBer menunjukkan kecerdasan emosi dua kali berperan daripada keahlian teknis dalam kesuksesan profesional.

Dengan paradigma kecerdasan emosi ini adalah wajar sejuta harapan rakyat Amerika sekarang menggantung pada pundak Presiden Obama. Dia lulusan sekolah hukum terbaik Harvard Law School. Dia mengukir prestasi sebagai presiden pertama jurnal hukum bergengsi, Harvard Law Review, yang berasal dari kalangan kulit hitam. Dia memiliki segudang pengalaman sebagai aktivis pemberdayaan masyarakat dan senator.

Selain seorang orator ulung yang sangat menginspirasi, Presiden Obama juga baik hati dan tidak sombong. Hillary Clinton saingan utamanya, yang berdebat habis-habisan di konvensi Partai Demokrat, kemudian dirangkulnya sebagai anggota kabinet.

Dengan semua yang serba sempurna ini Presiden Obama memiliki kemungkinan kecil untuk gagal. Krisis yang melanda Amerika Serikat saat ini pasti bisa diatasi dengan prestasi masa lalu, kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional Presiden Obama.
* * *

Namun Ram Charan, intelektual bisnis terkemuka keturunan India, mengemukakan tesis lain. Dalam bukunya Know-How, dia mengemukakan keterampilan teknis, sangat menentukan keberhasilan, lebih daripada sekedar kecerdasan emosi. Pemimpin tanpa keterampilan teknis akan gagal.

Ram Charan mengisahkan tentang seorang CEO yang memiliki segalanya, baik kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosi. Sebut saja Nick. Nick adalah seorang ahli keuangan yang cemerlang. Selain itu dia juga adalah pribadi yang mempesona dan menginspirasi.

Kemudian sebuah perusahaan yang hampir kolaps memilih Nick untuk menjadi nahkoda perusahaan melewati krisis. Dewan komisaris menaruh harapan besar. Karyawan mendapat energi dan semangat baru. Wall Street menyambutnya dengan gembira.

Dengan semua predikat istimewa itu, apakah Nick berhasil? Ternyata tidak. Nick dengan semua kecerdasan intelektual dan emosionalnya gagal total!

Ram Charan mengemukakan yang tidak dimiliki Nick adalah know-how, keterampilan teknis. Keterampilan lebih menekankan tindakan yang tepat yang harus dilakukan dalam lingkungan yang berubah dengan cepat.

Ram Charan mengemukakan 8 (delapan) keterampilan teknis yang harus dimiliki seorang pemimpin supaya berhasil, yaitu: melakukan 'positioning', mengidentifikasikan perubahan eksternal, memimpin sistem sosial, kemampuan menilai orang, kemampuan membentuk tim, cara mengembangkan tujuan, menetapkan prioritas, menangani kekuatan sosial di luar pasar.

Intinya keterampilan teknis lebih penting daripada daya tarik kecerdasan, karakter yang mengesankan dan keterampilan komunikasi, pesona sebagai pemimpin, dan visi. Tanpa keterampilan teknis kepemimpinan akan gagal.

* * *

Pelajaran dari Ram Charan mengenai perlunya keterampilan teknis dalam kepemimpinan, sangat relevan dengan persoalan di Amerika Serikat, bahkan juga di Indonesia.

Presiden Obama bisa gagal, jika dia tidak mempunyai keterampilan teknis yang yang diperlukan. Krisis yang menghantam Amerika Serikat membutuhkan keterampilan teknis untuk menentukan tindakan apa yang harus dilakukan saat ini. Rakyat Amerika bisa berharap Presiden Obama memiliki keterampilan teknis ini.

* * * * *