Bang Wandi gubernur kami, kemarin aku nonton TV. Kulihat SBY bereaksi keras atas meninggalnya Aziz Angkat, Ketua DPRD Sumatera Utara di tangan para demonstran yang menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli. Momen itu langsung membuat SBY menegaskan kalau tahun ini tidak ada lagi pemekaran, baik kabupaten maupun provinsi.

Bukan hanya SBY, tapi opini masyarakat secara nasionalpun sekarang
sudah mengarah ke anti segala bentuk pemekaran wilayah. Seperti SBY
bilang dan juga dulu selalu aku katakan bahwa ide-ide pemekaran
wilayah ini lebih banyak hanya untuk kepentingan segelintir elite lokal.

Aku yakin, angin yang berubah ini sedikit membuat hilang pusing di
kepala Bang Wandi yang diakibatkan oleh bermacam tuntutan pemekaran
ini, baik itu oleh ALA maupun ABAS.

Tapi Bang Wandi, meski momen ini menguntungkan, jangan Bang Wandi
pikir Bang Wandi dan kita semua yang menolak pemekaran sudah menang.
Belum Bang Wandi ini masih awal dari pertarungan.

Perlu Bang Wandi tahu, aku juga seperti Bang Wandi, tidak setuju
dengan ide-ide yang dikembangkan pra elit lokal di daerahku soal
pembentukan Provinsi ALA. Tapi dalam memandang mereka, aku berbeda
sudut pandang dengan Bang Wandi. Meski berseberangan ide denganku,
tapi aku mengakui kalau mereka itu, orang-orang di balik Ide ALA itu
di tingkat lokal adalah orang-orang lama yang merupakan para politikus
jempolan yang sangat berpengalaman.

Mereka bukan orang-orang seperti Bang Wandi yang suka menyelesaikan
masalah dengan cara pamer emosi. Mereka adalah orang-orang yang sangat
mengerti kapasitas diri mereka sendiri. Misalnya untuk urusan ALA ini.
Mereka tahu persis, Ide mereka ini akan mentah kalau dibawa ke ranah
rasional, melalui perdebatan ilmiah yang mempertanyakan studi
kelayakan yang mumpuni. Karena itulah sejak awal cara-cara seperti itu
selalu mereka hindari.

Jadi kalau kemarin SBY bilang, ide-ide pemekaran ini bukan didasarkan
atas suatu studi kelayakan yang teruji, bukan atas alasan-alasan
rasional dan lebih kentara urusan kepentingan elit lokal. Dari dulu
mereka tahu itu. Soal mereka tidak bisa mempertahankan ide mereka
secara ilmiah, dari dulu mereka tahu itu. Buktinya bisa Bang Wandi
lihat di milis ini, beberapa kali mereka mencoba dengan cara itu,
berkali pula mereka terkaing-kaing dan kemudian bersembunyi. Mereka
tahu persis soal ide-ide pemekaran ini mereka akan habis jika mereka
mencoba menyelesaikannya dengan cara diskusi.

Jadi urusan SBY bilang pemekaran dihentikan dan opini yang berkembang
secara nasional juga demikian, itu bukan hal baru bagi mereka. Karena
itu sudah sangat mereka sadari. Dan sejak dulu merekapun tidak pernah
berusaha untuk berjuang dengan strategi ini.

Perlu Bang Wandi tahu, dari dulu cara mereka menggoalkan ALA adalah
dengan berusaha menciptakan KONFLIK TERBUKA. Isu-isu kesenjangan, ide
ketidak adilan, diskriminasi terhadap minoritas, penindasan Aceh
terhadap Gayo, peminggiran dalam segala bidang. Inilah ide-ide yang
selama ini mereka kembangkan, tidak peduli apakah ide itu berdasarkan
fakta atau bukan.

Mereka bermain di situ, dan setiap mereka melihat ada celah kecil yang
memungkinkan buat mereka memainkan isu itu, celah itu akan mereka
masuki dan mereka perlebar.

Aku tahu persis kalau Bang Wandi tidak benar-benar mengenal mereka,
Bang Wandi sama sekali tidak tahu apa kelebihan dan apa kekurangan
mereka. Tapi sebaliknya mereka sangat mengenal setiap detil kecil
kelemahan dan kekurangan Bang Wandi yang dengan cermat mereka
kantongi. Setiap ada kesempatan, setiap Bang Wandi membuat satu
kesalahan kecil, kesalahan Bang Wandi itulah yang mereka eksploitasi.

