Rabu, 30 Januari 2009  Saya memasuki gedung Kantor Imigrasi Singapura di ICA Building beralamat di: 10 Kallang Road, Singapore 208718, terletak di sebelah Lavender MRT (Mass Rapid Transit) station, sebuah bangunan bertingkat dan sederhana untuk ukuran sebuah gedung pemerintah Singapura.

Seperti biasa, suasananya bersih dan menyenangkan. Mengingat para pengunjung yang tampak adalah multi ras dari India, Malaysia, Phillipines dan juga orang-orang berkebangsaan Kaukasian dari Eropah dan benua lain-lainnya. Sesungguhnya saya tidak mempunyai keperluan yang terlalu penting untuk mendatangi  gedung ini. Saya hanya ingin memperpanjang ijin keberadaan saya di Singapura dengan periode satu bulan lagi di sana. Seperti diketahui semua warga negara Asean dapat saling berkunjung dengan fasilitas  mendapatkan visa otomatis selama 30 hari tanpa biaya kalau mengunjungi salah satu negara yang juga anggota Asean. Saya sudah melakukan permohonan perpanjangan melalui sarana komputer dari rumah semalam, tetapi karena masa berlakunya paspor saya yang habis nanti pada tanggal 17 Mei 2009 (tanggal ulang tahun saya), maka saya perlu datang ke kantor ini secara fisik agar saya mendapat pelayanan yang nyata, yakni berhadapan dengan petugas sesungguhnya, yang berupa seorang manusia, bukan sebuah komputer. Saya mendapat petunjuk yang jelas sejak memasuki gedung ICA ini di lantai satu. Semua tertulis dengan terang dan nyata dalam bahasa Singapura, Bahasa Tamil dan Melayu serta tentu saja dalam bahasa Inggris.

Sesuai petunjuk yang ada, saya naik ke lantai 3 dan ikut antri ke sebuah antrian manusia segala asal ras, sebanyak sekitar 30 orang. Tetapi baru saja antrian maju sekitar tiga meter, seorang gadis kecil yang sopan menyapa saya dengan menggunakan kata-kata yang terang dan muka yang cerah penuh senyum. Dia tidak berpakaian seragam apapun hanya sebuah badge kecil diletakkan di bagian kiri atas dadanya. Saya perhatikan hampir semua petugas memakai pakaian sipil biasa, seperti pengunjung Mall, kecuali para petugas keamanan yang kelihatan seperti Polisi berseragam biru tua. Mukan si nona ini bulat dan sedikit lucu tetapi serius, mendengarkan maksud kedatangan saya. Dia sedikit tergelak dan menggamit saya agar keluar dari antrian dan mengajak saya seperti dia mengajak sesama temannya saja layaknya, dengan menggerakkan kepalanya ke arah mana dia ingin kita menuju. Saya ikuti langkahnya dan kita menuju ke sebuah lorong yang buntu tetapi disebelah kanan di pinggir dinding, dia mengajak saya duduk di depan salah sebuah komputer yang berderet di situ.

Sambil mengetik data yang dia baca dari paspor saya dan istri saya, dia menerangkan bahwa saya sebenarnya tidak perlu datang ke kantor ini, karena semua bisa dikerjakan secara on line. Saya jawab: "But I have a problem with my Passport's expiry date" Dia mengernyitkan alisnya dan dia mengamati saya serta meneliti paspor. Dia tersenyum lagi serta berkata dalam bahasa Indonesia Melayu: 'Sila tunggu Bapak di sini".  Saya jawab OK dan dia berlalu sambil membawa kedua paspor. Saya lihat dia berhadapan dengan salah seorang atasannya dan sedikit melakukan seperti perdebatan dan satu menit kemudian dia bisa kembali dengan tersenyum lagi. "It's OK now Bapak, we can continue the process of applying for another extension for you  a period of another one more month!! That would be January 5, 2009".

Tanggal ini akan kurang dari enam bulan lamanya, mengingat exipry datenya 17 Mei 2009.

Saya tanya: "How could you do that?"

Pemudi lucu ini menjawab dengan muka ceria: "I did some magic with dates, see?"  

