Kemarin, iseng-iseng saya pergi ke perpustakaan. Saya membaca koran-koran dan majalah lama edisi tahun 90-an. Sangat menarik sekali membaca artikel dan berita yang tertulis dalam media cetak itu. Saat kita menilainya dengan situasi sekarang, ada perasaan aneh ketika saya membaca sebuah iklan komputer canggih yang begitu bombastis. Dalam iklan itu dikatakan IBM telah memasarkan sebuah komputer PC tercanggih yang pernah ada dengan kapasitas hard disk 2 Gigabytes yang dipasarkan dengan harga hanya $ 8150 saja.

Saat itu Soeharto sedang lucu-lucunya, dalam beberapa foto yang
dipublikasikan di media-media itu, saya melihat tiga orang menteri
diantaranya Mar'ie Muhammad dan Tungky Aribowo yang sedang meyerahkan
map dan menghadap beliau dengan takzimnya.

Berita dalam negeri saat itu didominasi oleh berita penculikan yang
dilakukan GPK Irja yang dipimpin Kelly Kwalik dan tenggelamya kapal
Gurita di hari Meugang (sehari menjelang Ramadhan) di perairan Sabang.
Membaca itu, saya teringat kembali betapa 5 hari sebelum kejadian itu
saya baru saja dari Sabang bersama rombongan Pecinta Alam dari seluruh
Indonesia dengan menumpang kapal yang sama.

Saat saya baca koran edisi januari 1996, saya membaca saat itu APBN
tahun 1996 yang baru disahkan mendapat tanggapan positif, bukan hanya
dari dalam negeri tapi juga dari luar. Pujian itu misalnya datang dari
Michel Camdessus, direktur IMF untuk Asia yang belakangan menjadi
Ketua IMF. Dalam tulisannya di Gatra, Michel mengatakan keyakinannya
kalau kurang dari sepuluh tahun lagi Indonesia akan menjadi salah satu
negara penting di kawasan ini.

Saat itu Michel Camdessus, seperti juga kita semua yang tinggal di
negara ini, sedikitpun tidak bisa menduga atau bahkan membayangkan
kalau dua tahun setelah nada-nada penuh optimistis itu akan ada
kejadian luar biasa di negara ini. Seperti Michel Camdessus yang tidak
pernah membayangkan kalau beberapa tahun kemudian wajahnya akan
dilempar kue pie di depan umum oleh Robert Naiman, seorang aktivis
anti globalisasi. Saat itu, tidak seorangpun bahkan dengan fantasi
yang paling liar sekalipun yang bisa membayangkan, kalau dua tahun
setelah nada-nada penuh optimisme itu, Soeharto presiden kita tercinta
yang begitu berkuasa dan sangat ditakuti, yang bahkan harus menjadi
idola seluruh penduduk negara ini yang berminat menjadi pegawai negeri
akan turun tahta dengan cara yang sangat hina.

Saya sendiri saat itu masih menjadi Mahasiswa di Fakulas Teknik,
Jurusan Teknik Sipil Unsyiah. Masih belum begitu terkoneksi dengan
berita-berita dan perkembangan yang terjadi di luar provinsi. Kami di
Aceh saat itu terbilang masih terisolasi, jangankan berita di luar
bahkan adanya operasi militer bersandi jaring merah untuk membasmi GAM
yang saat itu masih disebut dengan istilah GPK Aceh saja tidak
benar-benar kami ketahui. Kecuali hanya dari kabar-kabar burung tidak
resmi dari orang-orang yang tinggal di Aceh Utara atau Pidie.
Imajinasi terliar siapapun saat itu akan bisa membayangkan saat ini
Aceh akan dipimpin oleh seorang Gubernur yang anggota GAM bernama
Irwandi dan wakilnya Nazar anak IAIN yang lahir persis di tahun yang
sama dengan saya.

Waktu itu saya sedang tergila-gila main batu, sebutan kami untuk
permainan domino. Dua senior saya yang sudah tamat bernama Jojo dan
Syuhada (sekarang sudah almarhum), tiap malam datang ke kost-an saya
di Jalan Cumi-Cumi, Lamprit. Di sana apalagi yang kami lakukan kalau
bukan main batu, bertarung dan berjudi kecil-kecilan, dengan Sprite,
Nasi Goreng atau Martabak sebagai taruhan. Karena sudah malam
siapapun yang kalah harus membeli apa yang kami pertaruhkan ke Jambo
Tape yang buka sampai pagi . Sementara untuk pergi ke Jambo Tape yang
jaraknya sekitar 2 kilo meteran dari Jalan Cumi-Cumi, satu-satunya
kendaraan yang ada adalah Motor Honda GL Pro keluaran tahun 1982 milik
Jojo yang lebih sering bukannya membantu tapi malah menjadi masalah
baru karena tidak bisa dihidupkan. Akibatnya lengkaplah penderitaan
bagi yang kalah main batu, sudah kalah berjudi, membawa macam-macam
barang malam-malam masih ditambah harus mendorong motor butut pula.
Tapi untungnya Banda Aceh pada waktu itu benar-benar sangat aman, di
kota ini tidak ada preman, sehingga jalan kaki di malam hari yang sepi
dari Jambo Tape ke Lamprit pun kita tidak merasa was-was.