Perlu Bang Wandi tahu, Selama di Gayo beberapa waktu yang lalu, aku
berkeliling ke berbagai pelosok, menyaksikan dan merasakan sendiri
bagaimana perasaan warga di tanahku sendiri.

Mungkin selama ini di koran, di TV atau dari bisikan pembantu Bang
Wandi sendiri, informasi yang masuk mengatakan Masalah ALA ini masih
dalam tataran elit dan itu Bang Wandi percayai. Tapi apa yang
kusaksikan di Gayo sama sekali lain. Di beberapa tempat, soal ALA ini
malah sudah menimbulkan sikap militansi, dan kenapa itu bisa
muncul?…itulah yang kubilang tadi, lawan Bang Wandi soal ALA ini
adalah para politikus jempolan. Untuk mempengaruhi emosi rakyat mereka
turun sendiri, mengajari mereka tentang berbagai hal mengenai
kelemahan dan ketidakadilan Bang Wandi.

Contohnya di sekitar Ramung Kengkang, jalan-jalan di pedesaan dan di
kebun-kebun semuanya licin dan mulus sekali. Kontras dengan jalan
besar yang penuh lobang di sana sini.

Waktu berada di sana aku mengobrol di sebuah warung yang didalamnya
banyak penduduk setempat yang rata-rata petani. Ketika aku bertanya
pada mereka soal ALA, mereka menjadi bersemangat dan antusias, semua
orang di warung kopi itu mendukungnya. Meskipun beberapa mendukung
dengan dalil yang tidak masuk akal, misalnya mengatakan kalau
bergabung dengan Aceh, kita tidak akan bisa membangun rumah karena
Irwandi tidak membolehkan menebang satu pohonpun kayu di hutan. Atau
ada yang mengatakan, sekarang kita miskin karena oleh orang Aceh kita
dipajaki, kopi yang kita panen diambil pajaknya di perbatasan, kalau
ALA berdiri hal seperti itu tidak akan ada lagi.

Tapi di samping argumen-argumen yang tidak lucu seperti itu ada pula
yang punya argumen tepat dan masuk akal, dan menurutku itu istimewa
sebab belakangan ini kulihat pengetahuan mereka tentang politik cukup
lumayan sekali. Aku berkesimpulan begini, ketika di antara kerumunan
itu seorang petani yang saat kutanya mengatakan dia cuma tamat SMP
menjeaskan dengan detail kepadaku, tentang apa yang dulu baru aku
pelajari di bangku perguruan tinggi.

Si Petani ini menjelaskan kepadaku soal administrasi pengelolaan jalan
di negara ini, dia menjelaskan kepadaku yang pernah kuliah di Teknik
Sipil ini tentang klasifikasi jalan berdasarkan administrasi, ada
jalan yang dikelola pusat, ada jalan yang dikelola provinsi dan ada
jalan yang dikelola kabupaten. Padahal aku baru tahu soal ini, dulu
di semester tiga dalam mata kuliah Jalan Raya.

Menurut si petani ini, jalan di kampung-kampung bagus dan mulus,
karena jalan itu adalah jalan dibawah administrasi kabupaten,
kebijakan memperbaiki atau tidak ada di tangan bupati. Itulah sebabnya
jalan-jalan ini semuanya bagus. Berbeda dengan jalan Teritit Pondok
Baru yang dikelola provinsi yang penuh lobang di sana sini, itu karena
kebijakan pengelolaannya ada di Gubernur. Dan menurut mereka Gubernur
yang GAM itu memang tidak senang orang di daerah ini maju dan karena
itulah jalan itu tidak pernah diperbaiki.

Dan yang lebih mengagetkan lagi Bang Wandi, petani yang lain yang juga
ikut mengobrol di warung kopi itu tahu soal dana OTDA segala, lengkap
dengan angka-angkanya. Mereka mengatakan padaku kalau dana OTDA yang
53 milyar semua ditarik ke provinsi. Menurut mereka bagaimana Gayo
mau maju kalau orang Aceh cara mainnya seperti ini.