Huh? Semua orang sudah tau, di Singapura tidak mungkin orang mau  memanipulasi data apapun, karena hukuman yang cukup berat akan menyertainya. Rupanya dia enggan menerangkan kepada saya detail dari bagaimana prosesnya sampai dia mendapat ijin untuk melanjutkan proses pengurusan permohonan ijin agar bisa tinggal lebih lama di Singapura, meskipun salah satu persyaratan paspor tidak terpenuhi. Saya sendiri telah bersiap diri untuk diminta menghadap atasannya yang dia datangi tadi, ternyata hal itu sama sekali tidak terjadi dan membuat saya tidak direpotkan. Saya tidak dibuat repot sama sekali: pertama lepas dari antrian yang panjang dan saya tidak di pingpong ke sana kemari. Sistem sudah di on-linekan dan saya masih diberi pelayanan, yang bagi saya, benar-benar terasa luxe sekali. Masih belum selesai, saya terkejut, karena dia meminta maaf dengan tulus karena pengerjaannya jadi memakan waktu lebih lama dari biasanya, katanya. Benar-benar saya tidak merasa bahwa pelayanannya tadi lebih lama, semua itu hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit untuk dua buah paspor.

Hari Kamis tanggal tanggal 22 Januari, 2009.

Saya pergi ke Kantor Departemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia, Kantor Wilayah Departemen Hukum Dan HAM, DKI JAKARTA Kanim Kelas I Khusus Jakarta Selatan di jalan  Warung Buncit Raya No. 207, Jakarta. Saya tebak saja Kanim itu adalah Kantor Imigrasi.

Saya ke Loket Entry Data dan diberitahu formulir yang saya isi sudah tidak berlaku dan silakan ambil yang baru di kiosk di depan situ. Saya ikuti dan saya isi seperti ditentukan. Selama mengisi seseorang yang ada di sebelah saya, mengamati apapun yang saya kerjakan, dan kelihatan dia amat paham semua isi formulir dan dari komentar-komentar yang diucapkannya bagaimana cara mengerjakannya, saya menduga kuat bahwa dia adalah seorang calo. Saya sudah bertekad sejak awal bahwa saya tidak akan menggunakan jasa calo. Jadi dengan santai saya isi semua, saya tandatangani dan  menuju kembali ke loket. Saya serahkan dan segera mendapat jawaban agar mengulangi sekali lagi mengisinya sesuai dengan peringatan seperti tertulis di atasnya: Dengan huruf cetak dan tinta hitam. Wah saya memang sudah menuliskannya dengan menggunakan huruf cetak tetapi tinta biru. Okay, Okay saya salah. Saya ambil lagi formulir lagi saya kerjakan seperti semestinya. Eh Mister Calo kok nongol lagi dan bertanya: "Kok nulis lagi Pak?" Saya dekatkan ujung pena hitam saya dekat ke arah matanya: "INI WARNA HITAM" kata saya. Barulah dia, sambil mengangguk-angguk, pergi menjauhi saya. Selesai mengisi formulir, saya datang ke loket lagi. Di periksalah semua formulir dan lampirannya. Sengaja saya buat semua photocopy dengan berwarna agar mereka tau kalau tidak ada yang dipalsu. Eh tanpa dinyana saya ditanya, Bapak sudah Pensiun ya? Saya jawab "Iya!!"

Geledek datang menyambar: "Bapak dulu ABRI ya?" Saya jawab ketus: "Tidak, sama sekali BUKAN" Pak ini kata Pesiunan di Kartu Keluarga tidak sesuai dengan KTP Bapak yang menyebutkan pekerjaan Bapak adalah Pengusaha. Sedangkan Pensiunan adalah untuk Pegawai negeri dan ABRI. Saya tidak mendebat, tetapi menurut pengertian saya selama ini, pensiun bisa dikenakan kepada siapapun yang telah tidak lagi bekerja rutin. Dia boleh tukang listrik atau tukang bubut, preman sekalipun, hanya saja mereka tidak menerima uang pensiun berupa uang setiap bulan dari Kas Negara.