Saat itu di Banda Aceh belum ada internet, obrolan di kalangan anak
muda baru sekedar membahas, tadi Devi Padiana ngomong apa aja waktu
siaran pagi di Flamboyan, ada festival musik apa di taman budaya,
siapa nama cewek mahasiswa baru asal Lhokseumawe yang sekarang kost di
Jalan Pari dan pembicaraan-pembicaraan sejenisnya. Hampir tidak pernah
saya mendengar pembicaraan yang menyangkut politik dan sejarah.
Apalagi Filsafat dan Sastra yang keduanya adalah benda asing bagi
kami di Aceh waktu itu. Politik paling-paling menjadi bahan omongan di
kalangan anak-anak HMI yang eksklusif yang pergaulan mereka secara
politis terpisah dari budaya keseharian anak muda di Aceh.

Novel yang kami baca saat itu masih model Mira W, Lupus, Gola Gong
dengan Balada Si Roy-nya. Karya Pramoedya masih jadi barang haram.
Kalaupun membaca novel luar paling banter bacaan kami Sidney Seldon,
Mario Puzzo, Agatha Christie, Michael Crichton atau John Grisham.
Tidak ada novel dari pengarang-pengarang semacam Paulo Coelho,
Arundhati Roy apalagi George Orwell.

Seperti juga tidak ada yang menduga akan terjadi sesuatu yang luar
biasa tahun 1998, lebih tidak ada yang menduga lagi akan terjadi
sesuatu yang lebih luar biasa bagi Aceh dan dunia. Akhir tahun 2004
terjadi bencana Tsunami yang menewaskan lebih dari 300 ribu penduduk
provinsi ini. Sebuah bencana dahsyat yang kedahsyatannya melebihi
imajinasi manusia manapun yang hidup di tahun 90-an itu.

Bencana itu benar-benar membawa kesedihan bagi orang-orang Aceh yang
tersisa. Tapi seperti biasa, saat terjadi suatu musibah pasti juga ada
hikmah di baliknya.

Pasca tsunami, Aceh jadi terbuka berbagai lembaga asing dan nasional
berdatangan. Orang Aceh yang karakternya memang berjiwa bebas dengan
cepat menyerap segala informasi dan peradaban yang dibawa oleh
orang-orang yang datang.

Sebagaimana sebuah produksi yang pasti akan banyak menghasilkan
limbah. Efek dari keterbukaan inipun demikian, yang paling banyak
terserap oleh masyarakat Aceh adalah limbah-limbah yang dibawa oleh
keterbukaan itu, diantaranya perilaku hedonis yang terlihat nyata di
antara para OKB yang mendapat keutungan besar selama proses rehap
rekon terbesar yang pernah dilakukan sepanjang sejarah manusia, lalu
dengan mudah pula ditemui orang Aceh dengan gaya sok pamer, gaya
bahasa yang meniru logat Jakarta dan sejenisnya.

Tapi tentu saja bukan hanya limbah yang dihasilkan oleh keterbukaan
itu, keterbukaan Aceh juga menghasilkan banyak produk paten.
Keterbukaan itu membuat Aceh menjadi tempat bergumulnya aneka
pemikiran dan aneka semangat yang bersifat membebaskan.

Empat tahun sesudah tsunami saya kembali ke Aceh, masuk ke
masyarakatnya dan merasakan sendiri dinamikanya.

Begitulah, saat di Aceh kemarin, saya menyaksikan dan merasakan
sendiri betapa dinamisnya pergumulan pemikiran yang terjadi di Aceh
saat ini. Anak-anak muda di Aceh sekarang dengan fasih berdiskusi
tentang sastra, filsafat, sejarah, politik dan ekonomi global sampai
ke isu-isu lingkungan. Partai-partai lokal baru yang mengusung
semangat yang bersifat membebaskan juga bermunculan. Yang menariknya
rata-rata partai baru itu dipimpin dan diisi oleh anak-anak muda
seumuran atau lebih muda dari saya.

Permainan yang digemari anak muda di Aceh sekarang juga sudah berbeda.
Jika mahasiswa jaman kami dulu berjudi di meja domino, dengan modal
meja atau triplek yang jika dipukul bisa mengeluarkan bunyi yang
keras. Dalam permainan itu kami beradu ketangkasan berpikir dan
kekuatan menganalisa permainan dengan taruhan Sprite, Nasi Goreng atau
Martabak. Mahasiswa Aceh sekarang tidak lagi seperti kami. Sekarang
mereka berjudi Valas, menggunakan perangkat laptop dan fasilitas IM2
dari Indosat sambil duduk di warung kopi. Yang mereka analisa juga
bukan sekedar batu apa dipegang kawan sehingga harus diberi jalan dan
batu apa yang dipunyai lawan dan harus dihambat agar tidak bisa
keluar. Tapi yang mereka analisa adalah setiap detail isu
internasional mulai dari Argentina sampai Afrika Selatan yang
kemungkinan bisa mempengaruhi sentimen di pasar uang. Taruhannya juga
Dollar betulan.