Selayaknya orang Gayo manapun yang suka beranalogi, mereka mengatakan
padaku, kenapa Gayo ini tertinggal itu karena ibarat sabung ayam, kita
orang Gayo di pegang, orang Aceh dilepas bebas dan dengan leluasa
mematuki.

Di sini, aku tidak berbicara soal benar salahnya informasi yang mereka
terima, tapi yang aku bicarakan adalah soal kehebatan lawan Bang
Wandi. Mereka berhasil menjadikan diri mereka pahlawan di masyarakat
dan sebaliknya mereka berhasil menjadikan Bang Wandi sebagai musuh
masyarakat. Dan dengan cara itulah mereka meyakinkan rakyat, bahwa
orang Gayo memang butuh mendirikan Provinsi sendiri.

Apa yang kulihat di sana menunjukkan dengan jelas kalau lawan-lawan
Bang Wandi ini begitu lihai memainkan strategi komunikasi ketika
mereka berhadapan dengan rakyat bawah . Jujur aku katakan, kemampuan
yang mereka miliki soal ini jauh di atas kemampuan Bang Wandi.

Sementara Bang Wandi merasa terlihat hebat dengan urusan-urusan besar,
entah itu pertambangan, energi panas bumi, menghadiri konferensi
gubernur yang katanya sedunia, meskipun setelah diteliti ternyata yang
hadir cuma gubernur-gubernur dari negara-negara yang jadi dakocannya
Amerika saja, bahkan gubernur yang dari Amerikapun yang hadir cuma ada
tiga dan itupun satu sudah ditangkap karena tuduhan Korupsi. Bang
Wandi tidak menyadari kalau lawan-lawan Bang Wandi di sini sudah
sukses menghancurkan citra Bang Wandi.

Aku tahu Bang Wandi terlihat macho dan gagah nyetir mobil sendiri,
merasa patriotis hanya menggunakan bahasa Aceh dalam berkomunikasi.
Tapi satu yang Bang Wandi tidak sadari, gaya Bang Wandi yang Bang
Wandi pikir hebat itulah yang dimanfaatkan lawan-lawan bang Wandi.
Soal Bahasa Aceh misalnya, perlu Bang Wandi tahu, dengan gaya Bang
Wandi itu banyak orang Gayo yang dulu simpati sekarang balik memusuhi
Bang Wandi.

Perlu Bang Wandi ingat, penduduk asli negeri kita ini bukan hanya
etnis Aceh semata dan Bang Wandi adalah gubernur dari semua etnis itu.
Sejak dulu kita sudah begitu, bahasa yang kita gunakan dalam
berkomunikasi antar etnis adalah bahasa Melayu. Tapi itu tidak Bang
Wandi hargai, sebagai Gubernur dari warga yang plural ini Bang Wandi
malah memamerkan kemachoan suku Bang Wandi sendiri. Inilah yang
mengakibatkan banyak orang suku lain yang dulu simpati pada Bang
Wandi, sekarang berubah jadi benci.

Contohnya beberapa waktu yang lalu, ketika Bang Wandi menghadiri
konferensi UNFCC dan ditemui rombongan orang Aceh di Hotel
Intercontinental, Jimbaran Bali. Bang Wandi dengan bangganya hanya
berbicara dengan Bahasa Aceh, padahal Bang Wandi tahu persis karena
Pak Bahtiar Ketua LAKA Bali sendiri yang mengungkapkannya bahwa di
sana juga hadir sekelompok orang Aceh bersuku Gayo.

Saat akan bertemu Bang Wandi waktu itu, semua orang Gayo yang hadir
itu menaruh respek dan hormat yang begitu tinggi pada Bang Wandi,
tapi saat dalam pertemuan itu Bang wandi hanya mau berbahasa Aceh.
Pulang dari sana mereka semua jadi memandang rendah dan memaki-maki
Bang Wandi. Dengan sikap Bang Wandi, mereka merasa marah dan
dilecehkan, mereka kesal karena dari semua orang Gayo yang hadir di
sana, yang mengerti omongan Bang Wandi saat itu cuma saya sendiri.

