Senin, 26 Januari 2009 TANYA menurut Kamus Bahasa Indonesia berarti permintaan keterangan. Bertanya adalah kegiatan melakukan permintaan keterangan. Pengertiannya jernih. Yang kusut, acapkali menyimak beragam pembawa acara di televisi, bukan bertanya, tetapi beropini. Sumber, sosok sibuk, berwaktu sempit, datang ke studio televisi, eh, hanya mendengar pewawancara ngoceh. Ketika Saur Hutabarat bertanya kepada Sultan HB X di Metro TV, pekan lalu, dalam program talk show satu jam, sebagai mantan wartawan TEMPO senior, ia memberi contoh bertanya yang baik.
Kegundahan soal bertanya itu mengantarkan saya memblok siaran televisi untuk talkshow di QTV – – saluran teve kabel berbayar – – sejak awal 2008 lalu, dengan tajuk Presstalk. Saya hanya menguji opini. Jika bertanya benar, maka pemirsa pasti suka – – kendati suara saya cempreng. Dugaan saya tak keliru.

Siaran yang baru berlangsung 10 episode itu, konon, cukup diminati pemirsa. Namun urusan bisnisnya tidak tergarap. Setiap sumber tidak dimintai uang seperak pun. Iklan tidak ada yang urus. Saya tidak mampu lagi memblok program berbiaya Rp 8 juta sejam setiap pekan itu.

Saya lalu terharu, ketika seorang pendeta senior di saat saya melakukan rekaman gambar terakhir, meminta mewawancarainya.

“Saya senang dengan cara Saudara bertanya,” ujarnya.

“Kapan Anda interview saya?”

Hingga hari ini saya seakan masih berhutang menghadirkan sang pendeta ke program talk show itu.

Selain terharu, urusan bertanya pernah membuat saya lebih dalam, mencucurkan airmata.

Ceritanya pernah saya tuliskan di narasi lama, awal 2008 lalu. Sekadar mengulang singkat, ceritanya begini: Pada medio 1992, di saat saya pertama kali ke Washington DC, AS. Saya memasuki gedung Federal Bureau Investigasi (FBI). Publik dari manapun, boleh berkunjung, asal ikut antri. Juga tidak ada aturan berpakaian khusus ke sana. Pakai celana pendek dan identitas jelas, masuk ke jalur antrian tamu, setiap orang boleh datang.

Setelah dijelaskan beragam fasilitas dan kegiatan FBI yang ada, rombongan pengunjung per 40 orang itu diminta duduk menyimak seorang agen memperagakan latihan menembak menggunakan berbagai jenis senjata. Kami para tamu dapat melihat dari balik kaca. Tak lama kemudian sang agen keluar menemui kami. Ia menyampaikan ucapan terima kasih telah datang ke FBI, dan berkenan menjawab pertanyaan sebelum berpisah.

Penanya pertama sosok anak kecil sekitar 5 tahunan. Pertanyaannya, kira-kira begini: “Ngapain kamu hamburkan itu peluru, berserakan di lantai untuk sia-sia?”

Sang agen menjawab, diawali dengan kalimat, “Yes Sir, thank you for your question.” Baru kemudian dia menjelaskan dengan sangat santun, bahwa peluru dan selongsong bisa didaur ulang. Agen itu berjas dan berdasi rapi.

Saya perhatikan ibu, bapak dan kakak anak kecil itu, tidak ada menyuruh bertanya. Beberapa kanak-kanak lain tak ada yang mengomentari negatif. Bagi saya, di sebuah gedung di lembaga berwibawa, menjadi pengalaman tersendiri.

Penanya kedua, juga anak kecil sekitar 6 tahun. Pertanyaannya, bagaimana kok orang-orangan kertas ditembakin bolong, orang benaran tidak, sebagaimana dilihatnya di televisi?