Sementara itu pemerintahan Irwandi-Nazar masih terlihat gamang dengan
peran barunya. Irwandi seperti Lech Walesa ketika memimpin Polandia
pasca berhasilnya gerakan Solidarity, terlihat masih kesulitan
melepaskan perannya dari seorang pemberontak menjadi orang yang
mengurusi negeri. Irwandi tidak terlalu bisa berbasa-basi dengan
bawahan. Semua birokrat lama yang berpengalaman yang jauh lebih paham
keadaan dan situasi di pemerintahan, semua dia curigai dan dia musuhi.
Sehingga tidak jarang kita lihat Irwandi uring-uringan, karena dia
tidak percaya yang namanya pendelegasian. Mulai dari menyopiri mobil
sampai berhadapan dengan wartawan semua dia urusi sendiri.

Diplomasi Irwandi dengan menteri di Jakarta juga buruk sekali. Hal
sekecil apapun oleh Irwandi dilaporkan ke Jusuf Kalla sehingga
menimbulkan antipati dari menteri-menteri, padahal menteri-menteri
itulah pelaksana taktis, yang mengeluarkan dana dan sebagainya
sehingga seharusnya dengan merekalah Irwandi lebih banyak berhubungan,
bukan dengan Jusuf Kalla.

Kebijakan pemerintahan di Aceh saat ini juga tidak jelas arah dan
prioritasnya. Semua hal berbau 'cet langit' disikat, mulai dari
eksplorasi panas bumi sampai konsep lingkungan yang diberi nama Aceh
Green yang cuma besar di media tapi tidak pernah jelas seperti apa
pelaksanaan konkretnya.

Uang APBA (APBD versi Aceh), semua ditumpuk di provinsi, sehingga
sampai akhir tahun 2008 sedikit sekali yang bisa tersalurkan.
Akibatnya muncul ketidak puasan di daerah-daerah tingkat dua. Di
daerah-daerah yang bupatinya punya agenda politik sendiri seperti di
Aceh Tengah dan Bener Meriah, kelemahan Irwandi ini dieksploitasi
sampai ke kampung-kampung. Yang oleh mereka digunakan sebagai senjata
untuk mendorong berdirinya provinsi Aceh Leuser Antara.

Di Banda Aceh sendiri, Irwandi tampak mulai tersudut dan mulai
kehilangan dukungan. Rakyat yang dulu memilihnya dan menaruh harapan
besar di pundaknya mulai merasa kecewa. Lalu Irwandi yang mulai
mengalami krisis kepercayaan, atas anjuran team asistensinya yang
dipimpin oleh Teuku Rafli yang mantan suami Tamara, mulai terbiasa
memasang iklan di koran-koran yang menyatakan bahwa dia adalah
Gubernur Pilihan Rakyat dan berkali-kali menyebut MoU Helsinki sebagai
pegangannya.

Padahal kalau kita analisa dengan pikiran jernih, pegangan Irwandi ini
sangat rentan sekali. Sangat bergantung pada niat baik pemerintahan
saat ini. Seandainya kepemimpinan Nasional berganti, katakanlah yang
paling sial yang nantinya terpilih sebagai presiden adalah Megawati.
Yang sejak awal sudah bilang tak akan mau sejengkalpun mendiskusikan
soal kedaulatan dengan kelompok separatis. Meskipun dalam pelaksanaan
MoU itu ada dukungan internasional, tapi jika Indonesia dipimpin oleh
Presiden semacam itu, apakah Irwandi masih bisa dengan gagah
mengatakan berpegang pada amanat MoU Helsinki?.

Saat membaca majalah dan koran-koran lama itu saya juga bertanya-tanya
dalam hati, seperti apakah Aceh dua tahun lagi?…Apakah di pemilu
2009 ini Partai Lokal bisa meraih kemenangan?. Apakah nanti kalau itu
terjadi, kemenangan itu akan benar-benar merupakan solusi?. Saya
bertanya begitu karena terus terang dalam hati saya menyimpan
kekhawatiran, yang saya takutkan justru kemenangan partai lokal di
Aceh nanti akan menjadi bumerang, karena dengan itu tidak akan ada
kambing hitam lagi seperti sekarang. Saat itu semua kebijakan adalah
tanggung jawab kita, kita tidak lagi bisa menyalahkan Jakarta.

Atau jangan-jangan di depan ini sudah menanti sebuah kejadian luar
biasa yang tidak kita perkirakan seperti apa yang terjadi di tahun 1998.

Dan terakhir yang tidak kalah membuat saya penasaran adalah, dua tahun
lagi bagaimana perspektif saya, jika saya masih hidup dan membaca
kembali tulisan yang saya post sekarang ini.

Wassalam

Win Wan Nur
Ketua Forum Pemuda Peduli Gayo
http://www.gayocare.blogspot.com