Jawab saya: "Lho, yang membuat Kartu Keluaga kan bukan saya dan itu melibatkan Kelurahan, jadi bukan saya yang menggunakan istilah Pensiunan. Tetapi pada kenyataannya saya sudah benar-benar sudah pensiun (istilah padanannya: retired) sejak sepuluh tahun yang lalu dan berdasarkan itu dibuatkan paspor saya yang lama itu menggunakan data seperti yang ada sekarang. Sama persis, karena saya tidak menggunakan data lain. KTP sama, Kartu Keluarga sama serta Surat Nikah yang sama dan ternyata kan bisa  bisa diterbitkan paspor yang akan habis masa berlakuya nanti tanggl 17 Mei itu!! Yang menerbitkan ya Kantor Imigrasi yang sama, DISINI!! Saya tidak mengurusnya melalui orang lain dan saya datang sendiri seperti sekarang"

Seperti biasa layaknya seoang birokrat di Indonesia tetap bersikeras menjawab: "Tetapi Kartu Keluarga ini salah. Pak!"

Saya jawab: "Itu bukan salah karena waktu itu saya memang sudah berniat berhenti bekerja. Jadi ya Pensiun. Sekarang ini saya harus diberitau cara bagaimana solusinya agar bisa dilanjutkan prosesnya, kita kan tidak bisa melanjutkan perdebatan kita ini karena perbuatan "salah" dari instansi lain?"

Dia jawab: "Begini saja Pak. Sekarang Bapak buat Surat Pernyataan bahwa Bapak bukan pensiunan Pegawai Negeri dan bukan ABRI diatas kertas bermeterai. Bapak bisa beli Kertas bermeterainya ditempat mengambil formulir tadi."

Saya kerjakan dengan tulisan tangan di atas kertas biasa dengan menulisinya menggunakan tinta hitam yang bunyinya seperti diminta. Meterai saya tempel dibagian kanan bawah dan saya tandatangani diatasnya. Saya tulisi tanggal hari itu di atas Meterai sesuai dengan peraturan Menteri Keuangan" Saya serahkan ke loket dan saya diminta menunggu, nomor antrian saya 136. Waktu menunjukkan pukul 11.15 pagi. Saya tunggu dan duduk manis.

Pukul 11:30 ada panggilan melalui loudspeaker:  Nomor antrian 111 silakan menuju Loket Entry Data. Tidak ada yang muncul, dan diteruskan sampai nomor 120, sama sekali tidak ada seorangpun yang muncul. Saya tanyakan kepada seorang yang duduk di sebelah saya, menunggu seperti saya, dia bernomor tunggu 135: Bagaimana sekian banyak nomor yang dipanggil, tidak ada yang muncul?

Jawabnya singkat sekali: "Itu berarti melalui CALO!!" Saya Cuma bisa mengatakah Oooh!!

Sepuluh menit kemudian ada panggilan lagi sampai nomor 125 dan kira-kira sudah pukul 11:56 ada panggilan sampai ke nomor 130. Semua ini tidak ada yang muncul ke Loket ENTRY DATA. Saya beranikan, apa saya bisa ditolong karena nomor saya adalah berikutnya 136 dan saudara yang ini 135. Jawabnya enteng saja: "Sekarang sudah hampir jam Istrirahat Siang, sampai pukul 13:00 siang nanti. Silakan tunggu saja!!" Dibelakang counter loket dari sekitar sepuluh petugas sudah kosong mejanya dan tinggal petugas yang berbincang dengan saya itu.

Satu jam lagi. Oleh karena saya sedang terserang flu, badan sedikit demam dan hidung sedang basah karena ingus, saya tidak berani makan sembarangan. Saya kuatkan berjalan mencari tempat yang agak bersih, karena di halaman Kantor Imigrasi ini terasa suasana yang kumuh dan warung-warung di gang di sebelah juga kurang nyaman, saya teruskan  melangkahkan kaki dengan kondisi kurang enak badan seperti itu. Biar sajalah, kata hati saya. Akhirnya saya meyeberang melalui jembatan layang yang juga merangkap menjadi jembatan perusahaan bus Trans Jakarta yang terkenal dengan BUS WAY. Eh di bangunan jembatan ini justru terdapat tulisan berbunyi Imigrasi tetapi bunyi lengkapnya: HALTE IMIGRASI, yang pasti yang memasangnya adalah PT Trans Jakarta, bukan Kantor Imigrasi.