Ada banyak lagi sebetulnya yang ingin kutuliskan, tapi untuk tahap ini
aku pikir cukup segini, kalau terlalu banyak aku takut Bang Wandi bosan.

Cuma perlu Bang Wandi tahu, apa yang kusampaikan ini sebetulnya adalah
keluhan banyak orang. Tapi ini tidak pernah Bang Wandi dengar karena
orang yang merasakan yang kutulis ini cuma bisa diam. Bukan karena
takut, tapi karena orang-orang yang merasakan ini, seperti
teman-temanku yang pernah sama-sama turun ke jalan tahun 1998 dulu,
sekarang mereka semua sudah terkotak dalam berbagai kelompok politik
tertentu. Akibatnya mereka tidak lagi bebas seperti aku, kalau mereka
ngomong, status mereka sebagai bagian kelompok ini dan itu tidak bisa
mereka lepaskan. Mereka khawatir kalau mereka ngomong, nanti malah
kelompoknya yang Bang Wandi maki, seperti anak-anak KAMMI yang
underbownya PKS beberapa waktu yang lalu.

Kepada Bang Wandi aku minta maaf kalau Bang Wandi merasa gaya
tulisanku ini sok akrab, tidak memanggil Bang Wandi dengan sebutan
'Pak' atau 'Teungku'.

Perlu Bang Wandi tahu, saat berbicara dengan pejabat, sebutan-sebutan
semacam itu memang sengaja kuhindari karena bagiku sebutan seperti itu
hanya melanggengkan budaya feodal hirarkis. Aku menghindarinya karena
aku tahu persis, urusan feodal di Aceh sudah selesai dengan
berkahirnya perang Cumbok dulu dan di Gayo malah sama sekali tidak
pernah eksis dari zaman dulu.

Aku juga minta maaf kalau, penyampaianku yang melalui Superkoran ini
terlihat kurang sopan, karena Superkoran ini bukan media yang tergistrasi
secara resmi dan bukan pula di media cetak yang lebih membumi.

Sebenarnya itu bukan karena aku tidak mau menulis di media semacam itu
Bang Wandi, masalahnya di Aceh ini media-media teregistrasi itu punya
selera dan standar kebijakan sendiri. Sebagai contoh di koran serambi,
untuk bisa meloloskan tulisan ke sana, semua harus melalui redaktur
Opini. Masalahnya redaktur Opini di Serambi ini, alumni HMI yang
bernama Ampuh Devayan lebih susah didekati daripada seorang menteri.

Dan terakhir, perlu juga Bang Wandi tahu, saat ini kami semua sudah
cukup bangga dengan gaya Bang Wandi yang macho itu, apalagi sekarang
dengan mobil baru pemberian Arnold si bintang Terminator. Jadi kalau
soal gaya Bang Wandi sudah betul-betul Oke, jadi sekarang yang masih
terus kami tunggu adalah kerja Abang, bukan penampilan.

Meskipun aku tahu suratku ini tak akan dibalas, tapi aku tahu Bang
Wandi pasti akan membaca surat yang kutulis ini dan tanpa kuminta
dipikirkanpun, aku tahu persis hari-hari ke depan apa-apa yang
kutuliskan ini tak akan bisa Bang Wandi buang begitu saja dari kepala
abang.

Karena itulah agar tidak menambah beban, aku merasa Bang Wandi perlu
tahu, kalau aku menulis ini sama sekali bukan karena rasa benciku pada
Bang Wandi. Tapi semata hanya sebagai masukan untuk tambahan
informasi. Supaya Bang Wandi tetap ingat, kalau dulu Bang Wandi
dipilih dengan harapan besar membawa perubahan. Masalahnya sejauh ini
perubahan yang kami dapat baru sejauh gaya Bang Wandi yang
blak-blakan, belum ke perubahan kebijakan yang memberi pengaruh
signifikan pada kesejahteraan. Berkaitan dengan hal yang terakhir ini,
justru yang kami lihat sekarang Bang Wandi sangat kedodoran.

Sebegitu dulu suratku ini Bang Wandi, kuharap suratku ini tidak
menaikkan tensi Bang Wandi yang terkenal tinggi.

Wassalam
Adikmu

Win Wan Nur
Ketua Forum Pemuda Peduli Gayo
http://www.gayocare.blogspot.com