Sang agen, seperti semula, mengawali jawaban dengan pakem sama. Berterima kasih, menyapa anak kecil sebagai tamu dengan Sir! Lagi, saya tak melihat ada anak lain menertawakan pertanyaan seakan nyeleneh itu.

Air mata saya berlinang. Tak terasa mengalir sendiri, karena teringat di jaman sekolah dasar, di kampung dulu, ketika bertanya di kelas, kawan-kawan suka menertawakan, “Nggak mutu perrtanyaanmu.” Guru menjawab pun, mengawali kata, “Kamu bertanyanya kok gitu?”

Akibatnya bertanya bukan lagi sebuah kegembiraan menjawab keingin-tahuan.

Bertanya menjadi beban ujian.

Bertanya menjadikan mulut tergembok.

Hingga di saat saya menuliskan perihal ini, di kebanyakan sekolah hingga perguruan tinggi Indonesia kini, suasana tanya-jawab melempem. Muaranya, bukan suatu keadaan aneh jika di banyak saluran televisi dan radio, sulit sekali menyimak pewawancara bertanyanya benar bertanya?

Dan penyakit bertanya itu juga mendera ke segenap lapisan. Pada 25 Januri 2009, Gatra.com menuliskan, bahwa kunjungan studi banding pejabat Indonesia ke Malaysia meningkat.

"Tahun 2008 ada 429 kunjungan tamu naik satu kunjungan tamu dibandingkan tahun 2007 sebanyak 428 kunjungan tamu. Tapi jumlah orangnya naik cukup signifikan dari 4.656 orang tahun 2007 menjadi 5.296 orang atau naik 640 orang atau naik 14% dibandingkan tahun sebelumnya," kata juru bicara KBRI Kuala Lumpur, Eka A Suripto.

Ada beberapa kategori kunjungan tamu, ada sidang atau seminar, kunjungan kerja, studi banding, pameran, pribadi, dan transit. Paling banyak adalah kunjungan kerja, dinas, sebanyak 98 kelompok tamu, disusul sidang atau seminar 99 kelompok, studi banding 66 kelompok, pameran 14, pribadi, VIP 12, dan transit sembilan kelompok.

"Tapi yang paling banyak adalah studi banding. Banyak program kunjungan kerja, dinas, yang tidak ada bedanya dengan studi banding. Banyak sekali kunjungan kerja ke sekolah Indonesia Kuala Lumpur oleh guru-guru di daerah tapi mirip studi banding," ujar Eka di Gatra.com

"Mengenai studi banding, beberapa instansi pemerintah melakukan studi banding ke obyek yang sama, misalkan, melihat smart tunner, monorail, LRT, kereta api express ke KLIA. Dari tahun ke tahun, obyek itu lagi yang dilihat oleh berbagai instansi," tuturnya.

"Ada juga pejabat yang melakukan studi banding. Diterima dengan baik oleh tuan rumah. Disiapkan bahan-bahan dan makanan tapi ketika di lapangan tidak ada satu pun anggota tim yang bertanya. Terpaksa para diplomat dan atase yang mengajukan pertanyaan supaya tidak malu," papar Eka.

Jadi, Saudara, langgam enggan bertanya itu menimpa segala lini tampaknya.

Malaysia, negeri yang berbahasa Melayu saja, pejabat kita yang katanya studi banding, terkunci rapat mulutnya, apalagi di negara berbahasa Jerman, Spanyol, Arab, Jepang, Italia, Jerman, Rusia dan seterusnya, kian mengkerutlah moncongnya.

Sehingga saya menyebut keadaan demikian sebagai penyakit – – sesungguhnya sudah lama mendera bangsa – – dengan istilah bukan baru:

Mulut begembok di penyakit bertanya!

Sementara di lintas media, mulut terkunci gembok bengkok.

Maksudnya, tak jelas pokok utama nan ditanya.