Saya menyeberang dan masuk ke sebuah Hotel kecil tepat diseberang  Kantor Imigrasi. Menu makanannya, mungkin karena saya sedang flu, tidak menarik sama sekali. Karena sudah terlanjur duduk saya pesan Spaghetti Bolognaise yang namanya mentereng begitu, dan benar saja, kurang enak. Saya salahkan penyakit flue saya saja. Saya kembali menuju Kantor Imigrasi dan tepat pukul 13:00 lebih lima menit dipanggillah nomor 130 dan sampai 135 yang adalah saudara yang tadi duduk disebelah saya dan kemudian saya, 136. Apa katanya? "Bapak datang  lagi nanti tanggal 27 januari 2009 hari Selasa pagi dan menuju ke Loket 4 sambil memperlihatkan semua lampiran yang aslinya, artinya: KTP,  KK dan Surat Nikah" Dari pada jengkel dan mengomel, saya membatin saja sambil menekan rasa amarah, karena hanya untuk satu kalimat ini saja saya harus menunggu satu jam lebih sedikit dan terpaksa makan Spaghetti yang tidak seberapa nyaman itu. Yah namanya Rakyat yang semestinya adalah majikan telah dijadikan budak mengikuti prosedur. Saya pulang. Sampai dirumah saya mencari Kartu keluarga yang asli, meskipun saya mempunyai banyak sekali photocopynya, tidak bisa saya ketemukan aslinya, entah tertinggal di Toronto atau Singapura, saya tidak ingat sama sekali.

Mulailah satu proses baru. Saya menulis surat kepada pak RT untuk dapat dibantu dalam menyelesaikan persoalan saya yang membutuhkan asli KK yang dengan tidak sengaja telah hilang. Surat saya buat tertanggal 24 Januari 2009. Tetapi karena dalam rangka Long Week End atau biasa disebut Cuti Bersama, hari Raya Imlek hari Senin tanggal 26 Januari Jakarta menjadi sepi. Pak RT dan Pak RW pun baru bisa bertindak setelah tanggal 26 malam hari. Dibuatkan Surat Pengantar oleh pak RT  dan ditandatangani oleh Pak RT bersama Pak RW. Saya amat berterima kasih telah dibuatkan Surat Pengantar ke Kelurahan ini, karena saya akan gunakan sebagai bahan saya memberitau pihak Imigrasi bahwa saya sudah berusaha mencari solusi kehilangan Surat Asli KK tersebut. Sedikit catatan kecil: sudah saya tanyakan di mana saja saya berada di negeri lain, apakah ada organisasi RT dan RW. Semua menjawab: Tidak Ada !!

Tanggal 27 Januari 2009.  

Saya datang di Kantor Imigrasi pada pukul 10:25 karena jalanan macet dimana-mana akibat hujan Hari Raya Imlek seperti biasanya. Saya langsung menuju Loket 4, saya tunjukkan bukti tanda terima dukumen yang saya terima dan saya katakan bahwa saya ingin menunjukkan semua dokumen asli, seperti diajurkan. Surat bukti tanda terima itu diterima dan saya disuruh menunggu, sementara menunggu, sebanyak tiga atau empat orang Calo membawa tumpukan dokumen seperti telah saya punyai dan telah saya serahkan. Mereka bersimpang siur dan lalu lalang di depan mata saya dan terlihat nyata  berkong-kali-kong dengan pegawai di belakang loket. Setelah mereka tiada, saya dipanggil dan diberi tau untuk naik ke lantai dua membayar biaya Rp.270000 dengan rincian: Tarif SPRI Rp.200000, Tarif TI Rp.55000 dan Tarif Sidik Jari Rp.15000 , dengan satu baris lagi tertulis: Biaya yang telah dibayarkan tidak dapat ditarik kemali. Dasar: PP No. 82 Tahun 2007.

Saya lakukan pembayaran. Normal-normal saja prosesnya. Selanjutnya saya diminta utuk menunggu di Ruang Tunggu Photo di Lantai satu kembali. Tempat duduk menunggu mungkin bisa menampung lebih dari lima puluh orang. Yang terlihat sebagai penunggu giliran yang benar-benar punya urusan diphoto dan diwawancara, mungkin hanya separuhnya. Selebihnya cuma Calo-Calo dan pegawai imigrasi sendiri yang terlihat sekali bukan dari bagian Photo ini. Karena saya duduk hanya sekitar setengah meter dari pintu ruang masuk ke ruang tempat pengambilan Photo dan Wawancara, saya melihat jelas dan mendengar jelas apa yang diucapkan oleh para Calo dan Pegawai Imigrasi yang bukan bagian Photo dan Wawancara. Mereka lalu lalang dengan leluasa sambil membawa dokumen-dokumen bertumpuk milik orang lain yang dicaloi. Termasuk, sekali lagi: waktu jam istirahat makan siang satu jam, saya duduk di kursi ini selama dua setengah jam dengan kondisi badan masih lemah dan batuk, dan saya tidak makan siang. Akhirnya saya dipanggil dan disilakan masuk, diambil photo dan kesepuluh sidik jari dipindai dengan scanner dan disilakan langsung ke bagian wawancara. Wawacara berlangsung lancar hanya kurang dari lima menit termasuk tanda tangan sekitar empat kali dan bereslah, katanya. Tanpa diminta menujukkan asli surat-surat KTP, KK dan Surat Nikah, saya diminta datang sekali lagi nanti pada hari Jumat tanggal 30 Januari 2009 untuk mengambil Paspor di Loket 4. Jerih payah saya dan mereka yang terlibat dalam pembuatan Surat Pengantar Pembuatan KK yang hilang, tidak dilirik atau diminta sama sekali. Meskipun itu baik bagi saya karena telah mengurangi kerepotan saya dalam menerangkan adanya Surat Pengantar itu, saya pandang ini adalah salah satu keteledoran yang mengakibatkan kemungkinan bisa terjadinya Paspor yang palsu, yang telah sejak lama pernah beredar.

Birokrasi memang membuat lubang-lubang keteledoran.

Oleh karena saya menulis sesuatu yang mungkin akan merugikan sumber penghidupan para Calo dan para Pegawai Yang Juga Calo, saya usulkan agar semua yang telah membayar dengan menujukkan Tanda Terima Pembayaran, DIBERI NOMOR URUT GILIRAN untuk diphoto dan diwawancara. Dengan demikian maka akan terjadi pencegahan Calo berpraktek dan juga Pegawai Calo yang ikut melakukannya.  Semua ini memang terlihat, bahwa kejanggalan pelaksanaan bekerja di Kantor Imigrasi ini telah mengakar dan dihayati sehingga mungkin sekali memang sengaja dibiarkan agar semua mendapatkan bagian secara rutin. Beberapa hari yang lalu saya membaca di suratkabar keterangan mengenai hal ini dan dikatakan bahwa "bisnis" calo di lingkungan Imigrasi ini amat sulit diberantas. Apa iya?? Disebutkan juga bahwa karena sipengguna calo akan bisa mengeluarkan biaya satu juta dari yang semestinya seperti saya lakukan: duaratus ribu saja! Bisa setiap hari, setiap minggu dan setiap bulan, uang panas seperti ini dinikmati oleh mereka yang terlibat, dan sudah berlangsug bertahun-tahun lamanya

Tanggal 30 Januari 2009.

Saya datang di Kantor Imigrasi pada pukul 09:50

Saya lihat di loket 4 tidak ada tamunya, ada seorang petugas di situ. Segera saya mencepatkan langkah dan saya katakan apa maksud saya. Cepat sekali diambilan berkas saya dan saya memberikan tanda tangan sebagai tanda terima paspor. Setelah membuat photo copy atas permintaan petugas tersebut di luar kantor Imigrasi dengan biaya seribu Rupiah, saya meninggalkan Kantor ini pada pukul 10:10. Total 20 menit saja.

Begitulah beda dunia, beda tata caranya mengurus dokumen imigrasi.

Sudah lama saya tidak pernah lagi melihat tiket pesawat terbang karena telah dibangun sistem on line.

Di ICA Singapura, sebagian besar dokumen Imigrasi bisa diproses secara on line.

Janganlah sedikit laporan diatas mendapatkan reaksi bahwa maksud tulisan ini hanya menjelekkan Negara sendiri. Pada suatu saat nanti, saat Imigrasi Indonesia sudah sanggup melakukannya setara dengan yang dilakukan oleh negara lain, saya harap saya masih berkeliaran di dunia ini. Ingin sekali saya menyaksikannya setelah menunggu selama hampir 63 tahun lamanya sejak Proklamasi Kemerdekaan pada tahun 1945.

JANGAN TERLALU LAMA, laaahhh … kan saya sudah tua.

Anwari Doel Arnowo – Jumat, 30 Januari 2009 – 12:12:23