SABTU, 24 Januari 2009. Di pukul 14 di bilangan Kemang Raya, Jakarta Selatan itu, matahari seakan malu-malu. Awan berselang-seling gelap terang. Di daerah Kemang Utara A, saya menemui I. Luki Antara, di sebuah bangunan, di lantai dasar, tempat ia mendisplay beragam produk usahanya, yang berkait ke kebutuhan komoditi organik. Mulai dari beras organik, gula, garam organik, dan banyak ragam produk lainnya – -targetnya mencapai 1.000 item.

Bila selama ini di pasaran jualan beras berkarung goni dan plastik, di sana beras berukuran 5 kg dimasukkan ke dalam plastik vakum, lalu dicemplungkan lagi ke dalam box karton, yang didesain apik, bisa dijinjing. Sekilas, jika menenteng kotak itu, orang tak akan paham isinya beras.

Di deretan meja dipajang dalam kotak bambu unik, didalamnya ada beras enam macam, masing-masing setengah kilogram; beras merah, setengah merah, putih dengan macam jenis. Semuanya organik. Satu kotak dengan beragam beras itu dijual Rp 70 ribu. Buah tangan yang lain dari biasa. Kental Indonesia.

Saya juga diperlihatkan aneka jenis padi, yang kini bersama pemerintah Bantul, Yogyarakarta, mulai dikembangkan di lahan yang sudah disiapkan, bebas pupuk kimia. Petani mulai giat menanam, karena harga beli pun lebih tinggi dari pada beras IR 64, misalnya. Konsumen kini di level tertentu mulai melirik beras organik.

Saya terkesima, begitu diperlihatkan bahwa Indonesia ternyata memiliki beras langka. Sosok sebutir beras belang, merah dan putih. Tentunya bukan merah darah macam bendera Merah Putih, melainkan merah beras dan putih beras.

Butirannya tampak halus. Sayangnya beras demikian belum bisa dibeli, karena baru dikembang-biakkan kembali. Padahal sangat Indonesia, unik. Anugerah Yang Maha Kuasa, bagi kekayaan ,genetic resouces alam Nusantara.

Tak lama kemudian datang Helianti Hilman, 35 tahun. Ia direktur PT Kampoeng Kearifan Indonesia, perusahaan yang bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Bantul, Yogya ini. Melalui bendera usaha ini, kini, atas usahanya, sudah didapatkan 90 varietas padi asli Indonesia. Di antaranya jenis Jowo Melik, Cempo Merah, Menthik Susu, Menthik Wangi dan Rojolele Gebyok.

Masing-masing beras memiliki kekhasan dan kekhususan. Cempo merah misalnya. Ia mengandung unsur selenium yang dapat mencegah timbulnya radikal bebas perusak membran. Baik untuk mencegah kanker dan penyakit degeratif lainnya. Kandungan karbohidrat lebih rendah dari beras putih, tetapi energinya lebih besar.

Menurut riset International Rice Research Instutitute (IRRI), Manila, pada penghujung 1960, di Indonesia ini terdapat 7.000 jenis varietas padi. Kini di Balai Penelitian Padi di bawah Departemen Pertanian, hanya tinggal 250 jenis yang ada.

Itu pun beberapa bibit dari 250 itu, sudah ada yang 10 tahun tidak ditanami. Padahal masa rentang usia produktif padi bisa disemai, atau masa dorma, hanyalah dua tahun saja.

Itu artinya biar pun didokumentasikan mencapai 250 bibit, maka di lapangan dipastikan tak sampai demikian banyak. Sehingga langkah Helianti mengumpulkan 90 jenis padi, dapat dianggap terobosan besar. Apalagi kemudian ditanam dengan pola tradisional yang sehat tanpa pupuk kimiawi.

Kita memang layak bertanya kepada pengelola negara ini.

Khususnya di era Orde Baru dulu, yang melakukan program menyeragaman bibit padi, hanya memenuhi desakan FAO, badan pangan dunia, untuk meningkatkan volume produksi.

Akibatnya diciptakan pula padi jenis baru yang hidup bergantung laksana narkoba ke pupuk kimia. Para pengembang bibit yang bertaut ke Multinasional Company, termasuk dalam urusan menyediakan pupuk, telah secara tak langung “memperkosa” kehidupan rakyat kebanyakan yang secara Ilahiah lahir di bumi yang berada di lintas khatulistiwa nan kaya.

Sebuah alam yang dikaruniai Tuhan kekayaan tak terhingga. Baru bicara beras saja, Nauzubillah banyak jenisnya!

Makanya tanda-tanda "penjajahan" dan"pembodohan" terhadap urusan padi itu hingga kini terus berjalan.

Menurut sebuah sumber saya, Balai Penelitian Padi yang di bawah Departemen Pertanian itu, konon simbolnya saja milik negara. Tetapi sosok yang bekerja di sana, sangat menghamba ke perusahaan multinasional. Karenanya jika ada pameran yang berkait ke urusan padi, beras, yang punya stand besar memang itu ke itu saja: perusahaan multinasional. Kelompok tani macam Sang Hiyang Seri, teronggok di booth kecil di pojokan.

Logika mengembangkan produk padi varietas baru, dengan dana mencapai Rp 1 triliun tiap tahun, di Departemen Pertanian, masih ke pola lama.

Bukan mengembalikan dan mencari kekayaan yang 6.750 ribu jenis padi lagi itu, yang kini entah ke mana lenyapnya itu? ASpalagi memikirkan menumbuhkan makanan beras yang sehat.

Padahal dipastikan aneka berasnya menjadi makanan pokok biji-bijian yang mampu menyehatkan jagad melalui pangan yang alami dari tanah di surga khatulistiwa ini.

Saya tak habis pikir bila pada Desember 2007, misalnya Deptan bekerjama dengan pemerintah Cina mengembangkan bibit padi baru yang disilangkan, konon, dengan satu kacamata maksud: berproduksi lebih tinggi.

Tetap saja upaya pencarian genetik lokal yang kaya dan lenyap itu hingga kini tak ada.

Yang justeru hangat, lagi-lagi urusan riset padi "diam-diam" yang konon didukung oleh presiden SBY tahun lalu, yang ternyata tidak menghasilkan beras sebagaimana diharapkan.

Logikanya kembali ke urusan bertanya. Sudah saatnya segenap anak bangsa bertanya, bertanya dengan sesungguhnya bertanya.

Kemana hilangnya kekayaan genetik bangsa di padi?

Siapa yang membuat hilang?

Siapa yang harus bertanggung jawab?

Mengapa negara juga tak kunjung kian sadar, bahwa pembodohan terhadap kekayaan bangsa ini sehari-hari terus menjadi-jadi?

Aapakah masih punya nurani jika pejabat berkolusi dengan multinational company dalam pengadaan pangan nasional?

Karenanya saya tak bosan-bosan mempertanyakan para pejabat yang sudah nenek-nenek dan kakek-kakek di ranah kepemimpinan kini, yang tak kunjung jua memperkuat bangsanya.

Dana besar uang rakyat, yang ada di Balai Benih Padi, misalnya, hanya untuk kegiatan yang tak layak bagi kemaslahatan?

Akhirnya, terpulang kepada masyarakat kini, sudah sebaiknya kita belajar bertanya dengan benar, sekaligus mempertanyakan, untuk mereka yang sudah dianggap gagal membawa bangsa untuk bangkit di milenmium baru kini, agar legowo mundur dan menyerahkan segalanya kepada anak-anak muda macam Helianti Hilman itu, misalnya, mengurusi pertanian, misalnya.

Bila tidak, saya memprovokasi Anda semua untuk melakukan gerakan bertanya dari Sabang sampai Merauke di jam yang sama dan di waktu yang sama, agar Indonesia ini bergema, bangkit rakyatnya, melupakan memimpin usang "memiskin" bangsa.

Jadi, mari, galakkan bertanya dengan benar, tidak memble aje.***

Iwan Piling, literary citizen reporter, presstalk.info